alexametrics
Minggu, 17 Oct 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget
Perajin Shuttlecock di Jombang

Harga Bulu Naik, Pesanan Shuttlecock Turun

11 September 2021, 09: 50: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Harga Bulu Naik, Pesanan Shuttlecock Turun

Share this      

PANDEMI berdampak besar bagi pelaku usaha alat olahraga. Perajin shuttlecock (kok) di Desa Pulorejo, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang misalnya, mengalami penurunan hingga 50 persen lebih. Padahal, harga bulu naik.

”Sangat berpengaruh karena pandemi banyak olahraga libur, terutama bulutangkis,” ucap Mada Jiwijaya Solikin salah seorang perajin shuttlecock. Sebelumnya, hasil usahanya ini melenggang hingga ke toko-toko sport terkemuka di Surabaya maupun Jakarta.

Namun, penjualan selama pandemi menurun drastis hingga 50 persen lebih. Jika biasanya ia sanggup menjual 3.000 slop dalam satu bulan, kini hanya terjual 1.000 hingga 1.500 slopa. ”Saya jualnya ke toko-toko sport, bukan mensuplai klub-klub,” ungkapnya.

Baca juga: Seragam Gratis Jombang Dianggarkan Tahun Depan

Di Jombang sendiri, Mada hanya menyuplai satu toko sport. ”Memang lebih banyak ke luar Jombang, tapi belum sampai luar negeri,” ucapnya. Untuk penjualan hasil karyanya, ia mematok harga beragam. Satu slop kok berisi 12 biji, harganya mulai Rp 15 ribu hingga Rp 70 ribu. Harga Rp 15 ribu itu khusus untuk anak-anak, dan harga Rp 70 ribu biasanya untuk kalangan profesional.

Saat penghasilannya berkurang lantaran omset penjualan turun tajam, ia justru dipusingkan dengan harga bulu yang naik tajam. Maklum, bulu-bulu sebagai bahan pokok kok tersebut didatangkan dari Taiwan. Untuk mempertahankan usahanya, ia terpaksa harus menaikkan harga jual. ”Naik cuma Rp 2 ribu per slop, biar pasarnya juga tidak kabur,” akunya.

Menurut Mada, usaha membuat shuttlecock dimulai sejak 2012 lalu. Kali pertama, dilakukan sang ayah Solikin setelah puluhan tahun jadi importir bulu dari banyak negara, untuk memenuhi pabrik shuttlecock. Ia sendiri juga atlet bulutangkis Jombang. Kemampuan bisnis itu kemudian dilanjutkannya sampai sekarang. ”Dulu aktif pebulutangkis, tapi sekarang tidak lagi, fokus usaha,” pungkas dia.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP