alexametrics
Jumat, 17 Sep 2021
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Masih Lidik, Berdalih Petunjuk Minim

Terkait 15 SD di Jombang yang Dibobol Maling

07 September 2021, 09: 50: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

AKP Teguh Setiawan Kasatreskrim Polres Jombang

AKP Teguh Setiawan Kasatreskrim Polres Jombang

Share this      

BERKALI-kali terjadi aksi pembobolan di sekolah, Polres Jombang ternyata hingga sekarang belum bisa mengungkap pelakunya. Mereka berdalih, saksi dan petunjuk di sekitar lokasi pencurian minim. “Masih kita selidiki, tim di lapangan juga terus melakukan pencarian. Namun, dari banyak TKP itu saksinya minim,” terang AKP Teguh Setiawan Kasatreskrim Polres Jombang.

Dari sejumlah TKP, ia menyebut pelakunya diduga orang yang sama. Hal ini bisa terlihat dari pola yang dilakukan pelaku dan modus pencuriannya juga hampir serupa. “Ada beberapa TKP pelakunya sama,” lanjutnya. Pola pencurian yang dilakukan rata-rata tak melibatkan banyak orang. Dari data yang dikantongi di beberapa TKP, pelaku kerap kali beraksi sendirian.

“Maksimal dua orang pelaku, atau seringkali sendirian, jadi memang sudah spesialis mereka ini,” ungkap dia. Para pencuri di sekolah ini juga terbiasa menggunakan kendaraan sederhana agar perbuatannya tak dicurigai warga sekitar sekolah. “Tidak ada mobil besar, di beberapa TKP malah membawa sepeda motor saja,” lontarnya.  

Baca juga: Dana Program Bantuan UPPO Kementan di Jombang Dikelola Penerima

SEMENTARA itu, Sekretaris Dinas P dan K Jombang Jumadi mengaku tak bisa melakukan pengangkatan tenaga honorer untuk penjaga malam. Alasannya, anggaran keuangan di sekolah tak mencukupi untuk membayar honor penjaga malam tersebut.

Ia menyampaikan, di jenjang SD, tidak ada yang bisa menjaga hingga 24 jam. Sejauh ini, yang ada hanya petugas kebersihan dan jam kerjanya mengikuti sekolah. Jumadi mengaku tak bisa lagi melakukan pengangkatan tenaga honorer penjaga malam karena keuangan sekolah tak mampu untuk memberikan gaji.

“Petugas kebersihan itu gajinya hanya Rp 250 ribu perbulan. Kita tidak bisa melakukan pengangkatan lagi karena kemampuan sekolah tidak bisa menggaji penjaga malam,” katanya.

Alasan lain, lanjut dia, tanggungan sekolah untuk membayar tenaga guru honorer juga cukup banyak. Mengingat sebagian besar tenaga pendidik yang ada di SD adalah tenaga honorer. ”Tenaga PNS di SD sangat sedikit, jadi lebih banyak digunakan untuk menggaji guru honorer,” katanya lagi.

Sehingga upaya yang dilakukannya hanya menginstruksikan agar semua SD memasang CCTV dengan pengaman tralis di semua ruangan. Termasuk di tempat-tempat penyimpanan dokumen penting. ”Sebagian SD sudah punya CCTV yang itu bisa dibeli dengan dana BOS. Seharusnya ada kepedulian dari lingkungan sekitar,” pungkas Jumadi.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP