alexametrics
Minggu, 17 Oct 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Ida Qoryati, Guru yang Mengalami Buta Pasca Operasi

Dorong Anggota Menggapai Mimpi

13 Oktober 2021, 09: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

TEGAR: Ida Qoryati saat mengajar siswa tunanetra di SLB Negeri Jombang, kemarin.

TEGAR: Ida Qoryati saat mengajar siswa tunanetra di SLB Negeri Jombang, kemarin.

Share this      

Habis terang berganti gelap, bukan berarti tamat. Justru di situlah ajang menebar manfaat. Sebagaimana ditunjukkan Ida Qoryati Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jombang. Seperti apa?

ROJIFUL MAMDUH, Jombang

WANITA paro baya terlihat fokus di depan laptop. Di depannya, ada tiga siswa yang juga sibuk mengotak-atik laptop masing-masing. ’’Ini tidak bisa, bu!’’ ucap salah satu siswa. ’’Dicoba lagi, pasti bisa!’’ sahut si wanita yang memiliki nama lengkap Ida Qoryati ini.

Baca juga: Proyek Kecamatan Sumobito Jombang Terancam Molor

Alumnus S1 Pendidikan Akutansi IKIP Malang (Universitas Malang) itu kemarin mengajar di kelas tunanetra Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Jombang. Satu siswanya kelas 2 SMP LB. Dua sisanya kelas 1 dan kelas 2 SMA LB.

’’Pembelajaran untuk tunanetra sekarang lebih mudah karena ada laptop bersuara,’’ ucap wanita kelahiran 15 Oktober 1967 yang sehari-hari tinggai di Desa Tunggorono, Kecamatan/Kabupaten Jombang ini. Setiap tombol yang disentuh mengeluarkan suara. Misalnya menekan tombol A, maka keluar bunyi A. Menekan tombol enter, keluar kata enter. Semua yang disentuh kursor juga langsung keluar bunyinya. Misal kursor menunjuk tulisan dokumen, maka keluar bunyi dokumen.

Dengan laptop bersuara itu, kini banyak anak tunanetra yang bisa mengenyam perguruan tinggi. Mereka bisa mempelajari materi kuliah dalam bentuk file yang bisa dibuka di laptop bersuara. ’’Kesempatan kuliah bagi mereka juga sangat terbuka, dengan adanya fasilitas tes masuk perguruan tinggi negeri dengan komputer bersuara,’’ bebernya.

Beasiswa khusus mahasiswa tunanetra juga ada. Saat ini, sudah ada tiga mahasiswa tunanetra Jombang yang kuliah di Unesa Surabaya. ’’Mereka sering bikin status; Menggapai mimpi yang sempat tertunda,’’ ucap Ketua Pertuni Jombang ini lantas tersenyum.

Dia selalu memotivasi siswa agar meneruskan kuliah. Apalagi sekarang ini para orang tua sangat mendukung. Mereka mau membelikan laptop agar anaknya lebih mudah belajar. ’’Dengan kuliah, tunanetra bisa lebih mudah dapat kerja,’’ ujar istri M Farid Wajdi ini.

Ida sangat total mengabdi untuk para tunanetra. Ini karena dia merasakan betul nasib sebagai tunanetra. ’’Awal saya kehilangan penglihatan ya sempat berat menerima,’’ kenangnya.

Lulus kuliah 1993, dia langsung mengajar sebagai guru akutansi di SMAM 1 Jombang. Pada 2001, dia sempat merasakan cekot-cekot di atas telinga kanan. ’’Beberapa kali muncul keluhan, saya belikan obat langsung reda,’’ terang ibu dua anak ini.

Sampai suatu ketika, keluhannya terus muncul hingga seminggu. ’’Tidak kuat saking sakitnya, saya pingsan,’’ kenangnya. Dia lantas dibawa ke RSUD Jombang. Lalu dirujuk ke RS di Surabaya. Di sana, dia menjalani operasi. ’’Katanya ada tumor,’’ ungkapnya. Pasca operasi, kedua matanya tak dapat melihat sama sekali.

’’Sebenarnya oleh dokter diminta operasi kedua, namun saya terlanjur takut,’’ bebernya. Dia lantas ke terapis di Salatiga. Setelah setahun terapi, mata kanannya tetap tidak dapat melihat. Namun mata kirinya bisa melihat cahaya. ’’Kalau ada orang, kelihatan blegernya saja, tidak terlihat wajahnya,’’ urainya.

Dia baru benar-benar bangkit setelah bergabung dengan persatuan tunanetra Indonesia (Pertuni) Jombang 2008 lalu. ’’Ada orang-orang yang senasib, jadinya semangat,’’ terangnya. Disitu, dia juga belajar ketrampilan laptop dengan aplikasi suara. Sehingga akhirnya bisa kembali mengajar. Pada 2015 dia pindah mengajar ke SLB Muhammadiyah Jombang. Lalu 2019 pindah ke SLB Negeri.

’’Saya menjadi ketua Pertuni Jombang sejak 2018,’’ tuturnya. Dia sendiri banyak membuat program untuk kemandirian tunanetra. Tiap pekan ada latihan musik, banjari, laptop dan HP dengan aplikasi suara. Sehingga walaupun dunia mereka gelap, namun tidak terasing karena bisa berselancar di dunia maya.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP