Jumat, 03 Dec 2021
Radar Jombang
Home / Wonderland Wonosalam
icon featured
Wonderland Wonosalam

Budi Daya Porang Jadi Andalan Panglungan Wonosalam Jombang

Banyak Dilirik Petani, Hasil Lebih Untung

11 November 2021, 09: 05: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Budi Daya Porang Jadi Andalan Panglungan Wonosalam Jombang

Share this      

BUDI DAYA tanaman porang kini menjadi andalan warga Dusun Dampak, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam. Bahkan, di desa ini hampir semua warganya menanam tanaman jenis palawija ini. Salah satunya ditekuni Urip Sumoharjo, 40, sejak 2013 silam.

Sejak delapan tahun lalu, Urip menekuni budi daya porang setelah menemui banyak kendala menanam jagung dan palawija lainnya. Serangan hama tikus membuat Urip beralih menekuni budi daya porang. Kini, Urip sudah bisa menuai hasil porang di lahan 3 seluas hektare miliknya. ”Budi daya porang lebih menguntungkan, mulai dari penanaman, pembibitan, perawatan hingga harga jual,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (10/11).

Sebenarnya, tanaman porang sudah ada di Wonosalam sejak dulu. Warga setempat menyebutnya tanaman coplok. Sekilas tanaman tersebut, mirip suwek, namun jika dilihat secara jeli perbedaaanya nampak pada tekstur daun dan corak batang. ”Hasil umbinya juga beda. Kalau porang memang bisa buat bahan dasar tepung. Kalau suwek itu jenis umbi-umbian liar yang tumbuh lebat di Wonosalam,’’ papar dia.

Baca juga: Kudapan Khas Wonosalam, Banyak Diburu Wisatawan

Budi Daya Porang Jadi Andalan Panglungan Wonosalam Jombang

Menanam porang banyak untungnya. Urip awalnya menanam sendiri di desanya. Namun karena berkembang banyak warga setempat yang kini beralih menanam porang.  ”Di lahan saya 3 hektare satu musim tanam bisa menghasilkan kotor sekitar Rp 200 juta. Dengan estimasi perkiraan panen 20 ton per tahunnya,’’ jelas dia.

Ada dua jenis porang yang dia tanam. Yakni batang hitam dan batang hijau. Dua jenis tersebut merupakan jenis yang paling banyak ditanam. ”Namun batang hitam lebih mudah ditanam dan bobotnya lebih berat dari pada batang hijau,’’ papar dia.

Delapan tahun bergelut menanam porang, Urip sudah punya pasar sendiri. Setiap kali panen, ada beberapa tengkulak asal luar kota yang datang untuk membeli hasil panennya.

Sebelum pandemi, harga porang per kilonya mencapai Rp 14 ribu. Namun, sejak ada PPKM kini jadi Rp 7 – 6 ribu/kg. ”Kendalanya harga fluktuatif karena pengaruh PPKM,’’ pungkasnya.

(jo/ang/jif/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia