alexametrics
Minggu, 17 Oct 2021
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Binrohtal 1.257: Kisah Cinta Zainab

06 Oktober 2021, 08: 05: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Pengasuh Pesantren Hidayatul Quran Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid

Pengasuh Pesantren Hidayatul Quran Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid

Share this      

Saat ngaji usai salat Duhur di Polres Jombang, Selasa (5/10), Pengasuh Pesantren Hidayatul Quran, Sentul, Tembelang, Ustad Yusuf Hidayat Alhafid, menjelaskan pentingnya tidak memaksa anak. Termasuk dalam hal perjodohan. ’’Sebelum menikahkan putrinya, Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wa sallam selalu minta izin yang bersangkutan,’’ tuturnya.

Abul Ash bin Al-Robi datang kepada Nabi Muhammad sebelum masa kenabian. Abul Ash berkata; Aku ingin melamar Zainab putri-mu yang paling dewasa.

Nabi Muhammad bersabda: ’’Aku tidak akan menerima lamaranmu, sebelum aku meminta kesediaannya.’’

Baca juga: Fathatur Rahmania Guru KB di Jombang: Belajar Membatik di Tisu

Nabi Muhammad kemudian menemui Zainab dan bersabda: ’’Putra bibimu (sepupumu) datang kepadaku, ia menyebut namamu. Apakah kamu bersedia untuk dijadikan sebagai istrinya?’’

Wajah Zainab memerah dan tersenyum, tanda ia menerima.

Nabi Muhammad kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Keduanya diberikan putra bernama Ali dan putri bernama Umamah.

Setelah beberapa waktu, terjadilah suatu permasalahan keluarga. Nabi Muhammad diangkat sebagai Nabi. Saat itu, Abul Ash sedang dalam bepergian. Ketika pulang, ia mendapatkan istrinya telah beriman.

Zainab berkata: ’’Ayahku telah diutus menjadi Rosul dan aku beriman kepadanya.’’

Abul Ash berkata: Mengapa engkau tidak mengabariku terlebih dulu? ’’Tidak aku mendustakan, Ayahku orang jujur dan dipercaya,’’ kata Zainad. Apalagi ibunya, Khodijah dan saudara-saudaranya serta paman dan bibinya juga telah beriman.

Abul Ash berkata: Sungguh aku tidak mau bila orang-orang berkata, aku mengkhianati kaumku, mengkufuri nenek moyangku karena mencari kerelaan istriku. Sungguh ayahmu bukanlah orang yang patut dicurigai. Apakah kamu tidak mau menerima alasanku?

Zainab berkata: Bila aku tidak menerima alasanmu, siapa lagi orang yang mau menerima alasanmu? Aku adalah istrimu. Aku akan berusaha menolongmu untuk jalan yang benar dengan semua kemampuanku.

Ucapan Zainab dibuktikan dengan kesabaran selama 20 tahun. Abul Ash masih terus dalam kekufurannya. Jlang hijrah ke Madinah, Zainab berkata kepada Nabi: Wahai Rasulullah, apakah engkau mengizinkan diriku tetap bersama suamiku di Makkah?

Rasulullah memberikan izin. Saat perang Badar, Abul Ash ikut kafir Quraisy.

Zainab berkata: Ya Allah, saya khawatir kalau anakku menjadi yatim. Aku pun khawatir kehilangan ayahku.

Setelah perang, Abul Ash menjadi tawanan. Zainab lantas menebus dengan kalung yang dulu diberikan Khodijah.

Saat melihat kalung Khodijah, Rasulullah bertanya: Ini tebusan untuk siapa?

Para sahabat menjawab: Untuk Abul Ash.

Rasulullah lantas menangis, kemudian bersabda: Ini adalah kalung Khodijah.

Rasululloh bersabda: Wahai sahabatku, orang ini (Abul Ash) tidaklah kami mencelanya selama ia sebagai menantuku. Apakah boleh saya melepaskan dirinya dari tawanan?

Rasulullah bersabda: Apakah kalian menerima jika kalung Khodijah ini dikembalikan kepada Zainab?

Para sahabat menjawab: Ya boleh, wahai Rasulullah.

Rasulullah memberikan kalung itu kepada Abul Ash dan bersabda: Katakanlah kepada Zainab: Janganlah kamu hilangkan kalung Khodijah ini.

Rasulullah lantas bicara berdua dengan Abul Ash. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk memisahkan wanita muslimah dari lelaki kafir. ’’Maukah dirimu mengembalikan Zainab kepadaku?’’ Abul Ash menjawab mau.

Tiba di Makkah, keduanya lantas berpisah. Zainab pindah ke Madinah dengan membawa putra dan putrinya.

Setelah beberapa tahun, Abu Ash masuk Islam. Keduanya kembali menjadi suami istri dan menetap di Madinah.

Setahun setelahnya, Zainab meninggal dunia. Abu Ash merasa sangat kehilangan.

Ini pelajaran, agar kita benar-benar mensyukuri saat-saat bersama pasangan. Karena perpisahan pasti terjadi. Dan itu akan kita sesali.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP