Radar Jombang JawaPos.com | Tokoh RSS News Feed https://radarjombang.jawapos.com/rss/369/tokoh http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarjombang-logo1.png http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarjombang-logo1.png Radar Jombang JawaPos.com | Tokoh RSS News Feed https://radarjombang.jawapos.com/rss/369/tokoh id Tue, 19 Feb 2019 17:47:46 +0700 Radar Jombang <![CDATA[‘Bolet’ Amenan, Sang Maestro Tari Remo Boletan Asli Jombang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120331/bolet-amenan-sang-maestro-tari-remo-boletan-asli-jombang https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120331/bolet-amenan-sang-maestro-tari-remo-boletan-asli-jombang

JOMBANG - Rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang minggu ini akan kembali mengangkat kisah tokoh yang bergerak di bidang kesenian. Ia adalah Amenan, sosok seniman]]>

JOMBANG - Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang minggu ini akan kembali mengangkat kisah tokoh yang bergerak di bidang kesenian. Ia adalah Amenan, sosok seniman kreatif yang tak kenal lelah menciptakan aneka kreasi dalam pertunjukan ludruk yang dibawakannya.

Tidak saja sebagai pelakon ludruk biasa, dalam perannya dalam ludruk, dirinya adalah seorang pionir dalam hal penciptaan kreasi tari remo yang khas hingga tata musik dalam pertunjukan ludruk yang ada saat ini.

Pria kelahiran Asli Jombang ini memang agak kurang dikenal jika disebut nama aslinya. Karena sapaan akrabnya adalah Bolet ketika di panggung. Lahir dan besar di daerah di Sengon, Tawangsari, Kecamatan/Kabupaten Jombang tahun 30-an dirinya adalah orang yang sangat akrab dengan kehidupan kebudayaan sejak kecil, baik kesenian jaranan maupun pencak silat yang turut mewarnai kesenian yang ia ciptakan.

Makam Amenan, maestro tari remo boletan (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Kegemarannya pada seni ini tak pernah ditinggalkannya hingga dia meninggal dunia pada 15 Agustus 1976. Perihal nama panggung yakni Bolet, banyak spekulasi yang digambarkan orang tentang nama ini. menurut Nasrul illah, Budayawan Jombang, nama Bolet muncul karena cara peampilan Amenan ketika manggung dalam menari, seringkali tidak memakai baju.

“Jadi mungkin mblolet-mblolet begitu karena tidak pakai baju, sehingga lama-lama disebutnya bolet,” jelas Cak Nas. Menurut murid yang ia didik sejak kecil, bernama Suhartono, nama bolet sendiri berasal dari makanan favorit Amenan semasa hidup.

“Bolet itu sebutan lain untuk ubi jalar, dan beliau memang sangat menyukai ubi tersebut sehingga dipakai untuk nama panggung,” ucapnya.

Terlepas dari asal usul nama bolet, dirinya tetaplah seorang seniman yang berdedikasi tinggi terhadap keberlangsungan dan perkembangan ludruk di Jombang. kembali Suhartono bercerita banyak tentang sosok pelawak dan penari ulung ini saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang di kediamannya.

“Pak puh Bolet (Panggilan akrabnya) menurut saya sangat berdedikasi pada kesenian khususnya ludruk. Bahkan mungkin dalam pandangan saya, ludruk adalah istri pertamanya,” jelas Harno sapaan akrabnya.

Hal ini disebutnya karena Bolet awalnya adalah seorang pegawai Postel (sekarang PT Pos). Namun pekerjaan yang dinilai banyak orang mapan tersebut berani ia tinggalkan demi kecintaannya terhadap kesenian ludruk. Meskipun keputusan ini tidak serta merta mendapat dukungan dari keluarga.

“Apalagi pendapatan dari ludruk kan serba tidak pasti, dan karena kecintaannya pada ludruk memang kehidupan keluarganya harus dikorbankan. Tentu kalau bukan orang yang sangat berdedikasi hal ini tidak akan dilakukan,” lanjutnya.

Tak tanggung-tanggung, demi memudahkan mobilisasi grup ludruknya ketika itu, beberapa orang anggotanya harus disewakan rumah di sekitar kediaman Bolet, untuk mempermudah latihan. “Karena ide dari pak Puh ini seringkali muncul tiba-tiba dan kalau sudah begitu, biasanya anggota grup akan dipanggil dan ditatar langsung oleh beliau,” lanjut warga Perumahan Griya Jombang Indah ini.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Bolet Amenan adalah orang yang dikenalnya sebagai orang yang santai namun tegas. Karena sebagai penari remo yang sudah diakui moncer,tak tampak sedikitpun dalam kehidupannya sehari-hari.

“Kayak orang biasa, tidak seperti pngreman (sebutan untuk penari remo) pada umumnya, baru kalau dipanggung semua akan kelihatan,” sebutnya. Dalam hal penampilan panggung, bolet biasa tampil dengan busana yang disebut Hartono identik dengan kebudayaan bali.

“Pak Puh biasa memakai stagen hingga di bawah dada, dengan posisi keris lurus di bagian belakang dan udeng model Bali, tapi bagian belakang tetap ada runcing model Jawa Timuran,” Hartono mendetail. Karena itulah di beberapa tempat seperti Mojokerto, Tari Remonya sering juga disebut sebagai Remo Bali. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 19 Feb 2019 17:47:46 +0700
<![CDATA[Pertunjukannya Sederhana, Namun Besut Penuh Kritik dan Pesan Sosial]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120318/pertunjukannya-sederhana-namun-besut-penuh-kritik-dan-pesan-sosial https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120318/pertunjukannya-sederhana-namun-besut-penuh-kritik-dan-pesan-sosial

JOMBANG - Sebagai sebuah pertunjukan, besutan pada awal keberadannya juga tampil sederhana dengan pembawaan seadanya. Tak ada panggung megah juga sorot lampu]]>

JOMBANG - Sebagai sebuah pertunjukan, besutan pada awal keberadannya juga tampil sederhana dengan pembawaan seadanya. Tak ada panggung megah juga sorot lampu yang menyala terang di awal pertunjukannya dulu seperti ludruk saat ini.

Cucu Pak Santik, sang pencetus Besut, Suratin mengutarakan, bagaimana dulunya ia seringkali diajak kakeknya dalam bermacam-macam pertunjukan besutan. “Dulu semua masih sederhana, belum ada panggung mainnya juga di tanah lapang yang dikerobongi saja, saya kalau diajak, biasanya disuruh duduk di bawah pohon dulu,” kenangnya.

Tak hanya panggung dan pencahayaan, meski diikuti hingga 40 orang dalam setiap penampilan. Untuk mencukupi kebutuhan musik dan lainnya, musik sebagai pengiring saat itu belum menggunakan gamelan seperti pertunjukan tradisional seperti saat ini. “Yang saya tahu dulu musiknya masih pakai musik jidor, belum gamelan, wanitanya juga masih pakai waria karena tidak ada wanita yang main besutan,” ujar warga Plandi ini.

Meski demikian ia tak mampu lagi mengingat kapan terakhir kali Pak Santik yang juga kakek yang merawatnya sejak kecil ini melakukan pertunjukan besutan. “Wah nggak ingat lagi saya, yang pasti beliau memang asli dari dulu tinggal di rumah ini dan dimakamkan juga di desa ini,” pungkas bapak 6 anak ini.

Besutan kala itu mampu menunjukkan tajinya sebagai sebuah kesenian yang benar-benar merakyat. Tak hanya menyediakan hiburan semata, dalam cerita, percakapan, juga parikan serta kidungannya, para pemeran besut seringkali menyelipkan berbagai pesan sosial juga kritikan pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda kala itu.

Bahkan Nasrul Illah, kembali menyebut hal ini sebagai bukti kecerdasan mengelola pertunjukan yang ditunjukkan Pak Santik. Dirinya menyebut contoh lahirnya ritual besutan sebagai bukti, bahwa pak Santik kehabisan akal dalam melakukan pertunjukan.

Ritual besutan adalah ritual yang biasa dilaksanakan sebelum kegiatan dilaksanakan. Biasanya, diawali dengan munculnya seseorang dengan wajah putih yang membawa obor dengan tenang. Kemudian disusul besut dibelakangnya ngesot dengan mata tertutup juga mulut tersumpal susur (kapur sirih).

Tapi tak lama kemudian besut mulai bangkit mengendap-endap, sembari menoleh kanan kiri hingga akhirnya dengan kapur sirihnya, Besut mematikan obor pria bermuka putih, kemudian berteriak dan menari lepas.

Di waktu yang sama, pembawa obor akan tergeletak seakan mati setelah kehilangan obor. Orang muka putih membawa obor adalah simbol Belanda yang mendoktrin pribumi dengan obor pengetahuan. Besut ngesot di belakang adalah pertanda pribumi kala itu harus tunduk dan terus mengikuti arahan Belanda.

Simbol Besut menutup mata juga mulur tertutup susur artinya masyarakat pribumi tak boleh pintar, tidak boleh menuntut. Hingga ahirnya Besut mematikan obor dan merdeka dengan menari-nari sebagai simbol kebebasan.

“Tentu itu kan pemikiran yang sangat dalam dan luar biasa untuk sebuah ide pemberontakan secara halus, bahkan menurut saya sampai sekarang Jombang belum lagi bisa memunculkan kesenian sehebat itu,” ucapnya.

Sebuah contoh bagaimana sebuah pertunjukan hiburan bisa dipertontonkan tanpa muatan yang berat untuk masyarakat. meski seringkali kode-kode itu tak di pahami secara langsung oleh masyarakat saat itu.

Namun dengan metode yang melekat dengan kehidupan sosial, besutan yang juga penuh improvisasi. Didalamnya nyata tetap mampu menujukkan sifat membumi dengan mengangkat isu yang dekat dengan masyarakat.

Tentu tanpa meninggalkan kritik terhadap kehidupan sosial sesuai jaman. “Besutan itu sepertinya serius, padahal isinya juga bercanda juga banyak kritik dan pesan sosial didalamnya,” sambung Didik Purwanto. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 19 Feb 2019 17:22:30 +0700
<![CDATA[Besut, Lakon Asli Jombang yang Menjadi Cikal Bakal Kesenian Ludruk]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120315/besut-lakon-asli-jombang-yang-menjadi-cikal-bakal-kesenian-ludruk https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120315/besut-lakon-asli-jombang-yang-menjadi-cikal-bakal-kesenian-ludruk

JOMBANG - Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat sebuah tokoh unik yang berperan aktif mewarnai kebudayaan kesenian rakyat. Bahkan juga menjadi]]>

JOMBANG - Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat sebuah tokoh unik yang berperan aktif mewarnai kebudayaan kesenian rakyat. Bahkan juga menjadi cikal bakal kesenian ludruk di Jawa Timur. Kesenian yang awalnya sebuah cara bertahan hidup, kemudian berkembang menjadi sebuah lakon sarat kritik.

Hingga akhirnya bermetamorfosa menjadi kesenian yang sangat besar. Tokoh ini adalah Besut, sebuah tokoh fiktif yang diperankan oleh beberapa orang di masanya. Tokoh dengan dandanan yang khas nan sederhana. Meski tak ada referensi akurat yang menjelaskan kapan kesenian ini mulai berkembang.

Namun kesenian ini diduga muncul 1907 silam, yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Lerok. Pelakunya adalah pria asal Desa Plandi Jombang yang bernama Pak Santik.

“Dari cerita yang saya pahami, lerok dulu sifatnya masih ngamen keliling dan karena dengan make up yang mencolok makanya dipanggil lerok, ceritanya pun tak jauh dari kehidupan masyarakat yaitu kehidupan suami istri,” jelas Didik Purwanto pimpinan Ludruk Budhi Wijaya.

Dari situlah semakin berkembang dan muncul tokoh-tokoh lain untuk menunjang cerita agar lebih menarik. Kemudian lerok lebih dikenal sebagai besutan karena lakon utamanya adalah Besut.

Tokoh Besut sendiri merupakan sebuah lakon yang diperankan secara cerdas juga penuh makna oleh Pak Santik, sehingga menciptakan tak hanya hiburan, juga lakon yang satar nilai sosial dan nilai kritik.

“Besut sendiri menurut saya adalah representasi dari Pak Santik, seorang pelawak dan comedian cerdas dalam mengelola lawakan, bahkan besutan di jaman kolonial merupakan salah satu cara melawan penjajah melalui kesenian,” jelas budayawan Jombang, Nasrul Illah.

Dalam lakon, Besut seringkali digambarkan sebagai pria sederhana dengan dandanan yang terlalu neko-neko. Tajib, seorang seniman senior yang memerankan Rusmini, semasa hidupnya menyebut bahwa pakaian besut sangat khas dengan ornamen yang sederhana.

“Pakemnya memang Besut itu ya pakai topi merah ada kuncirannya itu, tidak memakai baju, bawahannya bebetan kain putih dan memakai lawe (sejenis selendang) warnanya merah,” jelasnya.

Simbol-simbol ini melambangkan keberanian dari topi merah yang dipakai. Bebet putih yang digunakan adalah simbol ketulusan, dan kesan tak memakai baju menunjukkan jiwanya yang sederhana dan tak neko-neko.

Sedangkan dalam setiap penampilannya, Besut biasanya akan didampingi beberapa tokoh lain untuk mementaskan drama. Ada Rusmini sebegai istri Besut, Man Gondo (beberapa menyebut Man Jamino) paman dari Rusmini juga Sumo Gambar orang kaya yang cintanya kepada Rusmini selalu bertepuk sebelah tangan.

Dengan ketokohan dan wataknya masing-masing, cerita besutan selalu saja berkutat pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari potret kehidupan rumah tangga masyarakat kelas bawah, sulitnya mencari pekerjaan, dan lain sebagainya.

“Besut dan Rusmini itu kan tokoh protagonis, Man Gondo itu orang tidak punya pendirian dan memihak siapa yang berkuasa, sedangkan usaha Sumo Gambar sendiri mendapatkan Rusmini meski telah menjadi istri Besut dengan cara memberikan uang dan iming-iming lewat Man Gondo,” jelas Cak Nas kembali, panggilan akrab Nasrul Illah.

Dengan masing masing watak tokohnya yang kuat, kesenian ini terbukti mampu menyajikan pertunjukan rakyat sentris. Berbeda dengan teater tradisional seperti pertunjukan ketoprak di Jawa Tengah.

“Yang sering ditampilkan itu cerita tentang Besut yang mencari kerja dan bertahun-tahun tidak pulang, hingga Rusmini terus mendapat godaan dari Sumo Gambar lewat Man Gondo,” sahut Tajib, sambil mengenang kisah yang dilakoninya dulu. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 19 Feb 2019 17:19:08 +0700
<![CDATA[Miliki Kreatifitas Tanpa Batas, Asmuni Kerap Manfaatkan Barang Bekas]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120300/miliki-kreatifitas-tanpa-batas-asmuni-kerap-manfaatkan-barang-bekas https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120300/miliki-kreatifitas-tanpa-batas-asmuni-kerap-manfaatkan-barang-bekas

JOMBANG - Cerita Asmuni benar-benar telaten dan nyeni juga didapatkan di rumah masa kecilnya, di Jalan Raya Diwek. Salah satu yang paling mudah dikenali adalah]]>

JOMBANG - Cerita Asmuni benar-benar telaten dan nyeni juga didapatkan di rumah masa kecilnya, di Jalan Raya Diwek. Salah satu yang paling mudah dikenali adalah dua buah jendela untuk ruang utama rumah itu terlihat berbeda dari yang rumah lain.

Dua jendela berbentuk bulat dengan aksen kayu di tengah, yang terkesan seperti rumah di Cina. Astono Ping Sekawanto, keponakan Asmuni yang menempati rumah itu menceritakan banyak tentang bagaimana kreatifnya Asmuni dalam memanfaatkan barang-barang, yang bahkan tak terpikir akan menjadi benda seni bagi orang lain.

“Rumah ini memang dibangun sendiri, bisa dibilang ini rumah hasil karya beliau, jendela itu bisa bulat karena memang terbuat dari velg sepeda bekas yang kemudian dibentuk sama pakde (panggilan akrabnya kepada Asmuni),” tutur Antok, sapaan akrabnya.

Antok yang menyebut pamannya ini adalah seorang yang suka menginisiai orang untuk melakukan banyak hal. Asmuni juga membangun sebuah gedung untuk pertunjukan meski kecil. “Lokasinya di Ceweng, dan untuk membangun itu dulu semua kepala desa wajib menyumbangkan satu lonjor bambu petung, dan nyatanya berhasil,” ucapnya bangga.

Bahkan nama yang kini disandangnya tersebut juga pemberian pamannya tersebut. “Kalau nama saya itu asalnya dari seniman yang lagi terkenal waktu itu, Ping Astono kemudian dibalik ditambahi Sekawanto karena saya anak ke empat,” kenangnya.

Tak banyak yang tahu pula selain Asmuni adalah seorang seniman yang pandai menyanyi, bermusik  karena sejak kecil telah terbiasa, melawak dan berakting. Asmuni adalah orang yang juga ahli dalam hal melukis bahkan membuat prakarya.

“Kalau lukisan yang masih sangat saya ingat adalah lukisan berjudul mata hati, disitu beliau melukis sangat indah dengan menggambarkan berbagai warna. Bahkan beberapa orang menyebutnya itu wujud dari aura seseorang, padahal saat itu pemahaman seperti itu belum banyak orang yang tahu,” lanjutnya.

Selain lukisan, Asmuni juga pernah membuat sebuah karya seni yang cukup indah ketika membuat batu-batu yang ada di depan rumahnya menumpuk untuk kemudian dipoles dan diberi aneka warna sehingga menjadi sangat indah.

“Waktu itu saya ya senang sekali melihatnya, tapi memang sekarang semua barangnya sudah tidak ada lagi, tinggal rumah ini bukti karya seni yang masih bisa disaksikan langsung,” ucapnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 19 Feb 2019 16:14:09 +0700
<![CDATA[Keluarga Anggap Asmuni Sebagai Seniman yang Tak Pernah Pensiun]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120299/keluarga-anggap-asmuni-sebagai-seniman-yang-tak-pernah-pensiun https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120299/keluarga-anggap-asmuni-sebagai-seniman-yang-tak-pernah-pensiun

JOMBANG - Sebagai seorang yang sibuk beraktifitas di panggung hiburan, nama Asmuni yang sudah tenar kala itu dimata keluarganya, dikenal sebagai orang]]>

JOMBANG - Sebagai seorang yang sibuk beraktifitas di panggung hiburan, nama Asmuni yang sudah tenar kala itu dimata keluarganya, dikenal sebagai orang yang tetap berjiwa sederhana. Dianggap sebagai bapak yang sabar.

Kembali Nining Astria menggambarkan bagaimana dirinya tak merasakan perubahan pada diri ayahnya, baik ketika masih aktif di Srimulat Surabaya hingga memiliki nama besar di Jakarta. “Ayah itu orang yang tidak tegaan sama orang lain, tidak pernah ngamuk walaupun marah sekali, jiwa sosialnya tinggi apalagi sama orang yang benar-benar nggak punya,” katanya.

Banyak cerita yang diperoleh tentang bagaimana Asmuni berpesan kepada anaknya, juga kepada orang lain untuk selalu menjaga kehidupan, agar tidak kelewatan glamor saat masih jaya dan kesulitan di masa tua. Bahkan tak hanya ucapan saja, langkahnya membuka usaha warung nasi juga rujak cingur baik saat di Jakarta, maupun kini di Mojokerto adalah perwujudan dari pesannya itu.

“Ayah itu sadar kalau namanya seniman itu tidak selamanya laku, oleh karena itu warung bentuk usaha ayah untuk tetap bisa mempunyai investasi selain karena ibu juga orang yang suka masak,” ucapnya.

Tak jarang Asmuni harus menanggung juga hidup teman-temannya di warung yang ia dirikan. Baik dengan cara memberikan pekerjaan sebagai pelayan di warung, saat rekan seprofesinya tak ada job manggung. Hingga memberikan tumpangan makan atau sekedar tempat untuk beristirahat bagi  orang tidak mampu.

Ia lantas bercerita tentang Joko Lelono, seorang pria yang berpenampilan gelandangan, seringkali mampir untuk sekadar tidur juga minum ditempatnya. Selalu diterima Asmuni dengan senang hati.

“Bahkan sampai ayah sudah meninggal masih juga sering kesini, dan kita sudah tidak di Jakarta beliau masih sering mampir untuk melakukan hal yang sama, Joko Lelono itu juga seringkali cerita ke saya, bagaimana pesan ayah dulu kepada dia,” ucap ibu tiga anak ini.

Terkadang dirinya yang tidak sabar ketika melihat ayahnya sedang menghadapi penggemar. “Karena kan biasanya ditarik-tarik, manggilnya juga banyak yang tidak sopan, saya yang justru marah-marah, kalau ayah ya santai saja,” kenangnya.

Meski diakui sebagai orang yang sabar, Tria juga menyebut ayahya merupakan orang yang sangat tidak mudah melupakan kesalahan orang lain. Bahkan dirinya bisa ingat betul perlakuan, atau perkataan orang lain yang tak mengenakkan. Meski tak pernah membalas, Asmuni disebutnya adalah orang yang tak akan mudah melupakan kesalahan tersebut.

“Kalau dendam sih tidak, tapi ayah itu akan ingat sekali dengan kesalahan-kesalahan kecil. Karena beliau memang tidak suka sama orang yang sok dan omongannya tinggi,” lanjutnya.

Kesederhanaan juga nampak ketika Asmuni yang dulunya seorang tentara, dan pernah keluar dari kesatuan Angkatan Laut, hingga disarankan oleh temannya sesama tentara untuk mengurus dana pensiun yang menjadi haknya. Asmuni pun enggan mengurus dana tersebut dan menjawab dengan enteng. “Seniman itu tidak pernah pensiun,” pungkas Tria menirukan ayahnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 19 Feb 2019 16:11:43 +0700
<![CDATA[Asmuni, Pelawak Orisinil Asal Jombang yang Berkesenian Seumur Hidup]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120296/asmuni-pelawak-orisinil-asal-jombang-yang-berkesenian-seumur-hidup https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/02/19/120296/asmuni-pelawak-orisinil-asal-jombang-yang-berkesenian-seumur-hidup

JOMBANG –Rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat tokoh nasional asal Jombang yang berangkat dari jalur seni. Perannya mewarnai panggung hiburan]]>

JOMBANG – Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat tokoh nasional asal Jombang yang berangkat dari jalur seni. Perannya mewarnai panggung hiburan nasional, tentu masih sangat akrab dengan segala pola tingkah dan juga idiomnya yang khas.

Cara tertawa yang khas, atau ucapan wassalam-nya yang terdengar akrab hingga kumis ala Charlie Chaplin yang senentiasa menempel di atas bibirnya.

Tokoh ini adalah Toto Asmuni, seniman yang lahir 85 lalu di Kecamatan Diwek, tepatnya pada 17 Juni 1931. Lahir dan besar di keluarga seniman, darah seni memang mengalir deras di dalam tubuhnya. Mengingat ayahnya yaitu Asfandi sendiri adalah salah satu orang yang dulu mengembangkan seni Gambus Mishri dengan grupnya Mawar Bersemi.

“Ayah sejak kecil memang sudah akrab dengan seni, meski cenderung ke musik. Dan di grup kakek saya, beliau adalah penabuh drum,” Jelas Nining Astria, putrinya yang kini menempati rumah sekaligus tempat usaha Asmuni di Trowulan Mojokerto.

Mengawali karier di dunia hiburan sebagai pemain musik, Asmuni juga tercatat sebagai penyanyi bersama orkes Angkatan Bersenjata. Pada 1950, ia menyanyi bersama orkes Angkatan Darat dan kemudian diminta untuk membina orkes musik Angkatan Laut.

Kiprah Asmuni di dunia tarik suara dibuktikan dengan piringan hitam yang sempat ia keluarkan, berjudul Sungai Barito. Meski akhirnya dirinya memutuskan untuk keluar dari Angkatan Laut dan memilih meniti karier sebagai seniman, yang memang telah menggurat di darahnya sejak kecil.

Kehidupan Asmuni  berlanjut dengan lebih berfokus kepada kesenian lawak yang dijalaninya, bersama grup Lokaria, hingga semakin menanjaknya namanya. Kemudian di dilirik grup lawak Srimulat pimpinan Teguh, yang kala itu masih bermarkas dan sedang berkembang pesat di Surabaya.

“Sampai tiga tahun di Surabaya, ahirnya ayah mulai hijrah untuk babat alas istilahnya ke Jakarta dengan grup Srimulat, dan Alhamdulillah hasilnya sangat sukses, karena ayah tak hanya main lawak, beberapa film juga beliau pernah perankan,” lanjut Tria, sapaan akrabnya.

Sejumlah film terhitung pernah ia bintangi dengan sukses. Sebut saja Bukit Perawan (1976), Raja Pungli (1977), Gaya Merayu (1980), Untung Ada Saya (1982), Gepeng Mencari Untung (1983), Gepeng Bayar Kontan (1983), Senjata Rahasia Nona (1983), Montir Montir Cantik (1984), Semua Karena Ginah (1985), Tahu Sama Tahu (1986), Kecil-Kecil Jadi Pengantin (1987), Cintaku Di Rumah Susun (1987), Akibat Terlalu Bebas (1987), Akibat Terlalu Genit (1988), Nyoman Cinta Merah Putih (1989).

Semuanya dibintangi dengan sukses dan semakin melambungkan namanya di dunia hiburan. Hingga kemudian masa jaya grup lawak itu meredup dan Srimulat bubar. Lakon di beberapa acara lain juga bernasib sama. Asmuni akhirnya memilih untuk pulang kembali ke Jawa Timur dengan membuka cabang warung rujak cingur, yang semula berada di Slipi.

Saat dirinya pulang ke Mojokerto, darah seninya masih terus mengalir dan pentasnya di dunia seni tak berhenti. Tria menyebut jika Asmuni terus menjalankan kesenian lawaknya di daerah dengan grup sendiri. “Sudah bukan rahasia lagi, pasca tumbangnya Srimulat, semua tokoh srimulat masing-masing punya grup kecil, jadi tetap bisa hidup pelakunya meski Srimulat mati suri. Bahkan saya juga sering kok ikut main dulu,” kenangnya.

Hingga meninggal pada 21 Juni 2007 dan dimakamkan di tanah kelahirannya di Diwek Jombang, Asmuni tetaplah dikenal sebagai seniman yang tak pernah berhenti berkarya. Tak hanya memiliki karakter seni yang kuat, lelucon yang khas Asmuni menunjukkan dia sebagai seniman sejati, yang orisinil seperti nama yang tak pernah digantinya.

“Kalau kata Alm. Taufik Savalas dulu, Asmuni itu figur yang orisinil dan patut ditiru untuk pelawak lain, karena itu mas Taufik Savalas waktu itu memang ngefans berat sama ayah,” pungkas anak kesayangan Asmuni ini. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Tue, 19 Feb 2019 16:05:29 +0700
<![CDATA[Lukman-Yusnita; Pasutri Pegiat Literasi yang Sempat Dituduh Radikalis]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116345/lukman-yusnita-pasutri-pegiat-literasi-yang-sempat-dituduh-radikalis https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116345/lukman-yusnita-pasutri-pegiat-literasi-yang-sempat-dituduh-radikalis

JOMBANG - Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat kisah sepasang suami istri di Jombang yang aktif bergerak di bidang edukasi dan literasi.]]>

JOMBANG - Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat kisah sepasang suami istri di Jombang yang aktif bergerak di bidang edukasi dan literasi. Dengan tekad yang kuat keduanya mendirikan sebuah rumah baca hingga berkembang sekarang.

Mereka adalah Lukman Hakim dan Yusnita Fitriati. Keduanya menempati rumah di Jalan Ahmad Dahlan gang Masjid Jombang yang kini jadi rumah baca yang dikelola sendiri dengan puluhan anak. “Ini cuma penyaluran hobi, kegiatannya juga non profit, makanya kita buka tiap sore saja,” ucap Lukman, sapaan akrabnya mengawali pembicaraan.

Sanggar yang kemudian diberi nama Rumah Baca Gang Masjid (RBGM) merupakan bentuk kerisauannya atas banyaknya anak di sekitar yang tiap sore hingga malam kesulitan belajar dan mengerjakan PR.

Lokasi rumahnya memang berada tak jauh dari Alun Alun Jombang dimana banyak pedagang malam di lokasi tersebut yang kerap mengajak anaknya berjualan setiap hari. “Kami melihat tiap hari anak-anak tidak belajar dan tidak pernah mengerjakan PR, sedangkan keluhan orang tua, sudah nggak nutut pelajarannya,” lanjutnya.

Bersama istrinya, Lukman terbersit untuk mengadakan kelas pendampingan belajar sekaligus mengajak anak-anak tersebut untuk membaca. Memanfaatkan ruang kosong di depan rumah kecilnya, dia telaten mengajari setiap anak yang mau datang ke rumah, sejak 2012 lalu.

“Awalnya kita berangkat dengan modal cuma 50 buku, itu juga buku pribadi milik anak yang masih balita,” timpal Yusnita, istri Lukman. Kegiatan ini terus berlanjut dan terus berkembang, pendampingan belajar pun tak melulu anak mengerjakan PR. Akan tetapi anak-anak juga diajarkan untuk taat beribadah dengan wajib salat jamaah di masjid Jamik yang berada tepat di depan rumah.

Hal ini seiring dengan mulai banyaknya buku-buku baru yang masuk. “Hingga kini mungkin sudah ada 5000-an koleksi, mulai dari buku anak baik fiksi maupun non fiksi hingga buku dewasa. Ada yang kita beli sendiri, ada juga yang sumbangan,”  lanjut PNS di lingkup Pemkab Jombang ini.

Meski demikian, keduanya mengaku tak mau membuat ikatan resmi baik untuk anak-anak yang belajar maupun relawan yang membantu di rumah bacanya. “Baik anak yang ikut belajar maupun relawan ada saja yang keluar masuk tiap hari, yang jelas kegiatan ini tetap kami lakukan,” tambahnya.

Selama enam tahun terakhir, sejumlah cabang juga sempat dibuka, mulai Diwek dan Gudo. Namun karena mengaku kekurangan sumberdaya penjaga rumah baca, mereka akhirnya memilih menggunakan sistem kemitraan berbasis jaringan dengan mengajak orang untuk membuka rumah baca lain.

“Sekarang kita memilih untuk membantu teman-teman yang membuka rumah baca baru untuk menyuplai buku pinjaman, karena dengan itu lebih terjain kelanjutannya,” pungkas pria kelahiran Tulungagung ini.

Menjalankan pendampingan pembelajaran, bukan berarti berjalan mulus. Lukman mengaku sempat harus melawan gempuran anggapan miring terkit upayanya itu. Terlebih dirinya bersama istri pernah dianggap sebagai penganut paham radikalisme dengan menjadikan anak-anak sebagai target penyebaran ideologi.

Kejadian ini berlangsung sekira 2017 lalu. Kebijakannya yang keras agar anak-anak wajib salat berjamaah tiap hari, dianggap beberapa orang tua anak-anak sebagai bentuk pengamalan ajaran ekstrem.

“Kita memang keras kalau masalah jamaah, karena dekat masjid, ternyata sempat jadi rasan-rasan warga,” ucapnya diiringi tawa. Namun upaya mediasi sempat dilakukannya dengan baik.

Dengan petemuan dan penjelasan yang jelas kepada orang tua anak-anak yang belajar di rumahnya, tak ada lagi kegelisahan dari mereka. “Untungnya saat pertemuan ada pak RW yang bersedia jadi jaminan, beliau memang mendukung upaya kami,” lanjutnya.

Bahkan kini, di hari-hari libur tak jarang anak-anak memilih untuk menginap di rumahnya usai belajar. “Biasanya orang tua tidak masalah kalau memang pamitnya kesini,” pungkas Lukman. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 28 Jan 2019 16:49:14 +0700
<![CDATA[KH Abdul Wahid Hasyim; Sosok Organisatoris Handal, Pandai Berpidato]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116338/kh-abdul-wahid-hasyim-sosok-organisatoris-handal-pandai-berpidato https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116338/kh-abdul-wahid-hasyim-sosok-organisatoris-handal-pandai-berpidato

JOMBANG - Selain dikenal cerdas dan berpengetahuan luas, KH Wahid Hasyim juga dikenal sebagai seorang organisator ulung serta pandai berpidato. Bahkan banyak]]>

JOMBANG - Selain dikenal cerdas dan berpengetahuan luas, KH Wahid Hasyim juga dikenal sebagai seorang organisator ulung serta pandai berpidato. Bahkan banyak cerita yang menggambarkannya sejak kecil, bahwa beliau seorang gus dari keluarga terpandang yang tetap mau bermain serta bergaul dengan masyarakat umum.

Di berbagai organisasi level nasional yang ia ikuti ketika dewasa juga menunjukkan pengaruh yang cukup mumpuni. Meski usianya saat itu masih relatif muda dan termasuk paling muda.  Memulai kiprahnya di organisasi dengan membentuk wadah bagi pelajar islam bernama IKPI yang digawanginya sendiri.

Dalam tempo yang sangat singkat telah menunjukkan perkembangan cukup menggembirakan, dengan masuknya ratusan anggota serta berhasil membangun sebuah taman bacaan  atau dikenal dengan bibliotheek untuk warga setempat.

Ratusan buku dan kitab bacaan dengan berbagai mahasa disediakan, demi membantu pemuda disekitarnya untuk mampu maju dengan bacaan-bacaan yang ada. Di tataran organisasi  NU lokal, KH Wahid Hasyim yang kala belum lama pulang dari tanah suci, dengan kemauan yang berapi-api dan ide yang cemerlang, mampu membangun organisasi lebih baik.

”Beliau masuk di tataran paling dasar dulu, yaitu dari cabang Diwek setelah itu naik terus,” sebut Gus Solah. Hingga akhirnya ia menduduki pucuk pimpinan PBNU bagian Maarif di tahun 1940. KH Wahid Hasyim juga tercatat menjadi delegasi untuk ayahnya KH Hasyim Asy’ari, di berbagai bidang organisasi seperti Majelis  al-Islam  al-A’la  Indonesia (MIAI). Di jaman Jepang menjadi wakil ketua Shumubu (Kantor Urusan Agama Jepang) juga Masyumi.

Ditunjuknya beliau ini tentu tak lepas dari ayahnya yaitu KH Hasyim Asy’ari. “Kalau di MIAI itu memang aslinya Mbah Hasyim yang diminta, namun karena urusan di pesantren dan tidak bisa meninggalkan pesantren, maka putranya jadi perwakilan. Walaupun faktor putra Hadratussyaikh memang ada, namun kalau dianggap tidak cakap tentu tidak akan bisa mengisi jabatan itu,” jelasnya.

Bahkan di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), beliau juga menjadi salah satu dari anggota tim 9 yang merumuskan Pancasila dan menghilangkan kata penting di sila satu Pancasila dan lahirlah piagam Jakarta. “Di situ (BPUPKI, Red) bapak juga kan anggota termuda, namun terpilih iku tim 9, berarti perannya nggak main-main,” papar Gus Solah.

Tak berhenti disitu, KH Wahid Hasyim juga seringkali mengader orang yang dianggapnya mampu dan memiliki potensi untuk melanjutkan perjuangannya. “Seperti mertua saya, KH Saifudin Zuhri, yang juga diajak sendiri dengan surat pribadi untuk bertemu karena kagum dengan beberapa tulisan mertua saya,” lanjut Gus Solah.

Kebiasaan ini seringkali dilakukannya ke berbagai orang lain karena murni kepedulian akan pentingnya penerus perjuangan. “Semua anak didiknya juga dilatih sendiri dan diajar sendiri, dan beliau sama sekali tidak takut tersaingi,” pungkasnya bangga. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 28 Jan 2019 16:19:20 +0700
<![CDATA[KH Abdul Wahid Hasyim; Tokoh Berwawasan Luas, Kecerdasannya Tinggi]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116336/kh-abdul-wahid-hasyim-tokoh-berwawasan-luas-kecerdasannya-tinggi https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116336/kh-abdul-wahid-hasyim-tokoh-berwawasan-luas-kecerdasannya-tinggi

JOMBANG - Tokoh nasional yang satu ini juga tak asing lagi nama dan kiprahnya di Indonesia. Kemampuannya untuk menyerap ilmu pengetahuan untuk kemudian disebar]]>

JOMBANG - Tokoh nasional yang satu ini juga tak asing lagi nama dan kiprahnya di Indonesia. Kemampuannya untuk menyerap ilmu pengetahuan untuk kemudian disebar luaskan sejak kecil juga telah masyhur. Kepiawaiannya dalam bidang organisasi serta sumbangsihnya di dunia pendidikan juga tak perlu dipertanyakan lagi.

Ya, beliau adalah KH Abdul Wahid Hasyim, putra dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang juga turut membantu dan meneruskan perjuangan ayahandanya hingga akhir hayat. Lahir di Jombang 1 Juni 1914, Pak Id, begitu keluarga akrab menyapanya, adalah putra kelima dari pasangan KH Hasyim Asy’ari dengan Nyai Hj Nafiqoh.

Lahir dari  keluarga yang taat beragama serta berdarah biru, Abdul Wahid Hasyim telah menunjukkan kemampuan luar biasa sejak kecil. Belajar berbagai ilmu baik Alquran dan hadits dari ayahnya sendiri, kiai Wahid kecil sudah menuntaskan pendidikannya pada usia sangat muda 12 tahun. “Bahkan di usia 13 tahun mulai mengajar di pesantren ini,” jelas putranya, KH Salahuddin Wahid.

Hal ini tentu tak lepas dari hobi dan kebiasaannya yaitu membaca. KH Wahid Hasyim memang dikenal sebagai orang yang sangat gemar membaca. Banyak tulisan yang menggambarkan beliau senang sekali membaca majalah dan buku dari berbagai bahasa baik Belanda, Inggris maupun Arab. Tak heran jika kemudian beliau sangat berpikiran terbuka dan mampu mengetahui berbagai hal yang bahkan mungkin belum banyak diketahui oleh pemuda seusianya di masa itu.

“Padahal untuk belajar huruf latin, di pondok tidak diajarkan, jadi memang harus belajar sendiri,” lanjut Gus Solah. Beliau juga menjadi orang yang memberikan perubahan di dalam ranah kajian ilmu dan kurikulum di Ponpes Tebuireng. Sistem salaf yang sebelumnya digalakkan oleh Mbah Hasyim, dilengkapi pula oleh pengajaran dan kurikulum umum oleh dirinya.

Sebagai seorang anak kiai besar yang haus ilmu pengetahuan, beliau juga melakukan tradisi mengembara ke berbagai pondok pesantren. “Pernah ke Pondok Siwalan Panji Sidoarjo,Pondok Lirboyo kediri dan lain sebagainya,” lanjutnya. Namun yang unik menurut Gus Solah, berpindah ke berbagai pondok itu berlangsung sangat singkat, karena masa pengembaraannya berlangsung 2 tahun untuk kembali ke pesantren Tebuireng. “Memang mondok menurut beliau untuk ngalap barokah saja,” sebutnya.

Selain sebagai pelajar yang baik, beliau juga dikenal sebagai tokoh pelopor pendidikan. Di pesantrennya juga penulis yang cukup produktif, terlebih ketika usianya menginjak 20 tahun dan baru saja pulang dari tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan menetap selama beberapa waktu di sana.  “Usia 20 tahun itu beliau sudah mendirikan Madrasah Nidhomiyah sendiri, pelajarannya di masjid dan beliau sendiri yang mengajar,” sebut Gus Solah kembali.

Selian itu KH Wahid Hasyim juga seorang penulis yang sangat produktif. Sejumlah tulisan berupa artikel-ertikel keagamaan, bahasa maupun politik maupun kegiatan surat menyurat seringkali ia lakukan untuk dirinya sendiri, juga untuk membantu ayahandanya. “Bapak itu sangat rapi juga orangnya bahkan surat yang diterimanya selalu dikumpulkan dan ditumpuk rapi,” kenang Gus Solah.

Namun meski kecerdasan diatas rata-rata, beliau harus dipanggil oleh Allah SWT di usia yang masih sangat muda. Tepatnya 39  tahun, pada 19 April 1953, saat perjalanan menuju Sumedang  untuk menghadiri  rapat pengurus Nahdlatul Ulama. “Waktu bapak meninggal itu saya masih usia 10 tahun. Bahkan anak terakhir lahir pasca meninggalnya KH Wahid Hasyim,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 28 Jan 2019 16:05:53 +0700
<![CDATA[Jaksa Agung Singgih Asal Jombang Dikenal Tegas Tak Pandang Bulu]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116246/jaksa-agung-singgih-asal-jombang-dikenal-tegas-tak-pandang-bulu https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116246/jaksa-agung-singgih-asal-jombang-dikenal-tegas-tak-pandang-bulu

JOMBANG - Menempati posisi sebagai jaksa agung di era orde baru, Singgih memang dikenal sebagai pejabat yang tak neko-neko. Keberaniannya dalam mengungkap kasus]]>

JOMBANG - Menempati posisi sebagai jaksa agung di era orde baru, Singgih memang dikenal sebagai pejabat yang tak neko-neko. Keberaniannya dalam mengungkap kasus-kasus besar hingga keteguhannya pada pendirian sangat menginspirasi.

Beberapa contoh ketegasan ditunjukkannya dalam sebuah wawancara dengan media nasional di Hari Adhiyaksa ke-35  tahun 1996. Dikutip dari buku Tokoh Jombang, Singgih kala itu menekankan upaya pembersihan praktik kolusi dan korupsi harus benar-benar bisa dihapus di era itu.

Terlebih di dua tahun sisa orde baru itu, korps kejaksaan tengah disorot keras perihal kinerjanya yang dinilai cukup bobrok lantaran praktik kolusi dan korupsi yang merebak di dalam institusi penegah hukum ini.

“Ya, sudah waktunya lah para penegak hukum harus berhenti. Artinya, kalau mau terus ya ‘pulang’saja,” terangnya kepada wartawan kala itu.

Ia menambahkan, penekanan itu tidak semata-mata disebabkan karena masyarakat kala itu begitu menyorot hal tersebut, tetapi lebih pada penyadaran agar para penegak hukum mampu membersihkan diri dari perbuatan yang “mempersulit” praktik penegakan hukum itu sendiri.

“Pokoknya, kita meningkatkan pengawasan terus. Dalam kaitan ini saya bertindak tegas terhadap kegiatan-kegiatan yang menjelekkan citra kejaksaan. Saya tekankan bahwa kalian tidak hanya bertanggung jawab kepada pimpinan tetapi juga kepada Tuhan,” kata singgih.

Hal ini pun diakui Wiyono, keponakannya yang ditemui Jawa Pos Radar Jombang. Soal pekerjaan, Singgih memang disebutnya orang yang sangat punya dedikasi. Ia mengaku seringkali melihat sendiri bagaimana ucapan Singgih itu bukan bualan belaka.

“Waktu itu ada saudara, saudara dekat dan jadi jaksa juga, dia minta untuk bisa ditempatkan langsung di Jawa tanpa harus ke luar Jawa seperti biasanya. Sebagai Jaksa Agung saat itu, harusnya hal ini mudah, tapi langsung ditolak Pak Singgih,” terangnya.

Hal itu disebutnya sebagai bentuk nyata bagaimana Singgih benar-benar berkomitmen dan punya pendirian untuk jabatannya meski untuk kepentingan keluarga. “Bagi beliau, kalaupun keluarganya bermasalah, beliau tidak akan segan menindak secara hukum. Semua orang bagi beliau sama di mata hukum, tidak ada lagi keluarga,” lanjutnya.

Dikutip pula dari situs resmi Kejaksaan Agung RI (kejaksaanagung.go.id) dalam kepemimpinannya, setidaknya ada tiga kasus besar yang diungkapnya. Antara lain terbongkarnya kasus kredit Bapindo kepada Golden Key Grup pimpinan Eddy Tansil,  peristiwa 27 Juli 1996 di kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia hingga terbongkarnya kasus korupsi pada Bank Duta dengan terdakwa Dicky Iskandardinata.

Dalam situs itu, disebut juga jika Singgih, adalah satu-satunya Jaksa Agung di era Soeharto yang benar-benar lahir dari bawah alias jaksa karier. Sepanjang pemerintahan Orde baru, Kejaksaan Agung memang seringkali dipimpin kalangan militer. Termasuk Jaksa Agung Sukarton Marmosudjono yang berasal dari ABRI, TNI Angkatan Laut kala itu. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 28 Jan 2019 09:41:57 +0700
<![CDATA[Singgih, Jaksa Agung RI Periode 1990-1998 yang Berasal dari Jombang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116242/singgih-jaksa-agung-ri-periode-1990-1998-yang-berasal-dari-jombang https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/28/116242/singgih-jaksa-agung-ri-periode-1990-1998-yang-berasal-dari-jombang

JOMBANG - Rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang minggu ini mengulas singkat kehidupan salah satu tokoh nasional dari Jombang. Sebagai salah satu aparat penegak]]>

JOMBANG - Rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang minggu ini mengulas singkat kehidupan salah satu tokoh nasional dari Jombang. Sebagai salah satu aparat penegak hukum, karier arek Jombang ini mencapai puncaknya sebagai Jaksa Agung Republik Indonesia di tahun 1990-1998.

Namanya singkat, Singgih, ia seringkali tampil berkacamata dengan pakaian dan rambut rapi. Pria kelahiran Jombang 23 Juni 1934 ini punya segudang prestasi dalam kariernya sebagai jaksa. Lahir di lingkungan keluarga pejabat, Singgih adalah putra terakhir dari tiga bersaudara.

Sejak kecil, Singgih telah tinggal bersama kakaknya di Jombang. Menempati sebuah rumah di Jalan Madura Nomor 50, Jombang (selatan stasiun). Bahkan ia tercatat bersekolah di salah satu SR (Sekolah Rakyat) di Jombang dan lulus di tahun 1947.

“Waktu itu menempati rumah kakaknya Bu Bagyo, kan kakaknya ini pensiunan Sekda Nganjuk, dan beli rumah di Jombang, lha beliau ini ikut di situ. Kebetulan karena pak Singgih dan kakak pertamanya ini memang jarak usianya jauh, 15 tahun, sehingga seringkali sudah dianggap anak sendiri sama kakaknya ini,” terang Wiyono, keponakannya.

Lulus dari SR, Singgih memulai pengelanaannya ke beberapa daerah lain untuk menempuh pendidikan. Diataranya SMP di Kabupaten Kediri, hingga SMA di SMA Wijayakusuma Surabaya.

Cita-citanya menjadi penegah hukum pun akhirnya kesampaian ketika ia menjadi salah satu pelajar yang menerima beasiswa  Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.  Singgih pun akhirnya menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya pada 1960.

Kariernya mulai tumbuh kala usai kuliah, Singgih masuk menjadi jaksa pada Dinas Reserse Departemen Kejaksaan di tahun yang sama saat ia lulus kuliah. Kinerjanya yang diakui banyak orang mumpuni dan konsisten, membawanya meniti karier dengan cukup cepat.

“Nah ketika itulah beliau mulai tinggal berpindah-pindah dan tidak lagi menetap di Jombang,” sambungnya. Terhitung sejumlah kejaksaan negeri dan kejaksaan tinggi di beberapa kota di Indonesia pernah dipimpinnya. Sebut saja Kejari Denpasar  1966-1969, Kejari Jakarta Pusat   1971-1973, Kejati NTB  1979-1982, Kejati Sulut  1982-1983.

Puncak kareirnya, adalah ketika ia berhasil merengkuh jabatan sebagai Jaksa Agung RI selama dua periode berturut-turut di era Orde Baru. Namanya tercatat menjabat sebagai Jaksa Agung 1990-1998.

“Beliau menjabat setelah menggantikan pak Sukarton Marmosudjono, yang meninggal dunia. Sejak tahun 1990 beliau menjabat dua periode, jadi di Kabinet Pembangunan V dan VI,” lanjutnya.

Dalam delapan tahun jabatannya itu, Singgih mampu menunjukkan pretasi gemilang. Kerja kerasnya yang tak kenal kompromi membuatnya diganjar tanda jasa Bintang Mahaputra dari Presiden Soeharto di tahun 1992, bintang Kerajaan Thailand tahun 1993 serta Satyalencana Karya Satya kelas I empat tahun sebelumnya.

Dari pernikahannya dengan Renie Ambarwati Sri Mulyana Budhiati, Singgih dikaruniai lima orang putra putri yang semuanya kini menetap di Jakarta. Ia pun meninggal di tahun 2005 setelah menderita penyakit stroke dan dirawat di Rumah Sakit Siloam Glenegles Jakarta. “Ya, beliau meninggalnya di jakarta dan dimakamkan di Makam Kalibata,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 28 Jan 2019 09:33:37 +0700
<![CDATA[Mulyono Sang Pencipta Logo Kabupaten Jombang Berasal dari Nganjuk]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/13/113450/mulyono-sang-pencipta-logo-kabupaten-jombang-berasal-dari-nganjuk https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/13/113450/mulyono-sang-pencipta-logo-kabupaten-jombang-berasal-dari-nganjuk

JOMBANG - Mulyono, pertama kali masuk Jombang 1964 silam. Sejak lulus D2 dari Yogyakarta dia langsung mendapat SK untuk menjadi petugas Pendidikan Luar Sekolah]]>

JOMBANG - Mulyono, pertama kali masuk Jombang 1964 silam. Sejak lulus D2 dari Yogyakarta dia langsung mendapat SK untuk menjadi petugas Pendidikan Luar Sekolah (PLS) di Jombang. Dia mengabdi selama 33 tahun hingga 1997 memasuki masa purna tugas.

”Pertama saya tinggal di Kaliwungu Jombang. lalu saya menikah dengan Sutarti yang asli Jombang,” ceritanya lagi. Ia sendiri mengaku berasal dari keluarga sederhana. Dia merupakan anak ke-4 dari 9 bersaudara, pasangan Ngabdulla dan Sutiatun asal Desa/Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.

Meski kelahiran Nganjuk, tapi Mulyono lebih lama diketahui menetap dan berkiprah di Jombang. Selain petugas PLS, ia juga pernah menjadi penilik di Kecamatan Diwek, Kasubag TU Dinas Pendidikan, dan terakhir Kasubag Keuangan Dinas Pendidikan dan kebudayaan Jombang.

”Saya pernah kuliah di STKIP PGRI Jombang jurusan kewarganegaraan, dan pernah mengajar di beberapa sekolah hampir 10 tahun. Paginya di kantor, sore mengajar,” tandasnya. Mulyono sejak kecil memang suka menggambar. Saat lomba membuat logo pemkab itu dia pun menciptakan logo buatannya dari kuas dan cair.

Sebab, tahun itu belum ada komputer. ”Meskipun pakai cat air, namun tidak masalah yang terpenting gambarnya jelas,” papar dia.

Setelah menikah dengan Sutarti 1967 silam, ia dikaruniai dua orang anak. Kedua anaknya juga memiliki bakat menggambar. Bahkan, salah satu anaknya kini menjadi arsitek di salah satu perusahaan di Kabupaten Mojokerto. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sun, 13 Jan 2019 21:10:12 +0700
<![CDATA[Menang Sayembara Logo Kabupaten Jombang, Mulyono Dapat Hadiah 10 Ribu]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/13/113441/menang-sayembara-logo-kabupaten-jombang-mulyono-dapat-hadiah-10-ribu https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/13/113441/menang-sayembara-logo-kabupaten-jombang-mulyono-dapat-hadiah-10-ribu

JOMBANG - Sebagai penghargaan atas jasa membuat desain logo Pemkab Jombang, Mulyono kala itu mendapat hadiah Rp 10 ribu. Pada zaman dahulu, uang Rp 10 ribu]]>

JOMBANG - Sebagai penghargaan atas jasa membuat desain logo Pemkab Jombang, Mulyono kala itu mendapat hadiah Rp 10 ribu. Pada zaman dahulu, uang Rp 10 ribu cukup banyak. Bahkan, penghasilannya dari logo pemkab itu bisa memberangkatkan haji sekeluarga.

”Alhamdulilah saya mendapat hadiah juara utama Rp 10 ribu dari tim lambang daerah,” ujar dia kemarin (12/1). Uang tersebut ia kumpulkan untuk pembayaran ibadah haji. Meski belum cukup, namun di bulan-bulan berikutnya Mulyono sering diundang beberapa instansi baik dari Jombang maupun Jawa Timur untuk memaparkan arti lambang daerah tersebut.

”Dari honor-honor tersebut Alhamdulilah saya kumpulkan hingga mencapai Rp 75 ribu dan saya gunakan untuk membiayai keluarga saya berangkat haji,” tambahnya bangga.

Bagi Mulyono, lambang daerah bukan sekedar simbol yang hanya untuk megah-megahan, juga tidak sekedar formalitas. Namun lebih dari itu merupakan pengejawentahan dari sifat, watak, kepribadian, dan cita cita suatu daerah. Untuk itu, dia menuangkan ide dan gagasannya di dalam lambang tersebut.

Pertama, tentang bentuk lambang pemkab, ada bentuk perisai yang didalamnya ada gambar padi dan kapas, gerbang mojopahit, benteng, balai agung (pendopo), menara dan bintang, tangga lima tingkat, gunung, dua sungai (Brantas dan Kali Konto dibawahnya, juga terdapat pita dengan tulisan Kabupaten Djombang.

”Yang diganti hanya tulisan Jombang, karena dulunya pakai Djombang ejaan lama,” beber dia.  Setiap gambar yang dipadukan dalam logo pemkab Jombang itu memiliki arti sendiri. Sebagai contoh, dipilihanya gambar padi dan kapas yang berarti wujud kemakmuran.

Begitu pula dengan gambar dua sungai karena Kabupaten Jombang dialiri dua sungai besar yakni Kali Konto dan sungai Brantas. ”Sungai diibaratkan tidak hanya membawa banjir, namun sungai juga membawa kemakmuran bagi Jombang,” paparnya.

Sedangkan dipilihnya warna merah dan hijau, juga menggambarkan identitas asli Jombang. Kata Jombang berasal dari kata ijo yang berarti subur, makmur, dan kebaktian kepada Tuhan YME. Sedangkan merah berarti keberanian, dinamis dan kritis. ”Ada juga paduan warna lain seperti biru langit yang berarti cerah juga berarti kesejahteraan wajah rakyat yang selalu optimistis,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sun, 13 Jan 2019 20:26:36 +0700
<![CDATA[Tak Banyak yang Tahu, Inilah Sang Pencipta Logo Kabupaten Jombang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/13/113437/tak-banyak-yang-tahu-inilah-sang-pencipta-logo-kabupaten-jombang https://radarjombang.jawapos.com/read/2019/01/13/113437/tak-banyak-yang-tahu-inilah-sang-pencipta-logo-kabupaten-jombang

JOMBANG - Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengulas sosok yang sangat berjasa bagi Kabupaten Jombang. Dia adalah sang maestro alias pencipta lambang]]>

JOMBANG - Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengulas sosok yang sangat berjasa bagi Kabupaten Jombang. Dia adalah sang maestro alias pencipta lambang daerah (logo) Kabupaten Jombang. 

Namanya singkat, Mulyono. Namun buah karyanya bakal dikenang sepanjang zaman. Pensiunan PNS di Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang ini satu-satunya orang yang menciptakan logo Kabupaten Jombang bergambar padi dan kapas dengan kombinasi warna ijo (hijau) dan abang (merah).

Cerita itu bermula pada 1971 silam, ketika masa pemerintahan dipimpin Bupati Ismail. Kala itu, ada sayembara dari tim lambang daerah untuk membuat logo Kabupaten Jombang. Siapa saja boleh ikut, baik dari masyarakat sipil, pegawai PNS/non PNS bahkan tidak ada batasan bagi peserta dari Jombang maupun luar Jombang.

Akhirnya peserta yang mengikuti sayembara itu cukup banyak. Salah satunya Mulyono. Ia sejak awal tertarik untuk mengikuti lomba itu lantaran sejak kecil mempunyai bakat menggambar.

”Awalnya, saya itu ingin memberi kenang-kenangan kepada teman kerja di Dinas Pendidikan, namun kebetulan pada 1971 ada lomba dari panitia lambang daerah Kabupaten Jombang,” ujarnya, saat ditemui di kediamannya, pagi kemarin (12/1).

Pria kelahiran 11 Juli 1941 ini mengaku optimis ikut lomba dengan mengirim dua karya, yang didesain dengan gambar dan desain logo berbeda. Salah satunya, gambar pendopo dengan kombinasi warna ijo dan abang. Sayang, harapannya menjadi pemenang kandas setelah ada pengumuman bahwa logo hasil karyanya menempati peringkat 3.

”Akhirnya yang menjadi  juara 1 peserta dari luar Jombang,” tambah dia. Logo Mulyono pun tersingkir. Kemudian logo dari peserta yang terpilih sebagai juara 1 dimintakan persetujuan kepada Kemendagri melalui Gubernur.

Namun di tengah jalan, usulan persetujuan logo itu ditolak langsung Kemendagri karena desainnya hampir mirip dengan logo Pemprov Jatim yang sudah dulu diresmikan. Akhirnya sebagai pengganti, logo pemenang juara 2 dan juara 3 yang diusulkan ke Kemendagri. Harapannya pun kembali terbuka.

”Alhamdulilah yang disetujui Mendagri logo saya, kalau tidak salah saat itu dijabat Pak Amir Machmud,” kenang Mulyono sambil matanya menerawang ingatan masa lalu. Dengan bangga, logo hasil karyanya terpilih menjadi lambang daerah Kabupaten Jombang.

Tepat pada 19 Agustus 1971, Mulyono diundang ke Pendapa Kabupaten Jombang untuk meresmikan lambang daerah hasil ciptaannya. Hadir dalam peresmian itu sejumlah tokoh penting, mulai dari Ditjen Pemerintahan Umum dan Otoda, Gubernur Jatim dan jajaran kepala SKPD.

”Dulu yang mengundang saya Bupati Ismail, bahkan dihadiri juga Gubernur Jatim Mohammad Noer,” tandas dia. Mulyono menjelaskan, desain logo yang dibuatnya terdiri dari beberapa paduan gambar. Pertama, gambar Pendopo yang di tengahnya ada lambang masjid dan bintang.

Dipilihnya gambar pendopo karena merupakan simbol rumah masyarakat Jombang dan dipilihnya lambang masjid dengan bintang merupakan simbol toleransi umat beragama.

”Kalau saya pilih Ringin Contong tidak mepresentasikan masyarakat Jombang, oleh sebab itu saya pilih pendopo. Saya juga pilih gambar masjid dengan bintang di atasnya karena Jombang ada banyak agama, namun seluruh umat beragama dapat bertoleransi dengan baik,” pungkasnya. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Sun, 13 Jan 2019 20:05:30 +0700
<![CDATA[KH Hasbullah Said; Pentingnya Tirakat dan Peran Nyai Lathifah]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/15/103781/kh-hasbullah-said-pentingnya-tirakat-dan-peran-nyai-lathifah https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/15/103781/kh-hasbullah-said-pentingnya-tirakat-dan-peran-nyai-lathifah

JOMBANG – Sebagai seorang kiai besar, ternyata kiai Hasbullah Said malah dikenal di kalangan keluarga sebagai orang yang tidak cukup mumpuni di bidang]]>

JOMBANG – Sebagai seorang kiai besar, ternyata kiai Hasbullah Said malah dikenal di kalangan keluarga sebagai orang yang tidak cukup mumpuni di bidang kecerdasan intelektual.

“Bahkan di buku yang kami tulis, menyebut jika beliau itu bisa dibilang dedel, meski demikian, Mbah Hasbullah punya dimensi kecerdasan lain yang bisa jadi pelajaran bagi banyak orang,” kembali Ainur Rofiq Al Amin bercerita.

Kecerdasan dan kemampuan lain yang disebutnya ini adalah kemampuan Kiai Hasbullah Said di bidang tirakat dan kedermawanannya yang memang telah diakui orang banyak. Bahkan dalam suatu cerita, Kiai Hasbullah punya kebiasaan tirakat yang khas ketika istrinya mengandung ke delapan anaknya.

“Setiap mengandung, atas permintaan istrinya Nyai Lathifah, beliau ini akan mengkhatamkan Alquran setidaknya seratus kali dalam sembilan bulan. Artinya rata-rata beliau akan khatam Alquran setiap 2 sampai 3 hari sekali,” lanjutnya.

Maka menurutnya tak heran ketika lahir dan besar, putra putri Kiai Hasbullah menjadi tokoh-tokoh besar yang juga berpengaruh kepada kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Sebut saja Kiai Wahab, Nyai Khodijah yang jadi istri Kiai Bisri dan masih banyak lagi, tentu ini bukan orang main-main, dan saya yakin benar ini tak lepas dari upaya tirakat beliau selama masa kehamilan,” ucap Gus Rofiq. Tak saja Kiai Hasbullah yang melakukan tirakat dalam banyak kegiatan.

Bu Nyai Lathifah memang juga dikenal sebagai orang yang sama kuatnya dalam hal tirakat dengan sang suami. Seperti ikut melakukan riyadlah dalam upayanya terus mengembangkan pesantren. Bahkan Akhmad Taqiyudin Mawardi dalam buku Tambakberas Menelisik Sejarah memetik Uswah menulis

“Peran Mbah Nyai Lathifah senantiasa mendukung perjuangan Mbah Hasbullah. Ini mengingatkan pada pepatah Arab waro’a kulli adziimin adziimatun (dibalik lelaki agung pasti terdapat perempuan yang agung pula),” tulisnya. Hal ini menurut Gus Rofiq menjadi contoh penting bagaimana santri harus menyikapi dirinya sendiri.

Di pondok, tidak semua orang memang punya kecerdasan intelektual yang sama. Sehingga dengan mampu mengembangkan kecerdasan lain, santri atau pembelajar tak seharusnya menyerah dengan keadaan. Terlebih kecerdasan intelektual bukan satu-satunya jalan menuju kebahagiaan.

“Kita semua tahu, semua orang punya kecerdasan intelektual berbeda-beda. Untuk itu, santri jangan mudah menyerah, kalau dirasa secara intelektual memang tidak mumpuni, masih banyak kecerdasan lain yang bisa dikembangkan. Mbah Hasbullah ini contohnya, dan ini pelajaran yang sangat penting,” pungkasnya. (Pewarta: ACHMAD RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Thu, 15 Nov 2018 20:54:15 +0700
<![CDATA[KH Hasbullah Said; Sosok Dibalik Nama Tambakberas]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/15/103776/kh-hasbullah-said-sosok-dibalik-nama-tambakberas https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/15/103776/kh-hasbullah-said-sosok-dibalik-nama-tambakberas

JOMBANG – Tak saja lekat dengan kepemimpinan hingga pembangunan masjid di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kiai Hasbullah Said juga ternyata lekat dengan nama]]>

JOMBANG – Tak saja lekat dengan kepemimpinan hingga pembangunan masjid di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kiai Hasbullah Said juga ternyata lekat dengan nama Dusun Tambakberas itu sendiri.

Salah satu Tim Peneliti Sejarah Tambakberas, Ainur Rofiq Al Amin menyebut, penamaan Tambakberas berkaitan erat dengan Kiai Hasbullah. Terlebih jika dihubungkan dengan kekayaan yang dimilikinya dulu. Di awal dulu, Dusun Tambakberas yang sekarang ini lebih dikenal dengan Dusun Gedhang.

“Disini sebenarnya dulu namanya Desa Gedhang, kalau pondok lama di utara yang sekarang makam Mbah Wahab itu Gedhang Njero. Kalau yang pondok Mbah Utsman itu Gedhang Njobo. Sedangkan wilayah Pondok BU sekarang ini Gedhang Kulon,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Tim peneliti sejarah Tambakberas, Ainur Rofiq Al Amin. (ACHMAD RW/ JAWA POS RADAR JOMBANG)

Namun, nama ini perlahan berubah dikarenakan adanya faktor penyebutan masyarakat yang merujuk pada kekayaan yang dimiliki kiai Hasbullah. Seperti disebut sebelumnya, kiai Hasbullah menang terkenal sebagai seorang yang kaya raya.

Terlebih jika dilihat dari jumlah lahan sawah garapan yang dimilikinya sehingga ketika musim panen, wilayah sekitar pondok tak ubahnya seperti lautan padi. “Dari hasil penggalian data, diyakini nama ini merujuk pada kondisi saat panen padi, dimana ketika panen padi, saking banyaknya hingga terlihat layaknya tambak ikan,” lanjutnya.

Bahkan diyakini, jika ditotal, luas seluruh tanah yang dimiliki kiai Hasbullah ini sampai mencakup tiga kecamatan terdekat dengan Tambakberas. “Konon, tanah sawah dan pekarangan beliau ini membentang mulai Desa Sidomulyo, Megaluh, Tembelang dan seluruh Desa Tambakrejo sekarang, jadi bisa dibayangkan seperti apa ketika panen,” imbuh Gus Rofiq sapaan akrabnya.

Karena itu pria yang juga pengasuh Ribath Al Hadi PP Bahrul Ulum ini menyebut wajar jika perlahan masyarakat lebih akrab menyebut dusun yang sebelumnya bernama Gedhang Kulon ini sebagai Tambakberas, karena banyaknya beras yang mampu dihasilkan di wilayah ini dahulu.

Bahkan dirinya menyebut hingga saat ini, nama Tambakberas seringkali lebih populer dibandingkan nama Desa Tambakrejo sendiri. “Tentu mungkin kalau masyarakat dari luar kota akan lebih mengenal nama Tambakberas daripada Desa Tambakrejo. Terlebih ketika digandengkan dengan nama pondok pesantren,” pungkasnya. (Pewarta: ACHMAD RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Thu, 15 Nov 2018 20:41:44 +0700
<![CDATA[KH Hasbullah Said; Perintis Awal Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/15/103771/kh-hasbullah-said-perintis-awal-pesantren-bahrul-ulum-tambakberas https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/15/103771/kh-hasbullah-said-perintis-awal-pesantren-bahrul-ulum-tambakberas

JOMBANG – Rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat kisah hidup singkat salah satu ulama besar Jombang. Ulama yang juga berperan penting dalam]]>

JOMBANG – Rubrik Tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat kisah hidup singkat salah satu ulama besar Jombang. Ulama yang juga berperan penting dalam perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Ia adalah KH Hasbullah Said, salah satu pengasuh Pondok Tambakberas. Ditangannya, Bahrul Ulum yang dimasanya lebih dikenal sebagai pondok syariat mulai ditata. Bahkan bangunan monumental berupa masjid induk Tambakberas berdiri.  

KH Hasbullah adalah putra Kiai Said yang juga Cucu Kiai Abdussalam atau lebih dikenal sebagai Mbah Soichah yang merupakan pendiri pondok selawe, cikal bakal Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Ia menjadi salah satu tokoh penting pada perkembangan pertama pesantren ini.

Gedung KH Hasbullah Said di Pondok Pesantren Tambakberas (ACHMAD RW/ JAWA POS RADAR JOMBANG)

Karena setelah wafatnya dua kiai besar sebelumnya yakni Kiai Utsman dan Kiai Said sebagai pengasuh pondok Tarekat di timur sungai dan Syariat di barat sungai, dirinyalah yang memimpin pondok ini seluruhnya.

“Sebagian santri Kiai Ustman diboyong oleh menantunya, Kiai Asy’ari ke Desa Keras, yang akhirnya berkembang menjadi Pondok Pesantren Tebuireng sekarang. Sedangkan sebagian yang lain diboyong ke pesantren sebelah barat sungai dijadikan satu dibawah pimpinan Kiai Hasbullah,” dikutip dari buku sejarah pondok pesantren Bahrul Ulum.

Seperti kebanyakan ulama kuno, Kiai Hasbullah adalah ulama yang tekun melakukan aktifitas keagamaan khusus atau biasa disebut tirakat. Bahkan karena kebiasaannya ini, beberapa benda berhasil dijadikannya benda bertuah tentu saja atas izin Allah.

Selain itu, dirinya juga dikenal sebagai salah satu kiai yang punya harta cukup berlimpah. Namun dengan hartanya tersebut dirinya juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan kepada warga di sekitarnya.

“Setiap musim panen tiba, sawahnya menghasilkan berton-ton beras yang ditimbun di gudang pondok untuk keperluan makan keluarga, tamu, santri dan masyarakat sekitar,” dikutip dari tulisan Gus HM Syifa Malik di buku Tambakberas menelisik Sejarah Memetik Uswah.

Tak ada data yang cukup jelas menerangkan kelahirannya, namun Kiai Hasbullah disebut wafat di tahun 1926 bertepatan dengan kongres Al Islam kelima di Bandung (dikutip dari buku Pertumbuhan dan perkembangan NU karya Drs. Chorul Anam) dan dimakamkan di kompleks pemakaman Pahlawan Nasional KH Wahab Hasbullah.

Bahkan, namanya kini diabadikan sebagai nama gedung serba guna milik Pondok Pesantren Bahrul Ulum guna mengingat jasa-jasanya. Kiai Hasbullah juga tercatat menikah dengan Nyai Lathifah, keduanya mempunyai keturunan yang sama dari Prabu Brawijaya V, namun melalui garis keturunan yang berbeda.

Dari keduanya, lahir salah satu ulama besar yang juga salah satu pendiri NU yakni KH. Wahab Hasbullah dan 7 orang putra putri lainnya yakni Abdul Hamid, Khodijah, Abdul Rohim, Fatimah, Sholihah, Zuhriyah dan Aminaturrohiyah yang kini secara turun temurun mengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. (Pewarta: ACHMAD RW)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Thu, 15 Nov 2018 20:20:53 +0700
<![CDATA[Kiai Asy’ari; Kiai-Nyai Ahli Tarekat]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/12/103267/kiai-asyari-kiai-nyai-ahli-tarekat https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/12/103267/kiai-asyari-kiai-nyai-ahli-tarekat

SEBAGAI pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Keras, Kiai Asy’ari dikenal warga sebagai pribadi yang sangat sederhana dan tak neko-neko. Pendidikan kepada]]>

SEBAGAI pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Keras, Kiai Asy’ari dikenal warga sebagai pribadi yang sangat sederhana dan tak neko-neko. Pendidikan kepada seluruh santri yang tidak banyak juga dilakukannya sendiri. Dengan tanggung jawabnya yang mungkin jarang dilakukan kiai besar.

“Beliau itu punya kebiasaan untuk menimba kamar mandi yang akan dibuat wudlu santrinya ketika subuh, setelah itu baru membangunkan santri,” cerita KH. Ahmad Labib kembali.

Hal ini tentu menjadi kebiasaan yang bisa dikatakan aneh. Dimana seorang kiai, di pesantrennya adalah guru besar, dan biasanya akan diperlakukan secara istimewa oleh santrinya. “Buat beliau itu rasa tanggung jawabnya kepada santri, supaya mereka benar-benar jadi orang,” lanjutnya.

Contoh lain nan sederhana lain dibuktikannya dengan pembuatan kolam air untuk wudlu santri. Kolam ini seperti dibuat sengaja berbentuk segi delapan dan tak berbentuk kotak atau bundar, seperti kebanyakan lainnya yang hingga kini masih bisa dilihat di sebelah selatan masjid Keras. Satu lagi, sebuah pijakan juga terlihat dibangun di sisi utara tempat berwudlu ini yang kini sudah tidak lagi karena renovasi.

“Kolamnya memang sudah diubah, tapi bentuknya tetap, hanya ditambah ubin saja,” sambungnya. Dari penampakannya, pijakan itu sengaja dibuat untuk Mbah Asy’ari duduk atau berdiri dan dari situ semua kolam akan kelihatan sehingga bisa mengawasi cara santrinya wudlu. “Mbah Asy’ari memang mengajarkan semua langsung dari dasar, dan kenapa segi delapan, karena itu jumlah santrinya dulu. Itulah keuntungannya mengambil santri yang tidak banyak, semua pembelajaran bisa dilakukan sangat mendasar dan mengena,” imbuhnya.

Tak saja sang kiai, upaya untuk tirakat juga dilakukan istrinya Nyai Halimah. Bahkan untuk ini, nyai Halimah tetap menjaga barakah santrinya dilakukannya dengan cara berpuasa selama tiga tahun berturut-turut. “Tahun pertama untuk membersihkan dirinya, tahun kedua untuk keluarga dan dhuriahnya, dan tahun ketiga ini untuk santrinya. Ini bukti kecintaan Nyai Halimah kepada santrinya,” tegasnya lagi.

Bahkan menurut salah seorang anggota keluarga lain, diyakini hingga kini Pondok Pesantren Keras memang tak pernah bisa menampung banyak santri karena doa yang dipanjatkan Kiai Asy’ari. Hingga kini setidaknya masih ada 11 santri yang mondok di pesantren ini. Masih ada sampai sekarang santrinya, tapi ya itu sejak awal santrinya memang tidak banyak. Doa mbah itu untuk menjadi orang bermanfaat walaupun tidak banyak.

“Yang jelas nyari yang mau tekun sekali disini, tapi ya memang jadi betul. Buat mbah, yang penting itu kualitasnya bukan kuantitasnya,” ucap H. Abdul Ghorib, adik KH. Ahmad Labib. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 12 Nov 2018 19:51:32 +0700
<![CDATA[Kiai Asy’ari; Bapak Kiai-Kiai Besar Jombang]]> https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/12/103266/kiai-asyari-bapak-kiai-kiai-besar-jombang https://radarjombang.jawapos.com/read/2018/11/12/103266/kiai-asyari-bapak-kiai-kiai-besar-jombang

RUBRIK Tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat kisah singkat hidup seorang kiai sederhana dan mungkin tak banyak dikenal masyarakat, khususnya luar]]>

RUBRIK Tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat kisah singkat hidup seorang kiai sederhana dan mungkin tak banyak dikenal masyarakat, khususnya luar Jombang. Tapi dari garis keturunannya kiai besar lahir, sebut saja KH. Hasyim Asy’ari yang berlanjut kepada KH. Wahid Hasyim hingga KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Ia adalah Kiai Asy’ari, ayahanda dari KH. Hasyim Asy’ari pendiri Pondok pesantren Tebuireng. Lahir di Salatiga Jawa Tengah, Kyai asy’ari adalah putra dari Abdul Wahid bin Abdul Halim, seorang seorang komandan pasukan Diponegoro yang menggunakan nama “Pangeran Gareng”, di bawah Panglima Sentot Alibasyah Prawirodirdjo. Nasab Kiai Asy’ari merujuk hingga ke Pangeran Benowo bin Jaka Tingkir alias Sultan Pajang. 

“Banyak yang menyebut Kiai Asy’ari lahir di Demak, namun yang benar adalah di Salatiga,” jelas cicit Kiai Asy’ari KH Ahmad Labib Basuni. Sejak muda Kiai Asy’ari nyantri di Pesantren Gedang, dekat Tambakberas, Jombang dan berguru pada Kiai Usman, Menantu Kiai Abdussalam (Mbah Soichah).

Bergurunya kepada Kiai Usman yang merupakan salah satu kiai yang dikenal lekat dengan cara hidup sufi dan ahli tarekat berujung pada pernikahan dirinya dengan putri Kiai Usman yang bernama Halimah. “Dari pernikahan tersebut juga lahir Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, pada awalnya memang Mbah Asy’ari ini masih tinggal di Gedang sebelum pindah ke Keras,” lanjut Kiai Labib, sapaan akrabnya.

Demi melanjutkan perjuangannya menyebarkan Islam, dirinya mulai berpindah tempat tinggal hingga menemukan tempat di Desa Keras, salah satu Desa di Kecamatan Diwek. Di sini, Kyai Asy’ari memulai kiprahnya sebagai pendiri sekaligus guru di Pondok Pesantren Keras. Sebuah pesantren kecil dengan tak banyak santri, namun pendidikan dilakukan secara terfokus dan mendalam. Sebelum akhirnya digantikan putra keduanya KH. Ahmad Sholeh dan terus menerus hingga cicitnya saat ini.

“Waktu itu semua pendidikan ya diajarkan langsung sama mbah As’yari, santri memang tidak banyak, hanya sekitar 8 orang saja namun benar-benar kramut,” lanjut cicit Kyai Asy’ari yang kini mengasuh pondok pesantren Keras ini.

Hingga wafat, dari perkawinannya dengan Nyai Halimah, Kiai Asy’ari dikaruniai 11 orang putra putri. Diantaranya Nafiah, Ahmad Sholeh, Muhammad Hasyim, Rodliah, Hasan, Anis, Fathonah, Maimunah, Ma’shum, Nahrowi dan Adnan. Kiai Asy’ari dimakamkan di makam umum Desa Keras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. (*)

]]>
Mardiansyah Triraharjo Mon, 12 Nov 2018 19:47:57 +0700