alexametrics
Senin, 26 Jul 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Didesak Siapkan Tempat Isolasi Masal, Pemkab Jombang Limpahkan ke Desa

20 Juli 2021, 17: 18: 31 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Akhmad Jazuli Sekdakab Jombang

Akhmad Jazuli Sekdakab Jombang

Share this      

JOMBANG – Dorongan banyak pihak agar pemkab segera mempersiapkan gedung isolasi masal untuk penanganan Covid-19 mulai ada titik terang. Akhmad Jazuli Sekdakab Jombang menyebut sudah ada pembahasan terkait hal itu. Sementara diserahkan ke desa.

”Jadi begini, sudah dirapatkan dengan pak camat dan forkopimda (Forum komunikasi pimpinan daerah). Masyarakat yang mampu di rumah masing-masing, sementara yang tidak layak untuk isolasi disatukan dengan desa,” kata Jazuli dikonfirmasi melalui sambungan selulernya, Senin (19/7) kemarin.

Dijelaskan, seandainya desa tak bisa menyediakan ruang isolasi masal di tingkat desa, alternatifnya digeser ke gedung SMP. ”Kalau desa tidak ada, diletakkan di sekolah. Jadi SMP yang dekat dengan puskesmas,” imbuh dia.

Baca juga: Bandar Sabu-Sabu di Jombang Dituntut Hukuman Mati

Menurut dia, fasilitas penunjang isolasi sudah ada. Tepatnya tahun lalu sudah ada bantuan berupa kasur diberikan Satgas Covid-19 Jombang pada masing-masing desa. ”Desa kan dulu sudah diberi kasur. Itu bisa dimanfaatkan,” sambung Jazuli.

Disinggung terkait keperluan anggaran yang disiapkan menurut Jazuli, desa bisa mempergunakan dana desa (DD) untuk keperluan itu. ”Jadi ikut desa, kan DD itu bisa untuk masyarakat yang kena (Covid-19, Red). Makanya bisa pakai dana desa (DD),” kata Jazuli.

Data yang dirilis Dinas Kesehatan (dinkes) Jombang, jumlah pasien yang menjalani isolasi mandiri terus membeludak. Senin (19/7) tercatat sebanyak 780 pasien Covid-19 menjalani isolasi mandiri di rumah, sementara 468 lainnya dirawat di sejumlah rumah sakit.

Seperti diberitakan sebelumnya, Satgas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jombang mendorong pemkab mulai mengkaji dan mempersiapkan pendirian rumah sakit khusus Covid-19. Sehingga pelayanan lebih maksimal.

”Mohon segera dikaji dan dipersiapkan RS Khusus Covid-19, demi memperbaiki layanan perawatan kasus Covid-19 dan lebih mempermudah pengaturan zonasi tingkat keamanan bagi tenaga kesehatan (nakes),” terang Mochammad Sjarifudhin, ketua Satgas IDI Jombang, kemarin.

Selain itu, Syafiruddin juga menaruh perhatian terkait membeludaknya pasien yang melakukan isolasi mandiri, lebih-lebih beberapa kejadian ditemukan kasus meninggal. Karenanya dia mendorong peran puskesmas lebih dimaksimalkan. ”Maksimalkan fungsi beberapa puskesmas perawatan sebagai tempat isolasi mandiri,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran mendorong dalam penanganan pandemi semua elemen harus digerakkan. ”Kalau semua digerakkan berarti faskes (fasilitas kesehatan) tingkat satu harus dimaksimalkan,” tandasnya.

Pudji juga menyinggung terkait program-program penanggulangan pandemi di Jombang. ”Kalau kita flashback ke belakang, berbicara program ada PPKM mirko, kampung tangguh semeru sudah di-launching  semua. Artinya artinya ini harus betul-betul diimplementasikan semua, bukan hanya slogan-slogan, semua harus masuk,” bebernya.

Berkaitan dengan banyaknya ratusan warga yang menjalani isolasi mandiri, termasuk beberapa kejadian pasien isoman meninggal, ini merupakan masalah mendesak yang harus dicarikan solusi. ”Akan lebih efektif saya kira, masing-masing desa-desa, kampung tangguh mendirikan selter sendiri-sendiri untuk menampung warga yang isoman,” imbuhnya.

Untuk tenaga, Pudji menyebut ada puskesmas. Yang memiliki tenaga tersebar di seluruh desa. ”Ada bidan desa, perawat,ada semua. Itu semua bisa dimaksimalkan,” imbuhnya.

Misal tenaga puskesmas sibuk vaksinasi, Pudji pun tak menampik. Namun sekali lagi, selain upaya pencegahan, seperti vaksinasi, penutupan jalan dan lain sebagainya, penanganan terhadap isoman juga penting. ”Apalagi banyak ditemukan kasus pasien yang isoman jumlahnya ratusan itu, juga banyak yang meninggal. Maka mau tidak mau, kalau ingin penanganan serius, maka harus full power. Jadi peran masing-masing desa, ada kecamatan harus full, karena desa yang tahu. semua potensi di desa harus diberdayakan,” tegas Pudji.

Senada, Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Jombang dr Achmad Iskandar Dzulqornain menilai pemkab tak melakukan pemantauan pasien yang menjalani isoman dengan baik. ”Terkait banyaknya pasien isoman meninggal, itu menunjukkan pemantauan kesehatan baik petugas maupun diri sendiri tidak berjalan dengan baik,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.

Iskandar menilai, pemantauan berjalan dengan baik, namun pada saat perlu dirujuk tidak dapat dilaksanakan, sebab fasilitas kesehatan (faskes) penuh atau rumah sakit menolak rujuk. ”Untuk itu pasien yang menjalani isoman  harus diberi KIE (Konfirmasi, Informasi dan Edukasi),” paparnya.

Tidak hanya itu, pasien yang menjalani isoman harus diperiksa terlebih dahulu kelayakan rumahnya. ”Apakah sudah memadai atau sebaliknya untuk dijadikan tempat isolasi,” imbuhnya.

Melihat banyaknya kasus pasien isolasi meninggal serta kondisi pasien rumah sakit membeludak, akan lebih baik pemkab menyiapkan gedung isolasi masal untuk mereka yang menjalani isolasi mandiri. Sehingga perawatan dan pemantauan akan lebih baik. ”Ya itu sangat bagus karena cukup efektif bisa menurunkan angka Covid-19,” terangnya.

Hanya saja, untuk membuat gedung isolasi mandiri masal, itu tergantung dari kebijakan pemkab sendiri. ”Apakah sudah menganggarkan untuk hal itu atau sebaliknya. Itu tergantung dari ketersediaan anggaran. Apa pemkab sudah menyaiapkan hal itu?,” tegas Iskandar.

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP