Radar Jombang JawaPos.com | Jombang Banget RSS News Feed https://radarjombang.jawapos.com/rss/370/jombang-banget http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarjombang-logo1.png http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarjombang-logo1.png Radar Jombang JawaPos.com | Jombang Banget RSS News Feed https://radarjombang.jawapos.com/rss/370/jombang-banget id Mon, 18 Feb 2019 11:05:28 +0700 Radar Jombang <![CDATA[Meski Nama Jalan Berubah, Sebutan Pasar Bhayangkara Tak Tergantikan]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/18/120009/meski-nama-jalan-berubah-sebutan-pasar-bhayangkara-tak-tergantikan https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/18/120009/meski-nama-jalan-berubah-sebutan-pasar-bhayangkara-tak-tergantikan

JOMBANG - Meski lokasinya di jalan Melati, pasar ini lebih terkenal sebagai Pasar Senggol atau Pasar Bhayangkara. Hal ini ternyata tak lepas dari bentuk pasar]]>

JOMBANG - Meski lokasinya di jalan Melati, pasar ini lebih terkenal sebagai Pasar Senggol atau Pasar Bhayangkara. Hal ini ternyata tak lepas dari bentuk pasar hingga faktor sejarah pasar ini. Perubahan zaman tak mampu merubah namanya pula.

Dinamai pasar senggol, lantaran kondisi pasar ini yang cukup sempit. Jalan di tengah pasar ini hanya bisa  dilintasi dua motor jika bersimpangan. Bahkan di waktu-waktu tertentu, jalan untuk motor ini ditutup sepenuhnya lantaran kondisi pasar yang dipenuhi penjalan kaki.

“Kalau sudah mau Idul Fitri biasanya, itu penuh di sini, jalannya juga senggol-senggolan pembelinya karena saking penuhnya. Makanya namanya pasar senggol itu,” terang Muhammad Bari, 59 salah satu pedagang.

Sementara nama Bhyangkara sendiri melekat pada pasar ini lantaran di masa awal pembentukannya, lokasi pasar ini bernama Jalan Bhayangkara. Dulu, kompleks asrama polisi hingga kantor Satlantas Polres Jombang juga pernah berada tak jauh dari pasar ini.

“Dulu namanya jalannya ini kan Jalan Bhayangkara memang, sebelah barat lapak itu dulu kan asrama polisi. Ada kantor satlantas juga. Diganti Jalan Melati ini baru-baru saja, karena itu namanya memang lekat Bhayangkaranya,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 18 Feb 2019 11:05:28 +0700
<![CDATA[Tak Cuma di Kediri, Produksi Getuk Berbahan Pisang Juga Ada di Jombang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/17/119890/tak-cuma-di-kediri-produksi-getuk-berbahan-pisang-juga-ada-di-jombang https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/17/119890/tak-cuma-di-kediri-produksi-getuk-berbahan-pisang-juga-ada-di-jombang

JOMBANG - Lebih dikenal sebagai jajanan khas Kediri, getuk pisang ternyata juga banyak diproduksi di Jombang. Salah satunya, di Dusun Dempok, Desa Sidomulyo]]>

JOMBANG - Lebih dikenal sebagai jajanan khas Kediri, getuk pisang ternyata juga banyak diproduksi di Jombang. Salah satunya, di Dusun Dempok, Desa Sidomulyo, Kecamatan Megaluh. Bahan pisang yang digunakan selalu raja nangka.

“Sebenarnya semua pisang bisa digunakan getuk, tapi hanya pisang raja nangka yang warnanya sangat pas bisa cokelat keunguan. Jika menggunakan pisang lain, harus menggunakan pewarna makanan dan itu kurang efektif,” kata Muhammad Atiq, salah satu pembuat getuk pisang di Sidomulyo.

Setiap pagi, ia selalu sibuk di dapur untuk memproduksi ratusan bungkus getuk pisang. Musim atau tidak musim hajatan, Atiq selalu ramai pesanan karena tidak hanya untuk hajatan, tapi juga dijual di pasar-pasar.

Getuk pisang ini memang menjadi salah satu jajanan primadona ala hajatan. Itu dikarenakan rasanya khas dan bentuknya yang unik. Tak heran, getuk pisang ini laris diburu masyarakat. Apalagi dibuat dari pisang murni tanpa campuran bahan kimia, getuk ini dinilai sehat dan aman dikonsumsi.

Berbeda dengan getuk pisang yang dijual pedagang asongan dengan ukuran besar. Atiq justru membuat getuk pisang dengan ukuran mini. Jenis ukuran kecil ini sesuai dengan ukuran yang paling banyak diminati masyarakat, sebagai hidangan acara hajatan.

Harganya murah, hanya Rp 1.000 perbiji. Dengan bentuk kecil dan harga cukup terjangkau, makanan ini sering  dipesan untuk  bingkisan  atau hanya sekedar oleh-oleh. Harga Rp 1.000 itu hanya varian, tidak semua dijual dengan harga Rp1.000. Bergantung ukuran dari pemesannya.

Jika menginginkan ukuran lebih besar otomatis harganya juga lebih mahal, paling mahal bisa sampai Rp 10.000 per biji. “Dulu saya malah jual 500, tapi menurut saya terlalu kecil. Jadi yang 500 sudah tidak membuat lagi, paling murah 1000 yang paling mahal 10.000. Karena yang 500 bungkusnya lama, isinya sedikit, butuh daun banyak,” katanya.

Ia menyebut, pisang raja nangka menjadi salah satu pisang yang pas untuk bahan utama getuk. Khusus untuk berbagi tips membuat getuk, pisang tidak diperkenankan harus matang sempurna.

Cukup setengah matang saja sudah bisa dipakai dan justru lebih bagus setengah matang. Kalau kurang matang rasanya akan sedikit masam, jika terlalu matang maka tidak bisa padat setelah digulung.

Pisang setengah matang raja nangka, lanjutnya, dikupas kemudian dikukus 4 sampai 5 jam. Setelah matang, baru dihaluskan menggunakan mixer, dan dicampur dengan vanili, gula dan garam. Sebetulnya rasa manis sudah didapatkan dari buah pisang itu sendiri.

Namun, untuk lebih menyempurnakan rasa, maka perlu ditambah sedikit gula dan sedikit garam. Setelah di mixer dalam keadaan panas pisang halus langsung di bungkus. Pembungkusan harus dalam keadaan panas, jika terlalu lama dibiarkan hingga dingin maka tidak akan bisa dibentuk lagi setelah digulung, barulah diberi label dan siap untuk dipasarkan.

“Daunnya ditumpuk dua karena semakin tebal daun maka keawetan getuk akan semakin lama,” tambahnya. Pembuatan getuk pisang bisa juga menggunakan jenis pisang yang lain. Seperti pisang saba, pisang candi, pisang byar dan pisang-pisang yang lain. Hanya saja warna yang dikeluarkan tidak coklat seperti pisang raja nangka. Selain itu harga pisang yang lain juga cukup mahal.

Untuk satu tandan pisang raja nangka, lanjut dia, bisa jadi 250 hingga 300 biji getuk pisang ukuran mini Rp 1.000 per biji, bergantung pada besar kecilnya ukuran pisang. Sementara harga jual antara Rp 30 ribu sampai Rp 110 ribu tergantung musim dan besar kecilnya pisang.

“Selain raja nangka harganya bisa dua kali lipat lebih mahal, maka dari itu kita pakai pisang raja nangka paling bagus dan terjangkau,” tambahnya. Menurutnya, pisang itu ia dapat dari pasar, dan tidak langsung membeli dari petani karena kualitasnya yang belum mumpuni.

Pisang raja nangka di Jombang tidak sebagus pisang raja nangka yang berasal dari Trenggalek dan Malang. Kadar air pisang raja nangka di Jombang lebih banyak, sehingga dikhawatirkan jika dibungkus akan menjadi sangat lembek.

Satu-satunya daerah yang menghasilkan pisang raja nangka bagus di Jombang adalah wilayah Wonosalam. “Tapi saya tidak pernah mencari kesana, langsung beli di pasar. Di pasar langsung beli dari Trenggalek dan Malang karena hasilnya lebih bagus,” jelasnya.

Produksi getuk pisang ini sudah mulai ditekuni Atiq sejak 2006 lalu. Saat ia masih mondok, diajarkan salah satu orang tua temannya yang berasal dari Kediri. Hasil dari pengalamannya belajar kemudian ia aplikasikan sendiri di rumah.

Ia mengaku, awal getuk pisang berhasil cukup bagus, tapi pemasaran tidak semudah yang dibayangkan. Ia masih sulit memasarkan getuk pisang lantaran belum familiar untuk acara hajatan.

Bulan yang paling ramai selain Idul Fitri, Maulid Nabi, Tahun baru Islam, dam Rajab. Tahun ajaran baru ia banjir order karena getuk pisang dijadikan oleh-oleh. Apalagi getuk pisang terbilang awet selama dua hari lebih. Daun yang tebal membuat getuk lebih awet bahkan ada yang pernah bawa ke luar negeri dan ke luar pulau.

“Tapi sebelumnya harus bilang dulu untuk menebalkan daun agar sampai tujuan tidak basi, kalau untuk hajatan biasa cukup dua lapis daun untuk dua hari, biasanya seminggu sebelum lebaran rame pesenan lagi,” pungkas dia. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sun, 17 Feb 2019 16:44:49 +0700
<![CDATA[Sate Kampret, Salah Satu Destinasi Kuliner Malam Legendaris di Jombang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/17/119880/sate-kampret-salah-satu-destinasi-kuliner-malam-legendaris-di-jombang https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/17/119880/sate-kampret-salah-satu-destinasi-kuliner-malam-legendaris-di-jombang

JOMBANG – Di kalangan pecinta kuliner malam di Jombang, nama ‘Kampret’ tak asing di telinga. Ternyata, kampret merupakan suku kata kedua dari Jumain Kampret]]>

JOMBANG – Di kalangan pecinta kuliner malam di Jombang, nama ‘Kampret’ tak asing di telinga. Ternyata, kampret merupakan suku kata kedua dari Jumain Kampret, pendiri warung yang berada di Jalan Seroja ini. Yang unik, Jumain Kampret adalah nama yang sesuai dengan KTP.

Bersama istrinya yang bernama Yulianah, Jumain Kampret mendirikan sebuah warung di sisi barat stasiun lama Pasar Legi, sekitar 25 tahun silam. Menu yang dijual di warung adalah nasi pecel, dengan lauknya yaitu sate sapi. Warung Jumain Kampret ini juga menjual nasi kare ayam dan nasi lodeh.

Namun yang menjadi unggulan di warung Jumain Kampret adalah menu sate sapi. Rasa pedas pada sate sapi buatan Jumain Kampret, menjadi ciri khas utama. Pedasnya tidak tanggung-tanggung, siapapun yang memakannya dijamin akan mandi keringat.

Namun sayang, pembeli tidak akan bisa lagi bertemu dengan Jumain Kampret. Ia telah meninggal  tiga tahun lalu. Kepergian Jumain Kampret diikuti Yulianah, istrinya, pada dua tahun lalu. Warung yang berada di Pasar Legi kini dikelola Sri Wahyuni, anak dari pasangan Jumain Kampret dan Yulianah.

Kepada Jawa Pos Radar Jombang, Sri bercerita tentang usaha warung makan yang ia kelola. “Warung ini memang buka malam hari, pukul sembilan malam pas baru melayani. Tutupnya ya sampai makanan habis,” katanya.

Sri mengaku tak banyak mengganti resep dan bumbu sate sapi warisan dari orang tuanya. Hanya saja ia menyebut untuk saat ini, satenya lebih pedas dari sebelumnya.

“Dulu waktu yang berjualan bapak, pedasnya biasa saja. Itu karena bumbu yang dicampurkan dengan daging pada saat dibakar, hanya satu kali. Kalau sekarang saya buat dua kali,” imbuhnya.

Selama 25 tahun warung berdiri, Sri mengatakan tak pernah juga mengurangi porsi bahan baku cabai meski harga cabai sedang melonjak. “Setiap hari habis cabai lima kilo,” lanjutnya.

Ia lebih memilih mengurangi keuntungan, daripada membuat kecewa pelanggan. “Kalau cabai dikurangi, pedasnya juga akan berkurang. Lebih baik baik keuntungannya yang turun sedikit,” tambahnya.

Hal ini menurutnya pernah terjadi dua tahun lalu, saat harga cabai tembus di angka Rp 100 ribu per kilo. “Meski harga cabai naik, harga sate juga tidak berubah,” ujarnya.

Per 10 tusuk sate sapi, dijual Sri dengan harga Rp 40 ribu. Harga akan disesuaikan lagi jika pembeli yang datang meminta sate sapi di bawah 10 tusuk. “Kalau dimakan dengan nasi pecel atau lodeh, harganya juga beda lagi,” ucap Sri.

Rata-rata warung sate sapi ini tutup pada pukul 02.00 WIB. “Banyak pelanggan dari luar kota, bahkan sampai Jawa Tengah. Terkenal dengan nama sate kampret karena memang didirikan Pak Kampret,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sun, 17 Feb 2019 16:19:10 +0700
<![CDATA[Wayang Potehi; Dari Kayu Waru Gunung, Pakaian dari Bahan Khusus]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/11/118825/wayang-potehi-dari-kayu-waru-gunung-pakaian-dari-bahan-khusus https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/11/118825/wayang-potehi-dari-kayu-waru-gunung-pakaian-dari-bahan-khusus

JOMBANG - Keberadaan Wayang Potehi di Museum Potehi Klenteng Hong San Kiong, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang sudah terkenal hingga pelosok nusantara.]]>

JOMBANG - Keberadaan Wayang Potehi di Museum Potehi Klenteng Hong San Kiong, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang sudah terkenal hingga pelosok nusantara. Namun belum banyak yang tahu bagaimana pembuatan wayang mungil berbagai karakter tersebut.

Biasanya, Wayang Potehi setengah jadi dijajar di halaman museum.  Ada karakter raja, putri, prajurit hingga anak anak dengan wajah lucu. Ratusan Wayang Potehi tersebut dibuat dari kayu warung gunung. Dipilihnya kayu warung gunung karena bahannya empuk, mudah dibentuk dan tidak mudah pecah ketika dipahat.

”Apalagi kayu warung gunung memiliki tekstur warna yang bersih. Sehingga memudahkan pewarnaan,” ujar Alfian, 32 dalang Wayang Potehi. Setelah dipahat, proses selanjutnya adalah pewarnaan. Proses ini sangat krusial karena pemilihan warna menentukan karakter setiap wayang.

Misalnya, karakter raja biasanya diberi paduan warna merah dan hitam. Hal itu tentu berbeda degan pemberian warna untuk karakter ratu maupun anak anak. ”Ada ribuan karakter di Wayang Potehi. Karena setiap cerita beda pula karakter yang dimainkan,” sambung dia.

Pastinya, untuk membuat wayang itu membutuhkan tingkat ketelitian dan kejelian begitu tinggi. Ini setelah setiap karakter wayang memiliki bentuk yang berbeda. “Masing-masing punya karakter tertentu,” tambah Supangat salah seorang pemahat.

Setelah pewarnaan kelar, kemudian wayang potehi dipasangkan baju. Baju tersebut terdiri dari baju dalam, baju utama dan dan topi. Setiap wayang juga diberikan asesoris tambahan seperti senjata dan kipas tergantung dari setiap karakternya. ”Kalau baju dalam itu terbuat dari kain karung, sedangkan baju utama terbuat dari kain santen,” jelas dia memerinci.

Baju baju itu, tidak dibuat di Jombang melainkan didatangkan dari Kabupaten Tulungagung. Karena tidak semua penjahit bisa membuatkan busana untuk Wayang Potehi. ”Kalau di Jombang itu hanya pembuatan wayangnya,” beber dia.

Dalam membuat Wayang Potehi, waktu yang dibutuhkan kadang sampai berminggu-minggu. Karena dalam sekali membuat ada puluhan wayang yang dikerjakan. Sehingga waktu yang dibutuhkan juga lama. 

Wayang Potehi terdiri dari tiga kata yakni poo yang berati kain, tee kantong dan hi pertunjukan. Yang  berarti, adalah pertunjukan kantong kain. Tujuan utama pertunjukan Wayang Potehi tidak hanya sebagai tontonan, namun juga sebagai tuntunan tentang arti kehidupan, perjalanan hidup maupun kematian.

”Selain itu, tujuan pertunjukan wayang potehi adalah untuk menghibur dewa-dewi yang ada di klenteng,” papar pria asli Sidoarjo ini. Sejarah wayang potehi pertama kali dikenalkan oleh suku hokian, salah satu suku di Cina.

Kemudian meluas hingga ke daratan Cina dan akhirnya sampai ke wilayah Indonesia dan Taiwan ketika dibawa pedagang China. ”Kalau di Jawa Timur itu pusatnya ada di Jombang dan Surabaya. Di daerah lain juga ada tapi tidak membuat,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 11 Feb 2019 16:07:47 +0700
<![CDATA[Masjid Al-Hidayah dan GKJW Berdiri Satu Pagar, Toleransi Tetap Terjaga]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/08/118416/masjid-al-hidayah-dan-gkjw-berdiri-satu-pagar-toleransi-tetap-terjaga https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/08/118416/masjid-al-hidayah-dan-gkjw-berdiri-satu-pagar-toleransi-tetap-terjaga

JOMBANG – Saat bepergian ke Wonosalam, tak ada salahnya mampir sejenak di Masjid Al-Hidayah yang terletak di Dusun Mutersari, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.]]>

JOMBANG – Saat bepergian ke Wonosalam, tak ada salahnya mampir sejenak di Masjid Al-Hidayah yang terletak di Dusun Mutersari, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng. Masjid tua berukuran mungil ini berdiri satu pagar dengan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mutersari selama berpuluh puluh tahun.

Cerita yang dihimpun Jawa Pos Radar Jombang menyebutkan, pendiri masjid itu Miskunadi, salah seorang warga setempat yang dikenal tekun beribadah. Awalnya, ia hanya membangun sebuah langgar alias musala panggung berbahan bambu sekitar 1967 silam. Dia menggunakan tanah pribadinya sebagai tempat berpijak musala tersebut.

Lambat laun berjalan, Miskunadi mengembangkan bangunan untuk dijadikan masjid yang sedikit lebih layak. Diawali dengan bangunan setengah tembok, agar masjid lebih kokoh saat dipakai beribadah umat Islam. ”Sebenarnya kalau masjid dan gereja ini dibangun lebih dulu gereja. Kalau tidak salah, gereja dibangun 1914, dan masjid 1967,” ujar Nuning Wulandai, anak kandung Miskunadi yang ditemui kemarin (7/2).

Kala itu, di dusun tersebut jumlah umat muslim lebih sedikit dibanding umat kristiani. Karena memang umat kristiani lebih lama menetap di Dusun Mutersari. Sedangkan umat muslim merupakan warga pendatang.

Kendati demikian, berpuluh puluh tahun hidup berdampingan baik umat muslim maupun umat kristiani, tidak pernah merasa terusik dengan kegiatan ibadah masing masing. Mereka tetap rukun dan menjaga toleransi umat beragama satu sama lain.

”Sejak puluhan tahun kita tetap menghormati satu sama lain,” jelasnya. Misalnya, saat jemaat GKJW melakukan ibadah kebaktian Sabtu malam minggu. Di waktu bersamaan, umat muslim melakukan bari’an atau pengajian. Mereka tetap menjalankan kegiatan masing masing. ”Ya tetap dijalankan bersama-sama. Kita saling menghargai,” tandas Nuning.

Namun khusus untuk peringatan kegiatan besar, seperti acara unduh-unduh ataupun Hari Raya Idul Fitri tentu ada perbedaan. Salah satu umat harus mengalah dengan menghormati.

”Misalnya disamping ada unduh-unduh ya otomatis kita tidak menggunakan speaker waktu adzan, kita menghormati dengan cara itu. Tapi kita ya tetap menjalankan ibadah salat lima waktu,” tegasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Fri, 08 Feb 2019 17:05:02 +0700
<![CDATA[Kopi ‘Lanang’ Wonosalam, Produk Perkebunan Penambah Stamina Pria]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/06/117947/kopi-lanang-wonosalam-produk-perkebunan-penambah-stamina-pria https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/06/117947/kopi-lanang-wonosalam-produk-perkebunan-penambah-stamina-pria

JOMBANG - Selain kopi Jegidik, ada lagi kopi lanang yang menjadi produk perkebunan khas Wonosalam. Kopi lanang memang terdengar awam bagi pecinta kopi,]]>

JOMBANG - Selain kopi Jegidik, ada lagi kopi lanang yang menjadi produk perkebunan khas Wonosalam. Kopi lanang memang terdengar awam bagi pecinta kopi, namun bagi masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Anjasmoro itu, kopi lanang sudah dikenal sejak dulu.

Imam Choiril, 28, adalah salah satu petani kopi lanang asal Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Aktivitasnya hampir setiap hari full dengan pengolahan kopi lanang.

Setelah dijemur di bawah terik matahari kurang lebih selama tiga minggu, bapak satu anak ini menyortir mana biji kopi lanang dan mana biji kopi biasa. 

Ya, sebutan kopi lanang adalah istilah penamaan kopi ekselsa (asisah) yang ukurannya lebih kecil dari biji kopi pada umumnya. Selain bijinya lebih mungil, rasa dan khasiat kopi jenis ini dipercaya memiliki efek manjur. Misalnya, untuk kekebalan tubuh dan penambah stamina bagi pria. 

”Mungkin istilah kopi lanang kurang begitu populer di masyarakat. Tapi, kopi jenis ini sudah turun temurun bagi masyarakat Wonosalam,” ujar dia. Dijelaskan, kopi lanang tidak hanya bijinya yang kecil. Melainkan jumlah biji pada buah hanya satu saja.

”Sebuah kopi kalau dibuka pasti bijinya ada dua. Tapi kopi lanang ini hanya satu saja,” terangnya. Lebih lanjut dia memerinci, biasanya dalam satu pohon kopi, biji kopi lanang hanya ditemukan sekian dari banyaknya biji kopi. Biji kopi lanang adalah penyebutan pada biji yang tumbuh kurang maksimal.

”Jika biji kopi pada umumnya, itu bentuknya agak lonjong, tapi kalau biji kopi lanang bentuknya cenderung bulat,” papar dia. Lantas bagaimana rasanya? Bagi lidah orang biasa, rasa kopi lanang saat diseduh hampir sama dengan kopi asisah pada umumnya.

Saat Jawa Pos Radar Jombang mencicipi secangkir kopi yang disediakan Iril, sapaan akrabnya, rasanya sama saja, ada campuran asam dan pahit yang menempel di lidah.

”Namun sebenarnya, lebih asam biji kopi lanang, dan ada beberapa keistimewaan diantaranya menambah stamina dan kekebalan tubuh. Tubuh menjadi lebih hangat,” papar dia. 

Sayang, saat ini kopi lanang belum bisa dipasarkan secara meluas. Selain kopinya yang sulit dicari, cara pemilahan kopi ini cukup lama. Karena butuh kejelian saat menyortir kopi asisah biasa dengan kopi lanang.

”Saat ini kami masih kembangkan, karena terus terang kalau dijual dalam jumlah banyak stoknya yang kurang,” tandasnya. Namun, bagi pecinta kopi tidak ada salahnya berburu sendiri ke Wonosalam atau pesan jauh-jauh hari kepada salah satu petani kopi di Wonosalam.

”Ya bisa pesan tapi lama, karena mencari biji kopi ini tidaklah mudah,” papar dia. Harga yang ditawarkan untuk satu kilo biji kopi lanang juga lebih mahal. Karena sulit dicari, harga kopi ini dipasarkan dua kali lipat.

Kurang lebih Rp 70 ribu per kilogram. ”Berbeda dengan kopi asisah biasa yang harganya sekitar 30 sampai 40 ribu per kilogram,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 06 Feb 2019 11:35:50 +0700
<![CDATA[Selain di Kabuh, Usaha Kerajinan Anyaman Bambu Juga Ada di Sumobito]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/06/117919/selain-di-kabuh-usaha-kerajinan-anyaman-bambu-juga-ada-di-sumobito https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/06/117919/selain-di-kabuh-usaha-kerajinan-anyaman-bambu-juga-ada-di-sumobito

JOMBANG – Tak hanya di wilayah Kecamatan Kabuh, usaha kerajinan anyaman bambu ternyata juga bisa ditemukan di Dusun Tulungrejo, Desa Segodorejo,]]>

 JOMBANG – Tak hanya di wilayah Kecamatan Kabuh, usaha kerajinan anyaman bambu ternyata juga bisa ditemukan di Dusun Tulungrejo, Desa Segodorejo, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang.

Ngaderi, adalah salah satu pengrajin anyaman bambu di dusun tersebut. Jenis anyaman bambu yang diproduksi adalah tomblok, dan sudah berjalan sejak puluhan tahun lalu. “Keranjang bambu, kalau istilah Jawa disebut tomblok,” terang Ngaderi, saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang.

Tangannya terlihat sangat terampil dan cekatan menganyam satu per satu bambu untuk disilangkan, hingga membentuk struktur tomblok. Dia melakoni pekerjaan itu sejak 1970-an.

“Disini ada puluhan yang bikin kerajinan bambu, tapi cuma saya yang bikin tomblok, yang lain biasanya bikin tampah sama kaluh,” imbuh pria 67 tahun ini. Selain karena alasan telah terlalu banyak pengrajin anyaman bambu jenis tampah dan kaluh, ia juga terbiasa sejak muda membuat tomblok.

Terlebih, dirinya mengaku sudah ada langganan tetap yang tiap hari menerima hasik kerajinannya. Setiap harinya, dia mapu memproduksi 5 sampai 6 tomblok. Jumlah itu bisa bertambah banyak jika istri dan anaknya turut membantu. 

“Kalau sendiri paling 6, kalau ada yang membantu bisa sampai 10 per hari,” sambungnya. Tomblok yang sudah jadi, biasanya akan langsung dikirim ke penjual baik, di Jombang maupun luar daerah. Dia pun tak mematok harga mahal, cukup Rp 7 ribu rupiah per biji.

“Ya biasanya ke pasar-pasar kalau di Jombang, kebetulan yang sedang dianyam ini pesanan dari Mojokerto,” terang Ngaderi. Tomblok tersebut menurutnya bisa digunakan untuk berbagai macam wadah.

Selain yang paling umum digunakan sebagai tempat sampah. “Tempat sampah bisa, tapi yang paling banyak pesan itu pengepul rosok, ada juga yang buat tempat bunga dan tape,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 06 Feb 2019 09:43:28 +0700
<![CDATA[47 Tahun Suratman Produksi Kacang Goreng Pasir Pakai Alat Tradisional]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/06/117913/47-tahun-suratman-produksi-kacang-goreng-pasir-pakai-alat-tradisional https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/06/117913/47-tahun-suratman-produksi-kacang-goreng-pasir-pakai-alat-tradisional

JOMBANG – Kabupaten Jombang ternyata memiliki banyak produk makanan ringan dari industri rumah tangga. Kali ini yang ditemukan adalah kacang goreng sangrai]]>

JOMBANG – Kabupaten Jombang ternyata memiliki banyak produk makanan ringan dari industri rumah tangga. Kali ini yang ditemukan adalah kacang goreng sangrai atau yang digoreng menggunakan pasir. Suratman, warga Dusun Mlaten, Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno, adalah salah satu produsen makanan jenis ini.

Ia bahkan sudah menekuni usaha produksi kacang sangrai sejak 47 tahun silam. Dia merupakan salah satu diantara sekian warga yang menggeluti usaha kacang sangrai di wilayah tersebut. Suratman mengungkapkan sudah puluhan tahun menekuni usaha kacang sangrai.

“Sejak 1971 sudah mulai produksi sendiri,” kata dia. Usaha kacang goreng sangrai menurut Suratman sebelumnya juga sudah dilakukan orang tuanya. “Lebih tepatnya usaha turun-temurun, meneruskan mbah-mbah dulu. Sejak jaman Jepang di sini sudah ada ampyang,” imbuh dia.

Singkat cerita, karena meneruskan usaha keluarga, kakek usia 67 tahun ini mengungkapkan hingga sekarang ini alat yang dipakai masih tetap tradisional. Seluruh pekerjaan dilakukan manual. Mulai dari penggorengan, pemilahan kacang hingga pengepakan.

“Dulu itu pernah pakai oven, terus drum tapi nggak jalan. Nggak ada yang laku, terus balik lagi pakai pasir,” papar Suratman. Dengan dibantu enam orang pekerja notabene masih sanak keluarganya, dalam sehari kata dia bisa menggoreng hingga empat kuintal kacang. Mulai dari pukul 07.00 hingga 14.00 WIB.

“Satu orang dua kuintal, itu kacangnya sudah matang. Tinggal dipilah dan dikemas,” sebut Suratman. Tentunya, melihat cuaca. Sebab, ketika sudah musim hujan, biasanya kurang dari empat kuintal. Salah satu penyebabnya, lantaran waktu kacang dijemur bertambah.

“Semua tergantung kacangnya, kalau kacangnya basah waktu jemur sampai satu hari. Kalau kacangnya kering dibasahi air dulu satu hari satu malam lalu langsung digoreng, nggak usah dijemur lagi,” urai dia.

Uniknya, meski produksi berada di Jombang, untuk bahan baku atau kacang jenis hibrida itu justru didapat dari luar Jombang. Biasanya dia membeli dari Nganjuk, Mojokerto, Kabupaten Malang hingga Bojonegoro.

“Bahan baku dari luar semua, kalau kemarau begini dari Dawarblandong (Mojokerto). Nah nanti kalau sudah musim hujan itu mengambil dari Malang dan Blitar,” sebut dia. 

Karena dari beragam daerah, maka kacang-kacang tersebut pun kondisinya berbeda. Perlu dilakukan pemilahan terlebih dahulu sebelum dikemas dalam plastik dengan ukuran beragam. “Kalau di Jombang jarang, adanya kacang kecil-kecil. Kalau yang ini jenis hibrida semua, jadi agak besar,” tutur Suratman. 

Karena masih bertahan dengan alat tradisional, kata Suratman kacang yang dia jual itu murni tanpa tambahan. “Tidak ada perasa maupun pengawet, murni dari sawah kita olah kemudian kita kemas. Kalau kacang basah yang dijemur dulu itu bisa bertahan sampai tiga bulan. Kalau yang kering hanya satu bulanan saja,” rinci dia.

Meski masih memakai alat tradisional, penjualan kacang sangrai itu hingga luar    Jombang. “Satu minggu biasanya jual satu ton, itu keluar kota semua. Mulai Mojokerto, Malang sampai Gresik,” sebut dia. 

Justru musim kemarau seperti sekarang ini yang ditunggu-tunggu. Sebab, penyusutan kacang sewaktu produksi tak  begitu banyak.

“Kondisi kacang setiap daerah berbeda, kalau kemarau begini penyusutannya nggak banyak, satu kilogram rata-rata hanya setengah kilogram saja. Musim hujan sekitar empat sampai lima ons terkadang malah ada yang nggak jadi,” pungkas dia seraya menyebutkan harga per kilonya dibandrol Rp 20 ribu. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 06 Feb 2019 09:02:45 +0700
<![CDATA[Dulu Menganggur Akibat Krisis 98, Kini Sukses dengan Usaha Tape Ketan]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/06/117907/dulu-menganggur-akibat-krisis-98-kini-sukses-dengan-usaha-tape-ketan https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/06/117907/dulu-menganggur-akibat-krisis-98-kini-sukses-dengan-usaha-tape-ketan

JOMBANG – Anda pernah makan tape ketan berwarna hijau dengan bungkus kertas yang dijual di warung atau pasar? Bisa jadi tape yang anda makan adalah hasil produk]]>

JOMBANG – Anda pernah makan tape ketan berwarna hijau dengan bungkus kertas yang dijual di warung atau pasar? Bisa jadi tape yang anda makan adalah hasil produksi Usman Ali, warga Dusun Bandungsari, Desa Bandung, Kecamatan Diwek.

Bersama Aslikah, 57, istrinya, Usman menjalankan usaha tape ketan sejak 90an silam. Masih belum hilang dalam ingatannya saat krisis moneter 1998 lalu, usaha permennya mengalami kebangkrutan.

”Saya waktu itu menganggur,” terang Usman, kepada Jawa Pos Radar Jombang. Di tengah upaya mendapatkan pekerjaan, Usman berfikir keras mencari jalan agar dirinya tidak menganggur. Hingga akhirnya muncul ide merintis pembuatan tape ketan. ”Mungkin karena saya lama bekerja di industri pembuatan permen tape,” bebernya.

”Kebetulan istri saya bisa membuat makanan, saya minta mencoba membuat tape ketan,” imbuhnya. Pertama kali membuat tape ketan, hasilnya lumayan. Hanya untuk dimakan sendiri dan keluarga. Beberapa kali mencoba membuat tape ketan, hasilnya cukup enak. Famili dan tetangga yang diminta mencicipi, menyebut tape ketannya cukup enak.

”Dari situ akhirnya saya dorong istri saya untuk menseriusi produksi tape ketan,” bebernya. Diawal dirinya hanya memasak dalam jumlah terbatas. ”Awal membuat dalam jumlah sedikit, hanya sekitar satu kilogram ketan,” bebernya. Hasilnya lagi-lagi memuaskan. 

Dari situ, dirinya mulai belajar memasarkan produk tape ketan. ”Awal kami pasarkan ke toko-toko di sekitar rumah, termasuk sebagian dijual ke pasar. Ternyata peminatnya banyak,” bebernya.

Melihat prospeknya bagus, dirinya pun secara bertahap menambah jumlah produksi tape ketan. ”Masaknya ditambah, di pasar lagi-lagi laku keras,” bebernya.

Seiring produknya mulai berkembang, dirinya pun mulai melakukan inovasi dan memperluas pasar termasuk membuat label khusus produk. ”Nama produknya, tape ketan Aslikah, sesuai nama istri saya,” imbuhnya.

Seiring produknya kian dikenal luas, dirinya pun mulai kebanjiran order. ”Banyak yang pesan untuk hajatan, khususnya mendekati hari raya permintaan banyak sekali, kadang sampai kuwalahan,” imbuhnya.

Salah satu kunci larisnya produk tape ketan buatan Aslikah, salah satunya dari kualitas rasa. ”Kualias kami jaga betul, mulai dari pemilihan bahan dasar, kita pilih yang terbaik. Termasuk memasak dan kemasannya kami perhatikan betul, jangan sampai konsumen kecewa,” imbuhnya.

Tak ayal produknya pun tembus ke pasaran, tidak hanya di wilayah Jombang, namun juga hingga Kediri, Malang dan Mojokerto. Terhitung sekarang ini usahanya sudah bertahan sekitar 20 tahun, dan jumlah permintaan terus bertambah.

”Sekarang pesanan juga masih lancar, kalau omzet dirata-rata sekitar 25 jutaan per bulan,” bebernya. Tidak hanya melayani penjual eceran, namun Usman juga melayani permintaan sejumlah toko-toko besar di beberapa daerah.

”Jadi produk tape ketan bisa bertahan sekitar enam hari. Per bungkus dijual dengan harga eceran 500 sampai 1.000,” terangnya. Dirinya pun merasa bersyukur sekali dengan pencapaiannya saat ini.

”Sekarang anak-anak saya sudah mentas semua. Saya pun punya penghasilan, jadi tidak bingung lagi cari kerja ke sana kemari,” singkat Usman. Ditanya pengalamannya jatuh bangun menekuni usaha pembuatan tape ketan, dirinya menarangkan dari faktor fluktuasi harga bahan dasar.

”Saya pernah hampir kolaps, 2017 lalu terkena lonjakan harga ketan, biasanya per kilo sekitar 11 ribu, waktu itu naik sampai 23 ribu per kilonya. Alhamdulillah sekarang sudah normal lagi,” terangnya.

Disinggung adakah selama ini dirinya mendapat pembinaan dari Pemkab Jombang, menurutnya tidak pernah. ”Belum pernah ada pembinaan, didata saja ingat saya belum,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 06 Feb 2019 08:02:44 +0700
<![CDATA[Clorotan, Tradisi Petani Bareng Jelang Turun Sawah yang Masih Terjaga]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/02/117378/clorotan-tradisi-petani-bareng-jelang-turun-sawah-yang-masih-terjaga https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/02/117378/clorotan-tradisi-petani-bareng-jelang-turun-sawah-yang-masih-terjaga

JOMBANG – Tradisi clorotan masih tetap dilakukan warga Dusun Kedungwinong, Desa/Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang. Kemarin (1/2) warga berbondong bondong]]>

JOMBANG – Tradisi clorotan masih tetap dilakukan warga Dusun Kedungwinong, Desa/Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang. Kemarin (1/2) warga berbondong bondong mengikuti tradisi colorotan sebagai bentuk rasa syukur menjelang musim turun sawah.

Sejak pukul 07.00 WIB, warga berjalan menyisir sawah menuju makam Mbah Kudus, yang diyakini sebagai tokoh pertama kali mbabat alas. Warga membawa asahan (berkat) jajanan tradisional, termasuk tiga jajanan khas clorotan yakni kue clorot, brondong dan pasung. Sebelumnya, mereka berziarah ke makam anggota keluarga.

Lewi, 75, tokoh masyarakat setempat menyampaikan tradisi clorotan merupakan peninggalan nenek moyang yang dipercaya bisa menghindarkan petani dari ancaman petir dan guntur, kala musim hujan saat dan petani mulai menanam padi.

Untuk terhindar dari petir, halilintar atau geledak, petani harus berdoa kepada Tuhan sembari membuat tiga jajanan tersebut sebagai bentuk rasa syukur jelang tanam.

”Pertama kue clorot terbuat dari tepung beras dicampur gulapasir bisa juga gula kelapa, kemudian dibungkus janur, atau daun kelapa muda. Bentuknya memanjang hampir menyerupai terompet,” ujarnya.

Selanjutnya, berondong alias jajanan yang terbuat dari jagung. Berondong jagung dalam hal ini diwujudkan sebagai bentuk geluduk alias halilintar yang gemelegar di langit.

”Saat turun hujan, pasti ada petir dan geluduk, selalu membahayakan petani,” jelasnya. Ketiga kue pasung yang  hampir sama dengan clorotan, terbuat dari tepung beras yang dikukus. Hanya saja, yang membedakan kue ini kemesannya.

Kue pasung dibungkus dengan daun nangka atau daun pisang. ”Kue pasung ibarat pelindung, sebagai bentuk doa kepada Tuhan agar petani diberi keselamatan saat menanam padi,” tandas dia.

Tiga jajanan tradisional itu harus disediakan petani untuk memohon keselamatan. Selama ini petani selalu nurut apa yang dikatakan sesepuh desa. ”Alhamdulilah selama ini tidak pernah terjadi hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sat, 02 Feb 2019 14:27:32 +0700
<![CDATA[Wastafel Batu Buatan Warga Japanan Mojowarno Diekspor ke Luar Negeri]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/02/117375/wastafel-batu-buatan-warga-japanan-mojowarno-diekspor-ke-luar-negeri https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/02/117375/wastafel-batu-buatan-warga-japanan-mojowarno-diekspor-ke-luar-negeri

JOMBANG - Batu sungai yang biasa dipakai bahan bangunan, mampu disulap oleh Yakub, perajin asal Desa Japanan Mojowarno menjadi wastafel atau tempat cuci piring.]]>

JOMBANG - Batu sungai yang biasa dipakai bahan bangunan, mampu disulap oleh Yakub, perajin asal Desa Japanan Mojowarno menjadi wastafel atau tempat cuci piring. Harganya lebih terjangkau dari wastfael berbahan keramik.

Pagi itu, suara gergaji mesin begitu nyaring. Terasa terngiang ditelinga. Debu bertebaran dimana-mana hingga membuat lingkungan sekitar berdebu. Ya debu dan suara itu berasal dari proses pemotongan batu untuk pembuatan wastafel.

Siapa sangka di Dusun Sedah, Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno ini ada usaha kecil menengah pembuatan beberapa macam kerajinan mulai dari wastafel, lampu taman hingga bak mandi dengan bahan utama batu.

”Kalau untuk lampu taman dan bak mandi hanya membuat jika ada permintaan. Paling banyak kami membuat wastafel,’’ ujar Yakub, 32 perajin wastafel kemarin.

Awal mula Yakub belajar membuat wastafel dan kerajinan berbahan batu lainnya berawal dari coba-coba. Pada 2015 lalu, ia bertekad untuk mendirikan usaha tersebut. ”Ya awalnya saya pernah kerja jadi buruh di Trowulan selama kurang lebih 14 tahun. Lalu saya ingin meneruskan sendiri di rumah,’’ beber dia.

Yakub membutuhkan batu berukuran besar untuk membuat wastafel, sebab ukuran wastafel paling kecil sekitar 100 x 60 sentimeter. ”Ya bahan utama harus batu berukuran besar. Semua jenis batu sama, tapi paling bagus adalah batu ijo dari Pacitan,’’ tambah dia.

Untuk bahan dasar pembuatan wastafel, dia membeli nya dari beberapa pengepul batu. Per truknya, batu tersebut dihargai Rp 3 juta. ”Kita belinya borongan, 3 juta ya dapat besar, kecil, tidak menentu,’’ tandasnya.

Untuk satu wastafel berukuran 100 x 60 sentimeter dia menjual dengan harga bervariatif, mulai dari Rp 150 ribu hingga 180 ribu tergantung dari tingkat kerumitan dan kekerasan batu tersebut. ”Sebab, beberapa batu kali yang memiliki bahan keras membutuhkan beberapa kali proses pemotongan, bahkan harus mendapat perlakuan khusus dari batu-batu lainnya,” jelas dia.

Jika dibandingkan dengan wastafel berbahan keramik, memang wastafel bahan batu lebih murah. Selisihnya bisa Rp 20 ribu sampai 50 ribu. Di beberapa toko, wastafel keramik dijual mulai Rp 200 ribu sampai 250 ribu.

Dalam sebulan, yakub dan 10 pekerjanya bisa membuat 400-an buah wastafel siap kirim. Wastafel yang sudah jadi tersebut dikirim ke beberapa daerah mulai Jateng, Bali hingga Singapura. ”Namun saya lewat perantara di Trowulan sana,’’ pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sat, 02 Feb 2019 14:18:34 +0700
<![CDATA[Kisah Sukses Zulaikah Produksi Telur Asin Meski Sempat Dilarang Suami]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/01/117224/kisah-sukses-zulaikah-produksi-telur-asin-meski-sempat-dilarang-suami https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/01/117224/kisah-sukses-zulaikah-produksi-telur-asin-meski-sempat-dilarang-suami

JOMBANG - Bermula dari jualan telur eceran keliling, Zulaikah, perlahan sukses menapaki usaha telur asin. Kini produknya jadi langganan sejumlah rumah makan.]]>

JOMBANG - Bermula dari jualan telur eceran keliling, Zulaikah, perlahan sukses menapaki usaha  telur asin. Kini produknya jadi langganan sejumlah rumah makan.

Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu, usaha produksi telur asin yang digelutinya masih bertahan. Jika di awal merintis, dirinya sempat tertatih-tatih, kini ibu tiga anak ini bisa menyambut hari-hari tuanya tanpa harus berkeliling jualan telur.

Pasalnya, omzet yang didapat dari penjualan telur asin sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Ya, itulah sekelumit cerita perjalanan Zulaikah, warga asal Desa Tanjunggunung, Kecamatan Peterongan yang sukses menekuni usaha   telur asin.

“Sekarang sudah tidak melayani warung-warung eceran, Sudah tidak perlu keliling untuk jualan, sebab sudah punya banyak pelanggan,” beber Zulaikah saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang di rumahnya beberapa waktu lalu.

Ibu tiga anak ini menuturkan, awal dirinya merintis produksi telur asin sekitar 2010 lalu. Saat itu dirinya tergerak membantu Tabar, 58, suaminya mencari tambahan nafkah. Maklum saja, pendapatan yang didapat suaminya dari berjualan kerupuk keliling dinilai minim.

Tak ingin berdiam diri di rumah, dengan modal seadanya, Zulaikah mulai menggeluti jual beli telur. ”Kalau tidak salah, modal waktu itu Rp 40 ribu. Saya beli telur kampung dari tetangga sekitar, terus saya jual keliling, ya sering ke warga perumahan naik sepeda ontel,” bebernya.

Melihat istrinya berjualan keliling seperti itu, Tabar suaminya pun tidak tega, sehingga melarang Zulaikah berjualan telur keliling, terlebih saat itu Zulaikah berkeliling sambil membonceng anaknya yang masih kecil. ”Waktu itu sama suami dilarang, mungkin kasihan. Tapi saya tidak mau menyerah, sambil naik sepeda ontel saya tetap jualan,” bebernya.

Meski hasilnya tidak seberapa, Zulaikah terus bersemangat berjualan telur keliling. Hingga sekitar 2011, salah satu pelanggannya menyarankan dirinya berjualan telur asin.

Meski belum memiliki pengalaman, Zulaikah mulai berani mencoba memproduksi telur asin. ”Saya cari orang jual telur bebek sampai ke beberapa tempat, ke Kesamben,” bebernya.

Sesampainya di rumah, dirinya pun segera membersihkan telur bebek yang akan dijadikan produk telur asin. ”Waktu awal coba-coba, sekitar lima kilo telur,” bebernya.

Usai telur dibersihkan, langkah selanjutnya   menyiapkan tong berukuran sedang, di dalamnya diisi air dan garam grosok secukupnya. Proses selanjutnya, memasukkan telur bebek ke dalam tong, dan setelahnya menutupnya rapat dan dibiarkan selama beberapa hari. ”Waktu itu saya coba rendam tujuh hari,” bebernya.

Memasuki hari ketujuh, Zulaikah mengeluarkan telur dari tong dan mencucinya kembali dengan air bersih. ”Setelah itu di masak seperti membuat pentol begitu, ditunggu sampai matang,” bebernya.

Sesuai harapan, produk telur asin buatannya dirasa enak. ”Saya jual ke pelanggan saya, katanya enak, akhirnya saya kembangkan sampai sekarang,” bebernya.

Seiring produknya semakin dikenal, Zulaikah pun banyak kebanjiran permintaan, sampai-sampai kuwalahan. ”Akhirnya suami putuskan berhenti jualan kerupuk, dan bantu-bantu saya jualan telur asin ke pasar,” bebernya.

Tidak jarang lanjut Zulaikah, dirinya menerima pesanan dalam jumlah besar. ”Khsususnya mendekati hari raya, atau orang pesan buat hajatan, pernah sehari permintaan sampai seribu lebih telur asin,” imbuhnya.

Uniknya, Zulaikah berhasil mengembangkan kreasinya menciptakan ragam produk telur asin. ”Jadi telur asin rasanya beragam. Ada yang minta asin, atau rasa asin minta sedang juga bisa, tergantung permintaan. Tinggal metode waktu merendam telur dan  takaran garamnya kita otak-atik, nanti menghasilkan rasa berbeda,” imbuhnya.

Jika sebelumnya, dirinya banyak melayani warung-warung eceran. Seiring bertambahnya pelanggan, dia memutuskan berhenti berjualan keliling. ”Sekarang beberapa rumah makan di Jombang ambil telur asinnya dari saya. Terus lagi, langganan di pasar juga banyak,” bebernya.

Untungnya, sekarang ini dirinya tidak perlu lagi kesulitan mencari stok bahan baku telur bebek, sebab dirinya sudah memiliki sejumlah langganan peternak bebek. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Fri, 01 Feb 2019 18:31:25 +0700
<![CDATA[Dusun di Jombang Ini Bernama Memek, Jadi Viral karena Salah Pelafalan]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/30/116785/dusun-di-jombang-ini-bernama-memek-jadi-viral-karena-salah-pelafalan https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/30/116785/dusun-di-jombang-ini-bernama-memek-jadi-viral-karena-salah-pelafalan

JOMBANG - Ada banyak kampung dengan nama aneh di Kabupaten Jombang. Mulai Dusun Bogem di Kecamatan Diwek, Dusun Pacar Peluk di Kecamatan Megaluh, dan masih ada]]>

JOMBANG - Ada banyak kampung dengan nama aneh di Kabupaten Jombang. Mulai Dusun Bogem di Kecamatan Diwek, Dusun Pacar Peluk di Kecamatan Megaluh, dan masih ada yang lain lagi.

Namun ada satu kampung dengan nama nyeleneh sekaligus menggelitik akhir-akhir ini yang viral di media sosial. Kampung itu adalah Dusun Memek, Desa Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh.

“Namanya memang Memek, tapi artinya bukan alat kelamin wanita lho,” ungkap Kepala Desa Tanjungwadung Supono, kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Ya, di desa tersebut memang terdapat sebuah kampung dengan nama Dusun Memek. Pihak pemerintah desa sendiri tak tahu apa arti dari kata Memek tersebut. Mereka juga tak tahu latar belakang sejarah apa sehingga dusun itu bernama Memek.

Bukti-bukti fisik seperti dokumen pemerintahan yang menjelaskan arti kata Memek juga tidak terdapat satupun di balai desa. Tak ada pula benda arkeologi atau peninggalan sejarah yang berhubungan dengan nama Dusun Memek. Ia menyebut, nama Dusun Memek populer karena terjadi kesalahan pengucapan dari pembaca kata tersebut.

“Sebenarnya huruf e dari nama dusun itu, pengucapannya sama seperti kata jelas atau pernah. Bukan huruf e seperti dalam kata bebek, becek, dan lainnya,” lanjutnya.

Namun yang terjadi, pengucapan nama Dusun Memek sebagian besar menyalahi prinsip ejaan yang disempurnakan (EYD). Huruf e dalam kata Dusun Memek, dibaca sebagai e (tajam). Padahal semestinya dibaca sebagai e (lemah). Dalam ilmu Bahasa Indonesia, kata-kata yang memiliki ejaan sama tetapi pelafalan dan maknanya berbeda disebut homograf.

Hal ini diakui Supono sebagai penyebab mengapa nama Dusun Memek begitu populer di masyarakat. Sebab terjadi kesalahan pengucapan kata. Dusun Memek juga diakui Supono telah viral di  media sosial. “Banyak orang dari luar desa bahkan luar daerah yang sering datang ke Tanjungwadung, dan bertanya mengenai nama Dusun Memek,” imbuhnya.

Pengendara yang melintasi wilayah Desa Tanjungwadung, juga sering berhenti di depan gapura masuk Dusun Memek untuk berfoto. Supono mengatakan, warga desa yang hidup di era sekarang tidak tahu awal mula dipilihnya nama Memek.

Sebab tak ada cerita yang diwariskan secara turun temurun, dari orang tua atau tokoh pendahulu desa. “Dulu ada banyak sesepuh yang kemungkinan besar tahu sejarah desa dan dusun-dusun di Tanjungwadung. Tapi sudah meninggal semua,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 30 Jan 2019 13:50:27 +0700
<![CDATA[Gunakan Cara Manual, Kerajinan Pande Besi di Jombang Masih Tetap Eksis]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/30/116719/gunakan-cara-manual-kerajinan-pande-besi-di-jombang-masih-tetap-eksis https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/30/116719/gunakan-cara-manual-kerajinan-pande-besi-di-jombang-masih-tetap-eksis

JOMBANG – Sejumlah pande besi di Jombang sampai sekarang masih bertahan. Satu di antaranya di Dusun/Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo.]]>

JOMBANG – Sejumlah pande besi di Jombang sampai sekarang masih bertahan. Satu di antaranya di Dusun/Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo. Mereka tetap eksis menggunakan alat manual.

Pembuatan sabit, cangkul dan sejenisnya oleh perajin pande besi, masih bisa ditemukan di Jombang. Kerajinan yang sudah ada sejak puluhan tahun silam itu pun kini masih tetap berproduksi.

Di Dusun Pucangsimo misalnya, warga setempat masih menekuni kerajinan yang berbahan dasar dari besi itu. Jumlahnya terbilang masih banyak, hingga 20 perajin. “Total kalau dihitung di sini ada sekitar 20 orang,” kata Jumali salah seorang  pande besi.

Jumali menjadi satu di antara puluhan warga yang masih menggeluti usaha kerajinan itu sejak masih muda. “Punya saya ini sudah ada sekitar 22 tahun yang lalu, awalnya dulu  ikut orang, kemudian buka sendiri,” imbuh dia.

Karena masih banyak, maka jangan heran ketika bertandang ke dusun ini akan mendengar dentuman besi yang dipukul terdengar begitu keras dan saling sahut. Maklum, kerajinan itu semua dikerjakan dengan manual.

Mulai dari proses pemotongan besi, pembakaran, hingga pembuatan gagang. Saking banyaknya, banyak yang bilang di Dusun Pucangsimo menjadi sentra pande besi di Jombang. “Jadi semua masih pakai alat manual, mulai dari nol. Bahan dirajang (dipotong), sampai dibakar lalu dipanaskan lagi dan tengahnya dibelah dikasih baja sampai dibentuk,” sambung dia.

Karena itu, untuk membuat kerajinan itu tak bisa dilakukan sendiri. Butuh sekitar lima sampai delapan orang. Milik Jumali, di dibantu empat orang pekerja. “Semakin banyak yang kerja maka bisa cepat selesai dan buatnya juga bisa banyak,” papar lelaki kelahiran Jombang 1968 ini.

Meski masih banyak dikerjakan secara manual, lanjut bapak satu anak ini, beberapa perajin lainnya sudah mulai bergerak menggunakan mesin. Di wilayah setempat saat ini ada satu yang memakai mesin. “Lebih banyak manual, mesin hanya satu orang. Soalnya kalau pakai mesin butuh biaya besar, alatnya saja sekitar Rp 15 juta-an,” sebut Jumali.

Sembari membentuk motif pada gagang sabit, diakui meski jumlah perajin masih banyak, mereka tak beraktivitas setiap hari. Hanya ketika ada pesanan. “Tergantung pesanan, kalau ada pesanan ya kita buat. Kadang-kadang hanya dua atau tiga hari kemudian libur,” papar dia. Untuk bahan baku besi dan baja para perajin biasanya membeli di Pasar Tunggorono.

Begitu juga dengan alat pertanian yang dibuat, rata-rata para perajin hanya membuat sabit saja. “Memang tidak ada yang khusus  cangkul atau alat tertentu. Yang paling banyak sabit,”’ beber Jumali.

Pasarannya juga sudah beredar keluar Jombang. Menurut dia, rata-rata perajin sudah punya pasaran sendiri. “Kalau saya biasanya kirim ke Ngoro, biasanya nanti dari sana akan dijual lagi. Terkadang ke Jawa Barat kadang keluar pulau seperti Kalimantan,” urai dia.

Harga satu sabit kata dia, juga tergantung bentuk dan ukuran. “Rp 25 ribu harga grosir, kalau ke konsumen langsung sekitar Rp 40 ribu. Sebenarnya semua tergantung ukuran, karena ada yang kecil ada pula yang besar,” pungkas Jumali. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 30 Jan 2019 08:51:18 +0700
<![CDATA[Sepi Pembeli, Perajin Wajan Raksasa di Bareng Tak Produksi Setiap Hari]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/29/116611/sepi-pembeli-perajin-wajan-raksasa-di-bareng-tak-produksi-setiap-hari https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/29/116611/sepi-pembeli-perajin-wajan-raksasa-di-bareng-tak-produksi-setiap-hari

JOMBANG – Perajin wajan di Desa Muranggung, Kecamatan Bareng mulai sepi permintaan. Mereka pun tidak bisa memproduksi wajan setiap harinya. Hadi Santoso, adalah]]>

JOMBANG – Perajin wajan di Desa Muranggung, Kecamatan Bareng mulai sepi permintaan. Mereka pun tidak bisa memproduksi wajan setiap harinya. Hadi Santoso, adalah salah satu perajin wajan besi berukuran jumbo yang mengalami kondisi seperti itu.

Hadi juga merupakan penerus dari pengusaha pertama yang ada di Dusun/Desa Muranggung, Kecamatan Bareng. Usaha itu ditekuni ayahnya sejak 1942 dan berjalan secara turun-temurun. Sehingga, ia terus melanjutkan usahanya meski saat ini mulai sedikit lesu.

“Untuk wajan yang kami buat minimal berdiameter satu meter, bahkan bisa lebih tergantung pemesanan,” ujarnya saat didatangi ke rumahnya kemarin. Ia juga mengatakan, untuk saat ini pembuatan wajan tidak dilakukan setiap hari, berbeda dengan lima tahun yang lalu. Kini, ia membuat wajan hanya dilakukan seminggu satu kali hingga dua kali saja.

”Karena permintaan mulai sepi saat ini mas, terlebih lagi kan wajan ini kuat hingga lima tahun sehingga orang yang memesan baru pesan lagi lima tahun kemudian,” ungkapnya.

Diakuinya, di desanya ada tiga perajin wajan. Sehingga, agar dirinya tetap laris dan terus mendapat pelanggan. Wajannya harus lebih berkualitas dibandingkan dengan yang lain. ”Kalau dulu masih tidak ada saingan jadi masih laris, sekarang bersaing di kualitas agar tetap dapat pelanggan,” bebernya.

Beberapa puluh tahun, saat jaya-jayanya, dirinya bisa membuat dan menjual 200 wajan setiap bulannya. Kini Hadi hanya mampu menjual 20-25 wajan setiap bulan. ”Penurunan permintaan sangat jauh sekali. Makanya itu, saya tidak berani produksi setiap hari, nanti malah rugi,” keluh bapak satu anak tersebut.

Tidah hanya permintaan yang sepi, kendala yang dialami Hadi sebagai perajin wajan merupakan bahan bakunya yang terus merangkak naik. Tahun lalu, dirinya membeli besi di Surabaya dengan harga Rp 7000 per kilo kini Rp 9000 per kilo. ”Sekarang besi tua juga sangat mahal. Jadi terpaksa juga menaikkan harga wajannya,” imbuhnya.

Biasanya dirinya menjual wajan dengan harga Rp 15 ribu per kilo, akan tetapi saat ini dirinya terpaksa menjual dengan harga Rp 18 ribu per kilo, karena harus menyesuaikan harga bahan baku. ”Ya kalau tidak dinaikan bagaimana mau gaji pegawai nantinya, jadi ya terpaksa juga dinaikan harga wajannya,” katanya lagi.

Untuk penjualan, dirinya biasanya menjual ke pabrik-pabrik di Sidoarjo, Gresik dan Surabaya. Kebanyakan yang mengambil merupakan pabrik kerupuk atau makanan ringan. “Untuk Jombang  sendirin biasanya yang memesan pengusaha petis,” ungkapnya.

Meski saat ini usahanya sedikit lesu, akan tetapi dirinya akan terus melanjutkan usahanya tersebut. Selain usaha turun-temurun, usahanya ini sudah cukup untuk membiayai keluargannya. ”Ya semoga saja usaha wajan ini nantinya bisa kembali besar lagi,” harapnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 29 Jan 2019 16:43:46 +0700
<![CDATA[Ternyata Ada di Jombang, Peternak Ayam Hias Jenis American Silky]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/29/116495/ternyata-ada-di-jombang-peternak-ayam-hias-jenis-american-silky https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/29/116495/ternyata-ada-di-jombang-peternak-ayam-hias-jenis-american-silky

JOMBANG - Masih cukup jarang dijumpai di wilayah Kabupaten Jombang, peternak ayam jenis American Silky atau yang biasa disebut ayam hias. Perawatan ayam hias]]>

JOMBANG - Masih cukup jarang dijumpai di wilayah Kabupaten Jombang, peternak ayam jenis American Silky atau yang biasa disebut ayam hias. Perawatan ayam hias hampir sama dengan ayam pada umumnya. Namun karena masih jarang, harganya menjadi sangat mahal.

Purwanto, warga Dusun Wersah, Desa Kesamben, Kecamatan Jombang, adalah salah satu peternak ayam jenis ini. Ayam yang dipeliharanya memiliki bulu lembut, tak heran warga sering menjuluki ayam bulu kapas.

Di kandang berukuran 12x3 meter, Purwanto mengembangbiakkan ayam hias American Silky tersebut. Perawatan ayam tersebut tidak jauh berbeda dengan ayam-ayam biasanya. Namun membutuhkan kandang yang selalu bersih agar ayam bisa selalu sehat.

”Untuk perawatan tidak terlalu sulit, untuk kandang dan makanan harus selalu bersih,” ujar pria berusia 30 tahun tersebut. Untuk makanan,  juga hampir sama dengan makanan ayam biasanya, hanya saja memang memang butuh tambahan sayur-sayuran seperti sawi hijau.

”Kalau makanan  biasanya saya tambah dengan sawi hijau, agar berserat jadi ayam juga sehat dan mudah bertelur,” ungkapnya. Awal mula dirinya mulai beternak ayam bulu kapan itu sekitar awal 2018. Diceritakannya  Pada tahun 2016, dirinya peternak burung dara hias, dan kemudian bertemu dengan pencinta hewan hias di Ngawi, yang merupakan peternak ayam bulu kapas.

”Waktu itu saya tertarik ingin belajar, hingga dua tahun saya belajar dan mulai beternak pada awal tahun 2018,” tuturnya. Pada waktu belajar untuk berternak, dirinya cukup mendapat kesulitan. Karena, dirinya sangat sulit mendapatkan indukan ayam american silky tersebut. Seringkali, dirinya tertipu saat membeli.

”Saya dulunya beli melalui medsos, sangat sulit mencari banyak yang menipu,” ungkapnya. Bahkan, dirinya harus mengelurakan uang sampai Rp 60 juta untuk membeli ayam-ayam tersebut. Alhasil dirinya bisa mendapatkan sepasang ayam tersebut dan membeli telur untuk ditetaskan sendiri.

”Saya sampai habis puluhan juta karena ketipu juga, beli langsung mati. Akhirnya saya mendapat indukan yang bagus,” katanya. Seiring waktu berjalan, ayam Purwanto semakin banyak, bahkan saat ini dirinya mempunyai sembilan pasang indukan, yang setiap dua hari sekali menghasilkan 10 butir telur.

”Namanya juga berurusan dengan nyawa, kadang bisa menetas semua kadang ya tidak. Tapi kebanyakan memang menetas semua,” imbuhnya. Untuk harga ayam american silky ini terbilang cukup fantastis, bahkan pada usia dua minggu saja harga satu ayam ini mencapai Rp 500 ribu.

”Untuk satu bulan saya jualnya sampai Rp 800 ribu per ekor,” bebernya. Saat ini, dirinya hanya menjual memalui media sosial. Meski begitu, hasil ternak ayamnya cukup dikenal bahkan pembeli kebanyakan dari luar kota  hingga luar pulau, seperti  Kalimantan, dan Bali. ”Memang untuk di Jombang sendiri agak sulit karena harganya cukup mahal,” pungkas bapak dua anak tersebut. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 29 Jan 2019 10:38:02 +0700
<![CDATA[Dijadikan Obat AIDS, Harga Per Ekor Tokek Jombang Tembus Rp 50 Juta]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116360/dijadikan-obat-aids-harga-per-ekor-tokek-jombang-tembus-rp-50-juta https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116360/dijadikan-obat-aids-harga-per-ekor-tokek-jombang-tembus-rp-50-juta

JOMBANG – Berawal dari hobi, Kamim, 67, warga Dusun/Desa Banjardowo Kecamatan/Kabupaten Jombang berhasil mengembangbiakkan tokek. Untuk jenis dan ukuran tokek]]>

JOMBANG – Berawal dari hobi, Kamim, 67, warga Dusun/Desa Banjardowo Kecamatan/Kabupaten Jombang berhasil mengembangbiakkan tokek. Untuk jenis dan ukuran tokek super, harganya tembus Rp 50 juta per ekor.

Kamim mengaku sering kedatangan tamu yang ingin sekadar melihat atau juga ingin membeli koleksi tokeknya. “Ya ini memang yang sudah besar-besar, yang masih ukuran lebih kecil ada di belakang,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Di rumahnya ini, Kamim menyimpan 26 ekor tokek  dalam beberapa kotak. Kamim juga menyebut kini telah mengembangbiakkan tokek dengan empat jenis berdasarkan warna. “Ada yang putih, hijau, hitam dan yang paling mahal itu yang merah bata biasanya,” lanjurnya.

Jumlah ini disebutnya telah jauh berkurang dari jumlah tokeknya beberapa tahun yang lalu. Maklum, meski telah menggeluti hobi dan pekerjaan ini sejak 1983 lalu, Kamim yang dulunya terbiasa berburu tokek pada malam-malam tertentu kini tak lagi sanggup keluar tiap malam.

“Kalau dua tahun yang lalu masih ratusan, ini memang tinggal 26 ini yang tersisa, masih terus diternakkan. Kalau dulu sama mencari mungkin bisa banyak memang, lha sekarang ini kan sudah beternak, dengan dua indukan,” imbuhnya.

Akhirnya, dirinya harus menerima kondisi berkurangnya tokek ini secara drastis lantaran pesanan yang juga harus dilayani tiap bulan. Kamim terbiasa mendapatkan pesanan dari banyak kliennya dari Jakarta hingga Malaysia. Mereka minta dikirim puluhan ekor tokek tiap bulannya. “Kalau dari Jakarta dan Malaysia itu sering memang, buat obat katanya,” tandasnya.

Yang dijualnya pun tak sembarangan tokek, menjadi peternak dan penyedia tokek berpengalaman, tokek yang dikirim minimal berukuran panjang 30 centimeter ke atas. Untuk pesanan banyak model ini, Kamim biasanya menjual tokek-tokeknya seharga Rp 100 ribu per ekornya.

Namun, harga ini tak berlaku untuk tokek berukuran lebih besar. Terbukti, dari hasil penjualan terakhirnya, Kamim berhasil meraup uang Rp 50 juta dari penjualan satu ekor tokek saja. “Ya kemarin memang sudah ditawar dan laku Rp 50 juta, yang warna merah bata itu. Yang beli  dari Jakarta,” ucapnya.

Ditambahkan, sempat populer beberapa tahun lalu, bisnis tokek juga sempat merosot tajam. Namun saat ini, ternyata permintaan tokek masih terus berdatangan.

Orang meyakini, tokek berukuran tertentu memiliki kandungan yang bisa menyembuhkan penyakit, mulai penyakit kulit hingga penyakit AIDS. “Yang beli ya memang ada yang dibuat ternak, ada juga yang katanya buat obat, sejak dulu memang diyakini berkhasiat tokek ini,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 28 Jan 2019 17:35:39 +0700
<![CDATA[Spesifikasi Dua Sirine Tua Peninggalan Belanda di Jombang Berbeda]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116308/spesifikasi-dua-sirine-tua-peninggalan-belanda-di-jombang-berbeda https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116308/spesifikasi-dua-sirine-tua-peninggalan-belanda-di-jombang-berbeda

JOMBANG - Meski memiliki fungsi yang sama, dua menara sirine peninggalan Belanda, memiliki konstruksi yang berbeda. Menara sirine di Jalan Prof Buya Hamka]]>

JOMBANG - Meski memiliki fungsi yang sama, dua menara sirine peninggalan Belanda, memiliki konstruksi yang berbeda. Menara sirine di Jalan Prof Buya Hamka, memiliki ketinggian kurang lebih 11 meter.

Sementara yang berada di Alun-Alun, tingginya hanya enam meter. Ketinggian ini diukur berdasarkan kerangka besi. Bedanya lagi, tower sirine di Jalan Prof Buya Hamka berdiri di atas tanah sejak mulai kerangka besi. Bangunan gardu listrik juga terpisah dengan menara besi.

Sedangkan menara sirine di Alun-Alun, berdiri di atas gardu listrik. Bedanya dengan gardu listrik peninggalan Belanda lainnya, gardu listrik yang jadi satu dengan sirine memiliki jendela yang kerap digunakan ketika sirine akan dibunyikan.

Sementara di gardu listrik yang tak memiliki sirine, bangunan terlihat seperti memiliki keamanan penuh karena hanya memiliki satu pintu tanpa jendela. Bisa jadi, model bangunan ini sengaja dibuat untuk melindungi komponen trafo listrik di dalamnya. Pintu tunggal tanpa jendela juga terlihat sengaja dibuat agar tak semua orang bisa masuk.

Slamet, penjaga sirine di Jalan Prof Buya Hamka mengatakan, kadang-kadang timbul rasa khawatir menara sirine ambruk karena usianya yang sudah tua. Terutama saat hujan deras yang disertai angin kencang.

Karena itu ia sangat berharap ada pemeliharaan lebih serius, yang dilakukan instansi terkait terhadap menara sirine itu. “Karena ini bangunan sejarah, jadi perlu dirawat supaya lebih awet,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 28 Jan 2019 13:18:46 +0700
<![CDATA[Menara Sirine Tua Peninggalan Belanda, Usia Ratusan Tahun Masih Awet]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116307/menara-sirine-tua-peninggalan-belanda-usia-ratusan-tahun-masih-awet https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116307/menara-sirine-tua-peninggalan-belanda-usia-ratusan-tahun-masih-awet

JOMBANG - Selain menara air Ringin Contong, Jombang juga memiliki penanda kota lainnya. Yakni, bangunan menara sirine yang usainya sudah 100 tahun lebih.]]>

JOMBANG - Selain menara air Ringin Contong, Jombang juga memiliki penanda kota lainnya. Yakni,  bangunan menara sirine yang usainya sudah 100 tahun lebih. Baik menara air Ringin Contong maupun menara sirine, keduanya adalah bangunan peninggalan Belanda.

Ada dua bangunan menara sirine, yakni di Jalan Alun-Alun atau selatan Pendopo Kabupaten, dan di Gang Suling ( Jalan Buya Hamka). Lokasi kedua itu warga menyebutnya sebagai Gang Suling karena bunyi sirine  mirip dengan bunyi seruling.

Hingga saat ini, kedua sirine   masih tetap berfungsi normal. Saat zaman Belanda, sirine digunakan tentara dan penanda pekerja. “Pada zamannya bunyi sirine dipakai penanda waktu masuk kerja, pulang, hingga panggilan apel untuk tentara,” kata Moch.Faisol, salah satu pemerhati sejarah Jombang.

Sirine itu digunakan hingga masa pemerintahan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, sirine itu dipakai penanda berbuka puasa dan imsak (sahur). Sedangkan pada hari-hari biasa, sirine tidak pernah dibunyikan. ”Dibunyikan setahun sekali, pada waktu ramadan saja,” ujar Slamet, 66, penjaga sirine di Jalan Buya Hamka.

Di bawah menara suling tersebut, ada sebuah gardu kecil. Ukurannya sempit, hanya kurang lebih 2 x 2 meter. Di gardu tersebut, terdapat instalasi jaringan listrik sebagai sumber tenaga sirine. ”Saya hanya berjaga untuk membunyikan saja, sedangkan perawatan dan pembayaran listriknya ikut pemda,” beber dia.

Bentuk sama juga terlihat di sirine Alun-Alun, posisinya berada di atas atap sebuah gardu. Pada zamannya gardu ini menjadi tempat penyimpanan trafo listrik, juga sebagai tempat menyimpan mesin sirine. Meski besi menara sudah terlihat tua dan berkarat, namun konstruksinya masih sangat kokoh.

Namun bangunan bangunan peninggalan belanda yang mirip gardu listrik tak hanya ada di Alun-Alun dan Jalan Buya Hamka. Di perempatan Kebon Rojo dan samping kelenteng Hok Liong Kiong, juga ada gardu listrik. Bedanya, gardu listrik di dua lokasi ini tak memiliki sirine. Kondisi bangunan juga masih kokoh.

Sayangnya, minimnya pengawasan membuat bangunan tua ini kerap menjadi korban tangan-tangan jahil. Beberapa tembok gardu listrik terlihat penuh dengan coretan. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 28 Jan 2019 13:14:57 +0700
<![CDATA[Bedol Lumbung, Tradisi Petani Desa Bareng Sejak Puluhan Tahun Silam]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116251/bedol-lumbung-tradisi-petani-desa-bareng-sejak-puluhan-tahun-silam https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116251/bedol-lumbung-tradisi-petani-desa-bareng-sejak-puluhan-tahun-silam

JOMBANG – Tradisi bedol lumbung padi di Dusun Banjarsari Desa/Kecamatan Bareng tetap terjaga hingga puluhan tahun. Minggu (27/1) kemarin, warga setempat]]>

JOMBANG – Tradisi bedol lumbung padi di Dusun Banjarsari Desa/Kecamatan Bareng tetap terjaga hingga puluhan tahun. Minggu (27/1) kemarin, warga setempat membongkar lumbung tersebut untuk menghadapi musim tanam.

Sejak pukul 08.00 WIB warga sudah berjibaku mengeluarkan tumpukan gabah di dalam lumbung berukuran sekitar 5x6 meter tersebut. Lumbung tersebut  sudah ada sejak 1960-an.

Samiaji, 39, warga setempat menjelaskan, lumbung tersebut pertama kali didirikan oleh para sesepuh desa setempat pada tahun 60-an. Lumbung tersebut awalnya digunakan warga untuk menyimpan persediaan pangan dan dibongkar saat musim paceklik.

”Jadi, yang mendirikan dahulu kebetulan ayah saya, sekitar 60-an,” ujar dia kemarin. Awalnya, warga pada zaman dahulu hanya mengumpulkan segelas gabah per orang. Lambat laun, akhirnya warga lain ikut hingga sekarang terkumpul sekitar 10 ton gabah kering.

”Pertama itu kan dari gabah jumputan dan terus menerus hingga sekarang mencapai puluhan ton. Bisa dilihat gabahnya sampai menumpuk di lumbung,” beber dia.

Dia dan warga setempat membongkar lumbung tersebut lantaran untuk persiapan musim tanam. Warga biasanya, kekurangan stok beras saat musim tanam. Sehingga gabah yang ada dilumbung dibongkar untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari hari.

”Kita bongkar setahun sekali, biasanya saat awal  musim tanam,” beber dia. Dijelaskan, dari sebagian desa di Kecamatan Bareng, hanya Dusun Banjarsari yang lumbung padinya masih eksis hingga sekarang. Selain banyaknya warga setempat yang berprofesi sebagai petani, warga juga bersedia secara sukarela menjadi pengurus lumbung.

Mereka tugasnya untuk mencatat masuk-keluarnya padi yang diambil atau disetor warga. ”Jadi, sistemnya, misalnya ada satu warga meminjam 1 kuintal gabah kering, maka warga tersebut harus mengembalikan 1 kuintal 20 kilogram saat musim panen, ada kelebihan 20 kilo,” tutur dia.

Terbukti, hingga sekarang warga setempat tak pernah kekurangan stok beras. Ini setelah warga tetap menjaga tradisi peninggalan nenek moyang. ”Karena sudah turun temurun, warga swasembada lewat lumbung padi ini,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 28 Jan 2019 09:59:01 +0700
<![CDATA[Dompet Rejosalamet; Dulu Hanya Dua, Kini Hasilkan Ratusan Model]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/21/114999/dompet-rejosalamet-dulu-hanya-dua-kini-hasilkan-ratusan-model https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/21/114999/dompet-rejosalamet-dulu-hanya-dua-kini-hasilkan-ratusan-model

JOMBANG - Berjalannya waktu, para perajin muda di Dusun Grogolan, Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno, mulai berani melakukan inovasi dalam usaha kerajinan]]>

JOMBANG - Berjalannya waktu, para perajin muda di Dusun Grogolan, Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno, mulai berani melakukan inovasi dalam usaha kerajinan dompet. Model yang dihasilkan pun tak lagi monoton.

“Jadi dulu waktu tahun-tahun pertama itu hanya dua model dompet, dompet cowok dan dompet cewek. Itu saja,” kata Imam Rozali, salah satu perajin sembari memperlihatkan dompet yang dia buat.

Makin banyaknya perajin muda, mereka kemudian membuat model cukup banyak. Hingga sekarang kata Rojali sapaan akrab Imam Rozali, model yang dihasilkan lebih dari 100. “Istilahnya begini kita mengikuti mode,” sambung dia.

Dia mencontohkan, satu diantara ratusan model yang kini  banyak diburu yakni dompet untuk koin atau uang receh. Bentuknya kecil mirip seperti kotak dadu. “Pokoknya kita mengikuti perkembangan, sebab dompet juga tidak hanya buat menaruh uang akan tetapi juga jadi aksesoris,” papar dia sambil tersenyum.

Seperti dompet, untuk tas menurut Rojali juga sama. “Jadi awalnya dulu kan lebih banyak dikenal dompet, kemudian lambat laun perajin juga membuat tas,” sambung dia.

Model tas juga beragam. Karena mengikuti tren,  beberapa model tas keluaran merek ditiru perajin. “Kalau yang ini slimbag, ini sekarang yang banyak dicari. Sudah ada pesanan dari luar kota,” ungkap Rojali.

Bahan yang dipakai baik dampet maupun tas juga sama. Kata Rojali yakni kain CCI atau kain yang menyerupai kulit. Berbeda  ketika kerajinan itu masih belum dikenal pesar, untuk mendapat bahan harus memesan ke Surabaya terlebih dahulu. “Sekarang di sini sudah ada tiga orang yang jual bahannya. Jadi tinggal pesan saja,” bebernya.

Harganya juga bervariatif. Tergantung ukuran dan model tas dan dompet. Untuk dompet misalnya, paling murah Rp 10 ribu. “Ini biasanya dipakai untuk souvenir atau dompet anak-anak. Paling mahal berkisar Rp 110 ribuan. Rata-rata kita perajin menjual harga segitu,” ungkap Rojali.

Pemasanan datang hingga luar Jombang. Bahkan, kini, pemasaran dompet dan tas  tembus seluruh  Indonesia. “Kalau dulu memang terbatas hanya di Surabaya dan Jawa Tengah. Sekarang seluruh Indonesia, apalagi bisa online. Istilahnya lebih gampang sekarang dari pada dulu,” pungkas Rojali. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 21 Jan 2019 16:18:38 +0700
<![CDATA[Dompet Rejosalamet; Ada Sejak 1984, Dirintis Keluarga Kepala Desa]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/21/114998/dompet-rejosalamet-ada-sejak-1984-dirintis-keluarga-kepala-desa https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/21/114998/dompet-rejosalamet-ada-sejak-1984-dirintis-keluarga-kepala-desa

JOMBANG - Industri rumahan yang memproduksi dompet di Kabupaten Jombang cukup banyak. Namun yang paling banyak ditemukan, adalah di Dusun Grogolan]]>

JOMBANG - Industri rumahan yang memproduksi dompet di Kabupaten Jombang cukup banyak. Namun yang paling banyak ditemukan, adalah di Dusun Grogolan, Desa Rejoslamet, Kecamatan Mojowarno.

Kawasan ini sudah lama dikenal sebagai sentra industri dompet dan tas. Maka tak heran ketika bertandang ke sana, banyak menjumpai rumah penduduk menjadi tempat produksi. Mulai dari depan hingga dalam rumah lebih banyak dijumpai aktivitas pembuatan dompet maupun tas.

Salah satunya milik Imam Ghozali. Dia mengaku sudah sejak puluhan tahun lalu menekuni usaha itu. “Saya sendiri ini mulai sekitar 1995-an,” kata dia kemarin (20/1).

Dia kemudian menceritakan, kerajinan dengan bahan dasar kain CCI (bahan menyerupai kulit asli) itu sudah ada sejak kisaran 1984. “Awalnya dulu itu keluarga Pak Kades yang mulai merintis. Waktu itu cuma keluarga mereka saja,” tutur dia.

Singkat cerita, seiring berjalannya waktu, industri itu kemudian berkembang pesat. Hingga pada 1992-1995 hampir seluruh warga dusun setempat menekuni kerajinan itu. “Jadi yang sekarang perajin dulu itu rata-rata pernah bekerja di sana. Kemudian mengembangkan sendiri,” imbuh Rojali sapaan akrabnya.

Rojali sendiri awalnya hanya pekerja. Lantas membuka usaha sendiri. Sekarang ada ratusan perajin yang menyebar. Itu pun mayoritas berada di Dusun Grogolan. “Sekarang itu jumlahnya satu dusun 100 orang lebih dari sekitar 300 KK. Rata-rata yang sekarang memang anak-anak muda,” sambung lelaki usia 39 tahun.

Menurut bapak satu anak ini, tidak ada perajin khusus yang mengerjakan dengan model tertentu. Hampir seluruh perajin mengerjakan dengan model yang hampir sama. 

Begitu pula dengan tas, ukuran dan modelnya juga rata-rata mengikuti tren. “Jadi semua tergantung keinginan yang buat. Pokoknya apa yang lagi tenar sekarang itu yang kita buat,” sambung Ketua KUB (Kelompok Usaha Bersama) Sumber Rejeki ini. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 21 Jan 2019 16:00:34 +0700
<![CDATA[Gentong Antik Mojotrisno Tembus Pasar Dalam Negeri dan Mancanegara]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/16/114204/gentong-antik-mojotrisno-tembus-pasar-dalam-negeri-dan-mancanegara https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/16/114204/gentong-antik-mojotrisno-tembus-pasar-dalam-negeri-dan-mancanegara

JOMBANG - Salah satu produk kerajinan tangan yang sudah menjadi salah satu ikon kebanggan Kabupaten Jombang adalah kerajinan gentong antik atau jambangan]]>

JOMBANG - Salah satu produk kerajinan tangan yang sudah menjadi salah satu ikon kebanggan Kabupaten Jombang adalah kerajinan gentong antik atau jambangan di Dusun Sanan, Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung.

Tak-tanggung-tanggung, produk gentong antik hasil polesan tangan kreatif Tiyamun, 69, sudah tersebar di berbagai belahan negara di dunia, lantaran memiliki nilai seni yang tinggi. ”Mbah sering dapat pesanan dari turis, ada dari Australia, Myanmar, dan beberapa negara lainnya,”  terang Tiyamun.

Tidak hanya peminat dari mancanegara, produk-produk gentong antik buatan Tiyamun juga banyak tersebar di wilayah  kota di Indonesia. ”Ada yang pesan dari Kalimantan, Sumatera, serta sejumlah provinsi lainnya. Kalau untuk wilayah Jawa, hampir merata, mulai pemesan dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta. Apalagi Jawa Timur apalagi, saking banyaknya sampai tidak ingat,” imbuhnya.

Dirinya pun tidak ingat berapa jumlah gentong antik yang sudah dihasilkan, termasuk jenis dan modelnya. ”Kadang-kadang kirim satu truk besar, itu beragam modelnya, jenisnya termasuk ukurannya,” terangnya.

Produk-produk gentong hasil buatan Tiyamun bisa dimanfaatkan beragam. ”Umumnya dibuat hiasan di taman-taman, hotel, kawasan wisata, perkantoran serta banyak contoh lainnya,” bebernya.

Tidak jarang dirinya menerima pesanan beragam jenis gentong dari pihak pengelola museum di Mojokerto. ”Sering orang museum ke sini minta dibuatkan gentong, di museum sana, kemarin juga barus pesan beberapa gentong, sudah selesai,” bebernya.

Di usianya yang sekarang ini sudah menginjak hampir 70 tahun, setiap harinya Tiyamun masih terus bersemangat membuat gentong antik. ”Tiap hari Mbah Mun kerjaannya ya membuat gentong, ada atau tidak yang memesan, Mbah Mun tetap buat senang membuat gentong,” singkatnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 16 Jan 2019 20:23:04 +0700
<![CDATA[Perahu Tambang Brantas; Penghasilan yang Tak Sebanding dengan Modal]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/15/113900/perahu-tambang-brantas-penghasilan-yang-tak-sebanding-dengan-modal https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/15/113900/perahu-tambang-brantas-penghasilan-yang-tak-sebanding-dengan-modal

JOMBANG - Ada dua jenis perahu tambang. Pertama perahu ukuran sedang untuk menyeberangkan kendaraan roda dua. Perahu jenis ini terbuat dari kayu dan umumnya]]>

JOMBANG - Ada dua jenis perahu tambang. Pertama perahu ukuran sedang untuk menyeberangkan kendaraan roda dua. Perahu jenis ini terbuat dari kayu dan umumnya memiliki rata-rata ukuran panjang 14-17 meter dengan lebar sekitar 3 meter.

”Perahu bisa memuat sekitar 15-17 sepeda motor kalau ditata dengan baik dan rapi,” ujar Giyanto, penambang Moroseneng di Kesamben kemarin (2/12). Semua perahu tambang ini menggunakan mesin diesel berbahan bakar solar. Satu perahu selalu memiliki dua mesin diesel namun hanya satu yang digunakan.

”Satu mesin untuk cadangan, jadi kalau misalnya satu mesin mati, maka pakai diesel satunya,” lontarnya. Penambang menggunakan dayung dan baling-baling perahu untuk mengendalikan perahu. Dalam sehari rata-rata perahu ini dapat menghabiskan sekitar 10 liter solar. 

Sebagian besar penambang  masih menggunakan perahu kayu buatan sendiri. Satu buah perahu jenis ini menghabiskan biaya sekitar Rp 20 juta sampai Rp 25 juta untuk pembuatannya.

Jenis kedua, perahu ukuran besar yang dapat mengangkut kendaraan roda empat. Perahu ini umumnya berukuran panjang 24 meter dengan lebar 7 meter. Dapat mengangkut lima mobil sekaligus, jika hanya roda dua bisa mengangkut hingga 45 sepeda motor. 

Pembuatan satu perahu besar ini menghabiskan sekitar Rp 200 juta. ”Yang mahal itu besi geladaknya ini, kebetulan saya buat sendiri. Jadi tidak beli,” paparnya.

Untuk penghasilan maupun sistem setiap wilayah dan perahu tambang berbeda-beda. Di  Kesamben terdapat tiga shift dalam sehari. Penambang setiap shift setor Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu ke pemilik perahu tambang, sisanya dibagi untuk penambang sendiri. 

Sedangkan di Megaluh, terdapat dua shift pertukaran penambang. ”Hasilnya bervariasi naik turun, kalau ramai ya lumayan. Yang jelas dibagi dua atau tiga tergantung ada berapa yang ikut bantu,” tandasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 15 Jan 2019 17:21:08 +0700
<![CDATA[Perahu Tambang Brantas; Jasa Transportasi yang Diminati Masyarakat]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/15/113889/perahu-tambang-brantas-jasa-transportasi-yang-diminati-masyarakat https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/15/113889/perahu-tambang-brantas-jasa-transportasi-yang-diminati-masyarakat

JOMBANG – Masyarakat Jombang khususnya yang berada di sekitar Sungai Brantas tidak asing dengan perahu tambang (penyeberangan). Ya disebut perahu tambang]]>

JOMBANG – Masyarakat Jombang khususnya yang berada di sekitar Sungai Brantas tidak asing dengan perahu tambang (penyeberangan). Ya disebut perahu tambang, karena dulu perahu ini menggunakan tali (tambang) dari tepian sungai hingga tepian sungai di seberang.

Hingga kini, sebagian warga masih memilih perahu tambang untuk melintasi Sungai Brantas. Apalagi di Jombang hanya ada satu jembatan  yang menghubungkan wilayah utara dan selatan Brantas. 

Menggunakan jasa perahu dapat mempersingkat waktu tempuh perjalanan dibandingkan melewati jembatan. ”Memang lebih cepat lewat sini dibanding Jembatan Ploso maupun Jembatan Pagerluyung Mojokerto,” ujar Ummah, salah satu pengguna jasa perahu tambang di Kesamben.

Sungai Brantas sendiri membelah wilayah Kabupaten Jombang menjadi dua bagian, sebanyak 16 kecamatan di Selatan Brantas dan lima kecamatan di Utara Brantas. Terdapat total 34 jasa perahu tambang  di Kabupaten Jombang.

Namun tidak semuanya beroperasi, berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Jombang terdapat sekitar 25 jasa perahu tambang yang aktif menyeberangkan penumpang mulai dari ujung timur di Kesamben hingga ujung barat di Megaluh.

Seperti terlihat di tambangan Megaluh, terdapat 7 perahu di wilayah ini yang menyeberangkan kendaraan. Uniknya empat perahu diantaranya juga dapat menyeberangkan kendaraan roda empat maupun roda dua, sedangkan tiga perahu lainnya hanya menyeberangkan kendaraan roda dua.  

”Jasa penyeberangan perahu tambang ini sudah ada sejak dulu, tapi menyeberangkan roda empat baru dimulai beberapa tahun yang lalu,” ujar Habib Bidin, salah satu pemilik perahu tambang.

Jasa penyeberangan ini pun aktif selama 24 jam nonstop. Bahkan saat hujan, jasa penyeberangan ini tetap beroperasi selama tidak berangin dan banjir. Untuk menggunakan jasa perahu tambang ini sangat terjangkau hanya Rp 2 ribu untuk satu sepeda motor dan Rp 5 ribu untuk kendaraan roda empat baik mobil, bus maupun truk. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 15 Jan 2019 16:13:14 +0700
<![CDATA[Kumkum di Sendang Made; Tradisi Para Sinden Sejak Zaman Airlangga]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/15/113888/kumkum-di-sendang-made-tradisi-para-sinden-sejak-zaman-airlangga https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/15/113888/kumkum-di-sendang-made-tradisi-para-sinden-sejak-zaman-airlangga

JOMBANG - Sendang Made merupakan salah satu situs cagar budaya di Kabupaten Jombang. Tepatnya berada di Dusun/Desa Made Kecamatan Kudu.]]>

JOMBANG - Sendang Made merupakan salah satu situs cagar budaya di Kabupaten Jombang. Tepatnya berada di Dusun/Desa Made Kecamatan Kudu. Sendang Made ini menjadi salah satu petilasan Raja Airlangga bersama permaisuri dan para dayang saat dalam pelarian.

Mereka dikejar pasukan Prabu Wora-Wari lalu diselamatkan Prabu Narotama hingga akhirnya menyepi beristirahat di Sendang Made. Raja Airlangga berserta permaisuri dan para dayang pun akhirnya menyamar menjadi pengamen.

”Kala itu mereka menyamar menjadi pengamen, nah mandi nya di Sendang Made ini,” lontar Supono, juru pelihara situs Sendang Made. Setelah itu grup pengamennya pun semakin laris. Dari cerita rakyat inilah lahir tradisi wisuda sinden di Sendang Made.

Terdapat enam sendang berdekatan di areal Sendang Made ini, diantaranya Sendang Pomben, Sendang Pengilon, Sendang Condong, Sendang Drajat, Sendang Widodaren dan Sendang Sumber Payung.

”Setiap sendang ini beda ceritanya tapi yang jelas Sendang Drajat ini yang paling banyak dikunjungi. Termasuk kumkum sinden dilakukan di Sendang Drajat,” tuturnya.

Tak hanya budaya, ternyata banyak juga benda bersejarah yang ditemukan di tempat ini, termasuk batu bertulis. Sendang Made ini sebelumnya hanya berupa beberapa sumber air, lokasi ini baru dibangun pada 1924 oleh RM Tjokro Diputro, asisten Wedono Kudu.

Meski demikian, suasana tenang dan teduh Sendang Made ini pun masih tetap dipertahankan hingga kini. Banyak pohon besar berusia ratusan tahun di sekitar Sendang Made. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 15 Jan 2019 16:02:06 +0700
<![CDATA[Kumkum di Sendang Made; Ritual yang Diyakini Bisa Naikkan Job Sinden]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/15/113887/kumkum-di-sendang-made-ritual-yang-diyakini-bisa-naikkan-job-sinden https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/15/113887/kumkum-di-sendang-made-ritual-yang-diyakini-bisa-naikkan-job-sinden

JOMBANG – Setelah hampir lima tahun vakum, tradisi kumkum sinden di Sendang Made yang terletak di Desa Made Kecamatan Kudu kembali digelar]]>

JOMBANG – Setelah hampir lima tahun vakum, tradisi kumkum sinden di Sendang Made yang terletak di Desa Made Kecamatan Kudu kembali digelar. Ritual ini dilakukan agar para sinden memiliki suara merdu dan awet muda, ritual ini juga menjadi penanda jika sinden sudah siap terjun ke dunia sinden yang profesional.

Sebanyak sepuluh sinden pun mengikuti ritual yang kabarnya sudah ada sejak zaman Raja Airlangga ini. Alunan musik tradisional gending Jawa mengiringi langkah para sinden menuju Sendang Drajat. Lemah gemulai cucuk lampah menuntun para sinden ini menuju sendang disaksikan ratusan warga setempat.

Sesampainya di Sendang Drajat, satu persatu sinden turun mengikuti prosesi siraman. Mereka menerima siraman air dari juru kunci, mereka juga mencuci wajah mereka dengan air Sendang Drajat ini.

”Kumkum sinden ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak jaman Raja Airlangga. Perempuan yang akan menjadi sinden harus mandi di sendang ini,” ujar Supono, juru pelihara situs Sendang Made.

Diyakini suara sinden semakin merdu, mereka juga meyakini aura sinden akan semakin terpancar setelah menjalani prosesi ritual kumkum sinden ini. Ritual ini juga dipercaya dapat membuat tanggapan sinden semakin laris dan kian dikenal masyarakat.

”Saya sangat senang dan mendukung dihidupkannya kembali tradisi kumkum sinden ini. Sebab tradisi ini sudah vakum sekitar lima tahunan, padahal dulu wisuda sinden selalu digelar setiap tahun,” ungkapnya.

Meski hanya diikuti beberapa sinden dari grup ludruk Budhi Wijaya, ini sangat berarti sebagai wujud pelestarian budaya lokal khususnya di Sendang Made yang sudah dikenal sejak dulu sebagai salah satu ikon budaya Kabupaten Jombang. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 15 Jan 2019 15:49:24 +0700
<![CDATA[Candi Arimbi; Ada Cerita Misterius dari Relief Wanita Membawa Payung]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/14/113698/candi-arimbi-ada-cerita-misterius-dari-relief-wanita-membawa-payung https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/14/113698/candi-arimbi-ada-cerita-misterius-dari-relief-wanita-membawa-payung

JOMBANG - Meski sebagian besar bagian atap Candi Arimbi sudah rusak tinggal separo, namun bagian tubuh dan kaki candi masih dalam kondisi baik.]]>

JOMBANG - Meski sebagian besar bagian atap Candi Arimbi  sudah rusak tinggal separo, namun bagian tubuh dan kaki candi masih dalam kondisi baik. Tampak relief yang menghiasi dinding candi dengan berbagai gambaran yang menarik.

Mulai dari cerita kegiatan sehari-hari, gambar binatang, ritual keagamaan dan sebagainya. Namun belum diketahui apa isi cerita dari relief tersebut. ”Memang belum diketahui pasti maknanya apa. Belum ada yang mengkaji arti dari relief Candi Arimbi ini,” ujar Suparno, juru pelihara Candi Arimbi kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Seperti  pada dinding Candi Arimbi sisi utara terdapat terdapat 17 bidang relief. Salah satunya relief sepasang pengantin yang berada di dalam gentong. Ada pula relief sepasang pria dan wanita. Pria sedang mencangkul, sedang yang wanita membawa payung.

Pada kaki sisi timur, juga dihiasi 17 bidang relief cerita binatang dan kegiatan keagamaan. Sedangkan pada sisi selatan terdapat 8 buah bidang relief. Selain itu, terdapat ukiran relief sosok binatang yang digambarkan berbeda-beda dan sangat menarik.

Sebagian besar posisi binatang itu digambarkan menghadap ke kanan dan kiri secara bergantian. Namun ada juga yang sama arah hadapnya pada dua relief sela yang berdekatan. ”Memang seperti kelinci itu banyak muncul pada relief Candi Arimbi,” lanjutnya.

Sementara itu, pemeliharaan Candi Arimbi terus dilakukan agar candi terawat dan nyaman dikunjungi wisatawan. Perawatan yang dilakukan mulai dari membersihkan areal candi setiap hari, membersihkan relief, penataan taman dan sebagainya.

Saat ini terdapat tiga juru pelihara di Candi Arimbi yaitu Suparno, Kamaji dan Sodim. Mereka standby di lokasi Candi Arimbi setiap hari untuk melayani pengunjung. ”Untuk musim kemarau seperti ini tidak begitu berat, pada musim hujan saja banyak yang lumutnya,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 14 Jan 2019 19:25:03 +0700
<![CDATA[Candi Arimbi; Peninggalan Majapahit di Kaki Gunung Anjasmoro]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/14/113694/candi-arimbi-peninggalan-majapahit-di-kaki-gunung-anjasmoro https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/14/113694/candi-arimbi-peninggalan-majapahit-di-kaki-gunung-anjasmoro

JOMBANG – Candi Arimbi, salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di wilayah Kabupaten Jombang tepatnya di Desa Pulosari, Kecamatan Bareng.]]>

JOMBANG – Candi Arimbi, salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di wilayah Kabupaten Jombang tepatnya di Desa Pulosari, Kecamatan Bareng. Berbeda dengan candi Majapahit lainnya di wilayah Trowulan Mojokerto yang dibangun dari bata merah, Candi Arimbi ini terbuat dari batu andesit.

”Tapi dasar atau pondasi Candi Arimbi ini terbuat dari bata merah,” ujar Suparno, juru pelihara Candi Arimbi. Namun sayang candi yang dibangun sekitar abad 14 ini sudah tidak utuh lagi, bagian atas candi hanya tinggal separo.

”Sejak dulu bentuk Candi Arimbi sudah rusak begitu. Dulu pernah dilakukan pemugaran pada 1990, batu-batu ini sudah diangkat diatas tapi diturunkan lagi karena tidak cocok,” jelasnya. Hanya beberapa bagian kecil seperti sudut maupun relief pada tubuh candi yang diperbaiki.

Sedangkan atap atau puncak candi tetap dibiarkan seperti awal, batu-batu bagian candi akhirnya diletakkan kembali di sekeliling candi. Candi Rimbi menghadap ke barat. Candi Arimbi ini termasuk candi Hindu dengan panjang 13,24 meter, lebar 9,10 meter dan tinggi 12 meter.

Candi Arimbi masih berdiri kokoh di areal seluas 896,5 meter persegi. Candi Arimbi ini mempunyai ruangan pusat tempat Arca Purwati, kini arcanya disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Berada di kaki Gunung Anjasmoro, Candi Arimbi memang memiliki pemandangan yang indah. Sehingga banyak menarik wisatawan mengunjunginya. Lokasinya yang tepat berada di tepi jalan raya, sangat mudah diakses oleh masyarakat. ”Belum ada penelitian lebih lanjut tentang sejarah Candi Arimbi. Sehingga kami belum bisa memastikan sejarah pembangunan candi ini,” lontarnya.

Ia menuturkan cerita rakyat menyebut  candi itu pintu  gerbang masuk Kerajaan Majapahit di bagian Selatan. Namun ada beberapa sumber sejarah lain menyebut candi tersebut hanyalah petilasan dari tentara Majapahit. Candi ini sendiri menjadi representasi dari Tribuwana Tunggadewi, Raja Majapahit yang memerintah pada tahun 1328-1350 Masehi.

Representasi Prabu Tribuwana Tunggadewi itu terukir dalam sebuah arca Purwati yang  berada di pusat candi. ”Arca tersebut tersimpan di Museum Nasional Jakarta,” tandasnya.

Sementara nama Candi Arimbi sendiri sebagai nama salah satu tokoh pewayangan Mahabarata yakni Dewi Arimbi istri dari Prabu Bima Sena atau Werkodoro, salah satu Pendawa Lima. Dewi Arimbi yang merupakan adik dari Raja Raksasa Prabu Arimbo ini dimakamkan di salah satu tempat di  dusun tersebut, nama dusun ini dinamakan  Dusun Ngrimbi. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 14 Jan 2019 19:07:53 +0700
<![CDATA[Tikar Pandan Utara Brantas; Perajin Sulit Dapatkan Bahan Baku]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/14/113680/tikar-pandan-utara-brantas-perajin-sulit-dapatkan-bahan-baku https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/14/113680/tikar-pandan-utara-brantas-perajin-sulit-dapatkan-bahan-baku

JOMBANG - Dibanding sepuluh tahun lalu, jumlah tanaman pandan saat ini lebih sedikit. Kondisi ini terjadi akibat maraknya alih fungsi lahan, dari sebelumnya]]>

JOMBANG - Dibanding sepuluh tahun lalu, jumlah tanaman pandan saat ini lebih sedikit. Kondisi ini terjadi akibat maraknya alih fungsi lahan, dari sebelumnya yang berupa hutan menjadi area perkebunan.

Ma’rifah, 60, salah satu perajin tikar Desa Katemas, Kecamatan Kudu, mengaku sudah kesulitan mencari daun pandan untuk bahan baku produksi tikar sejak tiga tahun terakhir. “Sekarang di hutan sudah tinggal sedikit, karena diganti dengan tanaman lain. Ada orang yang menanam pandan di belakang rumah, tapi sangat sedikit,” lanjutnya.

pilihan terakhir, perajin terpaksa membeli pandan yang ditanam warga tersebut sebagai tambahan bahan baku. Akibatnya, kata Ma’rifah, biaya produksi jadi semakin membengkak. “Kalau sudah jadi, tikar besar dijual 10 ribu rupiah saja. Murah sekali,” keluhnya. Padahal untuk membuat satu tikar saja, butuh waktu paling cepat dua hari.

Sementara tingkat permintaan tikar tradisional berbahan dasar pandan, saat ini tidak lagi besar. “Satu minggu bisa jual tiga lembar tikar pandan itu sudah sangat bagus,” tambahnya. Selain menjadi pengrajin tikar pandan, warga juga ada yang bekerja sebagai pedagang dan buruh tani. Sebab usaha kerajinan tikar pandan tidak bisa menjadi tumpuan utama penghasilan keluarga.

’’Sejak ada tikar buatan pabrik dan karpet, tikar pandan jarang diminati,” pungkasnya. Meski demikian, para perajin ini tetap akan bertahan menjalankan usaha. Selain untuk mempertahankan tradisi, produksi tikar pandang juga tetap harus dijalankan karena punya segmen pasar khusus. “Kalau ada orang meninggal, selalu butuh tikar pandan,” pungkasnya.

Sementara itu tikar tradisional berbahan baku daun pandan hasil produksi masyarakat utara Brantas, pengiriman ke luar daerah harus menggunakan kendaraan umum. Sebab para perajin hampir semuanya tidak memiliki mobil sendiri. Mereka biasanya membawa tikar pandan dari rumah menuju jalan raya. Seperti yang biasa dilakukan para perajin asal Desa Kauman, Kecamatan Kabuh.

Puluhan lembar tikar pandan yang tiba di perempatan Kabuh, dikirim menggunakan jasa angkutan umum . Tikar dijual ke kota karena lebih menguntungkan, terutama dari sisi waktu penjualannya. Sipah, 65, salah satu penjual, menyebut per lembar tikar ukuran besar dibandrol dengan harga Rp 50 ribu. Namun karena tikar dipesan tengkulak, bandrolnya diturunkan menjadi Rp 35 ribu per lembar.

’’Tikar ini dibeli tengkulak, jadi bukan saya yang menjual. Tengkulaknya sendiri yang menjual di depan Gientjang (toko emas), tengkulaknya setiap hari tidur di pinggir jalan. Ke Jombang naik lin karena memang tidak punya mobil,” ungkap Sipah kepada Jawa Pos Radar Jombang. Dari puluhan lembar tikar yang dikirim ke kota, menurut Sipah rata-rata butuh waktu tiga sampai tujuh hari untuk bisa laku.

Sementara waktu yang dibutuhkan untuk membuat tikar sejumlah itu, kata Sipah paling cepat adalah 10 hari. “Tidak mampu kalau mengerjakan sendiri, jadi harus pakai tenaga orang lain,” lanjutnya. Risiko karena menggunakan tenaga orang lain, menurutnya adalah biaya operasional yang semakin besar.

Sementara nilai jual tikar dari tahun ke tahun cenderung mengalami penurunan. “Lebaran tahun lalu masih 65 ribu per lembar, tahun ini turun menjadi 50 ribu,” tambah Sipah. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 14 Jan 2019 18:35:30 +0700
<![CDATA[Tikar Pandan Utara Brantas; Usaha Turun Temurun, Tembus Pasar Jatim]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/14/113679/tikar-pandan-utara-brantas-usaha-turun-temurun-tembus-pasar-jatim https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/14/113679/tikar-pandan-utara-brantas-usaha-turun-temurun-tembus-pasar-jatim

KUDU – Tikar tradisional berbahan daun pandan sudah lama menjadi produk kerajinan tangan masyarakat di wilayah utara Brantas. Tidak hanya dibeli masyarakat]]>

JOMBANG – Tikar tradisional berbahan daun pandan sudah lama menjadi produk kerajinan tangan masyarakat di wilayah utara Brantas. Tidak hanya dibeli masyarakat lokal, namun terjual hingga luar kabupaten.  

Saat ini tidak banyak warga yang masih menekuni seni kerajinan anyam ini. Di Desa Katemas, Kecamatan Kudu tercatat hanya beberapa keluarga saja yang masih bertahan melestarikan tradisi leluhur ini. Itu juga sudah tidak aktif seperti dulu.  

“Alhamdulillaah, sampai sekarang perajin tikar pandan masih bertahan,” ungkap Muhammad Aris, salah satu perajin tikar pandan di Desa Katemas. Menurutnya, tikar pandan memiliki pangsa pasar tersendiri. “Karena selain lebih sehat memakai tikar pandan, juga tikar pandan lebih adem,” ujar Aris.

Kurang lebih 2008 silam, Aris mengaku bersama sejumlah perajin tikar lainnya pernah mendirikan kelompok perajin tikar pandan. Tujuannya untuk memaksimalkan akses pemasaran serta mempermudah upaya pengajuan bantuan modal kepada pemerintah.

“Karena hampir seluruh rumah di Katemas membuat kerajinan tikar pandan, kami mencoba membuat semacam kelompok kerja,” katanya. Tapi keberadaan kelompok kerja itu tetap tidak mampu meningkatkan pendapatan perajin. Sulitnya akses pemasaran menjadi penyebab, para perajin mengalami kesulitan mengembangkan usaha.

“Tikar pandan hanya dipamerkan ketika ada event saja. Sementara tidak setiap hari pameran itu diadakan, padahal perajin ini butuh makan setiap hari. Sedangkan kalau menjual sendiri, hasilnya tidak maksimal,” lanjutnya.

Pernyataan sama juga disampaikan kalangan pengrajin dari wilayah Kecamatan Ngusikan. Meski kondisi semakin tidak berpihak, namun para pengrajin mengaku tetap akan membuat tikar pandan.

Selain mengisi waktu luang, menganyam tikar pandan juga menjadi keterampilan yang diwariskan turun-temurun. “Kalau tidak ada pekerjaan di sawah, ya nganyam tikar,” ujar Karti, salah satu warga Desa Cupak, Kecamatan Ngusikan. Ia menyebut jika yang menganyam tikar sebagian besar adalah ibu-ibu dan lansia.

Tak hanya dari Jombang, ada pula tengkulak dari luar daerah yang datang ke tempat tinggal para perajin untuk membeli tikar. “Kalau tidak ada yang datang, ya dijual sendiri dengan cara keliling,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 14 Jan 2019 18:30:13 +0700
<![CDATA[Berusia 70 Tahun Lebih, Sirine Peninggalan Belanda Ini Masih Normal]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/10/112888/berusia-70-tahun-lebih-sirine-peninggalan-belanda-ini-masih-normal https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/10/112888/berusia-70-tahun-lebih-sirine-peninggalan-belanda-ini-masih-normal

JOMBANG – Bagi warga Jombang kota dan sekitarnya, sudah tak asing dengan gang suling yang menghubungkan Jalan Achmad Yani dan Jalan Prof Buya Hamka.]]>

JOMBANG – Bagi warga Jombang kota dan sekitarnya, sudah tak asing dengan gang suling yang menghubungkan Jalan Achmad Yani dan Jalan Prof Buya Hamka. Dinamakan Gang Suling karena di gang kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua tersebut ada suling alias sirine. 

Pantauan di lokasi kemarin (9/1) sirine yang dibangun sejak zaman Belanda ini tetap berfungsi dengan normal. Dulu saat zaman Belanda, sirine ini dipakai pemerintah sebagai penanda waktu bagi bagi pekerja Belanda. Juga sebagai peringatan diri bagi warga.

Setelah merdeka dipakai penanda berbuka puasa dan imsyak (sahur). Pada hari-hari biasa seperti saat ini, sirine tersebut tidak pernah dibunyikan, hanya dicek secara berkala untuk memeriksa bunyi suling.

”Dibunyikan setahun sekali, pada waktu ramadan saja,” ujar Slamet, 66, warga setempat yang dipercaya menjaga sirine tersebut. Di bawah menara suling tersebut, ada sebuah gardu kecil.

Ketika Jawa Pos Radar Jombang masuk untuk melihat ke dalam, ukurannya sempit sekitar 2x2 meter. Di gardu tersebut, terdapat beberapa instalasi listrik sebagai sumber tenaga suling tersebut.

”Saya hanya berjaga untuk membunyikan saja, sedangkan perawatan dan pembayaran listriknya ikut pemkab, dinas PUPR,” beber dia. Di Jombang sendiri, ada dua suling peninggalan Belanda yang hingga kini masih tetap berfungsi.

Salah satunya berada di area Alun Alun Jombang (barat lapangan tenis/selatan Pendopo Kabupaten). ”Satunya di alun-alun juga masih berfungsi. Yang membunyikan ada sendiri di sana,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Thu, 10 Jan 2019 16:25:34 +0700
<![CDATA[Kerja Sampingan Warga Desa Kedungpapar Merangkai Jaring Ternak Kerang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/10/112882/kerja-sampingan-warga-desa-kedungpapar-merangkai-jaring-ternak-kerang https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/10/112882/kerja-sampingan-warga-desa-kedungpapar-merangkai-jaring-ternak-kerang

JOMBANG - Puluhan ibu rumah tangga di Dusun Tragal, Desa Kedungpapar, Kecamatan Sumobito saat ini punya kesibukan tersendiri, yakni membuat jaring kerang.]]>

JOMBANG - Puluhan ibu rumah tangga di Dusun Tragal, Desa Kedungpapar, Kecamatan Sumobito saat ini punya kesibukan tersendiri, yakni membuat jaring kerang.

Di teras rumah, setiap hari para ibu ini duduk melingkar sambil tangannya aktif menganyam bahan nilon menjadi jaring. “Ini sedang buat jaring untuk ternak kerang mas,” beber Kholifah, 52, salah satu warga.

Tidak hanya dirinya, kegiatan serupa hampir dilakukan seratusan ibu-ibu rumah tangga lainnya di lingkungan dirinya tinggal. “Itung-itung dari pada nganggur mas, ikut garap jaring kerang, lumayan hasilnya buat tambahan belanja,” bebernya.

Meski awalnya merasa kesulitan, lambat laun dirinya pun mahir menghasilkan produk. “Awalnya memang agak sulit mas, tapi kalau sudah terbiasa bisa cepat,” bebernya.

Dari jasanya membuat jaring kerang, dirinya pun mendapat upah lumayan. “Per jaring untuk ukuran sedang upahnya 900, kalau ukuran besar seperti ini upahnya 2.700 per jaring,” bebernya.

Jika di awal hanya bisa menyelesaikan sekitar lima jaring, seiring tangannya sudah terlatih, hasil garapannya pun bertambah banyak. “Kalau awal-awal dulu paling dapat lima, kalau sekarang rata-rata per hari bisa selesaikan antara 9 sampai 10 jaring, upahnya tinggal dikalikan saja,” bebernya.

Salah satu yang menjadikannya betah menggeluti kegiatan jasa pembuatan jaring kerang, tidak dituntut target seperti kerja di pabrik. “Jadi selonggarnya kita, tidak ada tuntutan target. Pas kita longgar kita ambil garapan dari pengepul, selesai kita klaimkan, terserah mau ambil garapan banyak atau sedikit juga boleh,” bebernya.

Tidak terasa, terhitung sekarang ini sudah belasan tahun Kholifah menggeluti jasa pembuatan jaring kerang. “Itung-itung buat bantu-bantu suami cari nafkah keluarga,” singkatnya.

Nantinya setelah jaring terkumpul dari pengepul, selanjutnya ada dari pihak pabrik yang mengambil sekaligus mengirim bahan garapan. “Saya kurang tahu, infonya produknya dijual sampai ke luar negeri, kalau tidak salah dikirim ke Australia," sambung Fatimah, warga lainnya.

Meski mendapat penghasilan tidak seberapa, namun dirinya merasa sangat bersyukur menggeluti jasa pembuatan jaring kerang. “Lumayan bisa dapat penghasilan, tapi tetap bisa jaga rumah dan menemani anak-anak di rumah," singkatnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Thu, 10 Jan 2019 16:09:11 +0700
<![CDATA[Desa Gedangan Mojowarno; Jumlah Pengrajin Genting Terus Berkurang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/09/112692/desa-gedangan-mojowarno-jumlah-pengrajin-genting-terus-berkurang https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/09/112692/desa-gedangan-mojowarno-jumlah-pengrajin-genting-terus-berkurang

JOMBANG - Meski masih menyisakan puluhan perajin, jumlah perajin genting di Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno, setiap tahun terus berkurang.]]>

JOMBANG - Meski masih menyisakan puluhan perajin, jumlah perajin genting di Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno, setiap tahun terus berkurang. Paling tidak selama empat hingga enam tahun terakhir ini.

Lilik, salah satu pengrajin menyebut kemunduran usaha ini memang benar-benar dirasakan sejak lima tahun yang lalu saat Gunung Kelud meletus hingga mengakibatkan hujan abu yang berdampak ke desa itu.

Hujan ini mengakibatkan banyak kerusakan pada genting produksi warga Gedangan hingga banyak warga yang merugi. “Paling parah memang setelah erupsi gunung kelud itu, banyak yang rugi dan gagal kirim. Akhirnya uangnya tidak bisa untuk usaha lagi dan berhenti produksi,” terangnya.

Kendala tak berhenti di situ, harga tanah bahan baku genting hingga sejumlah bahan lain yang makin mahal, hingga proses yang dinilai terlalu rumit dan memakan biaya juga akhirnya membuat sejumlah perajin kini mulai beralih.

“Di sini rata-rata sekarang jadi produksi batu bata merah. Karena pengadukan adonannya kan mudah, nggak perlu mesin, harga bahan bakunya juga lebih murah,” lanjutnya.

Karena itu, meski kini jumlah perajin genting masih lebih dari 50 orang di desa ini, jumlah ini disebutnya jauh lebih kecil dibandingkan 4 sampai 6 tahun lalu.

“Ya turunnya separuh lebih mas, dulu yang bata itu semua genting, belum yang berhenti seperti samping rumah ini. Tapi memang kayak saya ini ya masih bertahan, ditelateni saja meskipun berat,” singkatnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 09 Jan 2019 20:03:21 +0700
<![CDATA[Desa Gedangan Mojowarno; Kampung Genting, Eksis Sejak 50 Tahun Lalu]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/09/112687/desa-gedangan-mojowarno-kampung-genting-eksis-sejak-50-tahun-lalu https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/09/112687/desa-gedangan-mojowarno-kampung-genting-eksis-sejak-50-tahun-lalu

JOMBANG - Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno hingga kini masih jadi salah satu desa penghasil genting terbesar di Jombang sejak lebih dari 50 tahun lalu.]]>

JOMBANG - Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno hingga kini masih jadi salah satu desa penghasil genting terbesar di Jombang sejak lebih dari 50 tahun lalu. Awalnya, genting-genting ini diproduksi dalam skala rumahan saja.

Seperti yang terlihat di salah satu pabrik milik Lilik Chumaidah, 43 ini. Proses pembuatan genting di bengkel miliknya memang terhitung masih berskala rumahan, layaknya banyak produksi genting di sekitar rumahnya. Karyawannya pun hanya satu orang saja.

Meski hanya mengandalkan seorang pekerja saja, pabrik kecilnya ini tehitung cukup produktif, 400 buah genting bisa dihasilkannya dari sehari berproduksi.

“Jadi memang tidak ada yang pabrik besar begitu, sistemnya di rumah-rumah tapi merknya berbeda-beda dan masing-masing rumah ini punya bos dan pengepul sendiri biasanya,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang (3/11).

Proses pembuatan genting jenis mantili miliknya ini, dimulai dari pengadukan tanah. Lilik memang biasanya mendatangkan tanah dari luar desanya. “Butuhnya tanah sawah sama tanah uruk, ya memang harus mendatangkan,” ucapnya.

Tanah yang sudah siap, kemudian digiling, prosesnya pun tak bisa dilakukan sembarangan. Perlu mesin yang sangat pas dengan campuran adonan yang juga tak asal untuk menghasilkan genting yang bagus dan tak mudah retak saat dijemur.

“Untuk mesinnya kita biasa sewa. Satu gilingan begitu biasanya buat produksi sebulan penuh,” lanjutnya. Usai digiling, tanah yang telah berbentuk adonan ini kemudian dikumpulkan dalam bengkal untuk dilakukan pengepresan. Sebelum itu, tanah terlebih dulu harus diolesi solar atau minyak lainnya.

Solar dalam proses pengepresan sangat penting, karena selain menjaga adonan tanah tidak lengket dengan alat press, tampilan genting juga akan terlihat lebih segar nantinya.

Setelah dipress, adonan biasanya akan langsung berbentuk genting jadi namun teksturnya masih lembek dan basah. Karena ini tahapan pengeringan akan dimulai, butuh waktu hingga 20 hari, sebelum genting-genting ini bisa kering sempurna.

“Bahkan kalau musim hujan bisa sampai sebulan penuh, baru bisa dibakar nanti,” imbuhnya. Untuk satu kali pembakaran, ia menyebut biasannya  minimal telah mencapai 6.000 buah genting, agar ongkos produksi bisa ditekan.

Setelah matang, genting-genting ini akan disetor ke pengepul sesuai dengan permintaan dengan harga Rp 800 ribu per seribu genting. “Nanti untuk penjualannya ya kemana-mana, biasanya ada yang mengambil langsung ke sini, ada juga yang bos itu kirim ke luar kota juga,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 09 Jan 2019 19:46:15 +0700
<![CDATA[Ringin Contong; Stabilizer Suplai Air Sejak Jaman Penjajahan Belanda]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/09/112681/ringin-contong-stabilizer-suplai-air-sejak-jaman-penjajahan-belanda https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/09/112681/ringin-contong-stabilizer-suplai-air-sejak-jaman-penjajahan-belanda

JOMBANG – Meski bangunan ini sejak awal ditujukan untuk suplai air, namun harus diakui Ringin Contong tak lebih dari monumen, lantaran nyaris tak berfungsi]]>

JOMBANG – Meski bangunan ini sejak awal ditujukan untuk suplai air, namun harus diakui Ringin Contong tak lebih dari monumen, lantaran nyaris tak berfungsi normal lagi. Aris Yuswantoro menyebut Ringin Contong memang pernah ditinggalkan usai PDAM Jombang memiliki pengolahan air sendiri.

“Kira-kira tahun 1990-an, selain sudah punya tempat pengolahan, jaringan yang makin banyak memang memaksa air tak sempat naik ke atas tandon,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Padahal, dirinya juga sadar betul jika kegunaan tandon tersebut cukup penting. Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara, tandon sebesar Ringin Contong itu  mampu menampung puluhan ribu liter air. Sehingga bisa berfungsi menstabilkan suplai air.

Semenjak tak lagi digunakan, Aris mengakui memang suplai air sangat berdampak kepada masyarakat, utamanya di jam-jam tertentu. “Istilahnya kita mengenal ada jam puncak dan tidak puncak, biasanya seperti pagi dan sore itu air kecil, sebaliknya siang atau malam bisa deras sekali. Nah kalau ada tandon ini bisa menyetabilkan itu, jadi air bisa lancar terus,”lontarnya.

Saat ditanya apakah pihaknya dalam waktu dekat akan berencana mengfungsikan kembali menara air itu, Aris belum bisa menjawab jelas. Pihaknya mengaku masih harus hitung-hitung sembari melakukan kajian mendalam.

“Sebenarnya dari pemkab sendiri minta agar tandon difungsikan lagi. Tapi kita belum bisa, karena sudah lama tidak dipakai menurut kami harus ada kajian dulu, kemanan bangunan dan lain-lain. Nah ini yang belum bisa kita lakukan sampai sekarang, sehingga untuk mengisi air lagi juga belum berani,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 09 Jan 2019 19:14:01 +0700
<![CDATA[Ringin Contong ; Titik Nol, Menara Air, dan Landmark Kabupaten Jombang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/09/112679/ringin-contong-titik-nol-menara-air-dan-landmark-kabupaten-jombang https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/09/112679/ringin-contong-titik-nol-menara-air-dan-landmark-kabupaten-jombang

JOMBANG - Bagi warga Jombang, siapa yang tak mengetahui ringin contong? Bangunan yang berawal dari sebuah titik nol, yang dibuat sebagai menara air terbesar]]>

JOMBANG - Bagi warga Jombang, siapa yang tak mengetahui ringin contong? Bangunan yang berawal dari sebuah titik nol, yang dibuat sebagai menara air terbesar di Jombang ini terus menjelma. Kini, ringin contong menjadi salah satu landmark Jombang dan ikon Kabupaten Jombang.

Berada di titik pusat jalur protokol, asal kata Ringin Contong sendiri, terdiri dari dua kata yakni Ringin atau pohon beringin yang tumbuh besar di lokasi, serta Contong yang seringkali diartikan sebagai tandon atau wadah air.

Kompleks bangunan ini sebagai perkembangan kawasan yang terus berjalan. Berawal dari 1877 di era kolonial Belanda, wilayah ini awalnya dijadikan sebagai titik nol dari Kabupaten Jombang.

Penetapan ini terjadi pada 20 September 1877 yang dimuat dalam lembaran Negara nomor 172 (Staatblad van Nederlandsch-Indie Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie van 20 September 1877 no.2/c).

Kawasan ini kemudian terus menjadi pusat Jombang. Terlebih saat 1910 Jombang resmi berpisah dari Afdeeling Mojokerto dan hadirnya Bupati pertama Jombang R.A.A.Soeroadiningrat V atau Kanjeng Sepuh.

“Ditanami beringin pertama kali sebagai simbol pengayoman Bupati pertama Jombang itu. Meski beringin sempat roboh sekitar tahun 1989 dan ini tunas baru,” ucap Aris Yuswantoro, Direktur PDAM Jombang.

Sedangkan pembangunan menara air, rampung dilakukan  1929 silam. Awalnya, bangunan ini berfungsi sebagai lokasi penyimpanan air untuk suplai ke rumah warga sedari jaman kolonial.

“Belanda kita tahu kalau untuk air biasa pakai tandon. Dan ini untuk menyuplai kebutuah air di kota. Karena dulu itu ngambilnya dari Mojokerto, makanya ada dua tandon lagi di Peterongan dan Mojoagung, itu urut-urutannya sampai pusatnya Jombang ya disini,” lanjutnya.

Kawasan ini pun terus berkembang. Usai tak lagi digunakan sebagai tandon air sejak PDAM Jombang memiliki pengolahan air sendiri. Kawasan ini kemudian disulap menjadi bangunan taman. Tepatnya 1997, saat pemerintahan dipimpin Bupati Soewoto Adowibowo.

Dan puncaknya, ketika pemerintahan Bupati Nyono Suharli, Ringin Contong kembali mendapat posisi spesial lantaran menjadi ikon dari Jombang. “Memang puncak sebagai ikon itu sampai sekarang, terlepas dari pro kontra, memang dari awal bangunan ini bersejarah,” sambung Aris.

Karena itulah bangunan yang memiliki tinggai 40 meter ini masih terjaga keasliannya. Meski seringkali mengalami pergantian warna cat, hingga dibangun sebuah tamam di sekeliling, tapi keaslian bangunan masih terjaga hingga sekarang.

“Kalau bangunannya semua asli, cuma memang tidak berfungsi lagi, walaupun pipa masih terpasang, pompa sudah kita ambil,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 09 Jan 2019 19:00:55 +0700
<![CDATA[Wayang Topeng Jatiduwur; Warisan Sastra Panji]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112451/wayang-topeng-jatiduwur-warisan-sastra-panji https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112451/wayang-topeng-jatiduwur-warisan-sastra-panji

JOMBANG - Dalam perjalanannya, upaya duplikasi topeng-topeng ini sempat dilakukan beberapa seniman. Dengan berbentuk hampir mirip namun dengan perwatakan]]>

JOMBANG - Dalam perjalanannya, upaya duplikasi topeng-topeng ini sempat dilakukan beberapa seniman. Dengan berbentuk hampir mirip namun dengan perwatakan yang tak sama persis.

Topeng-topeng duplikat ini sempat menjadi saksi pertunjukan wayang topeng setelah hampir 40 tahun terkubur. Hingga akhirnya topeng duplikasi ini kini disimpan di rumah salah satus eniman teater Jombang Imam Ghozali.

Untuk cerita, Wayang Topeng Jatiduwur adalah salah satu warisan Sastra Panji. Artinya cerita-cerita yang digunakan adalah cerita yang selalu ber-setting Kerajaan Kadiri atau Jenggala dengan lakon utama Panji Inu Kertapati dan pasangan dwi tunggalnya Dewi Sekartaji.

Meski dalam pengembangannya, alur cerita bisa berlaku sangat dinamis. Dalam kesenian Wayang Topeng Jatiduwur, dua lakon atau cerita yang paling umum dipentaskan adalah Patah Kuda Narawangsa atau Sekartaji Kembar yang bercerita tentang pengembaraan Sekartaji dalam pencarian jati diri sebelum akhirnya kembali merengkuh kebahagiaan dengan Panji Inu Kertapati.

Yang kedua adalah Wiruncana Murca, yang mengisahkan perjuangan Panji Inu Kertapati untuk bisa memenangkan hati sang Dewi Sekartaji. Meskipun sepanjang perjalanannya, lakon Patah Kuda Narawangsa lebih banyak dipentaskan. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 08 Jan 2019 20:06:21 +0700
<![CDATA[Wayang Topeng Jatiduwur; Terawat Hingga Generasi Ketujuh]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112450/wayang-topeng-jatiduwur-terawat-hingga-generasi-ketujuh https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112450/wayang-topeng-jatiduwur-terawat-hingga-generasi-ketujuh

JOMBANG – Kabupaten Jombang tak hanya identik dengan Ludruk dan Tari Remo. Sebuah kesenian wayang topeng bercerita panji juga dimilik Jombang.]]>

JOMBANG – Kabupaten Jombang tak hanya identik dengan Ludruk dan Tari Remo. Sebuah kesenian wayang topeng bercerita panji juga dimilik Jombang. Dikenal Wayang Topeng Jatiduwur, hingga kini masih terawatt sampai generasi ke tujuh.

Pertunjukan wayang Topeng Jatiduwur berupa pementasan wayang orang dengan menggunakan topeng sebagai media pengenalan karakternya. Nama Jatiduwur dipakai karena wayang ini pertama kali dipentaskan dan bertahan di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang.

Konsep pertujukan wayang ini juga berlangsung layaknya pementasan wayang. Dimana semua pertunjukan yang berjalan dilakukan seorang dalang. Meski semua lakon wayang diperagakan manusia dengan menggunakan topeng berkarakter masing-masing, semua gerakan dan dialog wayang sspenuhnya dilantunkan sang dalang seperti wayang orang.

Wayang ini, merupakan wayang yang diyakini diciptakan langsung Ki Purwo, salah satu tokoh warga Jatiduwur yang memang juga  dalang pertama Wayang Topeng Jatiduwur. Berkembang sejak era Kerajaan Majapahit, wayang ini kemudian terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Hingga kini, wayang ini disimpan rapat dalam sebuah kotak yang disakralkan di rumah Sumarmi, keturunan ke empat dari Ki Purwo, namun pengelolaan dilakukan Sulastri Widianti, anak dari Sumarmi.

“Kalau tempatnya masih di rumah ibu, ya tetap dirawat seperti dulu, masih ada ubo rampe-nya juga, karena kan memang sakral. Sebelumnya sempat berpindah juga ke rumah keluarga lain, dari keluarga dalang, keponakan hingga akhirnya ke ibu itu,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Ya, topeng-topeng yang berjumlah 33 karakter itu memang terhitung topeng yang disakralkan dan dianggap memiliki kekuatan magis. Mulai dikisahkan seringkali kembali ke rumah asal, saat tak kerasan di rumah perawat baru hingga dianggap bisa menyembuhkan penyakit.

“Terlebih untuk topeng Klono itu, memang seringkali diminta orang untuk mengobati, ya percaya tidak percaya memang,” sambungnya. Karena itu, perawatan topeng memang tak bisa dilakukan sembarangan. Tiap kali usai pementasan, topeng-topeng ini biasanya dimasukkan ke dalam pembungkus sebelum ditempatkan dalam sebuah kotak yang disimpan khusus di salah satu kamar rumah Sumarmi.

Tentunya juga lengkap dengan sesajen yang ada di bawahnya. Untuk membukanya juga diperlukan ritual khusus. “Sehingga kalaupun latihan biasanya ya tidak dipakai topengnya, jadi latihannya tanpa topeng, nanti kalau pertunjukan baru dipakai, karena tidak bisa sembarangan mengeluarkan topengnya,” lanjutnya.

Tak saja topeng, untuk penampilan setiap kali pementasan, wayang ini juga punya ritual khusus. Yakni pementasan Tari Klono di awal pertunjukannya. Tarian ini berupa tarian tanpa dialog yang dilakukan tokoh sentral dengan memakai topeng Klono yang berwarna hitam dengan lukisan garang.

“Kalau dulu pemain Klono ya Ki Purwo sendiri, setelah itu biasanya dilakukan dalang atau pemain panjinya,” imbuh Lastri, sapaan akrabnya. Baru setelah prosesi tari klono rampung, pertunjukan selanjutnya diisi dengan sejumlah tari pendukung lain seperti Tari Bapang hingga lakon utama.

Kemudian ditutup dengan prosesi kenduren dan penarikan ketupat atau disebut mbatek kupat sebagai simbol pelepasan nadzar sang empunya hajat. “Maklum, pertunjukan wayang topeng ini kan dulunya memang dilakukan untuk penebusan nadzarnya orang-orang itu,” sebutnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 08 Jan 2019 20:01:56 +0700
<![CDATA[Cor Kuningan Mojotrisno; 90 Persen Pasar Luar Negeri]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112442/cor-kuningan-mojotrisno-90-persen-pasar-luar-negeri https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112442/cor-kuningan-mojotrisno-90-persen-pasar-luar-negeri

JOMBANG - Menjadi sentra penghasil kuningan di Jombang, para perajin merasa sangat bangga dengan hasil yang dicapai. Pasalnya hasil tangan mereka mengotak-atik]]>

JOMBANG - Menjadi sentra penghasil kuningan di Jombang, para perajin merasa sangat bangga dengan hasil yang dicapai. Pasalnya hasil tangan mereka mengotak-atik kuningan menjadi barang yang bernilai tinggi tembus hingga mancanegara. Tidak hanya Asia, namun hingga Eropa.

“90 persen di mancanegara. Selama ini memang kebanyakan dikirim ke Eropa,” kata Agus Purnomo. Selain Eropa, pasar di Asia juga terus meningkat. “Asia itu Korea, ada juga di Jepang.  Lalu Malaysia dan Singapura, tapi biasanya terbatas. Orang Korea yang sering ke sini langsung pesan,” tutur dia.

Dari banyaknya pemesan itu menurut Agus, pelanggan dari Korea misalnya, biasanya lebih banyak memilih patung-patung dengan ukuran besar. Seperti patung hewan. “Kuda ini pesanan  dari orang Korea,” sebut dia.

Ukurannya pun hampir menyerupai kuda sungguhan. Dari mulai bentuk hingga tingginya, hampir mirip dengan kuda aslinya. Menurut Agus, tidak semua pelanggan langsung membeli setiap patung yang ada.

Mayoritas mereka sudah punya desain sendiri. “Jadi lewat agen, mereka sudah punya desain. Kemudian kita yang buat,” papar dia. Bagaimana pasar dalam negeri? Menurut Agus paling dominan sampai sekarang tetap di pulau Dewata Bali.

“Di Bali itu kebanyakan distributor atau toko-toko. Mungkin mereka di sana juga punya pesanan,” sambung kakek tiga cucu ini. Dari beragam karya yang dihasilkan masih menurut Agus dari dahulu sampai sekarang ada satu patung yang tak bisa ditinggalkan. Yakni patung Hindu-Buddha.

Dari banyaknya perajin di Dusun Sanan Selatan, sebagian besar masih membuat patung itu. “Pangsa pasar  untuk patung Hindu dan Buddha itu yang tidak bisa dihilangkan, sampai sekarang tetap ada. Dimanapun perajin, tetap membuat patung itu,” kata Agus.

Dia juga tak mengetahui alasan pastinya. Hanya saja, menurut dia pemasaran patung itu sudah ada sejak puluhan tahun silam. “Mungkin karena dulu paling dominan patung itu, jadi sampai sekarang tidak bisa dihilangkan. Istilahnya, sudah tahu pemasarannya, dimana dan siapa saja,” beber dia.

Untuk harga menurut Agus tergantung dari desain itu. “Jadi desain, bentuk, berat, dan sulit dan tidaknya menentukan murah dan mahalnya. Yang jelaas harganya relatif, puluhan sampai ratusan juta,” pungkas dia.  (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 08 Jan 2019 19:32:50 +0700
<![CDATA[Cor Kuningan Mojotrisno; Usaha Turun Temurun Sejak 1980]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112439/cor-kuningan-mojotrisno-usaha-turun-temurun-sejak-1980 https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112439/cor-kuningan-mojotrisno-usaha-turun-temurun-sejak-1980

JOMBANG - Siapa yang tak kenal dengan kerajinan cor kuningan di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung. Ya, kerajinan yang berbahan dasar dari kuningan itu]]>

JOMBANG - Siapa yang tak kenal dengan kerajinan cor kuningan di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung. Ya, kerajinan yang berbahan dasar dari kuningan itu selain sangat dikenal  di dalam negeri juga ke luar negeri.

Tepatnya di Dusun Sanan Selatan, tempat dimana para perajin membuat karya seni patung dari kuningan. Hampir seluruh warga dusun setempat membuat kerajinan itu. Maka jangan heran, jika bertandang ke Dusun Sanan Selatan akan dijamu dengan banyaknya patung yang dipajang di depan rumah.

Salah satunya milik  Nirwan Yusuf (almarhum) yang kini usahanya diteruskan Agus Purnomo. Belum masuk ke rumahnya, patung hewan hingga patung Buddha sudah lebih dahulu menyambut.

Agus menuturkan, kerajinan cor kuningan memang sudah ada sejak embah-embah-nya dulu. “Dari 1980-an sudah ada,” kata Agus. Beragam hasil karya putera daerah ini dihasilkan. Sembari memperlihatkan patung-patung itu, dia menyebutkan diantaranya patung realis hingga abstrak.

“Kalau dulu 1980-an itu masih biasa-biasa saja. paling banyak patung realis. Sekitar 1990-an itu mulai patung-patung abstrak,” kata lelaki usia 47 tahun ini.

Dia kemudian menceritakan, sebelum pangsaa pasar hingga mancanegara, para perajin dibuat jatuh bangun menjajakan cor kuningan yang dihasilkan. Mulai dari Bali, Jogjakarta hingga Jakarta. Deretan kota yang pernah disinggahi para perajin. Paling banter dan sampai sekarang yang masih bertahan yakni di Bali.

“1980-an memang begitu, di situ perajin masih terbatas. Artinya masih orang-orang lama. Baru kemudian 1990-an pemasaran sampai ke luar negeri,” papar dia. Karena pemasaran sudah merambah ke luar negeri, maka para perajin pun harus berinovasi membuat patung dengan bentuk terbaru.

“Harus punya desain baru supaya pelanggan tidak jenuh. Peralihan 1990 ke 2000-an muncul patung abstrak, seperti bentuk balerina, patung klasik yang dikombinasikan dengan asbtrak atau patung tempo dulu yang diperbaiki, patung gaya Eropa. Pokoknya apa yang sekiranya pasar menerima produk-produk kita,” beber Agus.

Dari banyaknya perajin yang ada di dusun setempat, kata Agus patung yang dihasilkan juga tidak sama. Masing-masing perajin biasanya punya desain yang diunggulkan. Misalnya bentuk hewan atau patung Hindu dan Buddha.

“Menjaga kerja sama antar perajin yang menjadikan perbedaan itu. Jadi kita saling koordinasi dengan perajin lain, kalau ada pemesan bentuk patung ini misalkan kita tidak bisa, maka kita hubungi pegrajin lain, dan begitu sebaliknya,” ungkap Agus.

Selain  patung,  para perajin juga  membuat beragam hasil karya lainnya. “Seperti suvenir, gantungan kunci dan sebagainya. Tapi yang diunggulkan sampai sekarang ya patung seperti ini,” pungkas Agus. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 08 Jan 2019 19:14:47 +0700
<![CDATA[Air Terjun Tretes Wonosalam; Medan Sulit, Wisatawan Ngos-Ngosan]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112435/air-terjun-tretes-wonosalam-medan-sulit-wisatawan-ngos-ngosan https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112435/air-terjun-tretes-wonosalam-medan-sulit-wisatawan-ngos-ngosan

JOMBANG - Beberapa pengunjung terlihat ngos-ngosan ketika menaiki jalan setapak menuju lokasi Air Terjun Tretes. Rute ini cocok bagi ingin uji kebugaran tubuh.]]>

JOMBANG - Beberapa pengunjung terlihat ngos-ngosan ketika menaiki jalan setapak menuju lokasi Air Terjun Tretes. Rute ini cocok bagi ingin uji kebugaran tubuh. Tanjakan per tanjakan harus dilewati pengunjung sebelum sampai di lokasi.

”Jalannya terjal dan menantang, sehingga harus jalan kaki,’’ ujar Andik salah satu pengunjung kemarin (19/8).

Bersama lima temannya, dia tampak sekali kelelahan ketika berjalan menuju Pos Tahura padahal jarak yang ditempuh kurang 1 KM dari pos itu, dengan tanjakan yang makin lumayan sulit dan menantang. Beberapa pengunjung memilih membawa motor mereka hingga Pos Tahura.

Namun itu sangat berisiko karena samping kiri-kanan jalan tidak ada pembatas melainkan langsung jurang. ”Motor saya, saya parkir di pos bawah yang pertama tadi. Sehingga saya harus jalan sekitar empat kilometer,’’ terangnya.

Meski akses sulit, jika pengunjung bisa menikmati suasana alam seolah jalan terjal bukan hambatan. Sepanjang jalan, hawanya sangat sejuk, ditambah rindangnya pepohonan dan suara burung membuat perjalanan makin menyenangkan.

Ditemui terpisah, Kades Galengdowo Wartomo membenarkan jika akses menuju wisata Air terjun Tretes sudah direncanakan dan segera dibangun. Jika tidak molor, tahun depan anggaran bakal turun dan pembangunan akan langsung dimulai.

”Jadi sesuai rencana,  pembangunan jalan ini membutuhkan anggaran sekitar Rp 12 miliar,’’ uja dia. Sesuai hasil koordinasi, akses menuju wisata tersebut akan dibangun selebar 4 meter dengan kisaran panjang dua kilometer mulai dari pos parkir pertama hingga pos tahura. ”Insyaallah jika anggarannya akan turun,’’ tandasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 08 Jan 2019 18:43:51 +0700
<![CDATA[Air Terjun Tretes Wonosalam; 158 Meter, Tertinggi di Jawa Timur]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112434/air-terjun-tretes-wonosalam-158-meter-tertinggi-di-jawa-timur https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/08/112434/air-terjun-tretes-wonosalam-158-meter-tertinggi-di-jawa-timur

JOMBANG - Air Terjun Tretes yang terletak di Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Layak dijadikan referensi berwisata.]]>

JOMBANG - Air Terjun Tretes yang terletak di Dusun Pengajaran, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Layak dijadikan referensi berwisata. Ketinggianya mencapai 158 meter dan disebut sebagai air terjun tertinggi di Jawa Timur.

Secara geografis letak air terjun Tretes berada di wilayah Kabupaten Jombang. Namun, akses jalan terbagi menjadi dua jalur yakni Kabupaten Kediri dan Jombang. Air terjun tretes terletak di ketinggian 1.250 meter di atas permukaan air laut (dpl). Saat ini obyek wisata alam  Air Terjun Tretes dikelola oleh Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soeryo Jawa timur.

Untuk dapat mengakses wisata ini, paling cepat  memilih rute Kecamatan Bareng. Dari Pasar Bareng pengunjung bisa melewati Desa Karangan selanjutnya menuju Desa Galengdowo. Sebab, jika melewati rute Kecamatan Wonosalam jalan yang ditempuh akan lebih jauh karena posisi  Air Tretes berada di ujung selatan Kabupaten Jombang.

Akses jalan untuk mencapai Air Terjun Tretes memang cukup sulit. Dari pemukiman warga di Dusun Pengajaran, masih kurang 4 kilometer lagi. Pengunjung dapat berjalan kaki atau memilih ojek yang disediakan warga setempat.

Mereka selalu siap setiap hari khususnya pada akhir pekan. Jasa ojek tersebut dikenakan tarif Rp 20 ribu per orang. Maklum, jalur yang dilalui cukup ekstrem karena jalannya sempit dan terjal. Motor tukang ojek pun rata-rata sudah dimodifikasi, pada bagian ban diganti menggunakan model trail. Sedangkan asesoris sudah dilepas agar lebih mudah blusukan di jalan terjal sepanjang hutan.

Setiba di Pos Tahura, pengunjung harus jalan kaki. Akses yang ditempuh menuju lokasi air terjun masih sekitar 1 kilometer. Jika lelah, pengunjung dapat beristirahat di beberapa warung milik warga. Mereka menyediakan air mineral, kopi, snack maupun gorengan.

Warung-warung tersebut selalu ramai saat air terjun Tretes banyak pengunjungnya seperti Minggu kemarin. ”Pada hari biasa, paling banyak jumlah pengunjung mencapai 50 orang namun kalau Minggu seperti ini sekitar 100 orang,’’ ujar Yatno salah satu petugas di Pos Tahura.

Dijelaskan, air terjun Tretes masuk dalam wilayah Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. Otomatis untuk retribusi alias pendapatan dari wisata air terjun Tretes tidak masuk ke desa atau pemerintah daerah, melainkan ke Pemprov Jatim. ”Karena ini masuk wilayah Dinas Kehutanan Jatim, kami petugasnya pun dari sana. Berbeda dengan parkir yang ada di bawah tadi,’’ jelasnya.

Untuk memasuki objek wisata air terjun Tretes, pengunjung ditarik Rp 10 ribu per orang namun khusus untuk warga pribumi Dusun Pengajaran dan sekitarnya tidak ditarik biaya alias gratis.

Setiba di air terjun Tretes, pengunjung akan disambut dengan sejuknya angin yang berhembus dari tumpahan air terjun. Makin dekat ke air terjun, udara dan angin sepoi-sepoi makin terasa meyapa kulit. Meski cuaca panas, di area air terjun Tretes masih tetap sejuk karena matahari tertutup rapatnya hutan dan tingginya tebing yang menjulang.

Disana, pengunjung biasanya berendam ke kolam. Atau pengunjung bisa berswafoto. ”Saya jauh-jauh dari Kediri untuk melihat Air terjun Tretes,’’ ujar Andik salah satu pengunjung. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 08 Jan 2019 18:36:27 +0700
<![CDATA[Roti Jadul Banyuarang; Buah Tangan yang Tahan Lama, Tembus Pasar Jawa]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/07/112226/roti-jadul-banyuarang-buah-tangan-yang-tahan-lama-tembus-pasar-jawa https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/07/112226/roti-jadul-banyuarang-buah-tangan-yang-tahan-lama-tembus-pasar-jawa

JOMBANG – Roti jadul bolu plemben yang dibuat Tomi ada dua variasi, yakni basah dan kering. Jika roti basah terasa lebih empuk dan bertahan beberapa hari]]>

JOMBANG – Roti jadul bolu plemben yang dibuat Tomi ada dua variasi, yakni basah dan kering. Jika roti basah terasa lebih empuk dan bertahan beberapa hari, untuk bolu plemben kering bisa bertahan lebih lama hingga satu bulan. Sehingga, sangat cocok dijadikan oleh-oleh buat saudara, teman dan kerabat yang jauh.

”Ide variasi kering ini muncul agar bisa dibuat oleh-oleh karena perlu tahan lama,” ujar Tomi. Meski begitu, pembuatan roti bolu plemben kering tidak jauh berbeda dengan roti bolu plemben basah. Hanya saja, untuk variasi kering dioven hingga dua kali, sampai benar-benar tidak ada kadar airnya.

”Kalau yang kering hanya dioven dua kali saja, untuk rasa tetap sama hanya beda kering saja,” ungkapnya. Untuk menikmati roti jadul ini, para pencinta kuliner tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Karena harga yang ditawarkan sangat terjangkau hanya Rp 3.200 per pak untuk variasi basah, dan Rp 4.000 per pak untuk variasi kering.

”Perpak isinya sembilan biji plemben,” imbuhnya. Roti jadul bolu plemben ini pun cukup dikenal. Setiap hari, dia bisa membuat 31.000 biji kue. Bahkan, pesanan dan pengiriman sudah dilakukan menyeluruh hingga pulau Jawa dan bahkan sampai Kalimantan.

”Kan sudah ada yang mengambil sendiri, pernah mengirim sampai Kalimantan, tapi kebanyakan di pulau Jawa,” tegasnya. Selain dikirim sendiri, banyak warga sekitar yang langsung membeli ke rumah Tomi langsung. Sebab, roti ini lebih nikmat kalau dinikmati dalam keadaan masih hangat  dan baru keluar dari oven.

Tak jarang, masyarakat sekitar lebih suka beli langsung ke rumah Tomi dibandingkan yang dijual di toko-toko. Andik, salah satu pembeli asal Desa/Kecamatan Ngoro misalnya, lebih sering sering membeli langsung ke rumah karena bisa mencicipi roti dalam keadaan hangat. ”Meski sudah dingin rasanya enak, tapi kalau masih hangat rasanya lebih enak lagi,” ujar dia.

Tidak hanya dikonsumsi untuk keluarga, biasanya dia membeli roti bolu plemben untuk berbagai kegiatan. Karena, apabila tamu diberi suguhanroti plemben pasti habis. ”Biasanya kalau ada acara apa gitu saya pesen roti bolu plemben ini, karena banyak orang yang suka dengan rasanya empuk dan manis,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 07 Jan 2019 18:54:06 +0700
<![CDATA[Roti Jadul Banyuarang; Rasanya Legit, Resep Diwariskan Turun Temurun]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/07/112222/roti-jadul-banyuarang-rasanya-legit-resep-diwariskan-turun-temurun https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/07/112222/roti-jadul-banyuarang-rasanya-legit-resep-diwariskan-turun-temurun

JOMBANG – Roti jadul, begitu pendapat orang menjelaskan roti bolu plemben. Roti yang berbentuk seperti tempurung kura-kura yang berwarna kecokelatan itu masih]]>

JOMBANG – Roti jadul, begitu pendapat orang menjelaskan roti bolu plemben. Roti yang berbentuk seperti tempurung kura-kura yang berwarna kecokelatan itu masih bertahan sampai sekarang, dan selalu diburu penikmat kuliner.

Seperti bolu plemben buatan Bustomi Azid, warga Desa Banyuarang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Rasa roti yang begitu khas dengan cita rasa empuk legit dan manis. Tak heran para pencinta kuliner di Jombang dan sekitarnya merasa ketagihan dan kangen dengan roti jadul ini.

Sang pemilik mengaku tidak ada resep rahasia dalam pembuatan roti bolu plemben ini karena didapatkan turun temurun dari orang tuanya. ”Ya, ini dulu merupakan resep dari orang tua saya di Magetan,” ujar Tomi, begitu biasanya ia kerap disapa.

Dirinya juga mengaku tidak ada resep khusus yang ditambahkan dalam pembuatan bolu plemben ini. Bahkan resepnya sangat sederhana sekali dengan bahan yang mudah didapat setiap hari, seperti telur, tepung, gula dan mentega. ”Pembuatannya juga sangat mudah sekali, tidak membutuhkan proses yang ribet,” akunya.

Rasa roti jadul yang masih enak di lidah hingga produksi bertahan sampai sekarang membuat usaha yang didirikannya tahun 2003 itu cukup berkembang. Kini, ia sudah mempunyai banyak karyawan yang notabene warga sekitar.

Mereka mempunyai peran masing-masing dari proses pembuatan adonan, bagian mencetak kue, pemangganan hingga proses pengemasan. Sebenarnya, dia tidak mempunyai fikiran untuk membuka usaha roti bolu plemben ini. Apalagi, semasa muda ia pernah bekerja di Malaysia.

Lantaran ada sesuatu hal yang mengharuskan dirinya pulang ke kampung halaman, maka dari situlah usaha membuat roti jadul dimulai. ”Karena roti bolu plemben buatan orang tua saya sangat enak, makanya saya berfikir membuka usaha roti ini,” pungkas Tomi. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 07 Jan 2019 18:42:03 +0700
<![CDATA[Uniknya Motif Bunga Dandelion dalam Batik Tulis Morosunggingan]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/07/112131/uniknya-motif-bunga-dandelion-dalam-batik-tulis-morosunggingan https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/07/112131/uniknya-motif-bunga-dandelion-dalam-batik-tulis-morosunggingan

JOMBANG - Tidak hanya di Diwek dan Mojoagung, pengrajin batik juga ada di Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan. Karya batik tulis ini memberdayakan ibu-ibu]]>

JOMBANG - Tidak hanya di Diwek dan Mojoagung, pengrajin batik juga ada di Desa Morosunggingan, Kecamatan Peterongan. Karya batik tulis ini memberdayakan ibu-ibu warga sekitar. Dengan jenis motif unik dan khas, yaitu bunga dandelion.

“Kalau Ringin Contong saya buat, itu batik Jombangan, hanya saja tidak sering, yang masih bertahan dan banyak dicari ya bunga dandelion ini,” kata Sugiono, salah satu perajin batik tulis. Selain bunga dandelion, motif Majapahit juga banyak diburu karena setiap gambar memiliki makna tersendiri.

Untuk membuat selembar kain batik tulis berukuran 2,5x1,15 meter, ia membutuhkan waktu hingga 3 bulan. Sebaliknya, jika motif tidak terlalu rumit, ia hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari saja. Lamanya waktu pengerjaan batik tulis bunga dandelion ini membuat harga jualnya cukup tinggi.

“Saya memang tidak bekerja sendiri untuk membuat batik tulis ini, tapi mengajak ibu-ibu sekitar yang ingin belajar dan menghasilkan uang,” kata Sugiono, salah satu perajin batik. Ia mulai membatik sejak 1978, yang kala itu masih menjadi warga Desa Karangmojo, Kecamatan Plandaan, dan baru pindah ke Peterongan 1999.

Saat berada di Karangmojo, ia hanya membatik ketika ada pesanan saja. Sehingga kreasinya tidak sampai memiliki ratusan stok motif. “Saat itu terkendala modal dan pemasaran yang belum banyak dikenal orang, jadi hanya buat kalau ada yang pesan,” jelasnya.

Sejak 1999 itulah, ia mulai memperbesar usaha batik dengan memberdayakan ibu-ibu sekitar. Saat ini ada 12 ibu rumah tangga yang mengerjakan proses batik di rumah masing-masing. “Tidak hanya ibu-ibu, wali murid SDN Morosunggingan banyak yang antusias belajar, siswa juga kita ajarkan membatik sejak dini,” kata Kasek SDN Morosunggingan ini.

Belasan ibu rumah tangga itu mengerjakan mulai proses pencantingan di rumah masing-masing, sesekali kumpul di sanggar untuk sharing motif dan kreasi batik. “Kita memanfaatkan rumah dinas yang tidak terpakai dijadikan sanggar, jadi tempat ibu-ibu kumpul, dan menarik wali murid untuk belajar membatik,” sambungnya.

Menurut dia, membatik harus dilestarikan. Ilmu membatik harus diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Sebab, batik merupakan kain khas Indonesia yang harus dikembangkan dari generasi ke generasi. Banyak motif batik yang sudah dibuatnya hingga ribuan jenis. Dari semua jenis motif itu yang paling terkenal adalah khas bunga dandelion. Bunga ini salah satu bunga khusus Jombang.

Ditambahkan, batik tulis halus yang memakan waktu hingga 3 bulan dijual dengan harga Rp 600-700 ribu. Sedangkan batik yang selesai hanya 10 hari, dijual dengan harga Rp 300 ribu. “Semakin rumit motif yang diinginkan, maka semakin lama juga waktunya,” katanya. Dalam sebulan, ia bisa memproduksi 10 hingga 20 lembar kain dengan motif yang tidak terlalu rumit.

Batik produksinya memiliki dua warna, sintetis dan pewarnaan alam. Pewarnaan alam tentu lebih mahal karena menggunakan bahan alam di sekitar rumah, yang tidak gampang membuat iritasi pada kulit sensitif. Untuk warna alam, ia menggunakan buah dan pohon sendiri yang ditanam di halaman SDN Morosunggingan.

Tidak semua jenis tanaman bisa digunakan sebagai pewarna alam. Hanya tanaman yang mengandung tanin atau zat warna alami pada buat atau pohon. Tanaman yang mengandug tanin diantaranya tangi, bixa orelana, indigo vera, jolawe, kayu secang, kayu mahoni, dan daun ketapang.

“Dulu saya cari di hutan-hutan, tapi sekarang saya tanam sendiri dan mulai saya budidayakan di sekolah lain, hampir semua tanaman yang ada di depan rumah dinas ini bisa dipakai untuk pewarnaan alam pada batik,” ujarnya bangga.

Sayangnya, batik tulis miliknya belum terlalu dikenal warga Jombang sendiri. Batiknya justru terkenal warga di luar daerah hingga luar negeri melalui pameran-pameran. Bahkan, karya batiknya sudah pernah terjual hingga Kazakhstan, Australia, dan Norwegia. “Kalau di Jombang memang batik saya belum terkenal, tapi pangsa pasar tidak hanya di Jombang, bisa cari rejeki di tempat lain,” jelasnya.

Sementara itu, Umi, salah satu ibu rumah tangga yang juga belajar membatik mengaku senang bisa belajar batik. Selain mengisi waktu luang sehari-hari, ia juga bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dari karyanya sendiri. “Daripada di rumah gosip, saya selalu bawa pulang garapan untuk dikerjakan di rumah,” pungkas dia. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 07 Jan 2019 08:15:01 +0700
<![CDATA[50 Tahun Sekali, Umat Hindu di Jombang Rayakan Kuningan dan Siwaratri]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/06/112065/50-tahun-sekali-umat-hindu-di-jombang-rayakan-kuningan-dan-siwaratri https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/06/112065/50-tahun-sekali-umat-hindu-di-jombang-rayakan-kuningan-dan-siwaratri

JOMBANG - Hari kuningan tahun ini dirasakan berbeda bagi umat hindu di Desa Ngepeh, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Sebab, kemarin (5/1) setelah 50 tahun]]>

JOMBANG - Hari kuningan tahun ini dirasakan berbeda bagi umat hindu di Desa Ngepeh, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Sebab, kemarin (5/1) setelah 50 tahun akhirnya perayaan Kuningan dan Siwaratri berbarengan.

Sejak pagi umat hindu bersiap di Pura Amrta Buana Dusun Ngepeh dengan mengenakan baju adat. Satu persatu umat hindu nampak mendatangi pura yang berada di pinggir jalan raya itu.

Hingga pukul 09.00, setidaknya terlihat puluhan umat sudah berkumpul. Setelah beberapa saat mendapat pengarahan dari pengurus, kegiatan sembahyang pun dilakukan. Diawali dengan memercikkan air suci yang dilakukan pemangku ke seluruh umat yang hadir, acara dilanjut berdoa dengan menghadap simbol dewa yang berada di tengah pura.

Ya, sabtu pagi kemarin, umat Hindu memang tengah merayakan hari suci Kuningan. Perayaan ini juga sekaligus rangkaian dari Hari Raya Galungan yang sebelumnya telah dihelat 10 hari lalu. Dalam keyakinan agama hindu, roh leluhur yang sempat kembali ke dunia beberapa hari lalu tengah berproses untuk kembali ke alam asli.

“Untuk hari suci Kuningan memang dilaksanakan setiap 6 bulan sekali. Artinya setiap 120 hari akan ada ibadah seperti ini,” terang Sukirno, pengurs Pura Amerta Buana. Namun, perayaan Kuningan tahun ini tak sama dengan perayaan di tahun sebelumnya lantaran berbarengan dengan perayaan Siwaratri. Sebutan khusus untuk hari suci Kuningan yang berbarengan dengan siwaratri ini disebut tahun emas.

“Tahun emas karena sudah 50 tahun ketemu antara kuningan dan siwaratri. Iya, kuningan sama siwaratri itu hanya satu sekali dalam 50 tahun karena terbentuknya ekawara dan dasawara,” lanjutnya.

Siwaratri sendiri adalah phari suci bagi pemujaan Desa Siwa yang dilakukan dengan berjaga pada malam hari. Siwaratri dilaksanakan pada purwani atau sehari sebelum tilem kapitu, yang pada hakikatnya adalah nama samaran pada nama Siwa. Yang artinya selalu mengingat dan memuja Siwa dalam upaya melenyapkan kegelapan batin.

Karena itu, dalam satu hari kemarin, umat hindu di Dusun Ngepeh merayakan dua hari suci sekaligus. “Ya ini nanti setelah kuningan selesai akan pulang semua, cuma nanti sore akan kembali lagi ke pura untuk upacara Siwaratri,” tambahnya.

Sementara Pranutik, pemangku umat Hindu di Pura Amerta Buana berharap, dengan perayaan ini menguatkan keyakinan dan memupuk keharmonisan antar umat beragama. “Yang kami harapkan dari umat Hindu sendiri, semakin kukuh semakin kuat dengan keyakinan kami dari dalam. Keluar, kami berharap saling memupuk keharmonisan antar umat beragama," pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sun, 06 Jan 2019 18:34:45 +0700
<![CDATA[Tondowulan Kampung Gerabah; Usaha Turun Temurun, Tembus Pasar Jatim]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/31/111027/tondowulan-kampung-gerabah-usaha-turun-temurun-tembus-pasar-jatim https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/31/111027/tondowulan-kampung-gerabah-usaha-turun-temurun-tembus-pasar-jatim

JOMBANG – Kawasan Utara Brantas juga terkenal sebagai penghasil kerajinan gerabah. Salah satunya dapat ditemukan di Dusun Mambang, Desa Tandowulan]]>

JOMBANG – Kawasan Utara Brantas juga terkenal sebagai penghasil kerajinan gerabah. Salah satunya dapat ditemukan di Dusun Mambang, Desa Tandowulan, Kecamatan Plandaan. Kerajinan  warga dusun ini, sudah menjangkau seluruh wilayah Jawa Timur.

Sejak masuk ke desa ini, pemandangan unik langsung tersaji. Puluhan rumah dihiasi gerabah setengah jadi hingga yang telah matang di depan rumahnya. Salah satu perajin gerabah yang masih aktif adalah Supinah, 82. Saat Jawa Pos Radar Jombang mengunjungi rumahnya kemarin, ia terlihat sedang sibuk membuat sebuah cobek kecil.

Dimulai dari mengumpulkan tanah liat khusus yang diambil dari sawah, Supinah kemudian mencampurnya dengan pasir. Dengan komposisi tertentu, tanah ini kemudian diuleni dengan tangan secara manual hingga membentuk adonan yang padat namun tetap lunak dibentuk.

Usai siap dibentuk, Supinah kemudian meletakkannya di atas alas kayu yang di bawahnya terdapat pemutar. Dengan menggunakan tangan kosong, nampak mudah baginya untuk membuat gerabah sederhana ini. Dengan sentuhan tangan terampilnya, satu cobek kecil mampu ia hanya buat hanya dalam waktu 10 menit saja. ’’Ini  masih basah, sampai jadi harus dijemur dulu,” ucapnya.

Setelah pembuatan selesai, penjemuran harus dilakukan setidaknya seminggu hingga gerabah benar-benar kering dan siap bakar, itupun ketika cuaca sedang bersahabat. Penjemuran gerabah tak boleh dilakukan langsung di bawah terik matahari. “Kalau pas panas begitu ya seminggu, kalau pas sering hujan bisa lebih,” lanjutnya.

Per harinya, Supinah mengaku mampu membuat hingga puluhan gerabah kondisi basah. Tak hanya cobek, Supinah dan puluhan warga lain di desanya ini juga membuat banyak jenis gerabah lain seperti anglo, penggorengan dari tanah, gentong, jambangan, kendi hingga sejumlah alat lain yang semuanya terbuat dari tanah.

’’Ya macam-macam, ya cobek begini, ya anglo kalau saya, ada celengan juga untuk anak-anak SD biasanya yang minta ini. semuanya bisa dibuat di sini,” imbuh wanita empat anak ini. Gerabah-gerabah yang sudah jadi, biasanya akan disetor kepada pengepul untuk kemudian diedarkan ke seluruh Jawa Timur.

’’Di sini tempat kumpulnya saja, biasanya setiap bulan akan ada yang mengambil, ya ada yang dari kediri, Surabaya, Ponorogo dan banyak tempat lain. Yang jelas kalau produksi dari sini memang sudah terkenal bagus sejak puluhan tahun lalu kan,” terang Kalimah, 65, salah satu pengepul di Dusun Mambang. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 31 Dec 2018 14:52:12 +0700
<![CDATA[Tondowulan Kampung Gerabah; Mayoritas Masih Tradisional]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/31/111024/tondowulan-kampung-gerabah-mayoritas-masih-tradisional https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/31/111024/tondowulan-kampung-gerabah-mayoritas-masih-tradisional

JOMBANG - Mayoritas perajin gerabah di Dusun Mambang memang dikerjakan oleh orang-orang berusia lanjut tua. Produksinya hanya berkutat pada alat dapur]]>

JOMBANG - Mayoritas perajin gerabah di Dusun Mambang memang dikerjakan oleh orang-orang berusia lanjut tua. Produksinya hanya berkutat pada alat dapur yang harganya murah. Namun, beberapa generasi baru kini mulai menjajal pasar baru dengan bentuk karya bernilai jual tinggi.

Bagi Supinah, membuat gerabah memang sudah aktivitas rutinnya sejak lebih dari 70 puluh tahun lalu. Ya, Supinah mengaku memang sudah mulai membuat gerabah sejak neneknya berhenti dari usaha ini. ’’Saya membuat sejak masih jaman penjajahan dulu. Kalau diukur umur mungkin masih kelas 2 SD kalau anak sekarang, lha sekarang sudah 80 tahun lebih,” terangnya.

Supinah tak sendirian,  masih ada puluhan perajin dengan usia yang tak jauh berbeda. Hal ini membuat produksi gerabah Dusun Mambang memang tak banyak bervariasi, hanya berkutat pada sejumlah alat dapur yang harganya rendah.

’’Ya memang di sini yang membuat rata-rata sudah tua, dan produksinya ya barang-barang sejak zaman dulu. Harganya mentok paling Rp 15 ribu, itu sudah besar sekali bentuknya. Ya memang murah ,” lanjutnya.

Namun, beberapa perajin generasi muda kini sudah mulai muncul dengan pasar baru. Seperti yang dilakukan Sumarlik, 33. Dengan ketrampilannya, ia mulai membawa kerajinan gerabah di desanya jadi bernilai tinggi dengan pembuatan sesuai pesanan.

“Kalau saya memang melayani pesanan, ada pot bunga besar, ada guci juga, selain itu gelas-gelas yang bentuknya etnik begitu,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Berbekal kemampuan dan beberapa kali pelatihan, di tangan Sumarlik gerabah-gerabah ini dibentuk dengan sangat baik. Meski pembuatannya manual, Sumarli mampu memberi detil ukiran hingga hiasan bahkan pewarnaan dan pelapisan pada gerabah buatannya. Alhasil, Tampilan gerabahnya pun jauh lebih indah, dan bernilai seni.

Dengan itu, ia mengaku mampu masuk ke sejumlah pasar baru, pelanggan yang kelasnya lebih tinggi. Tentu saja juga dengan harga yang lebih tinggi pula. ’’Kalau gelas itu bisanya yang pesan ya penginapan-penginapan, kalau guci biasanya dikirim ke hotel-hotel. Harganya sudah bisa mencapai Rp 300 ribu per bijinya untuk guci ini,” lanjutnya.

Meski begitu, ia mengaku masih sangat tergantung dengan jumlah pesanan yang masuk kepadanya. Karena itu di musim-musim tertentu, ia masih akan tetap membuat gerabah tradisional ketika pesanan sedang kosong. ’’Ya buat begini kan kalau ada pesanan, kalau tidak ya membuat gerabah biasa saja,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 31 Dec 2018 14:49:58 +0700
<![CDATA[Usai Galungan, Umat Hindu di Wates Wonosalam Bersiap Sambut Kuningan]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/29/110775/usai-galungan-umat-hindu-di-wates-wonosalam-bersiap-sambut-kuningan https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/29/110775/usai-galungan-umat-hindu-di-wates-wonosalam-bersiap-sambut-kuningan

JOMBANG – Usai merayakan Hari Raya Galungan yang diperingati setiap 210 hari sekali, kini umat Hindu di Dusun Wates, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam]]>

 JOMBANG – Usai merayakan Hari Raya Galungan yang diperingati setiap 210 hari sekali, kini umat Hindu di Dusun Wates, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang bersiap  menyambut Hari Raya Kuningan yang akan diperingati awal Januari pekan depan. 

Seperti terlihat di Pure Tribuana, Dusun Wates kemarin (28/12). Tampak Pinto, pemangku pure membersihkan beberapa sisa perayaan hari raya galungan yang diperingati Rabu (28/12) lalu. ”Jadi Hari Raya Galungan itu hari raya sebelum kuningan. Ini merupakan rangkian hari raya sebelum Nyepi nanti,’’ ujar dia. 

Hari Raya Galungan diperingati umat Hindu secara sederhana. Umat Hindu hanya melakukan sembahyang di malam hari dan membuat beberapa sajian di Padmasana alias tempat sembahyang. ”Galungan artinya merayakan kemenangan dari dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan),’’ jelasnya.

Selain sajian, ada yang khas dari Hari Raya Galungan. Yakni umat Hindu membuat beberapa penjor semacam hiasan yang terbuat dari rangkaian janur. Penjor itu diletakkan di dalam pure dan rumah warga. ”Selain itu juga membuat canang sebagai tempat sajian,’’ beber dia.

Kini umat Hindu tengah bersiap menyambut Hari Raya Kuningan, yang  diperingati setiap 210 hari dalam setahun. Di kalender umum, Hari Raya Kuningan diperingati 5 Januari tahun depan. ”Hari Raya Kuningan diperingati sebagai wujud menghormati orang tua. Biasanya, diwujudkan dalam bentuk membuat sesajian nasi kuning,’’ pungkas lelaki yang menjadi pemangku 28 tahun ini. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sat, 29 Dec 2018 10:22:16 +0700
<![CDATA[Ditangan Warga Sumberjo, Kayu Limbah di Hutan Disulap Jadi Handmade]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/29/110773/ditangan-warga-sumberjo-kayu-limbah-di-hutan-disulap-jadi-handmade https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/29/110773/ditangan-warga-sumberjo-kayu-limbah-di-hutan-disulap-jadi-handmade

JOMBANG - Kebanyakan kayu limbah yang sudah kering di hutan hanya dimanfaatkan untuk kayu bakar. Namun di tangan Eko Cahyono, warga Dusun/Desa Sumberjo,]]>

JOMBANG - Kebanyakan kayu limbah yang sudah kering di hutan hanya dimanfaatkan untuk kayu bakar. Namun di tangan Eko Cahyono, warga Dusun/Desa Sumberjo, Kecamatan Wonosalam kayu  hutan mampu disulap jadi handmade atau produk kerajinan tangan yang memiliki nilai jual tinggi.  

Kemarin (28/12), Eko Cahyono bersama beberapa warga tengah sibuk mengelupas bagian kulit yang kering. Beberapa kayu tampak biasa, tak ada bedanya dengan kayu garing yang ada di hutan. Ada kayu Jati, Sono mapun bonggol bambu yang sudah tua. Setelah dikelupas dan dibersihkan kulitnya, akhirnya mulai tampak keunikan masing masing kayu.

Eko biasanya membuat pajangan rumah, replika bunga bungaan dan lampu tidur. Eko menggunakan bahan utama dari kayu kering. ”Makin unik dan tua kayu bonggolnya, maka nilai seninya makin tinggi,’’ ujar Eko kemarin (28/12). 

Awal mula Eko terinspirasi membikin kerajinan tangan dari kayu saat dirinya membeli replika bunga-bungaan di toko bunga. Eko melihat, kebanyakan yang dipakai adalah kayu kering biasa seperti kayu mangga yang tidak memiliki nilai seni.

Dari situ, Eko berpikir untuk membuat kerajinan tangan sendiri. ”Daripada beli, mending saya manfaatkan limbah kayu kering yang ada di hutan. Kebetulan di Desa Sumberjo ini adalah wilayah hutan sehingga mencari kayu seperti ini tidaklah sulit,’’ beber dia. 

Beberapa kayu yang dipilih adalah kayu jati, sono dan bambu. Selain banyak dijumpai di hutan, ketiga jenis kayu  cocok sebagai bahan dasar membuat kerajinan tangan. ”Kami ingin menonjolkan kesan alami hutan. Makanya kami gunakan kayu asli dari hutan Desa Sumberjo,’’ papar dia. 

Lambat laun, akhirnya usaha Eko mulai dilirik warga lain. Bukannya, takut tersaingi justru Eko mengajak warga lain bergabung untuk menggeluti usaha kerajinan tangan dari olahan limbah kayu. Kini, ada beberapa warga yang mengerjakan pesanan seperti usaha Eko. ”Alhamdulillah sekarang mulai berjalan, dan orang-orang juga saling terbantu,’’ beber dia.

Bahkan, Eko sempat mengaku jika kerajinan tangannya diminati warga luar Jombang. Beberapa kali, Eko mengirim ke Mojokerto dan Surabaya. ”Paling banyak ya tingkat lokal saja,sementara untuk harga jual mulai yang paling kecil Rp 70 ribu hingga setinggi dua meter kurang lebih Rp 2,5 juta,’’ pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sat, 29 Dec 2018 10:16:36 +0700
<![CDATA[Sumber Kucur Aren di Wonokerto Tak Pernah Surut Meski Kemarau]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/27/110440/sumber-kucur-aren-di-wonokerto-tak-pernah-surut-meski-kemarau https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/27/110440/sumber-kucur-aren-di-wonokerto-tak-pernah-surut-meski-kemarau

JOMBANG – Warga Dusun Wonogiri, Desa Wonokerto dan sekitarnya tak pernah merasa kekurangan air. Sebab, ada sumber kucur aren yang selalu memenuhi kebutuhan air]]>

JOMBANG – Warga Dusun Wonogiri, Desa Wonokerto dan sekitarnya tak pernah merasa kekurangan air. Sebab, ada sumber kucur aren  yang selalu memenuhi kebutuhan air mereka. Sumber tersebut sudah ada sejak zaman Belanda.

Siang kemarin (26/12), tampak mendung di Desa Wonokerto. Awan hitam menggelayut di atas pemukiman warga. Namun hal itu tak menyurutkan warga tetap beraktiftas seperti biasanya.

Seperti yang dilakukan Naryanto, 40 warga setempat yang membersihkan sisa-sisa kotoran dan dedaunan pohon yang rontok pada sebuah bak penampungan berukuran sekitar 2 x 3 meter itu. 

Ya, Naryanto ternyata membersihkan kotoran yang jatuh pada tempat penampungan air. Air tersebut berasal dari sumber kucur aren. ”Agar kotoran ini tidak terbawa ke pipa,’’ ujar dia sembari mengambil beberapa ranting, dan dedauan kering. 

Dijelaskan, sumber kucur aren merupakan sumber mata air pegunungan yang terletak di Desa Wonokerto. Keberadaannya sudah ada sejak zaman Belanda.

”Terdapat tiga titik sumber yang masih mengeluarkan air,’’ jelas dia. Dinamakan kucur aren, karena sumber tersebut mengalir di sela sela pohon aren. Pohon aren tersebut usianya diperkirakan sudah ratusan tahun. Itu terlihat dari ukuran pohon yang sangat besar dan tinggi. 

Tempat penampungan ukuran 2 x 3 meter tersebut sudah ada sejak zaman Belanda. Dahulu dipakai sebagai tempat penyuplai pabrik karet yang terletak di bawah sumber.

Namun kini yang tersisa hanya tempat penampungan kecil tersebut. ”Kalau pabriknya sudah dibongkar sejak tahun 80-an, beberapa pondasi juga sudah diambili warga untuk pondasi rumah mereka,’’ jelas dia.

Sumber Kucur Aren, hingga kini masih dimanfaatkan warga Dusun Wonogiri, Desa Wonokerto untuk kebutuhan sehari-hari. Air tersebut tak pernah kering walau musim kemarau panjang seperti beberapa bulan lalu.

”Ini hanya bisa dipakai untuk kebutuhan warga Dusun Wonogiri sebanyak 40 kepala keluarga (KK), sementara untuk Dusun Wonokerto tidak bisa lantaran letak dusunnya di atas sumber. Sehingga air tidak kuat mengalir ke atas pemukiman warga,’’ beber dia. 

Di hutan tersebut, masih ada sekitar 60 pohon aren berukuran besar. warga setempat tidak berani menebang karena dipercaya dapat mengganggu sumber mata air.

”Dahulu pernah ditebang, namun airnya surut. Sehingga sampai sekarang dengan kebijakan dari desa dilarang menebang pohon tersebut,’’ papar bapak satu anak ini. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Thu, 27 Dec 2018 08:43:55 +0700
<![CDATA[Wisata Religi Makam Gus Dur; Tersedia Banyak Merchandise]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/24/110059/wisata-religi-makam-gus-dur-tersedia-banyak-merchandise https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/24/110059/wisata-religi-makam-gus-dur-tersedia-banyak-merchandise

JOMBANG - Selain berziarah, pengunjung juga dapat berbelanja di seputar kawasan sentra oleh-oleh yang terdapat di luar komplek makam. Di sana pedagang menjual]]>

JOMBANG - Selain berziarah, pengunjung juga dapat berbelanja di seputar kawasan sentra oleh-oleh yang terdapat di luar komplek makam. Di sana pedagang menjual berbagai macam merchandise khas Gus Dur. Mulai dari tasbih, sarung, kopyah hingga gantungan kunci model Gus Dur. 

Di destinasi wisata religi makam Gus Dur, terbagi menjadi beberapa blok. Pertama, kawasan Museum Islam  Indonesia KH Hasyim Asy’ari dan Monumen Asmaul Husna, kedua kawasan sentra PKL dan oleh-oleh dan ketiga makam gus Dur sendiri. ”Benar, jadi dari awal pintu masuk peziarah akan disambut beberapa spot selfi di kawasan makam parkir Gus Dur,’’ ujar Iskandar, kepala Pondok Pesantren Tebuireng. 

Di sana peziarah dapat berswafoto dan mengabadikan momen di berbagai spot yang disediakan. Bahkan peziarah tak perlu khawatir jika tak sempat foto-foto. Sebab, ada komunitas fotografer kawasan makam Gus Dur yang sudah membidik saat peziarah saat melintas di kawasan parkiran. Biaya per foto dibandrol Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu. 

Rute selanjutnya, pengunjung berjalan sekitar 500 meter untuk sampai ke makam Gus Dur. Di makam Gus Dur peziarah akan disambut aula yang untuk ngaji dan berdoa didepan makam Gus Dur dan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU). ”Di sana kami juga menyediakan tempat istirahat bagi peziarah yang kelalahan,’’ papar dia. 

Usai melakukan ziarah, pengunjung dapat berbelanja membawa oleh-oleh khas Gus Dur. Karena di sepanjang sentra oleh-oleh itu, pedagang menjual berbagai macam kebutuhan peziarah. Mulai dari kuliner, suvenir hingga buku dan kitab Alquran. ”Semuanya ada di sana, mulai dari tasbih, hingga kaos bergambar Gus Dur atau pahlawan nasional KH Hasyim Asy’ari,’’ pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 24 Dec 2018 15:44:36 +0700
<![CDATA[Wisata Religi Makam Gus Dur; Jujukan Peziarah Berbagai Daerah]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/24/110057/wisata-religi-makam-gus-dur-jujukan-peziarah-berbagai-daerah https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/24/110057/wisata-religi-makam-gus-dur-jujukan-peziarah-berbagai-daerah

JOMBANG – Wisata religi makam Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terletak di kompleks Pesantren Tebuireng seolah menjadi medan magnet]]>

 JOMBANG – Wisata religi makam Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terletak di kompleks Pesantren Tebuireng seolah menjadi medan magnet bagi peziarah. Pasalnya, makam ini tak pernah sepi peziarah dari berbagai penjuru Indonesia. 

Makam  Gus Dur  sejak 31 Desember 2009, terus dikunjungi ribuan peziarah setiap harinya. Sebelum Gus Dur meninggal, sudah ada makam dua pahlawan nasional di komplek makam tersebut, yakni KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahid Hasyim. Dahulu, jumlah peziarah memang sudah banyak, namun tak sebanyak sekarang ketika ada makam Gus Dur. 

Ketika masuk di area makam Gus Dur, peziarah bakal disambut lorong panjang yang disamping kanan-kirinya ada puluhan pedagang oleh-oleh. Dahulu, lorong itu merupakan kamar-kamar para santri namun kini berubah menjadi lorong yang dilewati peziarah untuk menuju makam Gus Dur. 

Di kompleks makam Gus Dur, ada sekitar 45 orang yang dimakamkan. Mulai dari pendiri Pesantren Tebuireng, pengasuh pondok, keluarga hingga dzuriah. Makam Gus Dur sendiri terletak di sebelah pojok utara. Terdapat tanda batu maesan unik bertuliskan: di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan’’ dalam empat bahasa. Yakni bahasa Indonesia, Arab, Inggris dan China. 

Kawasan makam Gus Dur dibuka dalam dua sesi. Pertama mulai pukul 07.00 hingga 16.00 dan sesi kedua mulai pukul 20.00 hingga 03.00. Jumlah pengunjung makam Gus Dur seolah tak bisa dihitung dengan mata. Saking banyaknya, peziarah berjubel hingga lesehan di beberapa sudut makam. ”Kalau hari-hari biasa mulai Senin – Kamis itu jumlah pengunjung 2- 3 ribu per hari. Namun kalau sudah masuk Jumat, Sabtu dan Minggu itu bisa masuk sampai 10 ribu peziarah per hari,’’ ujar Iskandar, Kepala  Pesantren Tebuireng kemarin (23/12). 

Bahkan momentum, haul Gus Dur yang ke-9 ini, jumlah pengunjung makin bertambah. Apalagi, minggu-minggu ini sudah memasuki liburan sekolah. ”Jadi karena bertepatan dengan musim libur panjang, jumlah  pengunjung bisa 15 - 20 ribu,’’ sambungnya. 

Makam Gus Dur dikelola oleh Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT). Hasil dari infaq peziarah, dikelola dan disalurkan untuk masyarakat. ”Ada beberapa program yang dikelola LSPT mulai dari pendidikan maupun sosial. Biasanya, kami sering melakukan kegiatan sosial kemanusiaan saat ada bencana,’’ papar dia.  

Kawasan  makam Gus Dur mulai dipersolek pemerintah dua tahun sejak Gus Dur wafat. Pada 2011 Kemendikbud RI dan Pemkab Jombang mulai membangun Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari dan kawasan parkir di makam Gus Dur. ”Itu dibangun mulai 2011. Sekarang pemerintah juga mulai membangun sentra PKL di sebelah barat,’’ pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 24 Dec 2018 15:35:45 +0700
<![CDATA[Momentum Natal, Pernak Pernik Yesus dan Gantungan Salib Banyak Dipesan]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/23/109912/momentum-natal-pernak-pernik-yesus-dan-gantungan-salib-banyak-dipesan https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/23/109912/momentum-natal-pernak-pernik-yesus-dan-gantungan-salib-banyak-dipesan

JOMBANG – Momentum natal membawa berkah tersendiri bagi perajin suvernir dan pernak pernik di Kabupaten Jombang. Seperti yag dirasakan Natalia]]>

JOMBANG – Momentum  natal membawa berkah tersendiri bagi perajin suvernir dan pernak pernik di Kabupaten Jombang. Seperti yag dirasakan Natalia, 35, perajin suvenir di Desa Banjardowo, Kecamatan Jombang.

Sabtu (22/12) kemarin, di rumah Natalia belasan pekerja tampak sibuk mencetak berbagai macam pernak pernik. Namun, dari beberapa jenis yang ada ada dua yang paling banyak dbikin. Yakni pernak pernik Yesus dan Bunda Maria serta gantungan kunci berbentuk salib.

Jelang Natal ini permintaan pernik-pernik natal paling melonjak. ”Jadi permintaan khusus di momentum  natal ini meningkat hingga 30 persen,’’ ujar Natalia ditemui kemarin.

Dia mengaku, dari beberapa jenis suvenir buatannya, yang paling banyak diburu alias diminati pembeli adalah gantungan kuci dan ornamen berbentuk salib. ”Selain unik, karena pernik-pernik itu harganya yang paling ekonomis,’’ sambung nya.  

Dalam sehari, dia biasanya membuat 200 keping suvenir. Itu tegrantung dari permintaan juga. Jika permintaan banyak, maka dia bisa membuat lebih dari 200 keping . ”Tapi kalau jelang natal ini kami membuat dalam jumlah banyak, karena pesanan juga banyak,’’ papar dia.

Untuk satu suvernir, harga yang ditawarkan juga cukup ekonomis, mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 4 ribu. Ada juga yang lebih mahal tergantung ukuran dan jenis kerumitan pembuatan. ”Harganya juga bervaritif sesuai desainnya,’’ bebernya.

Dalam membuat suvenir, Lia mengaku di bantu sekitar 15 - 20 orang pekerja. Masing masing pekerja memiliki tugas masing masing mulai dari mencetak, mewarnai hingga proses pengepakan. Sehingga dirinya tak terlalu kuwalahan meskipun banyak pesanan.

”Untuk suvenir kecil, satu orang per hari bisa menghasilkan 500 keping,’’ jelas dia. Suvenir hasil bikinannya, tidak hanya dikirim ke Jombang, melainkan ke sejumlah kota lain seperti Kediri, Mojokerto, Surabaya dan Sidoardjo.

”Tapi yang paling mendominasi adalah Jombang, karena yang pesen tidak hanya gereja-gereja namun juga sekolah,’’ tandasnya.

Dia mengaku, suvenir buatanya itu biasanya digunakan untuk kado. Kadang juga ada yang pesen dipakai untuk hiasan rumah. ”Yang paling banyak dipesen sekolah lalu dibagikan ke murid-murid mereka. Katanya untuk kado natal,’’ pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sun, 23 Dec 2018 12:31:56 +0700
<![CDATA[Produk Kerajinan Kipas Lipat Desa Sentul Tembus Pasar Asia dan Afrika]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/18/109113/produk-kerajinan-kipas-lipat-desa-sentul-tembus-pasar-asia-dan-afrika https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/18/109113/produk-kerajinan-kipas-lipat-desa-sentul-tembus-pasar-asia-dan-afrika

JOMBANG - Satu lagi, karya unik dihasilkan dari tangan warga Jombang. Kipas dari kain yang dijuluki sebagai kipas sakti ini dibuat Suwandi, 61,]]>

JOMBANG - Satu lagi,  karya unik dihasilkan dari tangan warga Jombang. Kipas dari kain yang dijuluki sebagai kipas sakti ini dibuat Suwandi, 61, warga Desa Sentul, Kecamatan Tembelang. Penggemar kipasnya hingga luar negeri.

Meski terlihat sepele, ternyata di pasaran kipas ini memiliki daya jual yang cukup tinggi. Bahkan kipas ini tidak lagi dibeli untuk memenuhi kebutuhan, tapi banyak juga yang membeli untuk koleksi karena bentuknya yang unik. 

’’Banyak yang beli bukan hanya untuk kipasan karena udara panas. Tapi karena memang unik,  dijual di wilayah yang cukup dingin, kipas ini tetap laku,” kata Suwandi. Menurut Suwandi, saat ini ia adalah satu-satunya dan yang pertama membuat kipas lipat di Jombang. 

Sejarah pembuatan kipas produksi rumahan ini cukup berliku. Awalnya Suwandi yang  tak memiliki pekerjaan tetap itu prihatin melihat banyaknya kain perca yang dibuang  teman  penjahit. 

Banyaknya kain perca rupanya membuatnya berpikir untuk mengambil peluang usaha dari kain tersebut. Tapi membuat kipas lipat awalnya sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Awalnya ia hanya membuat sarung bantal. Tapi sarung bantal saat itu tidak ramai di pasaran, sehingga ia mencoba inovasi baru dengan membuat tas, dompet dan juga gantungan kunci yang bahan dasarnya juga kain perca. 

Tapi lagi-lagi usaha tersebut hanya laku apa adanya saja, tidak laku keras hingga membuahkan omzet yang cukup tinggi. Akhirnya, ia mendapat ide membuat kipas lipat di awal tahun 2006. 

Awalnya, kipas lipat buatannya tidak begitu ramai di pasaran. Tapi lebih baik dibandingkan tas dan dompet sehingga ia tetap mempertahankannya. Kemudian ia mulai merasakan manisnya buah  usahanya pada 2008. ’’Saya mengikuti banyak pameran yang diadakan pemerintah, akhirnya produk saya semakin dikenal dan mulai banyak pemesan,” tambahnya. 

Masa jayanya saat itu hanya sebatas lapak offline, dikenal melalui pameran dan dari mulut ke mulut. Ia mulai berada di puncak kejayaan saat Gubernur Jatim Soekarwo memesan 5.000 kipas untuk sebuah acara besar. Mulai saat itulah ia kebanjiran order dari banyak tempat. 

Kipas yang sekarang sudah mulai dikenal hingga mancanegara ini awalnya hanya olahan yang serba limbah. Kain perca yang didapatkan dari konveksi, gagang kipas yang terbuat dari botol oli dan diburu dari pengepul rongsokan, serta kawat baja yang dibeli dari limbah kawat  di Surabaya.

Kawat baja dipilih karena lebih lentur dan mudah dibentuk tapi tetap kembali pada bentuk semula. ’’Semua serba limbah pokoknya, dulu botol oli bekas itu diplong sendiri, lalu digunting sendiri pokoknya masih manual semua, tapi sekarang sudah tidak,” ungkap bapak tiga anak ini.

Menurutnya, kualitas dari gagang plastik yang dipesan dari pabrik dengan gagang limbah botol sama saja. Hanya saja limbah botol tidak memiliki banyak warna, paling banyak warna   merah. Sedangkan jika pesan bisa warna apa saja. 

Sementara itu kawat baja jika harus beli di pabrik harus dalam jumlah besar, minimal satu ton. Dan harganya juga tidak murah. Sehingga ia memilih mencari limbah pabrik saja yang ia beli dari pengepul limbah. “Kalau beli limbahnya, harganya murah, dan bisa beli kiloan,” imbuhnya. 

Banyaknya permintaan membuatnya tidak lagi membuat dari barang limbah seadanya. Kain perca yang dari konveksi juga sudah tidak bisa memenuhi jumlah permintaan, sehingga ia membeli perca di toko dan di konveksi besar. Sedangkan gagang dari botol oli juga tidak bisa menutupi jumlah permintaan, sehingga harus beli.

Satu kipas membutuhkan kain satin 25 x 30 centimeter. Kawat baja yang digunakan sepanjang 90 centimeter harus dipipihkan dulu. Meski terlihat sederhana, menurut Suwandi, proses pembuatan kipas ini lumayan rumit. Pemotongan kain harus pas, kadar baja pada kawat harus pas, dan pemasangan juga harus betul, agar saat dilipat  memiliki bentuk yang bagus. 

Dibantu dengan sejumlah karyawan, satu hari, Suwarno bisa membuat minimal 100 kipas. Namun banyaknya kipas yang dibuat disesuaikan dengan jumlah pemesanan. Satu bulan ia bisanya bisa menjual kipas sebanyak 3.000 kipas.

Pembeli kipas paling banyak dari Kalimantan, Jakarta dan Bali. Juga dipesan dari Jawa Tengah, Jawa Barat dan NTT. Untuk Jombang sendiri pemasarannya  di kawasan wisata religi makam Gus Dur. 

Permintaan juga datang dari luar negeri. Seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Afrika, hingga India. Kipasnya banyak di kenal warga mancanegara dari pameran internasional yang pernah ia ikuti di Jakarta. ’’Sudah banyak yang kenal, kita juga kirim ke beberapa negara. tapi tidak banyak,” tambahnya. 

Pemasarannya kini tidak hanya melalui pameran saja, tapi juga melalui media online, tapi kebanyakan pembeli yang datang adalah pelanggan tetap. 

Harga kipasnya beragam, mulai dari yang paling murah Rp 6 ribu hingga Rp 9 ribu. Rp 6 ribu yang memiliki bentuk standar, tapi jika permintaan ada sablon tulisan, dan sablon wajah atau khusus kampanye, harganya bisa sampai Rp 9 ribu. Tidak hanya dijual dalam bentuk kipas, tak jarang ia mendapatkan banyak pesanan untuk suvenir pernikahan. ’’Kalau suvenir ditambah boks mika harganya bisa sampai Rp 12 ribu, tergantung modelnya juga,’’ ujarnya.  

Satu bulan, ia bisa meraup omzet hingga Rp 18 juta dari penjualan kipas yang dihitung rata-rata Rp 6 ribu per biji. Desember, permintaan sedang tinggi. ’’Desember gedhe-gedhene sumber,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 18 Dec 2018 10:15:14 +0700
<![CDATA[Pendopo Kabupaten; Simbol Rumah Masyarakat Jombang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/17/108966/pendopo-kabupaten-simbol-rumah-masyarakat-jombang https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/17/108966/pendopo-kabupaten-simbol-rumah-masyarakat-jombang

JOMBANG – Pendopo Kabupaten yang terletak di Jl Alun Alun Jombang nomor 1 Kaliwungu, Kecamatan/Kabupaten Jombang menyimpan sejarah sejak awal pemerintahan]]>

JOMBANG – Pendopo Kabupaten  yang terletak di Jl Alun Alun Jombang nomor 1 Kaliwungu, Kecamatan/Kabupaten Jombang menyimpan sejarah sejak awal pemerintahan di Kabupaten  Jombang.

Di pendopo telah terukir sejarah tentang awal mula masa pemerintahan di Jombang sejak dipimpin R.A.A. Soeroadiningrat V (Kanjeng Sepuh) masa jabatan 1910-1930 hingga Bupati Jombang Mundjidah Wahab (2018-2023).

Di dalam Pendopo Kabupaten, hingga kini masih tersimpan beberapa peninggalan lama yang masih dijaga dan tetap terawat. Ciri khas pendapa Jombang adalah pohon beringin kunting yang berusia ratusan tahun. Pohon itu, sudah beberapa kali dipangkas namun hingga sekarang masih tumbuh. 

Disebut kunting, karena pohon tersebut tidak bisa tumbuh maksimal. Tidak memiliki akar gantung laiknya pohon beringin pada umumnya. 

Salah satu budayawan Jombang, Dian Sukarno mengatakan, Pendopo Kabupaten  pertama kali dibangun pada era R.A.A. Soeroadiningrat V. ”Jadi pertama dibangun pada era  Kanjeng Sepuh R.A.A. Soeroadiningrat V, setelah mendapatkan beselit alias surat pengangkatan dari batavia yang dibawa oleh penghulu Sumobito bernama Imam Zaid,’’ ujar dia kemarin (16/12).

Pembangunan Pendopo Kabupaten bersamaan dengan dibangunnya Ringin Tjontong, sekitar Februari 1910, dengan penanaman empat pohon ringin kunting di pendopo dan pembangunan Masjid Jamik Baitul Mukminin.

Lalu, pada era bupati ke-13 Tarmin Hariadi (1988-1993) Pendopo Kabupaten mengalami perombakan setelah adanya pemisahan Kecamatan Bandarkedungmulyo dengan Perak. Beberapa ornamen dan perabotan asli pendopo di bawa ke Balai Kecamatan Bandarkedungmulyo.

”Pada saat itu joglo dan lain-lain Kanjeng Sepuh dipindahkan ke Bandakedungmulyo,’’ jelas dia. Ciri khas lain dari pendopo, adalah dua bangunan yang berusia sangat lama.

Yakni rumah dinas bupati (bagian belakang) dan pendopo utama yakni bangunan tanpa dinding. Baik rumah dinas bupati dan pendapa memiliki bentuk atap yang hampir mirip. Bentuknya lancip seperti rumah tradisional zaman dahulu. 

Pendopo utama memiliki delapan tiang penyangga. Namun di bagian tengah ada empat tiang berukuran besar. Di atasnya ada sebuah lampu gantung tua yang memiliki bentuk cukup unik. Di bagian kanan pendapa sendiri, masih ada satu set alat gamelan.

Mulai dari kendang, bonang, saron, hingga gong masih tertata rapi. Gamelan itu, ditempatkan di pojok selatan dengan ukiran kayu berwarna emas. 

Sedangkan di sisi utara, ada sebuah kentongan yang cukup unik. Kentongan berkepala naga dengan mulut memanjang dengan lubang kentongan. Tingginya sekitar dua meter. (Pewarta: ANGGI FRIDIANTO)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 17 Dec 2018 14:41:27 +0700
<![CDATA[Nasi Kikil Bu Tandur Mojosongo; Modal Per Hari Rp 4 Juta]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108088/nasi-kikil-bu-tandur-mojosongo-modal-per-hari-rp-4-juta https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108088/nasi-kikil-bu-tandur-mojosongo-modal-per-hari-rp-4-juta

JOMBANG – Dalam sehari, Sucipto harus menyiapkan modal sedikitnya Rp 4 juta untuk digunakan belanja kebutuhan nasi kikil. Mulai dari beras, kikil, ati, jantung,]]>

JOMBANG – Dalam sehari, Sucipto harus menyiapkan modal sedikitnya Rp 4 juta untuk digunakan belanja kebutuhan nasi kikil. Mulai dari beras, kikil, ati, jantung, rempela dan kebutuhan lain.

Meski begitu, nasi kikilnya selalu habis setiap harinya. Praktis, yang dia jual besoknya adalah nasi kikil fresh. ”Dalam sehari, butuh 30 sampai 35  kikil (kaki sapi), dan itu selalu habis,” ujar Sucipto kemarin. Dijelaskan, satu kikil (kaki) beratnya hampir 2 kilo.

Satu kikil itu harganya kurang lebih Rp 200 ribu. Belum lagi, ditambah daging yang harganya Rp 90 ribu. ”Setiap hari setidaknya butuh tujuh kilo daging, lidah sekitar empat biji, dan untuk satu lidah harganya sama Rp 90 ribu,” jelasnya.

Dalam sebulan, warung nasi kikil ini mampu mendulang omzet hingga Rp 150 juta. Karena dalam sehari, dia mampu mendapat untung sekitar Rp 1 juta dari modal sekitar Rp 4 juta.

”Sehari kisaran Rp 1 juta,” tandasnya. Dahulu, lanjut Sucipto menceritakan, sewaku Bu Tandur masih hidup, aneka jajanan tradisional selalu menghiasi warung nasi kikilnya. Mulai dari gempo, klanting maupun klepon.

Namun kini jajanan itu sudah tidak dijual karena tidak ada yang membuat. ”Dulu ibuk selalu membuat gempo, sekarang tidak, karena tidak ada yang membuat,” jelasnya. (Pewarta: Anggi Fridianto)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 10:02:42 +0700
<![CDATA[Nasi Kikil Bu Tandur Mojosongo; Pakai Pincuk, Bikin Ketagihan]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108059/nasi-kikil-bu-tandur-mojosongo-pakai-pincuk-bikin-ketagihan https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108059/nasi-kikil-bu-tandur-mojosongo-pakai-pincuk-bikin-ketagihan

JOMBANG – Malam sudah mulai larut, namun jumlah pembeli yang mampir di warung nasi kikil Bu Tandur seolah tak ada habisnya. Rasanya yang gurih membuat nasi]]>

JOMBANG – Malam sudah mulai larut, namun jumlah pembeli yang mampir di warung nasi kikil Bu Tandur seolah tak ada habisnya. Rasanya yang gurih membuat nasi kikil ini memiliki pelanggan dari mana-mana. Selain terkenal dengan gurihnya, nasi kikil ini juga terkenal dengan aromanya yang khas.

Ini dikarenakan wadah nasi kikil menggunakan pincuk dari dauh pisang. Ketika mampir di warung berwarna kuning itu, pembeli akan disambut panci besar yang berisi sayur lodeh kikil. Pembeli juga bisa menambah aneka lauk mulai dari daging, lidah, paru, ati, babat, jantung maupun limpa. Semuanya tersedia.

”Yang paling istimewa adalah makannya di pincuk, aroma dan rasa begitu terasa. Apalagi, nasinya masih hangat ketika kena daun pisang bertambah makin harum,” ujar Andre salah satu pembeli kemarin (12/8).  

Andre sudah menjadi pelanggan nasi kikil Bu Tandur sejak lama, rasanya yang gurih membuat ia selalu kangen dan ingin mampir setiap ada waktu. ”Kikilnya besar-besar. bahkan, sumsumnya juga bisa dihisap melalui lubang kecil. Itu rasanya enak banget,” sambungnya.

Sucipto, pemilik warung memang sengaja menggunakan pincuk dalam menyajikan nasi kikilnya. Itu untuk menjaga khas nasi kikilnya sejak didirkan Bu Tandur. Apalagi, menggunakan pincuk daun pisang membuat nasi tetap segar. ”Namun kalau ada pembeli dari luar Jawa biasanya ada yang meminta ditaruh piring. Ya ada, kami sediakan,’’ terangnya.

Untuk satu porsi nasi kikil Bu Tandur dihargai Rp 30 ribu plus dapat lauk yang disediakan. ”Semuanya komplet, ada empal, paru dan lauk lainnya juga tersedia,” paparnya. Setiap hari, nasi kikilnya selalu ludes diburu pembeli.

Namun  ramai-ramianya pembeli mulai berdatangan justru setelah magrib hingga setelah isya. Karena waktu itu di saat jam makan malam. ”Kadang juga tidak tentu, bahkan ada yang jam 11 malam datang. Karena memang saya buka sampai habis,” tandasnya.

Dia mengaku tak pernah mengubah resep nasi kikil yang diwariskan Bu Tandur. Hanya semenjak diteruskan oleh Sucipto dia mengganti tambahan sayur kikilnya menjadi sayur pepaya. Dulunya, campurannya adalah tewel (nangka muda) dan rebung.

”Namun, kalau menggunakan rebung atau tewel itu sebagian pelanggan mengaku sering terganggu pencernaannya. Setelah saya coba berkali-kali akhirnya yang paling diminati adalah pepaya,” jelasnya.

Meski begitu, dia mengaku rasanya tetap sama dan tidak ada perubahan. ”Kalau kata pembeli rasanya ya tetap sama. Gurih, harum begitu kata pembeli,’’ pungkasnya. (Pewarta: Anggi Fridianto)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 07:58:49 +0700
<![CDATA[Nasi Kikil Bu Tandur Mojosongo; Sejak 1947, Langganan Gus Dur]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108055/nasi-kikil-bu-tandur-mojosongo-sejak-1947-langganan-gus-dur https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108055/nasi-kikil-bu-tandur-mojosongo-sejak-1947-langganan-gus-dur

JOMBANG – Jangan mengaku pencinta kuliner jika belum mencicipi nasi kikil Bu Tandur Mojosongo yang terletak di Jalan KH Hasyim Asy'ari, Jombang.]]>

JOMBANG – Jangan mengaku pencinta kuliner jika belum mencicipi nasi kikil Bu Tandur Mojosongo yang terletak di Jalan KH Hasyim Asy'ari, Jombang. Warung nasi kikil ini sudah terkenal sejak 1947 bahkan sudah menjadi banyak tokoh penting.

Warung nasi kikil Bu tandur cukup mudah diakses, dari Jombang kota jaraknya sekitar 1 kilometer ke selatan, di sebalah kanan jalan raya. Warungnya yang sederhana dengan ciri khas cat berwarna kuning, menjadikan warung ini mudah diingat.

Di deretan jalan tersebut, memang banyak warung kikil lain, dan salah satunya nasi kikil Bu Tandur.  Sejak buka pukul 17.00 warung ini tak pernah sepi pembeli.

Warung nasi kikil ini, sudah berdiri sejak tahun 40-an. Pendirinya adalah Tandur, salah seorang penjual nasi kikil di  daerah Mojosongo. Bu Tandur mendirikan warung ini sejak masih remaja belum menikah. Ia menekuni warung nasi kikil hingga 2001, hingga dirinya meninggal.

Kendati demikian, warung Bu Tandur masih tetap buka sampai sekarang karena diteruskan anak kedua Bu Tandur, yakni Sucipto. Sucipto, penerus generasi pertama ini begitu supel saat Jawa Pos Radar Jombang mampir kemarin malam.

Dia menceritakan, sejak kecil dirinya sudah diajari memasak. Setiap hari, Sucipto kecil membantu bu Tandur berjualan. ”Sejak Bu Tandur meninggal 2001. Beliau berpesan, agar warungnya dinamai ‘Nasi Kikil Bu Tandur Mojosongo, dengan cat berwarna kuning,” ujar dia di sela-sela melayani pembeli.

Dahulu, warung nasi kikil ini tidak begitu lebar seperti sekarang. Ukurannya kecil sekitar 4x3 meter. terdiri satu meja dan beberapa kursi saja. Seiring waktu berjalan, karena jumlah pembeli dan pelanggan makin banyak, ia menambah jumlah kursi. ”Kondisinya sejak dulu ya begini. Karena ini khasnya,” sambung bapak tiga anak ini.

Warung Bu Tandur mulai popular sejak era 85-an. Beberapa pejabat lokal maupun dari luar daerah sering mampir ketika berkunjung ke Jombang. Salah satunya adalah Presiden ke-4 KH Abdurahman Wahid yang sering mampir bersama keluarga dan para santrinya.

”Seperti Cak Nun, Bu Khofifah, Pak Yanto, Pak Nyono dan Bu Mundjidah juga sering mampir,” terangnya. (Pewarta: Anggi Fridianto)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 07:46:01 +0700
<![CDATA[Manik-Manik Gudo; Bertahan dengan Handmade]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108054/manik-manik-gudo-bertahan-dengan-handmade https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108054/manik-manik-gudo-bertahan-dengan-handmade

JOMBANG – Sudah menjadi ciri khas, manik-manik yang dihasilkan seluruh perajin di Desa Plumbon Gambang tetap menggunakan cara tadisional.]]>

JOMBANG – Sudah menjadi ciri khas, manik-manik yang dihasilkan seluruh perajin di Desa Plumbon Gambang tetap menggunakan cara tadisional. Ini untuk mempertahankan kualitas dan keorisinilan produk.

Menurut Nur Wakid, bertahan dengan cara handmade adalah keputusan terbaik yang akan terus dilakukannya bersama seluruh perajin di desanya. Hal ini lantaran kualitas produk yang dihasilkan dari proses handmade akan berbeda dan selalu orisinil jika dibandingkan dengan produk cetakan dan mesin.

“Kita bertahan memang, sebenarnya kan banyak alasan, selain memang hasilnya juga lebih prima dan orisinil pakai handmade memang kan kita bisa mempekerjakan banyak orang yang artinya membantu banyak orang. Walaupun memang produksinya tidak bisa se-massif mesin dan cetak,” ucap Wakid.

Wakid juga tak menampik jika persaingan produknya dan gempuran produk-produk dari Tiongkok memang cukup berpengaruh. Namun, dirinya tetap yakin  produk manik-manik Plumbon Gambang tetap lebih punya daya tarik tersendiri.

“Kita di sini punya produk khusus, terutama untuk kebutuhan etnik beberapa suku. Itu tidak akan bisa kalau dibuat dengan mesin ataupun cetak, harus tangan. Makanya meskipun Cina bikin, saya kira dia cuma menang di jumlahnya saja. kualitasnya kita berani kok diadu,” lanjutnya.

Untuk produk-produk etnik, memang perajin Plumbon Gambang hingga kini punya pasar dan kemampuan khusus untuk membuatnya. Selain khas, bentuk manik etnik ini juga telah diakui dan terus ditunggu setiap kali event-event adat juga kebutuhan adat lainnya.

“Seperti misalnya Kalimantan sama NTT kita sudah pasti bisa, dan hanya di desa ini yang bisa mengerjakan dengan harga yang terjangkau. Karena itu kami tetap bisa bertahan sampai sekarang dan kalau untuk adat kan memang akan terjamin sampai kapan pun,” imbuhnya.

Bahkan untuk beberapa produk manik-maniknya ini,  Wakid menyebut harusnya tak cukup disebut kerajinan manik kaca Jombang, namun sudah manik-manik Indonesia.

“Ini kerajinan manik-manik se-Indonesia sebenarnya, karena kami bisa mereplika untuk manik-manik bahkan untuk bentuk dari abad ke tujuh. Dan itu sekali lagi hanya bisa dilakukan dengan handmade,” pungkasnya. (Pewarta: Achmad RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 07:33:01 +0700
<![CDATA[Manik-Manik Gudo; Dari Jombang Tembus Pasar Internasional]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108052/manik-manik-gudo-dari-jombang-tembus-pasar-internasional https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108052/manik-manik-gudo-dari-jombang-tembus-pasar-internasional

JOMBANG - Kabupaten Jombang juga memiliki sentra industri kecil yang telah mendunia. Adalah kerajinan manik-manik kaca di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo.]]>

JOMBANG - Kabupaten Jombang juga memiliki sentra industri kecil yang telah mendunia. Adalah kerajinan manik-manik kaca di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo. Tak tanggung-tanggung, manik-manik karya perajin desa ini telah menembus pasar internasional sejak puluhan tahun lalu.

Salah satu yang menjadi pioner dan masih eksis di bisnis ini adalah Nur Wakid. Ia bercerita bagaimana proses bisnis manik-manik asal desa ini bisa terus bergeliat dan eksis. Menurutnya, bisnis ini sebenarnya sudah bermula sejak 1980-an.

“Kalau ditanya awalnya memang sejak tahun 80-an, tapi waktu itu kita belum kenal manik-manik, masih pada bentuk-bentuk tasbih dan gantungan kunci saja awalnya,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Puas menjajaki pasar di Jombang dan sekitarnya selama 10 tahun, Wakid saat itu berniat untuk merambah pasar yang lebih besar. Kala itu daerah yang dipilihnya adalah Bali. Tempat dimana jutaan orang dari seluruh dunia dan aneka budaya berkumpul di sana.

Pada 1990-an benar-benar jadi awal babak baru bagi produk manik-manik kaca, yang dulunya hanya terpaku pada bisnis suvenir dengan kreasi monoton, menjadi beragam bentuk dan jenis manik-manik.

“Kita coba ke Bali awalnya tahun 1990 itu, dengan pengetahuan nol tentang Bali kita nekat membawa beberapa sampel, dan memang laku beberapa. Itu babak baru kami mulai merambah pasar di Bali, karena tanggapannya ternyata di atas ekspektasi kami dulu,” lanjutnya.

Tak hanya Bali, pasar-pasar baru untuk industri ini disebutnya juga mulai tumbuh. Mulai dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara mulai terbuka dengan masuknya kerajinan manik-manik ke Bali tersebut.

“Ya terlebih untuk beberapa wilayah yang masih menggunakan manik-manik sebagai bagian dari kebudayaan dan adat, ini memang pasar menjanjikan,” imbuhnya. Bahkan, sejak belasan tahun silam, karya warga Plumbon Gambang ini telah merambah negara-negara lain di dunia. Bergairahnya pasar, membuat gairah usaha juga tumbuh pesat.

Jika sebelum tahun 1990 perajin disebutnya hanya beberapa orang saja, sejak membeludaknya pasar perlahan industri ini terus berkembang dengan munculnya banyak perajin baru. “Kalau sekarang sudah lebih dari 100 usaha yang masih bergerak mas, dan semuanya masih eksis juga dengan pasarnya masing-masing,” pungkasnya. (Pewarta: Achmad RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 07:19:29 +0700
<![CDATA[Kopi Luwak Wonosalam; Antara Edukasi dan Oleh-Oleh]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108048/kopi-luwak-wonosalam-antara-edukasi-dan-oleh-oleh https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108048/kopi-luwak-wonosalam-antara-edukasi-dan-oleh-oleh

JOMBANG – Agus tak saja memanjakan pengunjung yang datang dengan kopi sajiannya dan pemandangan alam. Belakangan, dirinya mengembangkan pula peternakan luwak]]>

JOMBANG – Agus tak saja memanjakan pengunjung yang datang dengan kopi sajiannya dan pemandangan alam. Belakangan, dirinya mengembangkan pula peternakan luwak di bawah warungnya.

Menurut Agus, peternakannya ini memang jadi salah satu primadona juga bagi pengunjung, terutama mereka yang masih penasaran dengan proses pembuatan kopi luwak. Di warung yang sekaligus rumahnya ini, Agus memang akan dengan terbuka menjelaskan prosesnya dan menemani pengunjung yang datang.

“Ya meskipun saya masih belajar, kalau mungkin ada yang kepingin tahu ya saya bisa jelaskan apa yang saya tahu tentang kopi dan prosesnya yang ada di sini,” terangnya. Dirinya mengaku siap berbagi pengalaman dengan orang lain yang memang sama-sama punya antusiasme terhadap kopi dan segala prosesnya.

“Apalagi pas musim panen begini kan kita juga punya stok kopi dari yang masih petik pohon sampai siap bubuk, sebenarnya ini kan menarik juga untuk yang mau belajar sekalian,” imbuhnya.

Di rumahnya, Agus memang juga menyiapkan beberapa kopi yang juga dijualnya dalam bentuk bubuk. Ia menjamin semua kopi yang dijualnya adalah kopi dengan mutu terbaik dan proses yang ketat.

“Yang jelas ini kan saya juga berjejaring dengan produsen kopi lain di sekitar sini, apalagi untuk yang luwak ini kita kan punya dua lagi produsen yang juga di Wonosalam, tapi ya kita tetapkan standar ketat dan harus sama kayak di sini,” pungkasnya. (Pewarta: Achmad RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 06:09:27 +0700
<![CDATA[Kopi Luwak Wonosalam; Pemandangan Indah Sensasi Pegunungan]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108047/kopi-luwak-wonosalam-pemandangan-indah-sensasi-pegunungan https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108047/kopi-luwak-wonosalam-pemandangan-indah-sensasi-pegunungan

JOMBANG – Menjadi salah satu jujugan banyak orang ketika singgah di Wonosalam, Agus menyebut, selain karakter kopi luwak yang memang khas, juga berkah]]>

JOMBANG – Menjadi salah satu jujugan banyak orang ketika singgah di Wonosalam, Agus menyebut, selain karakter kopi luwak yang memang khas, juga berkah tersendiri dengan berada tepat di lereng Gunung Anjasmoro, Wonosalam.

Menempati tanah yang tepat menghadap jurang dalam, Agus berhasil menyulap warung kecil milik orang tuanya yang semula suram jadi indah dan berkesan.

Menghadap ke arah lautan pohon di belakangnya, warung ini memang memiliki daya tarik tersendiri. Bahkan Agus sengaja membuat tiga baris tempat duduk khusus untuk menikmati suasana pegunungan dan pemandangan yang masih sangat asri ini.

Biji kopi luwak yang sudah diolah (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

“Ya, waktu dulu masih dijalankan sama bapak dan ibu ini kan cuma tempat makan dan warungnya kecil, karena saya melihat ada peluang di belakang itu, kita coba buka danb ternyata hasilnya memang sangat menggembirakan,” paparnya.

Daya tarik ini memang cukup memikat perhatian. Agus menyebut, banyak orang kemudian tertarik untuk kembali lantaran nilai plus yang satu ini. Bahkan, banyak orang yang sengaja datang memang tak hanya untuk mencari sensasi minum kopi luwak namun juga untuk sekadar bersantai melepas penat.

“Ya memang begitu, saat tamu datang, lokasi yang paling banyak dituju memang kursi yang menghadap gunung itu. Pasti kursinya penuh lebih dulu daripada yang lain,” lanjutnya.

Hal inipun diakui salah satu pengunjung, Aditya, 27. Dirinya mengaku sengaja datang ke warung ini memang untuk mencari sensasi lain ketika minum kopi. “Saya sengaja memang, kalau kopi kan dimana-mana banyak, tapi suasananya ini yang bikin adem, sejuk lagi mas,” ucapnya.

Bahkan, pria asal Tembelang, Kabupaten Jombang yang mengaku sering ke tempat ini di hari-hari kerja, pasalnya, suasana warung yang tak terlalu ramai membuatnya lebih bisa menikmati suasana. “Sebenarnya kalau mau lebih indah itu ketika sore hari, waktu ada mega mendung, itu indah baget mas. Cocok lah untuk melepas stress setelah seharian bekerja,” imbuhnya.

Hal yang sama juga diungkapkan dua pengunjung lain, Ani, 17 dan Rahma, 18. Dua pelajar asal Jombang ini memang datang tak hanya untuk minum kopi. Namun keduanya mengaku cukup puas dengan suasana yang disediakan warung milik Agus.

“Ini memang makan sama jalan-jalan saja. Ya bagus sih mas, kan enak kalau ada pemandangan begini, adem juga jadinya. Untuk foto juga kan bagus, jadi ada kenang-kenangannya ketika nanti balik,” pungkasnya. (Pewarta: Achmad RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 06:01:35 +0700
<![CDATA[Kopi Luwak Wonosalam; Dijamin Asli, Langsung dari Petani]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108046/kopi-luwak-wonosalam-dijamin-asli-langsung-dari-petani https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108046/kopi-luwak-wonosalam-dijamin-asli-langsung-dari-petani

JOMBANG - Wonosalam, salah satu kecamatan di selatan Jombang ini kini tak saja dikenal sebagai salah satu kecamatan unggulan penghasil duren. Komoditas kopi]]>

JOMBANG - Wonosalam, salah satu kecamatan di selatan Jombang ini kini tak saja dikenal sebagai salah satu kecamatan unggulan penghasil duren. Komoditas kopi, juga mulai banyak ditawarkan warga hingga produsen dan warung kopi setempat. Salah satunya ada Warung Pojok Sumber.

Sangat mudah menemukan warung yang satu ini, lokasinya berada tepat di samping jalur Wonosalam-Trowulan. Menghadap sebuah tikungan, warung berwarna hijau terang ini memang sangat mencolok dan sangat mudah dikenali.

Pengunjung menikmati secangkir kopi di kedai yang berada di perbukitan Wonosalam (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Masuk ke ruang utama warung yang cukup luas ini, pengunjung akan langsung disapa pramusaji yang tak lain pemilik warung sendiri yakni Agus Winarko. Sambil memberikan daftar menu yang ada, Agus tak jarang juga menerangkan terkait kopi-kopi yang disediakannya di warungnya tersebut.

Di warung ini, Agus memang menyediakan beberapa varian kopi, mulai kopi ekselsa yang disebut kopi super, kopi rubusta hingga kopi luwak andalan warungnya. “Kalau di sini yang spesial memang kopi luwaknya mas, andalannya warung ini,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Dijual dengan harga yang sangat ekonomis, Rp 10 ribu per gelas, Agus menyebut menjamin seratus persen kopi luwak yang disediakannya merupakan kopi luwak asli. “Ya memang kan ada kopi luwak yang buatan, tapi yang di sini saya jamin asli seratus persen kopi luwak mas, dan kan memang kita buat murah meriah,” lanjut pria 44 tahun ini.

Harga yang murah, dikatakannya berasal dari produk yang diproduksinya sendiri. Ya, di warung ini, penikmat kopi memang akan disuguhkan produk kopi luwak yang langsung berasal dari petani yang membuat harga kopi jadi jauh lebih miring namun kualitas utama.

“Di bawah ini kan saya mengembangkan peternakan untuk luwak juga, jadi memang kopi luwak diproduksi langsung di sini, jadi jelas keasliannya, bahkan yang mau lihat produksinya bisa ke bawah,” imbuhnya.

Cukup menunggu sekitar 10 menit setelah memesan, kopi akan langsung bisa dinikmati di meja yang telah disediakan. Bahkan jika beruntung, pengunjung yang datang akan bisa menempati lokasi yang memiliki pemandangan indah di salah satu sudut warung. (Pewarta: Achmad RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 05:55:08 +0700
<![CDATA[Kerupuk Ceplok Sumarsono; Bertahan dengan Cara Manual]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108045/kerupuk-ceplok-sumarsono-bertahan-dengan-cara-manual https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108045/kerupuk-ceplok-sumarsono-bertahan-dengan-cara-manual

JOMBANG – Meski telah berproduksi selama 67 tahun pabrik kerupuk milik Sumarsono ini tetap menggunakan cara tradisional. Proses pembuatan kerupuk juga masih]]>

JOMBANG – Meski telah berproduksi selama 67 tahun pabrik kerupuk milik Sumarsono ini tetap menggunakan cara tradisional. Proses pembuatan kerupuk juga masih menggunakan alat-alat manual dan tenaga manusia sepenuhnya.

Mengunjugi pabrik yang terletak di Jalan Gatot Subroto Jombang, suasana pabrik ini memang terlihat sangat klasik. Di halaman pabrik, nampak puluhan papan anyaman bambu yang di atasnya terdapat kerupuk basah tengah dijemur. Dua orang terlihat di sini, satu orang menata kerupuk basah satu orang lagi terlihat tengah mengangkat kerupuk yang sudah kering.

Masuk ke dalam pabrik, pemandangan khas pabrik tradisional langsung terlihat, puluhan oang tengah asyik bekerja di tempat ini. Dalam gedung beratap genteng yang cukup luas ini, nampak sekitar 10-15 orang tengah bekerja. Satu orang sedang nguleni adonan kerupuk hingga kalis.

Krecek kerupuk ceplok yang sudah selesai dijemur (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Dua orang lainnya, tengah sibuk mengepres adonan di sebuah alat besi, jalannya mesin inipun masih diputar pekerja sambil berjalan mengelilingi alat. Sementara satu orang di bawah alat, terlihat menampung adonan yang telah dipres ini ke dalam tampah.

Setelah proses pengepresan, bentuk adonan memang sudah menyerupai mie yang dibentuk pipih melebar.Usai ditampung di tampah, beberapa pekerja wanita kemudian melakukan tahapan selanjutnya yakni pemotongan dengan besi berbentuk bulat, untuk kemudian ditata di papan anyaman.

Proses belum selesai, setelah ditata pada papan anyaman, kerupuk mentah ini kemudian dikukus dalam sebuah lubang yang ditutup seng berbentuk kerucut. Prosesnya pun dilakukan dengan cara manual, dengan seorang operator yang terlihat menata dan membuka tutup kukusan dengan tali. Setelah matang, barulah kerupuk ini dijemur.

Setelah dua kali penjemuran selama dua hari, kerupuk baru bisa digoreng. Penggorengannya pun dilakukan Sumarsono sendiri di dalam pabriknya ini. hingga kerupuk yang telah matang, baru didinginkan sebelum dikemas dan dijual ke pasar.

Menurut Sumarsono, ia memang hingga kini masih setia  menggunakan tenaga manusia dan alat tradisional untuk produksinya. ’’Masih pakai tenaga manusia memang, tidak ada tenaga mesin di sini, semua alatnya baik kukusan sampai penggorengan ini juga warisan orang tua dulu,” terangnya.

Satu-satunya alat yang sempat diganti, hanyalah alat pres kerupuk yang dulunya terbuat dari kayu, namun kini menggunakan alat besi. ’’Ya karena selain lebih awet kan juga lebih kuat presnya, tapi pengoperasiannya ya tetap dilakukan manusia semuanya,” lanjut bapak dua anak ini.

Meski menggunakan tenaga manual, tiap harinya dirinya mengaku bisa menghabiskan satu kuintal tepung tapioka. ’’Wah kalau jumlahnya berapa karung itu yang susah menghitungnya, pokoknya setiap hari itu sat kuintal tepung habis lah untuk produksi ini,” pungkasnya. (Pewarta: Achmad RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 01:56:21 +0700
<![CDATA[Kerupuk Ceplok Sumarsono; Kerupuk Legendaris Sejak 1951]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108044/kerupuk-ceplok-sumarsono-kerupuk-legendaris-sejak-1951 https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108044/kerupuk-ceplok-sumarsono-kerupuk-legendaris-sejak-1951

JOMBANG – Masyarakat Jombang tentu tak asing lagi dengan kerupuk satu ini. Tampil dengan ciri khas yang tak lekang dimakan zaman, kudapan yang satu ini]]>

JOMBANG – Masyarakat Jombang tentu tak asing lagi dengan kerupuk satu ini. Tampil dengan ciri khas yang tak lekang dimakan zaman, kudapan yang satu ini seringkali cocok jadi teman makan atau camilan biasa. Ia adalah kerupuk ceplok, atau masyarakat akrab menyebutnya kerupuk lengket.

Warnanya bisa dibilang agak kusam, tak putih bersih, ataupun warna-warni seperti kerupuk uyel pada umumnya. Bentuknya bulat kecil dengan bentuk rongga yang hampir tertutup sempurna. Bentuknya kerupuk ini memang terkesan sangat sederhana, hampir tak ada modifikasi apa pun sejak pertama kali muncul ke pasar.

Kerupuk ceplok dalam proses pembuatan (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Rasanya pun cenderung sangat asin, kerupuk ini biasa jadi teman makan masyarakat Jombang pada umumnya. Bahkan  kerupuk ini sudah sangat nikmat untuk disantap bersama nasi, meski tanpa lauk lainnya. Terlebih, teksturnya yang khas yakni lengket saat dikunyah di dalam mulut.

Tak ada nama pasti buat kerupuk yang satu ini. Beberapa masyaraklat menyebutnya kerupuk kelet atau kerupuk lengket. Nama ini berdasar pada tekstur kerupuk ketika dimakan. Ada pula yang menamakannya kerupuk elek atau kerupuk rusuh  lantaran tampilannya yang hadir tak bersih.

Namun, bagi pembuatnya yakni Sumarsono, 60, kerupuk ini sejatinya bernama kerupuk ceplok. Hal ini menurutnya merujuk pada proses pembuatannya yang diceplok dengan tangan menggunakan besi berbentuk bulat.

“Ya memang kalau aslinya namanya ini kerupuk ceplok. Karena membuatnya memang diceplok dengan tangan itu, jadi tidak dicetak melingkar seperti pembuatan kerupuk uyel putih itu,” terangnya.

Tekstur lengket kerupuk ini, disebut Marsono memang berasal dari bahan bakunya yakni tepung tapioka. Dengan resep rahasia yang diwariskan orang tuanya, Sumarsono menyebut memang tak pernah merubah konsep kerupuknya ini sejak dulu.

Ia mengaku memang menjaga kualitas kerupuknya ini agar tetap prima seperti yang telah dirintis kedua orang tuanya. Selain juga menjaga kepuasan pelanggan kerupuknya yang memang telah berumur 67 tahun ini.

“Ya memang tidak ada pewarna dan tidak ada pengeras juga. Sejak pabrik ini berdiri tahun 1951 sama ayah saya, bentuk kerupuknya ya seperti ini, rasanya juga begitu, tidak ada perubahan,”  lanjut pria 68 tahun ini.

Setiap harinya, kerupuk-kerupuk ini disebutnya telah beredar luas di hampir seluruh Jombang. Harganya pun tak mahal, cukup seribu rupiah per bungkus isi lima keping kerupuknya. ’’Kalau dari ini harganya Rp 600 satu bungkus, cuma setelah diambil loper, kemudian di warung ke pembeli ya sampai ke harga Rp 1.000 itu,” pungkasnya. (Pewarta: Achmad RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 01:49:14 +0700
<![CDATA[Ayam Panggang Banjardowo; Resep Turun Temurun Nenek]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108043/ayam-panggang-banjardowo-resep-turun-temurun-nenek https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108043/ayam-panggang-banjardowo-resep-turun-temurun-nenek

JOMBANG – Salah satu hal yang membuat ayam panggang Warung Warti di Banjardowo Jombang masih bertahan hingga kini adalah cita rasa yang khas.]]>

JOMBANG – Salah satu hal yang membuat ayam panggang Warung Warti di Banjardowo Jombang masih bertahan hingga kini adalah cita rasa yang khas. Markani, pemilik Warung Warti menuturkan cita rasa ayam panggang yang khas ini diperoleh dari resep turun-temurun neneknya.

Bumbu yang kaya rempah membuat ayam panggang ini selalu disukai pembeli, disamping tekstur daging ayam kampung yang kenyal dipanggang dengan tepat.

”Resepnya memang dari nenek saya, Mbah Rantinah. Dulu Mbah Rantinah yang awal buka warung lalu dilanjutkan ibu saya, Ibu Warti,” lontar Markani kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin.

Proses pemanggangan ayam di dapur warung (Ricky Van Zuma/Jawa Pos Radar Jombang)

Saat dikelola Warti, warung semakin ramai dan dikenal berbagai lapisan masyarakat Jombang. Selain masakan yang khas, pelayanan yang ramah pada pembeli menjadi nilai plus untuk Warung Warti tersebut.

”Saking terkenalnya Ibu Warti, saat warung sudah saya kelola tetap saja disebut Warung Warti. Banyak orang yang memanggil saya Bu Warti, padahal itu nama ibu saya,” ungkapnya.

Terkait resep, ia mengatakan jika resep ayam panggang ini memang tidak pernah berubah sejak dulu hingga kini. Hanya saja cara memasak saja yang berbeda sebab dulu masih manual, kini dirinya dipermudah dengan alat-alat masak modern mesin seperti blender untuk menghaluskan bumbu, rice cooker untuk menanak nasi dan sebagainya.

”Dulu masih manual semua ngulek bumbu di layah, masak pakai tungku dan sebagainya. Alhamdulillah saat ini memang lebih mudah,” celetuknya.

Namun cara memanggang ayam masih tetap dilakukan dua kali agar matang dan bumbu lebih meresap. Ia sendiri yang meracik bumbu untuk ayam panggang ini mulai dari bawang merah, bawang putih, laos, cabai merah, cabai rawit, asam, kemiri dan rempah lainnya.

Ia menjelaskan jika tahapan memasak ayam panggang ini hampir sama seperti ayam panggang pada umumnya. ”Ayamnya dicuci lalu dikukus, setelah itu dipanggang dan diberi bumbu yang sudah dihaluskan tadi,” bebernya.

Lalu ayam dipanggang lagi diatas arang, setelah itu diberi bumbu dan dipanggang kembali. Tak heran, meski tanpa pengawet ayam panggang ini bisa tahan sampai 24 jam. Banyak pembeli yang menjadikan ayam panggang Banjardowo ini jadi oleh-oleh.

Mereka berani membawanya terbang ke luar daerah hingga luar negeri lantaran tidak basi. Penyajian ayam panggang ini cukup variatif sesuai keinginan biasanya dengan urap-urap, mie, tahu-tempe, telur, peyek dan sebagainya. (Pewarta: Ricky Van Zuma)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 01:37:58 +0700
<![CDATA[Ayam Panggang Banjardowo; Warung Rakyat, Langganan Pejabat]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108042/ayam-panggang-banjardowo-warung-rakyat-langganan-pejabat https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/12/12/108042/ayam-panggang-banjardowo-warung-rakyat-langganan-pejabat

JOMBANG – Siapa yang tak kenal Ayam Panggang Banjardowo Jombang? Meski disajikan di warung sederhana, namun kelezatan ayam panggang ini sudah dikenal]]>

JOMBANG – Siapa yang tak kenal Ayam Panggang Banjardowo Jombang? Meski disajikan di warung sederhana, namun kelezatan ayam panggang ini sudah dikenal masyarakat Jombang.

Sejak era Presiden Soekarno hingga Presiden Joko Widodo ayam panggang masih menjadi menu andalan di Warung Warti yang terletak di Desa Banjardowo Kecamatan Jombang.

Ayam panggang siap dinikmati (Ricky Van Zuma/Jawa Pos Radar Jombang)

Cita rasa ayam panggang warung Warti ini pun masih tetap sama seperti dulu. Daging ayam kampung yang kenyal dipadukan bumbu kaya rempah sangat disukai masyarakat sampai saat ini.

Warung Warti ini pun sangat mudah dijangkau, dari embong miring Denanyar masuk ke barat mengikuti jalan hingga sampai di Desa Banjardowo. Sesampainya di SMPN 4 Jombang, lurus ke utara sekitar 200 meter dari kiri jalan tampak Warung Warti.

Tak berbeda dengan warung lainnya, Warung Warti cukup sederhana namun pengunjung sudah ramai sejak pagi hari. Seperti yang terlihat kemarin, puluhan pesanan ayam panggang sudah menanti baik dalam bentuk tumpeng maupun nasi kotak.

Memasuki Warung Warti, Jawa Pos Radar Jombang disambut ramah oleh pramusaji dan pemilik warung yang masih satu keluarga ini. Mereka memang selalu bersama-sama melayani pembeli. Berbagai menu mulai dari soto, rawon, kare hingga ayam panggang andalan tersedia di Warung Warti ini.

Setelah memesan, beberapa menit kemudian menu ayam panggang pun sudah siap tersaji di atas meja. Satu porsi makan di Warung Warti ini pun sangat terjangkau mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah bisa menikmati ayam panggang yang maknyus ini.

Tak hanya masyarakat, banyak pejabat yang juga menyukai dan langganan Ayam Panggang Banjardowo ini. ”Saya tidak tahu tapi tetangga dan pembeli yang ngerti, mereka itu orang-orang pemerintahan,” ujar Markani, pemilik Warung Warti.

Mulai dari mantan Bupati Jombang Suyanto, Nyono Suharli Wihandoko, Pjs Bupati Jombang Setiajit hingga Bupati dan Wabup Terpilih Jombang Mundjidah Wahab dan Sumrambah juga menyukai ayam panggang Banjardowo ini.

Tak hanya Jombang, banyak masyarakat luar daerah yang menyukai ayam panggang di Warung Warti ini. Bahkan ayam panggang ini juga juga sering dijadikan oleh-oleh ke luar daerah hingga luar negeri Taiwan. (Pewarta: Ricky Van Zuma)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Wed, 12 Dec 2018 01:28:27 +0700
<![CDATA[Kampoeng Djawi Wonosalam; Tempat Favorit Outbond]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/26/105381/kampoeng-djawi-wonosalam-tempat-favorit-outbond https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/26/105381/kampoeng-djawi-wonosalam-tempat-favorit-outbond

JOMBANG – Kampoeng Djawi juga menjadi tempat favorit untuk outbond. Tak hanya dari Jombang, banyak lembaga/perusahaan negeri/swasta dari luar daerah melakukan]]>

JOMBANG – Kampoeng Djawi juga menjadi tempat favorit untuk outbond. Tak hanya dari Jombang, banyak lembaga/perusahaan negeri/swasta dari luar daerah melakukan pelatihan pengembangan sumber daya manusia di sini.  

Selain memiliki arsitektur khas Jawa, berbagai fasilitas dan program yang ditawarkan begitu menarik. Sehingga banyak  lembaga  dan perusahaan melakukan pelatihan untuk karyawannya di sini.

Seperti yang dilakukan Jawa Pos Radar Jombang pekan lalu (17-18/11). Selain menikmati alam Wonosalam, berbagai program permainan untuk menguatkan silaturahmi, kerjasama dan kinerja juga dilakukan di Kampoeng Djawi.

Outbond jenis high rope yang diikuti kru Jawa Pos Radar Jombang di Kampoeng Djawi (MARDIANSYAH TRIRAHARJO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Fasilitas pertama yang dijajal tim Jawa Pos Radar Jombang adalah permainan luar ruangan Paintball Gun. Permainan ini begitu menantang sebab dibutuhkan kerjasama tim dan keberanian untuk menyelesaikan misi.

Selain berjibaku di areal hutan yang telah didesain sedemikian rupa, permainan perang Painball Gun ini menggunakan senjata ini sangat asyik dan menantang. Tim Jawa Pos Radar Jombang begitu menikmati permainan ini.

Ada pula api unggun. Tak hanya menguji konsentrasi, berbagai permainan juga dilakukan sepanjang acara api unggun ini. Keesokan paginya tim berkesempatan menjelajah hutan pinus, sungai dan air terjun tak jauh dari lokasi Kampoeng Djawi.

Liburan di Kampoeng Djawi ini ditutup dengan permainan outbond dan flyingfox yang harus dilalui secara individu. Selain fasilitas  kolam renang, bagi yang gemar bernyanyi juga disediakan ruang karaoke. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 26 Nov 2018 11:53:01 +0700
<![CDATA[Kampoeng Djawi Wonosalam; Lestarikan Arsitektur dan Budaya Jawa Timur]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/26/105379/kampoeng-djawi-wonosalam-lestarikan-arsitektur-dan-budaya-jawa-timur https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/26/105379/kampoeng-djawi-wonosalam-lestarikan-arsitektur-dan-budaya-jawa-timur

JOMBANG – Kampoeng Djawi salah satu destinasi wisata yang unik dengan suasana khas pedesaan asri dan sejuk di Kabupaten Jombang. Seperti namanya, Kampoeng]]>

JOMBANG – Kampoeng Djawi salah satu destinasi wisata yang unik dengan suasana  khas pedesaan asri dan sejuk di Kabupaten Jombang. Seperti namanya, Kampoeng Djawi yang terletak di Dusun Gondang, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, mengusung tradisional Jawa dalam setiap detailnya.

Mulai dari pintu masuk hingga berbagai tempat dan fasilitas penginapan khas Jawa membawa pengunjung pada era tempo dulu.

Apalagi didukung udara sejuk Wonosalam membuat pengunjung betah berlama-lama. Kampoeng Djawi  berada di ketinggian 750 di atas permukaan laut dengan udara yang cukup segar dikelilingi pegunungan dan hamparan sawah, memperkuat suasana desa yang menyatu dengan  alam.

Kru Jawa Pos Radar Jombang saat menikmati makan malam di Pawon Kampoeng Djawi Wonosalam (RICKY VAN ZUMA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Penginapan di Kampoeng Djawi berbentuk rumah joglo Jawa Timur  sangat nyaman untuk pengunjung.

Memasuki Kampoeng Djawi,  disambut gapura candi lengkap dengan hiasan janur yang memiliki nilai Jawa yang kuat. Lobby Kampoeng Djawi berbentuk pendopo begitu unik dengan ukiran, kursi, meja dan interior dari kayu jati memperkuat suasana Jawa.

Selanjutnya, pengunjung semakin hanyut dalam suasana tradisional Jawa Timur.  Meski demikian, pengunjung tidak perlu khawatir sebab rumah joglo ini sudah dimodifikasi, sehingga terasa nyaman. Fasilitas kamar tidur, kamar mandi dan lainnya, tetap dengan sentuhan zaman dulu.

Kolam renang dengan air yang begitu jernih dan segar, dengan latar belakang pemandangan sawah dan hutan begitu indah. Pengunjung selalu mengabadikan momen liburan mereka berenang di Kampoeng Djawi ini.

Selain itu, kuliner di Kampoeng Djawi juga begitu memanjakan lidah pengunjung. Kampoeng Djawi memiliki fasilitas pawon alias dapur sebagai tempat memasak dan sekaligus tempat makan ala zaman dulu. Berbagai menu makanan  Jawa Timuran bisa dipesan. Dapur ini juga dilengkapi dengan area makan outdoor yang cantik dihiasi dengan deretan meja dan bangku berbahan kayu. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 26 Nov 2018 11:44:12 +0700
<![CDATA[GKJW Mojowarno; Simbol Kerukunan Umat Beragama]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/15/103764/gkjw-mojowarno-simbol-kerukunan-umat-beragama https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/15/103764/gkjw-mojowarno-simbol-kerukunan-umat-beragama

JOMBANG – Tak saja sebagai tempat ibadah bagi umat nasrani, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), menurut Pendeta Wimbo Santjoko juga bisa dipandang sebagai bentuk]]>

JOMBANG – Tak saja sebagai tempat ibadah bagi umat nasrani, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), menurut Pendeta Wimbo Santjoko juga bisa dipandang sebagai bentuk kerukunan umat beragama.

Menurutnya, keberadaan gereja ini tak lepas dari kondisi sosial masyarakat sebelum gereja ini dibangun. Meski dibangun di areal mayoritas masyarakat beragama Islam, sejak awal hingga saat ini menurut Wimbo tak sekalipun pernah ada tentangan maupun perselisihan atas dasar agama di sini.

Pantauan dari atas acara kebaktian di GKJW Mojowarno (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

“Sejarahnya dulu kan dibawa oleh Mbah Ditotruno membuka hutan di sini. Namun dalam pengajarannya, tidak diwajibkan untuk masuk Agama Kristen, makanya di sini separo muslim dan kristen dan tidak pernah ada masalah dengan itu,” lanjutnya.

Menurut Wimbo, penggunaan tradisi Jawa yang kemudian bercampur dengan agama yang ada, menurutnya juga jadi sangat penting. Sehingga kesatuan sebagai sesama suku Jawa meski beragama berbeda, membuat keberadaan gereja yang juga tak berjarak jauh dari masjid setempat ini tak pernah menjadikan sumber permasalahan sejak dulu.

“Bahkan relasi masyarakat itu bisa dikatakan saling mendukung jadi kalau hari agama itu kami saling berkunjung. Kalau ada orang meninggal desa, juga semua mau datang, apapun agamanya. Ya tentu karena ikatan suku Jawa ini dan gereja ini kan bentuk akulturasi kristen tapi tetap menggunakan adat Jawa,” sambungnya.

Bahkan, ia menyebut, meski semua orang mengenal Jombang sebagai wilayah yang punya pondok-pondok besar, GKJW disebutnya sebagai salah satu warna yang ada di dalamnya. “Jadi meskipun ada pondok-pondok pesantren besar, namun di sini juga ada gereja besar dan tertua juga, namun tidak pernah ada permasalahan berkaitan dengan agama. Saya kira ini kan bukti jika Jombang khususnya sebagai simbol kerukunan umat beragama,” pungkasnya. (Pewarta: ACHMAD RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Thu, 15 Nov 2018 19:26:21 +0700
<![CDATA[GKJW Mojowarno; Gereja Jawa Tertua di Indonesia]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/15/103761/gkjw-mojowarno-gereja-jawa-tertua-di-indonesia https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/15/103761/gkjw-mojowarno-gereja-jawa-tertua-di-indonesia

JOMBANG – Bangunan geraja yang satu ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat Jombang, bahkan Indonesia. Gereja tertua yang sekaligus menjadi salah satu landmark]]>

JOMBANG – Bangunan geraja yang satu ini sudah tak asing lagi bagi masyarakat Jombang, bahkan Indonesia. Gereja tertua yang sekaligus menjadi salah satu landmark Jombang ini terletak di pusat Kecamatan Mojowarno.

Berdiri megah di sebelah barat Jalan Mojowarno-Bareng, bangunan berwarna putih total ini memang nampak sangat berbeda dan sangat mudah dikenali siapapun yang melintas di depannya. Bangunannya berkostruksi batu bata seutuhnya, namun terlihat sangat kokoh.

Lonceng tua yang berada di atas menara GKJW (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Dari luar, gereja ini berbentuk persegi dengan luasan 700 meter persegi, bangunan ini bergaya Eropa atau Gothic dengan atap berbentuk segitiga setinggi 20 meter dengan empat pilar yang menjaga di bagian bawah.

Di depan menara, berjajar pula empat tiang besi hitam yang dulunya sempat jadi tiang lampu namun kini dijadikan hiasan. Di bagian atas gewel, terdapat sebuah menara berbentuk tabung dengan atap yang runcing juga berisi bel besar yang biasa dibunyikan sesaat sebelum kegiatan ibadah dimulai.

Sementara di depan gewel, tertulis kutipan kitab injil yang berbunyi Dhuh Gusti, Ingkang Kawula Purugi Sinten Malih? Paduka Ingkang Kagungan Pangandikaning Gesang Langgeng (Ya Tuhan, kepada siapa kami pergi? Hanya Engkaulah yang memiliki sabda hidup kekal).

Bangunan ini juga memiliki empat pintu utama yang jadi jalan keluar masuk jemaat, lokasinya dua pintu di bagian depan dan dua pintu lainnya di samping kanan dan kiri bangunan. Serta sebuah pintu kecil di ruang Konsitori yang jadi jalan keluar masuk pendeta dan sejumlah majelis gereja.

Jendelanya, berjumlah total 14 buah, 12 buah jendela berukuran besar yang mengelilingi bangunan, serta dua buah jendela kecil di bagian ruang Konsitori. Saat memasuki ruangan Gereja, suasana klasik langsung menyambut. Dua tangga di sisi kanan dan kiri pintu menyambut tamu yang datang.

Tangga-tangga ini adalah jalan menuju ruangan di balkon dan di atas balkon satu tangga lagi di bagian tengah berbentuk melingkar mengarah ke ruang bel. Atapnya, berbentuk lengkungan dari lapisan kayu berwarna hijau, lengkap dengan tiga lampu gantung kuno.

Di ruangan utama, berjajar bangku kayu memanjang yang terlihat sangat klasik di atas lantai marmer. Meski berusia ratusan tahun, puluhan bangku terbuat dari kayu kualitas terbaik di dalam ruangan ini masih sangat kuat.

Sementara di bagian depan ruangan utama, terdapat mimbar pendeta yang sekilas berbentuk kereta kencana yang juga terbuat dari kayu jati pilihan dan berusia sama dengan bangku. Di sampingnya, terdapat satu set alat musik berupa gamelan, drum, dan juga keyboard.

Menurut Pendeta Wibo Santjoko, gereja ini dibangun pada 1879, pembangunan gereja ini diprakarsai seorang pengajar injil asli pribumi pertama di Mojowarno bernama Paulus Tosari. Meski demikian, bangunan ini baru rampung sepenuhnya di tahun 1881 dan diresmikan langsung pendeta yang saat itu memimpin gereja itu yakni Pendeta Kruyt.

Bangunan ini disebutnya juga masih sangat terawat, bahkan sejumlah kelengkapan dalam gereja  masih asli sejak dibangun. “Termasuk mimbar dan semua bangku memang masih asli, begitu pula lampunya itu. Bangunannya tembok sampai lantai juga masih asli, kecuali kap sama plafonnya saja yang sempat direnovasi,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Karena usianya yang ratusan tahun itu, Gereja ini memang disebutnya sebagai gereja Jawa tertua yang ada di Indonesia. “Bahkan dulu sempat jadi pusatnya Sinode Gereja di Jawa Timur sebelum akhirnya dipindah ke Malang tahun 1930-an,” pungkasnya. (Pewarta: ACHMAD RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Thu, 15 Nov 2018 19:14:17 +0700
<![CDATA[Lodeh Mbok Semah; Jujukan Rakyat Hingga Pejabat]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/12/103192/lodeh-mbok-semah-jujukan-rakyat-hingga-pejabat https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/12/103192/lodeh-mbok-semah-jujukan-rakyat-hingga-pejabat

JOMBANG - Yang spesial dari nasi lodeh Mbok Semah adalah disajikan memakai pincuk daun pisang. Aroma harum daun pisang, yang disajikan bersama nasi hangat dan]]>

JOMBANG - Yang spesial dari nasi lodeh Mbok Semah adalah disajikan memakai pincuk daun pisang. Aroma harum daun pisang, yang disajikan bersama nasi hangat dan lodeh tewel itu membuat kudapan makin sempurna. 

Sabtu (10/11), selepas magrib jumlah pembeli di warung Mbok Semah tampak berjubel. Makin malam menjelang pukul 20.00 makin banyak pembeli. Mereka rela antre berdiri untuk bisa menikmati sepincuk nasi lodeh.

Sejumlah pengunjung sedang menikmati nasi lodeh buatan Mbok Semah (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Meski jumlah pembeli sangat banyak, namun Mbok Semah  yang dibantu sanak familinya tidak butuh waktu lama untuk mengantarkan pesanan nasi lodeh ke meja pembeli. Ya, karena mereka sudah terbiasa dengan sajian cepat.

Uniknya, semua masakan mulai dari nasi, lodeh, lauk hingga minuman tidak ada yang dimasak menggunakan kompor gas. Melainkan menggunakan tungku yang dimasak dengan kayu. Itu dilakukan Mbok Semah sejak awal membuka warung sampai sekarang untuk menjaga rasa dan kualitas masakan. 

Andri, 35 salah satu pelanggan asal Mojokerto mengungkapkan, meski banyak kuliner asal kota Onde-Onde, namun nasi lodeh Mbok Semah tetap istimewa. ”Rasanya enak, paduan lodeh tewelnya dan tahu yang disuwir-suwir ini terasa, apalagi disajikan dalam pincuk daun pisang,’’ ujar dia.

Dia mengaku sering mengunjungi warung Mbok Semah yang terletak di Dusun Kapas itu. ”Kadang-kadang kesini, kadang-kadang juga ke warung anaknya pak Kasman di sebelah timur sana. Sama-sama enak juga,’’ pungkas dia.  

Warung Mbok Semah memang sering menjadi jujugan pejabat. Mantan Bupati Jombang Suyanto dan Nyono Suharli, juga Bupati Mundjidah  juga sering mampir ke warung tersebut. ”Dulu Pak Yanto dan Pak Nyono itu sering, begitupula Bu Mundjidah, beliau juga sering,’’ tandas Semah. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 12 Nov 2018 12:49:46 +0700
<![CDATA[Lodeh Mbok Semah; Jadi Idaman Pecinta Kuliner Jombang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/12/103191/lodeh-mbok-semah-jadi-idaman-pecinta-kuliner-jombang https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/12/103191/lodeh-mbok-semah-jadi-idaman-pecinta-kuliner-jombang

JOMBANG - Bagi pecinta kuliner, wajib hukumnya mencicipi nasi lodeh Mbok Semah yang terletak di Dusun Kapas, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan Kabupaten]]>

JOMBANG - Bagi pecinta kuliner, wajib hukumnya mencicipi nasi lodeh Mbok Semah yang terletak di Dusun Kapas, Desa Dukuhklopo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Setiap hari, nasi lodeh Mbok Semah ini jadi buruan pecinta kuliner dari berbagai daerah. 

Warung lodeh Mbok Semah buka pukul 16.30, namun kadang selepas Isya pukul 19.30 sudah ludes saking ramainya pembeli. Meskipun terletak di pinggiran dan harus masuk gang, namun warung ini sudah terkenal dimana-mana. Baik dari Jombang sendiri maupun daerah luar Jombang.

Tampilan nasi lodeh Mbok Semah lengkap dengan lauk daging sapi yang disajikan dalam wadah pincuk (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Untuk dapat menjangkau warung mbok Semah, pembeli dapat melewati Dusun Weru, Desa Mojongapit ke utara. Atau bisa juga dari Satlantas Polres Jombang, Jalan Brigjen Kretarto menuju arah utara. Sesampainya di sana, warung tersebut sangat mencolok karena banyak kendaraan yang parkir di tengah tengah kampung. 

Warung Mbok Semah, sudah buka sejak 1980-an. Awalnya, Semah, 84 bersama sang suami almarhum Askan membuka warung skala kecil yang menjual gorengan, kopi, kolak dan kacang hijau. Kemudian, lima tahun setelah itu Semah mencoba menjual lodeh. ”Lodeh itu kan khasnya orang Jawa. Jadi lodeh itu menu sehari-hari,’’ ujar Mbok Semah ditemui Sabtu (10/11).  

Awal membuka, usaha nasi lodeh Mbok Semah tidak langsung ramai pembeli. Dalam sehari, hanya ada beberapa pembeli yang notabene warga sekitar. Namun seiring berjalannya waktu, warung itu mulai dikenal. ”Ramainya karena getok tular itu, jadi setelah makan di sini orang orang cerita, dan seterusnya,’’ sambung dia. 

Ibu enam anak ini menuturkan, sejak awal membuka warung nasi lodeh dia tidak pernah menjual dengan harga yang mahal. Pada 80-an, seporsi nasi lodeh bisa dinikmati dengan harga Rp 15. Seiring berjalannya waktu, seporsi nasi diharga Rp 100 hingga Rp 3.000. ”Dan sampai sekarang ya tetap murah. Rp 10 ribu sudah dapat lauk juga,’’ jelas dia. 

Pelanggan Mbok Semah kini sudah tak dapat dihitung jumlahnya. Tak hanya dari Jombang, luar Jombang seperti Kediri, Mojokerto, Malang, Surabaya, Sidoarjo selalu rutin mampir setiap minggu. ”Ramainya akhir pekan, seperti Sabtu dan Minggu,’’ jelas dia. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 12 Nov 2018 12:40:34 +0700