alexametrics
Minggu, 17 Oct 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Mujiono Dedengkot Peternak Bebek asal Jombang

Dua Kali Kena Dampak Virus, Harus Punya Kasih

06 Oktober 2021, 09: 50: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

TAHAN BANTING: Mujiono dengan telaten mengembangkan ternak bebek berpuluh tahun.

TAHAN BANTING: Mujiono dengan telaten mengembangkan ternak bebek berpuluh tahun.

Share this      

Dua kali terkena tamparan keras akibat dampak virus, tak membuat semangat Mujiono peternak bebek asal Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang ini surut. Justru dari situ dia bisa bertahan dan berkembang.

AINUL HAFIDZ, Jombang

DARI balik kandang bambu alunan suara bebek saling sahut terdengar jelas. Sesekali suara khas itu kemudian hilang. Berubah menjadi suara manusia. ”Ayo makan,” kata Mujiono.

Baca juga: Avanza Terbalik di Jalan Nasional

Tak berselang lama, suara ”wek-wek-wek” kembali terdengar. Saking berisiknya, sahut-sahutan itu seakan menjadi grup paduan suara. Mujiono yang menjadi pemimpin atau dirijennya.

Pintu kandang kemudian terbuka. Lelaki mengenakan kaos kerah, bercelana pendek keluar dari balik pintu. Tangannya masih belepotan. Sisa makanan bebek menempel hampir di setiap jari jemarinya. ”Ayo langsung ke kandang penetasan,” tutur lelaki berkumis tipis ini sembari membuka kran lalu membersihkan tangannya.

Ya, keseharian Mujiono tak luput dari bebek. Mulai pagi sampai malam dia tak bisa dipisahkan. Maklum, lelaki asal Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang ini menjadi salah satu peternak bebek.

Bahkan saking lamanya, Mujiono menjadi dedengkot peternak bebek di Jombang. ”Sejak 1991 saya sudah mulai ngingu bebek. Tapi, masih bebek lokal, hanya diambil telurnya,” imbuh Mujiono.

Sembari berjalan dia bercerita, kala itu dia punya pikiran bebek tak sekadar digembala. Namun, juga bisa diternak. Hampir sama dengan ayam. ”Akhirnya saya coba menetaskan sendiri, pakai kardus. Kok hasilnya bagus, saya lanjut. Kemudian buat kandang lagi,” tutur bapak satu anak ini.

Mujiono lantas mengajak ke kandang penetasan miliknya. Lokasinya persis berada di samping rumahya. Dia menceritakan, kala itu bebek pedaging masih jarang. Lebih banyak diambil telurnya. ”Warung-warung yang jualan nasi bebek kan waktu itu masih belum sebanyak ini,” ujar dia.

Di kandang penetasan itu ada belasan box difungsikan sebagai mesin penetas. Namun, box itu tak lagi kardus. Kini sudah lebih modern. Karena sudah ada mesin penghangatnya. Biasanya dari belasan box itu menetas ratusan anakan bebek. ”Ini masih belum ada yang netas. Soalnya baru kemarin,” tutur Mujiono.

Dikatakan, sepanjang beternak bebek hampir tiga kali terkena tamparan keras yang membuat dia harus jungkir balik. Berpikir bagaimana bisa tetap bertahan. ”Pertama waktu krisis moneter (krismon) 1997 itu susahnya minta ampun. Siapa yang nggak merasakan efeknya. Beberapa mitra bahkan tutup,” kata dia.

Karena mempunyai jiwa beternak, gempuran itu tak membuat dia patah arang. ”Saya terus melanjutkan. Sampai akhirnya pada 2000 situasi mulai agak normal,” kenang suami Sulistyowati ini.

Singkat cerita, Mujiono kemudian melebarkan sayap. Tak hanya beternak bebek lokal. Lalu menjual telurnya saja. Dia kemudian terus belajar bagaimana bebek juga bisa dikonsumsi. ”Pada 2008 saya coba bebek peking. Kerjasama dengan orang Banyuwangi, ketika itu dijual ke Bali,” tutur pria yang tak sempat menyelesaikan pendidikannya di Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang ini.

Indukan diperoleh. Mujiono kemudian mengubah cara pola lama. Upaya itu berhasil. Dia kemudian beralih beternak bebek peking. ”Jadi sejak saat itu saya sudah tidak ngingu bebek lokal lagi. Semuanya bebek peking atau pedaging,” tuturnya.

Ketelatenan itu membuahkan hasil. Selain menjual daging, dia juga menjual anakan bebek alias day old duck (DOD). ”Jadi mulai dari yang kecil. Sampai besar, dijual dagingnya. Telurnya juga sama. Bahkan sekarang saya juga mengolahnya,” ujar Mujiono.

Selain menjual anakan bebek maupun telur, Mujiono juga menjual bebek yang sudah diolah. Yakni bebek ukep. ”Tinggal goreng, lalu dikasih sambal. Bisa dimakan. Soalnya daging sudah ada bumbunya,” sambung dia.

Meski demikian, tamparan kedua kembali dirasakan. Yakni ketika terjadi serangan flu burung 2007 silam. Virus H5N1 itu turut serta dirasakan dampaknya. Dia yang kala itu bisa menjual hingga luar Jawa, akhirnya tak berlanjut. ”Sebelum ada flu burung saya kirim ke Sulawesi, Kalimantan bahkan kontrak dengan orang Papua. Tapi, tidak saya lanjutkan lagi,” ungkap Mujiono.

Hal itu dikarena ada aturan setiap unggas dikirim ke luar Jawa yang harus melalui uji laboratorium terlebih dahulu. Sehingga syarat ini dirasakannya memberatkan. ”Sebelum flu burung, aturan dari pemerintah itu hanya indukannya yang diuji. Ketika ada flu burung, anakan yang mau dikirim juga harus diuji laboratorium,” kata dia.

Karena biaya operasional yang membengkak, akhirnya dia memutuskan tak lagi menjual hingga ke luar Jawa. Bahkan, sampai sekarang tetap mengandalkan penjualan di tingkat regional. ”Sampai sekarang kan aturannya belum dicabut,” sambung Mujiono.

Meski demikian, kondisi itu tak menyurutkan semangatnya beternak bebek. Apapun yang terjadi dia tetap beternak. Hingga akhirnya tamparan keras kembali dirasakan saat terjadi pandemi Covid-19. ”Ini sudah ketiga kalinya. Karena PPKM kemarin, indukan yang di kandang saya kurangi. Biasanya sampai 1.000 ekor lebih. Sekarang hanya separo, kita ganti sekaligus peremajaan,” tutur dia.

Seakan sudah biasa dan kebal, Mujiono sampai sekarang masih tetap meneruskan perjuangannya beternak bebek. ”Intinya kalau beternak itu harus punya kasih sayang dengan binatang. Jadi, nggak hanya dikasih makan lalu dibiarkan. Tapi harus ada kasih sayang, Insya Allah akan ada timbal baliknya,” katanya.

Imam Sutrisno Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Jombang mengakui, bila Mujiono menjadi satu-satunya peternak bebek andalan di Jombang. ”Pak Mujiono ini embah-embahnya ternak bebek. Karena dia sudah puluhan tahun beternak,” ujarnya.

Tak tanggung-tanggung ketika ada tamu dari luar, kandang milik Mujiono yang selama ini dijadikan lokasi kunjungan. ”Jadi selain beternak, dia juga memberi pelatihan. Bahkan juga tergabung dalam pusat pelatihan pertanian dan pedesaan swadaya (P4S) Meri Rejeki,” pungkas Imam.

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP