alexametrics
Senin, 26 Jul 2021
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Mohamad Yengyie Berjuang Meraih Medali dengan Satu Tangan dan Kaki

Jatim diajang pekan paralimpik nasional

21 Juli 2021, 08: 10: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

HANDAL: Mohamad Yengyie,40, memegang senapan disela berlatih di Puslatda di Unesa Surabaya, (17/7).

HANDAL: Mohamad Yengyie,40, memegang senapan disela berlatih di Puslatda di Unesa Surabaya, (17/7).

Share this      

JOMBANG – Pantang menyerah! Itulah prinsip arek Jombang yang membuncah di dada Mohamad Yengyie,40. Pria dengan satu tangan dan satu kaki asal Desa Bendet, Kecamatan Diwek ini akan mewakili Jatim diajang pekan paralimpik nasional (Peparnas) yang dibarengkan PON 2021. ’’Pelatih optimistis Yenyie dapat medali perak,’’ kata Sodikul Amin, ketua induk cabang olahraga paralimpik (NPC) Jombang, kemarin.

Sejak 2 Juli lalu, Yenyie menjalani pemusatan latihan daerah (puslatda) di Unesa Surabaya. Puslatda akan berlangsung hingga 31 Oktober nanti. Setelah tiga pekan latihan, pelatih melihat kemampuan Yenyie berkembang pesat. Sehingga optimistis Yenyie akan meraih medali minimal perak.

Namun Yenyie punya target sendiri. ’’Target saya emas. Semua atas kehendak yang maha kuasa. Tapi saya akan berusaha berusaha sekuat tenaga dan harus bisa,’’ tegasnya.

Baca juga: Ngadimin, Guru Senior Dekati Wali Murid untuk Sukseskan Belajar Daring

Di Peparnas nanti, Yengyie akan turun di cabang olahraga menembak nomor air rifle 10 meter indor.

’’Saya ingin juara agar dapat bonus untuk modal usaha,’’ tekadnya.

Dia  punya istri dan dua anak normal. Putra pertamanya sudah kelas 1 SMP. Putri kedua kelas 3 SD. 

Percaya diri suami Maria Ulfah ini cukup tinggi. Itulah modal utama yang dimiliki pria kelahiran 25 Desember 1980 ini sehingga bisa mandiri dan berprestasi.

Perkenalannya dengan tembak bermula 2015. Kala itu dia melihat senapan milik keponakannya tergantung tak terpakai. Dia lantas membongkar untuk mengetahui sistemnya. Senapan itupun berhasil dia perbaiki.

’’Sejak itu saya ingin ngerti senapan,’’ ucapnya. Dia pun beli senapan baru. Dibongkar, lalu dirakit kembali dan dijual. Beli baru lagi, dibongkar, diperbaiki lalu dijual lagi. Hingga akhirnya dia dikenal bisa servis bedil. ’’Akhirnya banyak yang servis bedil ke saya,’’ jelasnya. Dia juga melayani pembuatan popor bedil.

Pria dengan tinggi 95 centi meter ini juga suka berburu burung dengan bedil.

Pada akhirnya 2016 ada lomba foto pegang bedil kala berburu di grup facebook. Dia pun ikut. ’’Sejak itu banyak yang kenal,’’ paparnya.

Awal 2017, dia diajak Supriyanto Blitar ikut lomba menembak di Unesa Surabaya. ’’Saya dijemput, juga dipinjami senapan saat lomba,’’ ungkapnya.

Sejak itu dia sering ikut kejuaraan menembak. Di Kodam Surabaya, piala Kapolres Ponorogo hingga Semarang. ’’Saya bisa ikut karena dijemput dan senapan dipinjami. Tiket lomba pun sering dibelikan orang,’’ urainya. Selama 2017, hampir tiap bulan dia selalu ikut kejuaraan menembak. Prestasi terbaiknya, peringkat lima pada lomba di Marinir Surabaya 2017.

’’Semua lomba yang saya ikuti lawannya orang normal dan saya tidak pernah latihan. Sampai ada peserta yang bilang; seandainya saya punya senapan dan bisa latihan rutin, pasti mereka kalah,’’ ucapnya.

Pada 2018, dia dipanggil mengikuti pemusatan latihan menembak di bumi Kopassus Solo selama hampir satu minggu. Pada Februari-Maret 2020, dia kembali dipanggil mengikuti pembinaan selama 1,5 bulan. ’’Bersama dengan para atlet menembak difabel yang akan dikirim kejuaraan dunia di Dubai. Juga atlet menembak difabel se-Indonesia,’’ terangnya.

Dia baru dipulangkan saat pandemi korona pertengahan Maret. Mulai Maret 2020, dia juga sudah menerima SK sebagai atlet Jatim yang akan tampil dalam PON Papua di nomor menembak difabel.

’’Maret dan April lalu saya sudah dapat uang pembinaan untuk latihan mandiri dari Jatim,’’ tuturnya.

Selama di rumah, dia tidak bisa latihan karena tak punya bedil.

Di rumahnya terkadang memang ada bedil, tapi milik orang nyervis.

Meski sejak bayi terlahir tak sempurna, Yengyie mengaku tak pernah mengeluh. Prinsipnya; Jangan pernah merasa tidak mampu. Karena Tuhan tidak akan memberi sesuatu diluar batas kemampuan kita.

’’Sejak kecil saya tak pernah disekolahkan. Kata bapak saya, kenapa sekolah wong saya sudah pinter. Kenyataannya memang saya sudah pinter,’’ ucap bungsu dari tujuh bersaudara ini.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP