alexametrics
Minggu, 17 Oct 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Heny Sulistyowati: Dosen Adalah Aktor dan Aktris

13 Oktober 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Dr Heny Sulistyowati M Hum, Wakil Ketua 1 Bidang Akademik STKIP PGRI Jombang

Dr Heny Sulistyowati M Hum, Wakil Ketua 1 Bidang Akademik STKIP PGRI Jombang

Share this      

SEMENTARA itu, wanita tak lepas dari kesan cantik. Utamanya dosen yang tugasnya mengajar. Heny mengibaratkan, dosen adalah aktor atau aktris yang panggungnya adalah ruang kelas.

”Tidak hanya cantik lahirnya saja, tapi semua harus tampil cantik,” ungkapnya.

Semua mahasiswa STKIP adalah calon guru. Sehingga dosen yang menjadi percontohan pertama, mulai dari cara jalan, cara duduk, tutur kata, perilaku, cara mengajar hingga penampilan harus patut untuk dijadikan contoh. ”Karena mahasiswa harus bisa praktik mengajar dalam kelas dan di luar kelas. Dosen adalah modeling, harus  bisa memodelkan bagaimana gaya dosen saat memberikan contoh mahasiswanya,” jelasnya.

Baca juga: Komisi C DPRD Jombang Panggil Dinas PUPR

Bagi Heny, salah satu penunjang penampilannya ialah aksesoris. Yang sering ia pakai ialah kalung besar di luar baju, gelang, dan cincin.

Seperti yang dipakai kemarin, baju batik yang anggun ditambah dengan kalung besar yang warnanya matching dengan batiknya. Ia juga mengenakan gelang kristal di lengan sisi kanan. ”Karena dosen adalah guru, artinya digugu dan ditiru,” lanjutnya.

Yang paling wajib adalah cincin. Bagi Dr Heny, cincin membuat wanita tak tampil polos. ”Cincin itu wajib, agar wanita tak polos,” jelasnya.

Untuk menyempurnakan penampilannya, ia juga mengenakan ikat pinggang untuk aksesoris bajunya. Agar tetap tampil modis, dosen tak hanya berpakaian batik atau kemeja formal, ia juga biasanya memadukan pakaian dengan blazer, sehingga tetap formal dan modis.

Heny adalah wanita idaman. Bagaimana tidak, selain sukses meniti karir di bidang pendidikan, ia juga sukses membuat anaknya rindu masakan rumah. Karena untuk urusan dapur, Heny adalah koki terhandal di rumahnya.

Ia suka semua masakan jawa termasuk yang bening-bening. Seperti sayur asem, sayur kunci, sayur sop. ”Semua masakan jawa kecuali yang bersantan, saya tidak suka masakan bersantan,” katanya,

Menu wajib yang ada di meja makan ialah sambel. Menurutnya, masakan tanpa sambel kurang lengkap. Mulai dari sambel klotok, sambel teri, sambel terasi, sambel kecap, sambel pencit, hingga pecel. ”Wajib sayur dan sambel. Saya sejak sebelum Subuh sudah ada di dapur. Kebetulan juga rumah saya dekat dengan pasar,” kata wanita kelahiran Jombang 15 Februari 1965 ini.

Sedangkan untuk buah, ia jarang beli. Karena di belakang rumahnya ia juga memiliki banyak pohon buah. Di antaranya mangga, jambu drosono, kelengkeng dan jeruk. ”Kalau untuk pisang beli, karena di rumah banyak ayam jadi tidak mungkin nanam pisang,” katanya.

Ia juga memiliki banyak koleksi bunga di depan rumah. Menurutnya merawat tanaman menjadi bagian dari penghibur di tengah kesibukannya mengajar di kampus.

Tak lupa ia juga menjaga kesehatannya dengan rutin gowes setiap hari sabtu dan minggu. Gowes dilakukan sejak ia menikah. Tidak karena musim gowes yang sedang marak akhir-akhir ini. ”Saya selalu gowes dengan suami dan anak, bawa tiga sepeda, tapi karena anak saya sekarang jauh, jadi gowesnya cuma berdua,” jelasnya.

Untuk menjaga kesehatan di tengah pandemi, Heny rutin menyeduh jamu sendiri, dengan bahan serai dan jahe merah. Selain itu, ia juga minum jeruk lemon yang diseduh dengan air panas ditambah dengan madu. ”Itu rasanya di badan sangat segar, stamina terjaga, bugar, apalagi sekarang sudah masuk usia 56-57 tahun,” pungkasnya.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP