alexametrics
Jumat, 17 Sep 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Harga Anjlok, Hasil Panen Merosot, Nasib Petani di Jombang Makin Susah

24 Juli 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : M. Nasikhuddin

MEROSOT: Tumpukan karung gabah hasil panen petani di Desa Plandi, Kecamatan Jombang siap diangkut oleh penebas. Petani mengeluhkan hasil panen merosot dan harga jual anjlok (23/7) kemarin.

MEROSOT: Tumpukan karung gabah hasil panen petani di Desa Plandi, Kecamatan Jombang siap diangkut oleh penebas. Petani mengeluhkan hasil panen merosot dan harga jual anjlok (23/7) kemarin.

Share this      

JOMBANG – Memasuki musim panen padi, banyak petani mengeluh. Selain hasil panen menurun, harga jual gabah kering sawah juga turun. Tak ayal petani meminta pemerintah memperhatikan nasib petani yang disebut makin susah.

”Nasib petani sekarang susah. Jadi petani sekarang semakin tercekik, pemerintahnya nggak pinter ngurus pertanian,” terang Jono, 77, petani asal Desa Plandi, Kecamatan Jombang, Jumat (23/7) kemarin.

Jono menerangkan, seperti halnya kondisinya sekarang. Meski baru saja memanen padi, Jono pun tak bisa semringah. Pasalnya, hasil panen padi yang dia dapat merosot tajam. ”Ini saya sewa lahan banon 350, ini tadi dipanen Cuma dapat sekitar 40 karung, padahal tanam sebelumnya bisa sampai 65 karung,” terangnya.

Baca juga: Dua Kali Terpapar, Sering Konsultasi dengan Teman Dokter di Jombang

Dia pun tak mengetahui persis penyebab merosotnya hasil panen padi. ”Mungkin juga karena wereng, seban wilayah sini memang juga diserang,” bebernya.

Selain hasil panen merosot, beban Jono semakin bertambah berat, menyusul harga jual gabah juga rendah. ”Itu sebelah kemarin laku 3.600, sama dimakan wereng. Ini punya saya tadi 3.800 tapi saya keluar biaya datangkan mesin panen hampir Rp 1 juta. Itupun mesinnya dari Lamongan,” imbuhnya.

Dengan hasil panen yang didapat, menurutnya jauh dari harapan. ”Hitungannya kalau dikurangi biaya yang keluar sejak awal tanam, ya nggak dapat apa-apa, kalau pun ada, nggak sumbut dengan tandang gawene,” tandasnya.

Menurutnya, perlindungan pemerintah terhadap petani lemah. Salah satu yang paling menonjol terkait tata kelola pupuk. ”Ini sekarang kalau modelnya pupuk subsidi dibatasi seperti ini ya kasihan petani,” tegasnya.

Sementara, harga jual pupuk nonsubsidi di pasaran dirasa sangat mencekik petani. ”Pupuk mahal, kebutuhan air juga sulit sehingga diesel, terus pas panen harganya anjlok, terus petani dapat apa,” bebernya.

Jono memerinci, sejak awal tanam banyak mengeluarkan biaya. Mulai persiapan lahan, bibit, pekerja. Salah satu yang paling terasa biaya pengeluaran pupuk. ”Kalau pupuk subsidi anggaplah per sak Rp 95 ribu, karena jatahnya terbatas terpaksa beli nonsubsidi, per sak sampai Rp 290 ribu, tapi petani tidak punya pilihan, mau tidak mau ya dibeli walaupun sangat mahal,” bebernya.

Saat ini, sejumlah petani di Desa Plandi juga mulai waswas. Pasalnya, serangan hama wereng perlahan mulai menyerang parah. ”Itu padi yang masih hijau-hijau, yang punya waswas, sebab werengnya semakin menjadi-jadi,” bebernya.

(jo/naz/naz/JPR)

 TOP