alexametrics
Minggu, 17 Oct 2021
radarjombang
Home > Wonderland Wonosalam
icon featured
Wonderland Wonosalam
Semerbak Aroma Petai Wonosalam Jombang

Banyak Diburu Wisatawan, Jadi Komoditas Unggulan

30 September 2021, 09: 50: 59 WIB | editor : M. Nasikhuddin

SEGAR: Sejumlah petani di Dusun Tukum, Desa/Kecamatan Wonosalam tengah memanen petani di kebun.

SEGAR: Sejumlah petani di Dusun Tukum, Desa/Kecamatan Wonosalam tengah memanen petani di kebun.

Share this      

WONOSALAM kaya akan komoditas holtikultura unggulan. Salah satunya petai Wonosalam. Komoditas ini memiliki ciri khas yang kuat pada baunya yang tajam. Buahnya berbentuk bilah pedang berwarna hijau. Panjangnya bisa mencapai 30 sentimeter. Tanaman ini banyak dicari. Biasanya petai dimasak untuk menu lalapan.

Berbeda dengan wilayah lainnya, petai Wonosalam dikenal memiliki kualitas jempolan. Lantaran kualitas lahan perkebunan Wonosalam yang subur. Karena daya tariknya itu, tidak sedikit petani Wonosalam melirik usaha budi daya petai. Setiap panen raya, petani bisa meraup hasil melimpah dari penjualan petai.

Wulyoadi, 49, salah satu petani petai di Dusun Tukum, Desa/Kecamatan Wonosalam menjelaskan, sejak dulu petai Wonosalam selalu menjadi primadona pecinta tumbuhan jenis kacang-kacangan bernama latin parkia speciosa itu. ”Karena di Wonosalam tanahnya kan masih subur. Sehingga menghasilkan pete yang kualitasnya bagus,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Baca juga: Polemik Patok Batas Jombang – Kediri Belum Tuntas

Petai Wonosalam memiliki keunggulan dengan biji yang lebih besar dan segar. Berada di ketinggian 500 – 600 mdpl, menjadikan berbagai macam tumbuhan termasuk petai tumbuh subur dan menghasilkan kualitas bagus. ”Memang kualitas pete Wonosalam lebih bagus dari daerah lain,” tambahnya.

Panen raya pete, biasanya dimulai September. Satu pohon petai biasanya dapat dipanen beberapa kali selama sebulan. Karena masa panen pohon petai satu dengan yang lain berbeda beda. ”Ya, biasanya saya bisa penen sampai tiga kali,” terangnya.

Harga petai sempat melambung Rp 50 ribu/dua ikat. Satu ikat biasanya terdiri dari 10 batang petai. ”Namun sekarang harga sudah normal Rp 25 ribu/ dua ikatnya,” jelas dia.

Di kebunnya sendiri, ada tiga pohon petai yang sudah berbuah. Sejak panen awal bulan lalu, Wulyoadi tak perlu repot-repot menjual hasil kebunnya. Ia cukup memajang hasil panen petainya di depan rumahnya. Maklum, Dusun Tukum menjadi derah jalur wisata. Sehingga, setiap hari banyak wisatawan yang datang ke Wonosalam untuk berlibur. ”Kalau panen banyak biasanya juga dijual di pasar Buah Wonosalam. Lokasinya tak jauh dari sini,” terangnya. Tidak semua hasil panen petai ia jual. Sebagian dia masak sendiri untuk menu lalapan. ”Buat lalapan dicampur sambal klotok enak sekali,” bebernya. Selain rasanya yang enak, kandungan petai juga baik untuk kesehatan. ”Memang banyak manfaatnya untuk kesehatan,” bebernya.

(jo/ang/naz/JPR)

 TOP