alexametrics
30 C
Jombang
Thursday, May 19, 2022

dr Yvonne Sarah Katini Bintaryo, Ortopedi Wanita Pertama di Indonesia,

JOMBANG – dr Yvonne Sarah Katini Bintaryo, SpOT-Spine merupakan salah satu dokter spesialis ortopedi senior yang bertugas di RSUD Jombang. Ia merupakan dokter spesialis ortopedi wanita pertama di Indonesia.

Menariknya sebelum menempuh pendidikan spesialis ortopedi, dr Yvonne memiliki syarat khusus dari profesor yang membimbingnya, yaitu harus menikah dan memiliki anak terlebih dahulu. ”Itu syarat khusus yang diberikan kepada saya, sebelum saya menempuh pendidikan ortopedi. Saya diberikan waktu tiga tahun untuk memenuhi syarat itu,” kata Ketua Komite Medik dan Ketua Bedah Sentral RSUD Jombang ini.

Yvonne lahir di Jambi, 20 Agustus 1962. Hingga kelas 3 SD ia tumbuh besar di Jambi, kemudian pindah ke Kualalumpur karena mengikuti sang ayah yang bertugas di KBRI Kualalumpur. ”Di Kualalumpur sampai kelas 3 SMP,” terangnya.

Menginjak SMA, ia pindah lagi ke SMAN 5 Surabaya. Pada 1982, ia lulus dari SMAN 5 Surabaya dan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Selanjutnya pada 1988, ia lulus dan menjalani inpres. ”Di fakultas kedokteran Unair selesai 1988, kemudian ditugaskan di Ogan Komering Ilir , Sumatera Selatan sebagai dokter umum,” imbuhnya.

Tak berhenti sampai di situ saja, pada 1988 juga, ia berjuang untuk bisa menempuh pendidikan spesialis ortopedi. ”Saya lebih senang dengan yang langsung terjun menangani pasien. Beberapa spesialis seperti anak, jiwa, dan yang lain saya tidak tertarik, lebih tertarik ke ortopedi, sayangnya saat itu tiga perguruan tinggi yaitu, Unair, UI, dan Unpad belum menerima perempuan untuk mengambil ortopedi,” jelasnya.

Baca Juga :  Puspita Indriani, Guru Bahasa Jawa yang Multitalenta dan Berprestasi

Saat mengikuti kegiatan bersama para profesor, ia memberanikan diri bertanya, kenapa perempuan tidak diterima di spesialis bedah. ”Beberapa profesor ada yang menjawab dengan kasar, tapi ada satu profesor yaitu Prof Dr I P Sukarna Sp.B-Sp.OT (K) yang mau memberikan kesempatan untuk saya,” jelas Ketua  Satuan pengawas internal RSUD Jombang ini.

Hanya saja, Prof Sukarna memberikan syarat khusus, yaitu harus menikah dan sudah punya anak. Sehingga setelah menempuh pendidikan tidak ada alasan cuti untuk melahirkan atau cuti menikah.

Keberuntungan berpihak kepadanya. Tepatnya pada 1991, ia menikah di usia 29 tahun dengan dr Johny S Erlan SpKK. Pada Juli 1992, Amanda Hilliary Erlan putri semata wayangnya lahir. ”Tiga bulan setelah menikah langsung isi, saya kabari profesor jika perkiraan lahir bulan Juli 1992, bulan Oktober tes, dan bulan Januari 1993 langsung pendidikan,” rincinya.

Ia merupakan dokter spesialis ortopedi pertama yang ada di Indonesia. Ia juga sempat bertugas di Jepang untuk mencari pengalaman selama tiga bulan sebelum lulus. Pada 1998 ia dinyatakan lulus.

Perjuangannya untuk lulus pendidikan spesialis ortopedi tidak mudah. Karena ia wanita pertama, ia ingin membuktikan jika  bisa menjadi dokter ortopedi yang mumpuni dan tak kalah dengan laki-laki. ”Saya siap ditugaskan di mana pun dan kapan pun, agar jalan untuk wanita mengambil pendidikan ortopedi terbuka, saya harus membuktikan,” ungkapnya.

Pada 1999, ia ditugaskan di RSUD Jombang hingga sekarang. Ia jatuh cinta dengan Jombang. Yang dulu rencananya hanya dua tahun, tapi hingga sekarang ia bertahan.

Baca Juga :  Inni Amami, Guru Seni yang Berprestasi nan Menginspirasi

Selanjutnya, pada 2002, ia mendapatkan kesempatan untuk mengambil subspesialis tulang punggung atau spine. Rekor kembali dicetak, sebagai perempuan pertama spesialis ortopedi subspesialis tulang punggung. ”Saya menempuh pendidikan di UI selama sembilan bulan, tiga bulan di Australia, dan saat itu diangkat menjadi PNS. Saat itu masih otomatis tanpa seleksi, sekarang sudah golongan 4B, dan bisa pensiun sampai usia 65 tahun,” bebernya.

Profesi dokter merupakan cita-cita Yvonne sejak kecil. Ia mengulas, dulu saat masih kecil, ia sering pingsan tanpa sebab. Saking seringnya ke dokter, ia hanya mengenal profesi dokter, sering main stetoskop dan berkeinginan untuk menjadi dokter.

Menurutnya, menjadi dokter tidak harus jadi orang pintar. Tapi harus rajin membaca. Sebab ilmu kedokteran memiliki ilmu dasar yang sama, tidak dengan logika, harus berdasarkan teori dan penelitian.

Dokter tidak boleh berhenti belajar. Kemajuan teknologi harus selalu di-update. Menurut dokter spesialis orthopedi RSUD Jombang ini, ilmu dasarnya tetap sama, hanya saja cara diagnosa seperti pemeriksaan fisik lebih modern. ”Bantuan teknologi hanya mempermudah, dan memperlengkap, kalau ilmu dasarnya tetap sama,” jelas ibu satu anak ini.

Belajar dokter bisa dari mana saja, seperti seminar di dalam maupun luar negeri, juga menjadi persyaratan untuk memperpanjang izin praktik.

Selanjutnya………






Reporter: Wenny Rosalina
- Advertisement -

JOMBANG – dr Yvonne Sarah Katini Bintaryo, SpOT-Spine merupakan salah satu dokter spesialis ortopedi senior yang bertugas di RSUD Jombang. Ia merupakan dokter spesialis ortopedi wanita pertama di Indonesia.

Menariknya sebelum menempuh pendidikan spesialis ortopedi, dr Yvonne memiliki syarat khusus dari profesor yang membimbingnya, yaitu harus menikah dan memiliki anak terlebih dahulu. ”Itu syarat khusus yang diberikan kepada saya, sebelum saya menempuh pendidikan ortopedi. Saya diberikan waktu tiga tahun untuk memenuhi syarat itu,” kata Ketua Komite Medik dan Ketua Bedah Sentral RSUD Jombang ini.

Yvonne lahir di Jambi, 20 Agustus 1962. Hingga kelas 3 SD ia tumbuh besar di Jambi, kemudian pindah ke Kualalumpur karena mengikuti sang ayah yang bertugas di KBRI Kualalumpur. ”Di Kualalumpur sampai kelas 3 SMP,” terangnya.

Menginjak SMA, ia pindah lagi ke SMAN 5 Surabaya. Pada 1982, ia lulus dari SMAN 5 Surabaya dan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Selanjutnya pada 1988, ia lulus dan menjalani inpres. ”Di fakultas kedokteran Unair selesai 1988, kemudian ditugaskan di Ogan Komering Ilir , Sumatera Selatan sebagai dokter umum,” imbuhnya.

Tak berhenti sampai di situ saja, pada 1988 juga, ia berjuang untuk bisa menempuh pendidikan spesialis ortopedi. ”Saya lebih senang dengan yang langsung terjun menangani pasien. Beberapa spesialis seperti anak, jiwa, dan yang lain saya tidak tertarik, lebih tertarik ke ortopedi, sayangnya saat itu tiga perguruan tinggi yaitu, Unair, UI, dan Unpad belum menerima perempuan untuk mengambil ortopedi,” jelasnya.

Baca Juga :  Kabag Organisasi Adi Prasetyo Pernah Bekerja di Perusahaan Konsultan

Saat mengikuti kegiatan bersama para profesor, ia memberanikan diri bertanya, kenapa perempuan tidak diterima di spesialis bedah. ”Beberapa profesor ada yang menjawab dengan kasar, tapi ada satu profesor yaitu Prof Dr I P Sukarna Sp.B-Sp.OT (K) yang mau memberikan kesempatan untuk saya,” jelas Ketua  Satuan pengawas internal RSUD Jombang ini.

- Advertisement -

Hanya saja, Prof Sukarna memberikan syarat khusus, yaitu harus menikah dan sudah punya anak. Sehingga setelah menempuh pendidikan tidak ada alasan cuti untuk melahirkan atau cuti menikah.

Keberuntungan berpihak kepadanya. Tepatnya pada 1991, ia menikah di usia 29 tahun dengan dr Johny S Erlan SpKK. Pada Juli 1992, Amanda Hilliary Erlan putri semata wayangnya lahir. ”Tiga bulan setelah menikah langsung isi, saya kabari profesor jika perkiraan lahir bulan Juli 1992, bulan Oktober tes, dan bulan Januari 1993 langsung pendidikan,” rincinya.

Ia merupakan dokter spesialis ortopedi pertama yang ada di Indonesia. Ia juga sempat bertugas di Jepang untuk mencari pengalaman selama tiga bulan sebelum lulus. Pada 1998 ia dinyatakan lulus.

Perjuangannya untuk lulus pendidikan spesialis ortopedi tidak mudah. Karena ia wanita pertama, ia ingin membuktikan jika  bisa menjadi dokter ortopedi yang mumpuni dan tak kalah dengan laki-laki. ”Saya siap ditugaskan di mana pun dan kapan pun, agar jalan untuk wanita mengambil pendidikan ortopedi terbuka, saya harus membuktikan,” ungkapnya.

Pada 1999, ia ditugaskan di RSUD Jombang hingga sekarang. Ia jatuh cinta dengan Jombang. Yang dulu rencananya hanya dua tahun, tapi hingga sekarang ia bertahan.

Baca Juga :  dr Rastita Widyasari: Wanita Harus Cantik Luar Dalam

Selanjutnya, pada 2002, ia mendapatkan kesempatan untuk mengambil subspesialis tulang punggung atau spine. Rekor kembali dicetak, sebagai perempuan pertama spesialis ortopedi subspesialis tulang punggung. ”Saya menempuh pendidikan di UI selama sembilan bulan, tiga bulan di Australia, dan saat itu diangkat menjadi PNS. Saat itu masih otomatis tanpa seleksi, sekarang sudah golongan 4B, dan bisa pensiun sampai usia 65 tahun,” bebernya.

Profesi dokter merupakan cita-cita Yvonne sejak kecil. Ia mengulas, dulu saat masih kecil, ia sering pingsan tanpa sebab. Saking seringnya ke dokter, ia hanya mengenal profesi dokter, sering main stetoskop dan berkeinginan untuk menjadi dokter.

Menurutnya, menjadi dokter tidak harus jadi orang pintar. Tapi harus rajin membaca. Sebab ilmu kedokteran memiliki ilmu dasar yang sama, tidak dengan logika, harus berdasarkan teori dan penelitian.

Dokter tidak boleh berhenti belajar. Kemajuan teknologi harus selalu di-update. Menurut dokter spesialis orthopedi RSUD Jombang ini, ilmu dasarnya tetap sama, hanya saja cara diagnosa seperti pemeriksaan fisik lebih modern. ”Bantuan teknologi hanya mempermudah, dan memperlengkap, kalau ilmu dasarnya tetap sama,” jelas ibu satu anak ini.

Belajar dokter bisa dari mana saja, seperti seminar di dalam maupun luar negeri, juga menjadi persyaratan untuk memperpanjang izin praktik.

Selanjutnya………






Reporter: Wenny Rosalina

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/