alexametrics
Jumat, 17 Sep 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Tanaman Padi Diserang Tikus, Harga Gabah di Jombang Di Bawah HPP

25 Juli 2021, 17: 34: 08 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Tanaman Padi Diserang Tikus, Harga Gabah di Jombang Di Bawah HPP

Share this      

JOMBANG – Keluhan petani terkait harga jual gabah yang  anjlok meluas. Setelah dialami petani di Jombang kota, para petani di Desa Tebel, Kecamatan Bareng juga mengeluhkan hal sama. Bahkan, hasil panen tidak maksimal karena tanaman padi diserang hama tikus.

”Hasil panen sekarang sangat jelek, petani paling banyak mendapat 75 persen dari yang ditanam,” keluh Susilo salah seorang petani setempat. Rata-rata, hasil panen di tempatnya tak sampai 90 persen dari padi yang ditanam.

Ia mengatakan, serangan hama tikus di wilayahnya sangat masif. Sehingga banyak petani gagal panen. Untuk sawah banon 100 atau sekitar 1.400 M2, lanjutnya, padi yang dihasilkan saat panen hanya sekitar 20 karung. “Itu sangat bagus, malah ada yang gagal panen,” terangnya.

Baca juga: Tanaman Rentan Mati, Petani Tembakau di Jombang Usai Tanam Ulang

Bukan hanya hasil panen yang tidak maksimal, kini petani juga dipusingkan dengan harga gabah yang sangat merosot tajam. ”Banon 100 saja dulu bisa Rp 3,5 juta, sekarang hanya Rp 2,5 juta saja,” imbuh dia. Ia menilai, hasil panen kali ini tidak sebanding dengan yang biaya operasional yang ia keluarkan.

Sebab, biaya tanam juga membengkak. Mencari pupuk bersubsidi juga susah harus ke sana kemari dengan rentang waktu yang sangat lama. ”Jadi ya terpaksa tidak menggunakan pupuk non subsidi,” ungkapnya.

Untuk itulah dirinya berharap pemerintah lebih memerhatikan nasib petani. Paling tidak bertindak membantu membasmi hama tikus. “Karena setiap tahun sawah diserang tikus,” harapnya.

Keluhan sama juga disampaikan petani di Kecamatan Bandarkedungmulyo. Harga gabah kering sawah bahkan sebelumnya sampai Rp 3.600 perkilogram. Sementara harga gabah kering Rp 3.900 atau masih di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 4.200 perkilogram.

Menurut Mastur Hadi salah seorang petani, panen kali ini mengalami penurunan cukup banyak. Selain harganya anjlok juga produksi padi yang dipanen turun. ”Sekarang memang sudah panen semua, tapi ya begitu harganya ajur,” keluhnya kepada Jawa Pos Radar Jombang, Sabtu kemarin (24/7).

Panen raya yang sudah berlangsung beberapa minggu lalu, lanjut dia, menjadikan padi miliknya terpaksa dijual ke penebas. Harga perkilogramnya hanya Rp 3.600. ”Punya saya kemarin dapat Rp 2,3 juta banon 100. Perkilonya Rp 3.600,” imbuh dia.

Biasanya, lahan seluas sekira 1.400 meter persegi itu bisa mendapat hasil hingga Rp 4 juta. Namun, panen kali ini berbeda, hanya mendapat Rp 2,3 juta. ”Dulu pernah saya tebas juga masih dapat Rp 4 juta,” sambungnya. Selain itu, produksi padi saat ini juga turun. ”Kemarin dapat sekitar 7 kuintal, biasanya bisa 1 ton,” ujar Mastur.

Dia sendiri tak mengetahui persis kenapa produksi tanaman padinya bisa turun cukup banyak. ”Setelah banjir ini turun. Apakah pengaruh ke tanah campur lumpur atau karena alasan lain. Kemarin nggak ada penyakit,” bebernya.

Dikonfirmasi terpisah, Achmad Fauzi Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Bandarkedungmulyo, menjelaskan di wilayahnya panen padi belum berakhir. Namun ia tak menampik bila hasil panen turun. Termasuk harga jual juga anjlok. ”Untuk wilayah Bandarkedungmulyo diambil rata-rata waktu petani menimbang padi di sawah dapat 5,6 ton per hektare. Biasanya bisa mencapai 6,3 ton,” katanya.

Menurut dia, ada banyak faktor yang membuat produksi panen kali ini turun. Mulai dari musim tanam hingga serangan hama dan penyakit yang datang bergantian. ”Sebenarnya ada banyak faktor, pertama karena musim kedua agak turun dibanding musim penghujan. Banyak tanah yang kemudian ambles atau asam-asaman. Jadi setelah ditanam tidak bisa tumbuh normal atau stagnan, bahkan sampai tanaman sakit,” bebernya.

Hama dan penyakit itulah yang menjadi penyumbang produksi jadi turun. ”Di sini ada hama wereng dan tikus. Kita barusan saja tadi (kemarin, Red) melakukan gerakan penyemprotan,” terang Fauzi. Lebih dari itu, harga jual gabah juga tidak bersahabat. Tiga hari lalu harga jual gabah perkilogramnya Rp 3.900.

”Jadi masih di bawah HPP. Karena normalnya sesuai ketentuan. Persisnya saya tidak hafal. Kalau tidak salah Rp 4.200 perkilogram. Ada perbedaan antara gabah basah dan kering. Ada selisih sekian rupiah,” pungkasnya.

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP