Jumat, 03 Dec 2021
Radar Jombang
Home / Tokoh
icon featured
Tokoh

Nadlifah Rizki Utami: Wanita Harus Mandiri

17 November 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Nadlifah Rizki Utami: Wanita Harus Mandiri

Share this      

WANITA tak boleh bergantung pada orang lain, termasuk kepada suami sendiri. Begitulah prinsip Nadlifah Rizki Utami, wanita yang beralamat di Kepuhkembeng, Kecamatan Peterongan ini merupakan pebisnis muda yang cantik dan pintar.

”Seloyal-loyalnya suami, pasti ada batasannya, akan lebih baik kalau kita bisa mencukupi kebutuhan diri sendiri,” ungkap ibu dua anak ini.

Sejak duduk di bangku kuliah, mimpinya adalah bisa mandiri setelah lulus. Keinginannya itu semakin menggebu setelah ia menikah. Saat menikah, usianya masih relatif muda di usia 20 tahun.

Baca juga: Agus Raikhani, Pengawas Pertandingan Sepak Bola Nasional

Tak nyaman berdiam diri di rumah, ia kemudian mencoba peluang menggeluti bisnis online.

Di awal ia mencoba peruntungan bisnis di bidang fashion. Sayang usahanya belum berjalan maksimal. ”Waktu itu saya stok barang banyak, tapi fashion perkembangannya cepat. Akhirnya barang menumpuk dan sulit untuk memasarkan. Akhirnya saya meninggalkan bisnis fashion,” terangnya.

Sebagai wanita, ia ingin merawat kecantikan kulit dan wajahnya. Ia mencoba rangkaian produk skincare untuk merawat wajahnya. ”Hasilnya bagus, skincare yang saya pakai cocok untuk wajah saya,” terangnya. Dari situ, dia kemudian terinspirasi mencoba peluang bisnis produk skincare.

Dengan modal uang belanja dari suaminya, Muhammad Khoirin, ia pun bangkit lagi memulai bisnis online. Hanya saja, tidak lagi ke produk fashion, melainkan beralih ke skincare. ”Awalnya saya coba beli tiga paket skincare. Ternyata pasarnya baik. Keuntungannya juga lebih besar,” bebernya.

Melihat prosepeknya menjanjikan, ia pun iaberniat membesarkan usahanya dan membeli skincare lebih banyak lagi. Dengan modal nekat ia berhutang untuk memulai bisnis. ”Waktu itu saya minta suami untuk hutang koperasi, untuk modal jualan skincare, laba yang didapat diputar, selama enam tahun alhamdulillah sudah sebesar ini,” jelas wanita kelahiran Mojokerto, 19 Agustus 1992 ini.

Menurutnya, skincare merupakan kebutuhan pokok setiap wanita. Sehingga akan terus diburu ketika sudah merasa cocok dan hasilnya bagus. ”Kalau sudah cocok, hasilnya bagus, akan order lagi dan lagi. Kan tidak mungkin kalau wajah sudah kelihatan cantik lalu tidak dilanjutkan,” katanya.

Kecantikan wanita harus dirawat. Kulit ibarat tumbuhan yang perlu dirawat dan perlu nutrisi. Jika tidak dirawat, lambat laun, pasti ada penurunan kualitas kulit, apalagi saat ini hampir semua wanita selalu berinteraksi dengan gadget yang memancarkan radiasi. ”Apalagi kalau kegiatannya di luar ruangan terus, paparan sinar matahari juga bisa merusak jaringan kulit. Sehingga perlu skincare yang bisa merawat kecantikan kulit,” jelasnya.

Selain dijual, sebagian produknya juga dia gunakan sendiri. Kulitnya tampak putih, kencang, dan bersih terawat. Penampilannya juga kasual. Sehari-hari ia mengenakan pakaian lebih santai, dengan leging, tas jinjing, dan hijab yang sesuai dengan baju yang ia kenakan.

Jika datang ke suatu acara, ia pun menyesuaikan penampilan. ”Harus dresscode atau gaun lain,” bebernya. Kecantikannya semakin enak dipandang dengan bulu matanya yang lentik, goresan warna coklat mempertegas garis alisnya. Sedangkan untuk lebih segar ia  menggunakan lipstik warna nude agar lebih natural. Kadang juga dipercerah dengan warna merah bata.

Kesibukannya dengan bisnis membuatnya harus membagi waktu. Menurutnya, kesibukan itu bagian dari risiko yang harus ia ambil. Beruntungnya Rizki memiliki suami yang mendukung penuh. ”Kata suami, kalau pekerjaan bisa dilimpahkan kepada orang lain yang bisa mengerjakan, tapi kalau jalan kesuksesan, tidak semua orang mendapatkannya, dan kita harus fokus, karena ibarat tanaman, saya sudah memetik buahnya,” katanya.

Suaminya tak banyak menuntut, bahkan Rizki mengaku tak hobi memasak. Ia justru suka pekerjaan yang melibatkan banyak orang, membangun jaringan, juga menjalin komunikasi dengan orang-orang baru.

Usahanya membuahkan hasil, meski ia harus menanggalkan ijazah S1 dan S2 Unhasy Jurusan Pendidikan Agama Islam. Kini ia sudah bisa mewujudkan mimpinya satu per satu, yaitu punya rumah, tanah, kendaraan mewah, dan kini ia berniat untuk berangkat ke tanah suci sekeluarga termasuk bersama orang tuanya.

(jo/wen/jif/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia