alexametrics
Minggu, 17 Oct 2021
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Permohonan Aborsi Legal Anak SD Korban Pencabulan di Jombang Ditolak

12 Agustus 2021, 10: 00: 59 WIB | editor : M. Nasikhuddin

AKP Teguh Setiawan, Kasatreskrim Polres Jombang

AKP Teguh Setiawan, Kasatreskrim Polres Jombang

Share this      

JOMBANG – Upaya keluarga Melati, 12, (nama samaran) untuk bisa mendapatkan akses aborsi legal bagi anaknya yang jadi korban perkosaan pupus sudah. Polisi menyebut dari rapat bersama dengan instansi terkait, permohonan itu tak bisa diakomodir.

”Yang untuk aborsi legal, memang orang tua minta dilakukan aborsi, tapi kami sepakat untuk tidak menyetujui,” terang AKP Teguh Setiawan, Kasatreskrim Polres Jombang.

Teguh menyebut, keputusan itu merupakan keputusan bersama yang diambil saat rapat tim gabungan. Tim yang terdiri dari Unit PPA Polres Jombang, PTP2A dari DPPKBPPPA Jombang juga Dinas Sosial Jombang disebutnya sempat menggelar rapat dan hasilnya adalah penolakan permintaan keluarga itu.

Baca juga: Ayam Bansos di Sukorejo Jombang Keluarkan Bau Busuk

Kendati menolak permintaan keluarga, Teguh menyebut tim memberikan beberapa alternatif solusi kepada keluarga korban. Pertama, yakni dengan akan menanggung biaya selama kehamilan Melati. ”Begitupun jika nanti sudah lahir kalau memang ibunya tidak mau merawat, pemerintah akan menyediakan juga memfasilitasi perawatan bayinya,” lontarnya.

Pihaknya juga menyebut karena ditolaknya permohonan itu, pengawasan dan pendampingan juga masih akan dilakukan kepada korban hingga saatnya melahirkan nanti. ”Pengawasan tetap, kita tetap mempertimbangkan psikis korban juga pasti,” imbuhnya.

Disinggung soal penanganan kasus yang melibatkan Melati sebagai korban, Teguh menyebut hingga kemarin masih dalam proses pemberkasan. ”Sudah hampir siap berkasnya, minggu ini mungkin sudah akan kita lakukan tahap satu ke kejaksaan,” singkat Teguh (4/8).

Seperti diberitakan sebelumnya, nasib memprihatinkan dialami Melati, 12, (nama samaran). Diusianya yang masih belia, siswa sekolah dasar asal Kecamatan Mojowarno ini tengah hamil dua bulan lantaran menjadi korban pencabulan. Orang tuanya berharap pemerintah membantu proses aborsi legal terhadap janin yang dikandung Melati.

”Karena kan risiko tinggi sekali. Apalagi korban minta terus ke ibunya ingin sekolah. Sehingga permintaan orang tuanya agar anaknya bisa dibantu aborsi, tapi yang legal,” terang A, salah satu perwakilan keluarga yang juga perangkat desa tempat Melati tinggal kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.

Diusianya yang masih 12 tahun, kehamilan Melati pun memang belum tidak terlalu tampak. Meski begitu, belakangan korban sering mengeluhkan sakit serta gangguan psikologis. ”Kalau sekarang kan masih sekitar 2 bulan, mungkin belum terlalu terasa, misal nanti kandungannya sudah enam bulan, pastinya situasinya akan lain,” bebernya.

Karena itu, setelah mempertimbangkan banyak hal, orang tua korban pun menghendaki agar janin yang dikandung anaknya bisa secepatnya digugurkan secara legal. ”Pertimbangannya, dari segi medis, anak usia segitu mengandung risiko sekali, selain itu juga mentalnya tentu juga tidak siap. Kita juga harus mempertimbangkan masa depannya,” bebernya.

Terlebih lagi, korban lanjut sumber juga tergolong dari keluarga dengan tingkat ekonomi kurang mampu. ”Untuk keperluan makan keluarga besok harus cari dulu, kerja kuli, serabutan. Kalau tidak salah juga penerima PKH,” bebernya.

Yang perlu dipertimbangkan juga, siapa yang bisa menjamin korban tidak akan berbuat nekat dengan caranya sendiri. ”Iya kalau sekarang masih dua bulan belum terlalu terasa, seiring kandungannya membesar, siapa yang bisa jamin. Karena itu, keluarga korban tetap inginnya anaknya bisa aborsi legal. Toh anaknya juga sangat ingin melanjutkan sekolah,” tandasnya.

Dikatakan, keinginan itu lanjut sumber juga sudah disampaikan kepada dinas terkait saat beberapa waktu lalu mengunjungi rumah korban. ”Kemarin itu ada dari dinas sosial dan dinas KB (PPKBPPPA)  Jombang datang, termasuk bidan desa juga. Waktu itu orang tua korban tetap, permintaannya anaknya bisa aborsi legal, saya menyaksikan secara langsung,” tandasnya.

(jo/riz/naz/JPR)

 TOP