alexametrics
Minggu, 17 Oct 2021
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Binrohtal 1.264: Intan Bernama Muhammad

14 Oktober 2021, 09: 05: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Pengasuh Pesantren Falahul Muhibbin, Watugaluh, Diwek, KH Nurhadi (Mbah Bolong)

Pengasuh Pesantren Falahul Muhibbin, Watugaluh, Diwek, KH Nurhadi (Mbah Bolong)

Share this      

Saat ngaji usai salat Duhur di Polres Jombang, Rabu (13/10), Pengasuh Pesantren Falahul Muhibbin, Watugaluh, Diwek, KH Nurhadi (Mbah Bolong) menjelaskan keistimewaan Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. ’’Nabi itu ibarat intan, belum lahir saja sudah dimuliakan oleh Allah subhanahu wa taala,’’ tuturnya.

Ketika malaikat Jibril baru diciptakan, dia sudah melihat kalimat la ilaha illallah Muhammad Rasulullah. ’’Jadi Nabi Muhammad belum lahir, sudah dipromosikan oleh Allah SWT,’’ tegasnya.

Zaman Nabi Musa ada orang tukang maksiat. Semua kejelekan ada padanya. Sampai-sampai tatkala dia mati, masyarakat enggan memakamkannya. Jenazahnya dibuang di tempat kotoran. Nabi Musa lantas diperintah oleh Allah agar memakamkannya secara layak. Nabi Musa pun tanya, apa alasannya? Allah menjelaskan, orang itu pernah membuka Taurot. Ketika mendapati nama Muhammad di Taurot, orang itu membaca salawat. Nah, karena pernah membaca salawat itulah Allah memuliakannya.

Baca juga: Lemparan Meningkat Pesat

’’Di akhirat nanti, Rasulullah juga sangat membela kita,’’ tegas Mbah Bolong. Ada satu orang dibawa malaikat hendak dimasukkan neraka. Nabi Adam lantas minta agar Nabi Muhammad menolong orang tadi. Nabi Muhammad lantas menghentikan langkah malaikat. Namun malaikat menjawab tidak mau, karena dia tidak mungkin melanggar perintah Allah. Lalu terdengar suara agar malaikat menuruti kemauan Nabi Muhammad.

Nabi minta amal orang itu ditimbang ulang. Di timbangan amal, keburukannya memang unggul. Nabi lantas mengeluarkan secarik kertas. Begitu kertas itu ditaruh, timbangan langsung berbalik. Ganti amal baiknya yang unggul. Orang itu pun penasaran, apa isi secarik kertas itu. Setelah dibuka, isinya adalah salawat yang pernah dia baca di dunia.

’’Walaupun belum diangkat menjadi nabi, semua makhluk sudah memuliakan Muhammad,’’ jelas Mbah Bolong. Ketika Muhammad remaja ikut rombongan dagang, awan dan pohon selalu menaungi langkahnya sehingga tidak kepanasan. Batu dan hewan liar mendekat menyampaikan salam dan bersaksi atas kerasulannya.

’’Kita harus banyak membaca salawat agar kecipratan kemuliaan Rasulullah,’’ ajak Mbah Bolong. Kita juga harus menjaga intan yang diberikan Allah. ’’Intan dalam diri kita ada empat,’’ katanya.

Pertama akal, namun bisa rusak karena marah. Karena itu kita tak boleh gampang marah. Kedua agama, ini bisa rusak karena iri dengki. Makanya kita tak boleh iri dengki. Ketiga isin alias malu berbuat maksiat. Ini bisa rusak karena tomak alias rakus dan serakah. Maka kita tak boleh rakus dan serakah. Keempat amal saleh. Ini bisa rusak oleh rasan-rasan alias menggunjing. ’’Orang itu kalau sibuk, pasti tidak sempat rasan-rasan,’’ ujar Mbah Bolong. Hati dan lisan harus terus disibukkan dengan zikir dan salawat.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP