alexametrics
Minggu, 17 Oct 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Insentif Petugas Isoter Megaluh Jombang Diduga Disunat

11 Oktober 2021, 09: 05: 59 WIB | editor : M. Nasikhuddin

SEPI: Kondisi Isoter Kecamatan Megaluh tutup. Tidak ada aktivitas pasien ataupun petugas di lokasi.

SEPI: Kondisi Isoter Kecamatan Megaluh tutup. Tidak ada aktivitas pasien ataupun petugas di lokasi.

Share this      

JOMBANG – Pengelolaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk kegiatan Isolasi terpusat pasien Covid-19 di Kecamatan Megaluh diduga tidak transparan. Salah satunya terkait realisasi pembayaran insentif yang diterima sejumlah petugas jaga selama bertugas di isoter.

Salah satu petugas jaga isoter menerangkan, salah satu kejanggalan pengelolaan anggaran BTT dari realisasi penerimaan insentif petugas jaga. ”Yang saya tahu, di RAB itu kan ada insentif untuk setiap petugas jaga. Besarnya Rp 100 ribu per-sif, tapi itu tidak diberikan seluruhnya,” ungkap salah satu petugas jaga yang meminta namanya dirahasiakan kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.

Dari data yang ia ketahui, tidak hanya dirinya, beberapa petugas jaga lainnya juga mempertanyakan besaran insentif yang diberikan ke petugas. ”Mereka hanya diberikan insentif dengan besaran Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu setelah dua bulan menjaga. Padahal sudah lebih dari 10 kali sif, cuma diberi Rp 150 ribu,” lontarnya.

Baca juga: Petani Jagung di Jombang Keluhkan Serangan Hama Tikus

Ia pun membandingkannya dengan pemberian insentif kepada petugas jaga di kecamatan lain yang besarannya disebut normal. ”Di kecamatan lain petugas jaga dapat Rp 100 ribu per sif, bahkan ada uang makan juga Rp 25 ribu,” imbuhnya.

Sumber lain yang juga sempat berjaga di isoter Megaluh juga mengeluhkan hal serupa. Selama isoter dibuka hingga kini mulai tak aktif kembali, ia mengaku hanya pernah diberikan insentif sekali saja. ”Itupun besarannya cuma Rp 100 ribu,” lontarnya.

Sumber menjelaskan, selama isoter masih berfungsi hingga September kemarin, masing-masing petugas dari perwakilan desa-desa menjalankan piket jaga setiap harinya. Setiap desa, biasanya mendapat giliran setiap empat hari sekali. ”Satu hari biasanya tiga kali sif pokoknya. Jadi empat hari sekali tugasnya. Lha ini sudah berapa bulan juga insentifnya cuma sekali itu saja diberikan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, selama isoter berjalan, setiap desa masih dibebani uang untuk pengadaan konsumsi petugas jaga. ”Yang saya tahu dan alami sendiri, biasanya desa tetap harus menyiapkan Rp 100 ribu setiap kali mereka piket, untuk membeli konsumsi itu,” pungkasnya.

Sayangnya, hingga berita ini ditulis, Camat Megaluh Eka Yulianto belum bisa memberikan tanggapan soal kebenaran informasi ini. Panggilan telepon ke nomor selulernya belum dijawab. Termasuk konfirmasi melalui pesan singkat ke nomor WhatsApp juga tak dibalas meskipun sudah terlihat dibaca.

Terpisah, ketua BKAD (Badan Koordinasi Antardesa) Kecamatan Megaluh Bambang Suirman mengaku masih belum menerima informasi terkait keluhan petugas pemberian insentif kegiatan di isolasi terpusat (isoter) Kecamatan Megaluh. ”Di Kecamatan Megaluh tidak ada keluhan terkait itu. Tidak ada yang komplain mengenai masalah ini,” ujar Bambang Suirman Ketua BKAD Megaluh. Bambang menambahkan, untuk anggaran makan minum pejaga, kebutuhan seperti obat-obatan dan vitamin masuk pada BTT (Belanja Tak Terduga). ”Itu menggunakan anggaran BTT,” tegasnya.

Dirinya menambahkan, yang menjaga isoter melibatkan banyak pihak, mulai dari BPD, bidan desa, pihak koramil dan polsek. ”Jadi banyak penjaga yang ada di isoter,” terangnya.

Ia mengungkapkan, untuk anggaran dari desa menggunakan dana desa (DD). Masing-masing desa di Kecamatan Megaluh menganggarkan Rp 3 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk perlengkapan seperti bantal, selimut, televisi. ”Anggaran dari DD hanya satu bulan saja. Pada bulan Juli saja,” tegasnya.

Untuk anggaran DD digunakaan yang tidak tercover anggaran BTT. ”Sehingga seperti, mamin dan insentif penjaga masuk pada anggaran BTT. Jadi desa hanya Rp 3 juta itu saja. Tidak ada tambahan lain. Semuanya sudah dari BTT,” pungkasnya.

Besaran Insentif Sudah Ditetapkan SK Bupati

DIKONFIRMASI terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang Abdul Wahab menyebut, terkait pemberian insentif petugas jaga maupun petugas pamantau isoman sudah diatur dalam SK Bupati Jombang Nomor 188.4.45./198/4.15.10.1.3/2020. Besarannya Rp 100 ribu tiap orang per hari.

”Jadi pembayarannya nominalnya setiap orang setiap sif. Artinya, dalam sehari satu orang Rp 100 ribu, berapapapun jam jaganya,” terang Abdul Wahab kepada Jawa Pos Radar Jombang, Jumat (8/10).

Lebih lanjut Wahab menerangkan, anggaran kebutuhan isoter di masing-masing kecamatan memiliki dua sumber pendanaan. Yakni dari dana desa (DD) yang dikumpukan pada masing-masing BKAD. Serta dari anggaran belanja tidak terduga (BTT) yang sumbernya dari APBD. ”Untuk yang dari BTT APBD kami di BPBD yang menyalurkan,” ungkapnya.

Dijelaskan, dana BTT yang dialokasikan untuk rumah sehat atau isoter baru diberikan Agustus saja. Alokasi penggunaan BTT juga disebut hanya bisa dipakai untuk insentif petugas dan makan minum petugas isoter saja. ”Yang jelas kalau BTT yang dari BPBD ke kecamatan itu hanya untuk bulan Agustus saja. Juli itu tidak, September dan Oktober juga belum,” imbuh Wahab.

Dari data yang dimilikinya, total BTT yang sudah ditransfer BPBD ke masing-masing kecamatan senilai total Rp 2.356.326.000. Pihaknya juga merinci, 20 kecamatan mendapatkan besaran BTT sama, yakni Rp 104.152.000. Sedangkan khusus untuk Kecamatan Jombang mendapat alokasi sebesar Rp 273.286.000. ”Karena kebutuhannya isoter di Kecamatan Jombang berbeda, ada kelurahan juga yang tidak punya DD untuk alokasi ke BKAD,” lontarnya.

Sedangkan untuk penyerapan BTT, pihaknya juga menyebut kegunaannya memang sangat terbatas. Karena kebutuhan makanan pasien ditanggung Dinas Kesehatan Jombang. Begitupun fasilitas penunjang isoter yang sudah dianggarkan dari BKAD. Sehingga BTT, menurutnya harusnya diserap untuk pemberian insentif. Di antaranya insnetif petugas jaga, petugas ambulans, petugas kebersihan dan petugas pemantauan isoman.

Selain itu BTT juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan minum (mamin) petugas jaga, petugas pemantauan isoman serta BBM untuk petugas pemantauan isoman. ”Karena untuk biaya itu tidak teranggarkan dari sumber lain, kan tidak bisa double accounting ini,” lontarnya.

(jo/riz/yan/fid/naz/JPR)

 TOP