alexametrics
23 C
Jombang
Wednesday, June 29, 2022

Wadah Kreativitas Pemuda, Jadi Ikon Desa

Melihat Kesenian Bantengan Desa Sumberjo Wonosalam

WONOSALAM tak hanya terkenal dengan buah durian bidonya. Di Dusun Babatan, Desa Sumberjo, ada kesenian bantengan yang sudah ada sejak dulu dan terjaga turun-temurun hingga kini. Bahkan kesenian bantengan di desa ini sering pentas dalam berbagai acara.

Dwi Aldi, 24, ketua paguyuban seni bantengan Singo Gunung Jati Desa Sumberjo menceritakan, awal mula berdirinya kesenian bantengan di desanya adalah sebagai wadah untuk menampung kreativitas pemuda setempat. ”Karena banyak pemuda yang kreativitas seninya mengarah ke seni tradisional seperti bantengan. Akhirnya kami buatkan wadah paguyuban seni bantengan ini,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (13/4).

Setelah ada wadah, pihak desa dan organisasi paguyuban sering memberikan binaan, pelatihan serta pendataan anggota. Selain itu, paguyuban juga sering bergotong royong membuat pernak-pernik untuk kelengkapan pertunjukan bantengan.

Misalnya kostum hingga kepala bantengan. Seiring berjalannya waktu, kesenian bantengan Singo Gunung Jati Desa Sumberjo makin eksis dan berkembang. ”Akhirnya sekarang semakin berkembang dan bisa menjadi wadah yang positif bagi pemuda desa,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Perawatan Mudah, Gunakan Pupuk Kompos

Tak hanya itu, bantengan juga menjadi salah satu ikon Desa Sumberjo. Dalam berbagai kesempatan, bantengan yang notabene pemainnya anak-anak muda ini sering mentas di beberapa kegiatan acara. Seperti acara hajatan, ruwah desa hingga acara acara kegiatan masyarakat lainnya. ”Kami berkolaborasi dengan kesenian campursari yang ada di desa ketika pentas. Jadi agar lebih hidup dan lengkap kami yang bermain bantengan,’’ pungkasnya.

 

Lestarikan Budaya Peninggalan Nenek Moyang

SEMENTARA itu, Kepala Desa Sumberjo Ismiatun mengapresiasi perkembangan kesenian bantengan di wilayahnya. Menurutnya, sebagai wadah menampung dan mengambangkan kreativitas para pemuda, kesenian bantengan juga menjadi suguhan hiburan yang banyak digemari masyarakat.

”Tentu kami mengapresiasi sekali, ini kegiatan yang positif untuk mengembankan kreativitas para pemuda,” terangnya, kemarin (13/4).

Baca Juga :  Wisata Air Terjun Tretes Wonosalam Jombang yang Elok dan Menantang

Selain itu, kesenian bantengan juga sebagai bentuk konkret melestarikan budaya peninggalan nenek moyang. ”Kegiatan Bantengan di Desa Sumberjo merupakan bentuk uri-uri budaya yang perlu dilestarikan, apalagi merangkul kalangan muda sebagai generasi penerus,’’ ujar dia.

Kesenian bantengan merupakan salah satu seni pertunjukan budaya asli Jawa Timur. Dari kesenian ini, ada beberapa unsur yang ditunjukkan, mulai seni tari, olah kanuragan dan juga budaya kesenian campursari.

Untuk mengenalkan potensi kesenian Bantengan di Desa Sumberjo, pihaknya sering mengundang paguyuban kesenian bantengan untuk unjuk gigi dalam acara ruwat desa setiap tahunnya. ”Agenda rutin acara bantengan juga sering ditampilkan saat ada acara ruwat dusun maupun ruwat desa,’’ pungkasnya.

- Advertisement -

WONOSALAM tak hanya terkenal dengan buah durian bidonya. Di Dusun Babatan, Desa Sumberjo, ada kesenian bantengan yang sudah ada sejak dulu dan terjaga turun-temurun hingga kini. Bahkan kesenian bantengan di desa ini sering pentas dalam berbagai acara.

Dwi Aldi, 24, ketua paguyuban seni bantengan Singo Gunung Jati Desa Sumberjo menceritakan, awal mula berdirinya kesenian bantengan di desanya adalah sebagai wadah untuk menampung kreativitas pemuda setempat. ”Karena banyak pemuda yang kreativitas seninya mengarah ke seni tradisional seperti bantengan. Akhirnya kami buatkan wadah paguyuban seni bantengan ini,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (13/4).

Setelah ada wadah, pihak desa dan organisasi paguyuban sering memberikan binaan, pelatihan serta pendataan anggota. Selain itu, paguyuban juga sering bergotong royong membuat pernak-pernik untuk kelengkapan pertunjukan bantengan.

Misalnya kostum hingga kepala bantengan. Seiring berjalannya waktu, kesenian bantengan Singo Gunung Jati Desa Sumberjo makin eksis dan berkembang. ”Akhirnya sekarang semakin berkembang dan bisa menjadi wadah yang positif bagi pemuda desa,’’ jelas dia.

Baca Juga :  Dongkrak Perekonomian Warga dan Pendapatan Desa

Tak hanya itu, bantengan juga menjadi salah satu ikon Desa Sumberjo. Dalam berbagai kesempatan, bantengan yang notabene pemainnya anak-anak muda ini sering mentas di beberapa kegiatan acara. Seperti acara hajatan, ruwah desa hingga acara acara kegiatan masyarakat lainnya. ”Kami berkolaborasi dengan kesenian campursari yang ada di desa ketika pentas. Jadi agar lebih hidup dan lengkap kami yang bermain bantengan,’’ pungkasnya.

 

- Advertisement -

Lestarikan Budaya Peninggalan Nenek Moyang

SEMENTARA itu, Kepala Desa Sumberjo Ismiatun mengapresiasi perkembangan kesenian bantengan di wilayahnya. Menurutnya, sebagai wadah menampung dan mengambangkan kreativitas para pemuda, kesenian bantengan juga menjadi suguhan hiburan yang banyak digemari masyarakat.

”Tentu kami mengapresiasi sekali, ini kegiatan yang positif untuk mengembankan kreativitas para pemuda,” terangnya, kemarin (13/4).

Baca Juga :  Durian Mentega Juga Banyak Diburu

Selain itu, kesenian bantengan juga sebagai bentuk konkret melestarikan budaya peninggalan nenek moyang. ”Kegiatan Bantengan di Desa Sumberjo merupakan bentuk uri-uri budaya yang perlu dilestarikan, apalagi merangkul kalangan muda sebagai generasi penerus,’’ ujar dia.

Kesenian bantengan merupakan salah satu seni pertunjukan budaya asli Jawa Timur. Dari kesenian ini, ada beberapa unsur yang ditunjukkan, mulai seni tari, olah kanuragan dan juga budaya kesenian campursari.

Untuk mengenalkan potensi kesenian Bantengan di Desa Sumberjo, pihaknya sering mengundang paguyuban kesenian bantengan untuk unjuk gigi dalam acara ruwat desa setiap tahunnya. ”Agenda rutin acara bantengan juga sering ditampilkan saat ada acara ruwat dusun maupun ruwat desa,’’ pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/