alexametrics
23 C
Jombang
Wednesday, June 29, 2022

Dra Anis Chusnul Iftitach MPdI

Survivor Kanker, Terapkan Gaya Hidup Sehat

JOMBANG – Harus cepat dan optimistis, merupakan tips untuk dapat survive dari ganasnya kanker. Begitu kata Dra Anis Chusnul Iftitach MPdI, survivor kanker payudara. Kini ia menjalani pola hidup sehat.

”Kanker kan ada dua jenis ya, hormonal atau keturunan dan Her2, atau faktor gaya hidup, dan saya adalah faktor hormonal. Ibu saya dulu kanker rahim,” kata guru Kimia MAN 4 Jombang ini.

Kanker yang diderita yang diderita warga Desa Mancar, Kecamatan Peterongan ini sudah parah. ”Dokter menyatakan sudah stadium 3C, satu tingkat lagi sudah stadium empat. Semakin kecil harapan untuk sembuh,” terangnya.

Anis pertama kali merasakan ada yang janggal pada tubuhnya pada April 2016. Rasa nyeri ia rasakan di payudara sisi kanan. ”Saya periksa ke dokter, saya cari dokter yang cewek karena malu, karena tidak ada dokter spesialis bedah yang cewek, akhirnya saya ke dokter umum, diberi obat anti nyeri dan nyerinya hilang,” katanya.

Sembari mengkonsumsi obat anti nyeri, ia sudah berfirasat tentang kanker, mengingat ibunya juga meninggal karena kanker. ”Saya googling, tapi ciri-cirinya tidak ke kanker,” tambahnya.

Hingga pada Oktober 2016, ia merasakan nyeri yang menjalar hingga ketiak. Oleh salah satu dokter kandungan di Jombang, dia direkomendasikan ke rumah sakit bedah yang berada di jalan Raya KH Hasyim Asyari. ”Diambil sampel, setengah jam kemudian hasilnya keluar, tapi disuruh kembali lagi malam hari bersama keluarga. Fikiran sudah tidak enak, satu sisi takut, satu sisi siap mental karena memang punya keturunan kanker,” urainya.

Baca Juga :  Rahma Fitriana Kasubag Umum di Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Jombang

Benar saja, sesuai perkiraan, dia dinyatakan positif mengidap kanker. Selang beberapa hari kemudian, dia harus naik ke meja operasi. ”Menurut dokter, kanker saya sudah parah. Bahkan harapan untuk hidup di bawah 50 persen. Sebanyak 13 dari 18 titik getah bening sudah terserang,” ungkapnya.

Meski hatinya terguncang, dia tetap berusaha tegar dan berharap operasinya akan berjalan sukses. ”Saya tetap optimistis. Setiap orang yang menjenguk saya minta untuk tidak menangis, agar tidak berpengaruh pada mental saya, dan tekanan darah saya, sehingga tindakan yang cepat diambil akan semakin cepat pula kesembuhan,” katanya.

Proses operasi berjalan sukses. Sebulan kemudian, ia menjalani kemoterapi. Total ada enam kali kemoterapi yang dilakukan 21 hari sekali. Dilanjutkan dengan 25 kali radiasi. ”Beruntungnya semua kegiatan itu dilakukan pada hari libur, jadi saya tetap bisa masuk kerja. Kamis operasi, Jumat saya sudah bisa bangun, Sabtu pulang, dan langsung kembali mengajar,” jelas ibu dua anak ini.

Sembari terus menjalani terapi, ia juga menjaga pola makannya. Yaitu dengan mengkonsumsi daging, minimal setengah kilogram per hari, putih telur rebus atau yang digoreng dengan minyak zaitun. Tujuannya untuk merangsang tumbuhnya daging baru setelah operasi. ”Saya konsumsi itu setiap hari selama dua tahun, dan tetap berlanjut sampai sekarang tapi tidak setiap hari,” tambahnya.

Baca Juga :  Guru dan Ibu Yang Sukses

Setelah semua rangkaian terapi yang dia jalani, pada Oktober 2001, Anis dinyatakan negatif. Tapi harus tetap mengkonsumsi obat setiap hari sampai sekarang. Obat yang ia konsumsi berpengaruh pada kepadatan tulang, sehingga ia harus mengkonsumsi susu setiap hari.

Sementara olahraga untuk menjaga kesehatan tulangnya ia lakukan dengan gowes. ”Jadi urutannya setiap hari adalah air rebusan campur lemon, jus, obat dan susu, olahan kenikir itu setiap hari,” jelasnya.

Sekarang tak seketat dulu mengenai apa saja yang ia konsumsi. Termasuk jus apel, wortel ditambah tomat yang sudah direbus sampai merekah. ”Sekarang saya ganti dengan buah-buahan,” bebernya.

Ia harus mengkonsumsi obat sampai 2025. ”Tapi itu masih belum tau, sudah selesai, atau diganti dengan obat yang baru. Karena dulu minum satu jenis obat, kemudian 2020 selesai, tapi diganti dengan obat yang baru,” katanya.

Menurutnya, untuk menghadapi kanker, perlu fikiran positif dan sigap. ”Intinya, jangan sampai menghadapi kanker dengan datang ke alternatif. Lakukan pengobatan medis secepatnya,” tambahnya.






Reporter: Wenny Rosalina
- Advertisement -

JOMBANG – Harus cepat dan optimistis, merupakan tips untuk dapat survive dari ganasnya kanker. Begitu kata Dra Anis Chusnul Iftitach MPdI, survivor kanker payudara. Kini ia menjalani pola hidup sehat.

”Kanker kan ada dua jenis ya, hormonal atau keturunan dan Her2, atau faktor gaya hidup, dan saya adalah faktor hormonal. Ibu saya dulu kanker rahim,” kata guru Kimia MAN 4 Jombang ini.

Kanker yang diderita yang diderita warga Desa Mancar, Kecamatan Peterongan ini sudah parah. ”Dokter menyatakan sudah stadium 3C, satu tingkat lagi sudah stadium empat. Semakin kecil harapan untuk sembuh,” terangnya.

Anis pertama kali merasakan ada yang janggal pada tubuhnya pada April 2016. Rasa nyeri ia rasakan di payudara sisi kanan. ”Saya periksa ke dokter, saya cari dokter yang cewek karena malu, karena tidak ada dokter spesialis bedah yang cewek, akhirnya saya ke dokter umum, diberi obat anti nyeri dan nyerinya hilang,” katanya.

Sembari mengkonsumsi obat anti nyeri, ia sudah berfirasat tentang kanker, mengingat ibunya juga meninggal karena kanker. ”Saya googling, tapi ciri-cirinya tidak ke kanker,” tambahnya.

Hingga pada Oktober 2016, ia merasakan nyeri yang menjalar hingga ketiak. Oleh salah satu dokter kandungan di Jombang, dia direkomendasikan ke rumah sakit bedah yang berada di jalan Raya KH Hasyim Asyari. ”Diambil sampel, setengah jam kemudian hasilnya keluar, tapi disuruh kembali lagi malam hari bersama keluarga. Fikiran sudah tidak enak, satu sisi takut, satu sisi siap mental karena memang punya keturunan kanker,” urainya.

Baca Juga :  Kabag Organisasi Adi Prasetyo Pernah Bekerja di Perusahaan Konsultan
- Advertisement -

Benar saja, sesuai perkiraan, dia dinyatakan positif mengidap kanker. Selang beberapa hari kemudian, dia harus naik ke meja operasi. ”Menurut dokter, kanker saya sudah parah. Bahkan harapan untuk hidup di bawah 50 persen. Sebanyak 13 dari 18 titik getah bening sudah terserang,” ungkapnya.

Meski hatinya terguncang, dia tetap berusaha tegar dan berharap operasinya akan berjalan sukses. ”Saya tetap optimistis. Setiap orang yang menjenguk saya minta untuk tidak menangis, agar tidak berpengaruh pada mental saya, dan tekanan darah saya, sehingga tindakan yang cepat diambil akan semakin cepat pula kesembuhan,” katanya.

Proses operasi berjalan sukses. Sebulan kemudian, ia menjalani kemoterapi. Total ada enam kali kemoterapi yang dilakukan 21 hari sekali. Dilanjutkan dengan 25 kali radiasi. ”Beruntungnya semua kegiatan itu dilakukan pada hari libur, jadi saya tetap bisa masuk kerja. Kamis operasi, Jumat saya sudah bisa bangun, Sabtu pulang, dan langsung kembali mengajar,” jelas ibu dua anak ini.

Sembari terus menjalani terapi, ia juga menjaga pola makannya. Yaitu dengan mengkonsumsi daging, minimal setengah kilogram per hari, putih telur rebus atau yang digoreng dengan minyak zaitun. Tujuannya untuk merangsang tumbuhnya daging baru setelah operasi. ”Saya konsumsi itu setiap hari selama dua tahun, dan tetap berlanjut sampai sekarang tapi tidak setiap hari,” tambahnya.

Baca Juga :  Ninik Pratiwi SH : Wanita Harus Berpendidikan dan Berjiwa Sosial

Setelah semua rangkaian terapi yang dia jalani, pada Oktober 2001, Anis dinyatakan negatif. Tapi harus tetap mengkonsumsi obat setiap hari sampai sekarang. Obat yang ia konsumsi berpengaruh pada kepadatan tulang, sehingga ia harus mengkonsumsi susu setiap hari.

Sementara olahraga untuk menjaga kesehatan tulangnya ia lakukan dengan gowes. ”Jadi urutannya setiap hari adalah air rebusan campur lemon, jus, obat dan susu, olahan kenikir itu setiap hari,” jelasnya.

Sekarang tak seketat dulu mengenai apa saja yang ia konsumsi. Termasuk jus apel, wortel ditambah tomat yang sudah direbus sampai merekah. ”Sekarang saya ganti dengan buah-buahan,” bebernya.

Ia harus mengkonsumsi obat sampai 2025. ”Tapi itu masih belum tau, sudah selesai, atau diganti dengan obat yang baru. Karena dulu minum satu jenis obat, kemudian 2020 selesai, tapi diganti dengan obat yang baru,” katanya.

Menurutnya, untuk menghadapi kanker, perlu fikiran positif dan sigap. ”Intinya, jangan sampai menghadapi kanker dengan datang ke alternatif. Lakukan pengobatan medis secepatnya,” tambahnya.






Reporter: Wenny Rosalina

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/