alexametrics
Minggu, 17 Oct 2021
radarjombang
Home > Wonderland Wonosalam
icon featured
Wonderland Wonosalam
Destinasi Wisata Religi Wonosalam Jombang

Makam Pangeran Benowo Tokoh Penyebar Agama Islam

23 September 2021, 09: 50: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

JUJUGAN PEZIARAH: Makam Pangeran Benowo di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam jadi jujugan peziarah.

JUJUGAN PEZIARAH: Makam Pangeran Benowo di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam jadi jujugan peziarah.

Share this      

KECAMATAN Wonosalam tak hanya dikenal dengan keindahan alam dan potensi unggulan. Di Dusun/Desa Wonomerto, ada makam Pangeran Benowo yang kerap jadi jujugan peziarah dari berbagai daerah.

Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung/peziarah dapat menempuh rute tercepat melalui Kecamatan Bareng. Kemudian menuju Desa Wonomerto dengan jarak tempuh sekitar 31 Km, atau sekitar 51 menit menggunakan kendaraan roda dua. Kompleks makam berada di wilayah perbukitan dengan hawa sejuk dan dingin.

Makam Pangeran Benowo terletak di belakang permukiman warga. Pusaranya berada di dalam sebuah bangunan yang di bagian luar terdapat puluhan makam kuno. Makam tersebut dipercaya para pengikut Pangeran Benowo, yang dulu menjaga dan ikut menyebarkan agama Islam di wilayah selatan. Selain itu,  di samping makam Pangeran Benowo, ada juga dua makam kedua istrinya. Yakni Dewi Sekar Arum dan Dewi Sekar Kedaton.

Baca juga: Aisyah Atlet Muaythai Andalan Jombang Belum Terkalahkan

Menurut Watono juru kunci makam, Pangeran Benowo meninggalkan Kerajaan Pajang Jawa Tengah sekitar 1590 Masehi. Ia memutuskan untuk tinggal di Wonosalam setelah ada konflik dengan saudaranya.

Cerita yang dihimpun koran ini, Pangeran Benowo merupakan putra dari Sultan Pajang Pertama yaitu Sultan Hadiwijaya atau yang dikenal Jaka Tingkir. Dari silsilah keturunan, Pangeran Benowo merupakan keturunan Prabu Brawijaya V atau Bhre Kertabumi dari istri Ratu Dwarawati Murdaningrum atau Putri Cempa.

”Pangeran Benowo ini babat alas untuk mendirikan permukiman, sekalian menyebarkan agama Islam. Karena waktu itu masyarakatnya masih primitif. Dalam artian belum mengenal Tuhan. Banyak yang menyembah pohon dan batu,” ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Dalam menyebarkan agama Islam, Pangeran Benowo menggunakan alat kesenian tradisional yang dinamakan Terbang Guntur Geni. Alat tersebut digunakan untuk melantunkan salawat dan doa-doa. "Dari situlah sedikit demi sedikit penduduk mulai memeluk Islam. Hingga saat ini, mayoritas warga Wonomerto beragam Islam,’’ tambahnya.

Bahkan sampai sekarang masyarakat selalu mengadakan salawatan dan doa rutinan, atau yang biasa disebut nyadran setiap Jumat Pahing dalam kalender Jawa. ”Ini sebagai bentuk melestarikan budaya dari penyebaran agama Islam oleh Pangeran Benowo,” pungkas Watono.

(jo/ang/jif/JPR)

 TOP