alexametrics
Senin, 26 Jul 2021
radarjombang
Home > Hukum
icon featured
Hukum

Bandar Sabu-Sabu di Jombang Dituntut Hukuman Mati

Terlibat Jaringan Internasional

20 Juli 2021, 09: 00: 59 WIB | editor : M. Nasikhuddin

DARING: JPU saat membacakan tuntutan hukuman mati kepada terdakwa kasus narkoba, Senin (19/7).

DARING: JPU saat membacakan tuntutan hukuman mati kepada terdakwa kasus narkoba, Senin (19/7).

Share this      

JOMBANG – Sidang empat terdakwa kasus peredaran sabu-sabu jaringan antarpulau kemarin digelar di Pangadilan Negeri (PN) Jombang. Jaksa penuntut menjatuhkan tuntutan berat kepada para pelaku, bahkan salah satu di antaranya dituntut hukuman mati.

Keempat terdakwa masing-masing, Dewangga Amirus Suhada alias Hero, Ruchul Amin Marzuki Zakaria alias Jaka, Lalang Aryo Pratama dan Rizky Amanulloh. ”Memohon kepada mejelis hakim PN Jombang yang menangani perkara ini untuk menghukum terdakwa Dewangga Amirus Suhada dengan hukuman mati,” tegas Aldi Demas Akira, saat membacakan tuntutan.

Dalam pertimbangannya, JPU menilai Dewangga terbukti menjadi otak pelaku dalam peredaran sabu-sabu yang dilakukan Lalang dan Rizky. Selain itu, JPU, terdakwa Dewangga disebut terlibat dalam jaringan peredaran narkotika internasional. ”Terdakwa juga terlibat jaringan peredaran narkotika internasional,”tegas Demas dalam pembacaan tuntutannya.

Baca juga: Perpanjangan PPKM Darurat di Jombang Ditentukan Hari Ini

Usai mendengarkan tuntutan jaksa, majelis memberikan kesempatan kepada terdakwa Dewangga menyampaikan pembelaan. Di hadapan majelis, Dewangga mengaku sangat menyesal atas perbuatannya dan meminta keringanan hukuman. ”Saya menyesal yang mulia, minta keringanan. Saya juga tulang punggung keluarga,” ungkap Dewangga.

Pantauan di lokasi, proses sidang pembacaan tuntutan terhadap empat terdakwa perkara sabu-sabu antar digelar secara daring. Proses sidang empat terdakwa digelar terpisah. Dalam perkara ini, penyidik Subdit V Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengamankan barang bukti sebanyak 25 kg sabu-sabu dan 12 kg pil ekstasi.

Terdakwa Ruchul  Amin Marzuki Zakaria alias Jaka mendapat giliran sidang pertama. Terdakwa Jaka didampingi penasehat hukumnya. Dalam materi tuntutannya, JPU menjatuhkan tuntutan 20 tahun penjara dan denda. ”Memohon majelis hakim menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 20 tahun dan denda Rp 1 miliar subsidair 6 bulan kurungan,” terang Aldi Demas Akira, JPU kejaksaan Negeri (Kejari) Jombang.

JPU menilai terdakwa Jaka terbukti melanggar pasal dakwaan primer yang diberikan kepadanya. Ia juga terbukti berperan sebagai perantara yang menjembatani Dewangga dan dua eksekutornya di luar kota.

Usai mendengarkan pembacaan tuntutan JPU, terdakwa Jaka menyampaikan pembelaannya secara lisan. Ia meminta agar majelis hakim memberikan keringanan hukuman kepadanya. ”Saya menyesal dan meminta keringanan hukuman yang mulia,” ucap Jaka.

Mendapat giliran kedua, yakni terdakwa Lalang Aryo Pratama dan terdakwa Rizky Amanulloh. Dalam tuntutannya, JPU menjatuhkan tuntutan sama kepada keduanya. Masing-masing dituntut hukuman penjara seumur hidup sesuai dakwaan pasal primer. ”Memohon kepada mejelis hakim PN Jombang yang menangani perkara ini untuk menghukum terdakwa Lalang Aryo Pratama dan Terdakwa Rizky Amanulloh dengan pidana penjara seumur hidup,” kembali ucap Aldi Demas Akira, JPU dalam tuntutannya.

Dalam pertimbangannya, JPU menilai perbuatan keduanya secara meyakinkan telah melakukan upaya persekongkolan untuk mengedarkan narkotika jenis sabu-sabu dan pil ekstasi antarpulau.

Keduanya juga dinilai JPU telah mengakui berperan menjadi eksekutor dan dikendalikan terdakwa lain dari Jombang. Usai mendengarkan materi tuntutan, keduanya diberikan kesempatan menyampaikan pembelaan secara lisan. Kepada majelis hakim, kedua terdakwa meminta keringanan hukuman. Kedua terdakwa juga mengaku menyesali perbuatannya. Sidang lanjutan terhadap empat terdakwa akan digelar Rabu (21/7) dengan agenda pembacaan pleidoi tertulis penasehat hukum terdakwa.

Ditemui usai persidangan, Imran, Kepala Kejari Jombang (Kajari) Jombang membenarkan terkait materi tuntutan yang dijatuhkan kepada para terdakwa, termasuk tuntutan hukuman mati kepada terdakwa Dewangga. Tuntutan itu disebut Imran diberikan sesuai dengan peran masing-masing terdakwa. ”Jadi yang jadi perantara diberikan 20 tahun, yang jadi pelaku lapangan lebih berat seumur hidup, sementara otak pelakunya kita tuntut hukuman mati memang,” ucapnya

Pihaknya menilai, hal itu perlu dilakukan karena keempat terdakwa disebutnya terbukti telah melakukan peredaran narkotika dengan barang bukti yang sangat besar. Kasus ini, bahkan disebutnya jadi atensi khusus. ”Intinya ya karena mereka ini kan sudah jaringan internasional, narkotika ini didatangkan dari Cina dan masuk lewat Singapura,” pungkas Imran.

Seperti diberitakan sebelumnya, Subdit V Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri berhasil memboongkar jaringan peredaran sabu-sabu. Dari penangkapan ini, polisi mengamankan empat pelaku.

Di antaranya, Dewangga Amirus Suhada alias Hero, Ruchul Amin Marzuki Zakaria alias Jaka, Lalang Aryo Pratama dan Rizky Amanulloh. Keempatnya ditangkap terpisah pada November 2020 lalu. Lalang dan Rizky, diamankan petugas saat berupaya menyebrang di Seaport Interdiction Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni Lampung Selatan  (13/11).

Saat ditangkap, keduanya tengah membawa koper berisi 44 bungkus teh hijau merek  Guan Yin Wang. Saat dibuka, ternyata 33 bungkus berisi sabu dengan berat 25 kilogram dan 11 bungkus berisi pil ekstasi seberat 12 kilogram. Keduanya, mengaku membawa barang ini dari Medan atas petunjuk Hero dan Jaka dari Jombang.

Dari hasil pengembangan, polisi berhaisl menangkap dua pelaku lain yang mengendalikan mereka dari Jombang, yakni Dewangga Amirus Syuhada alias Hero, warga Desa Mancar, Kecamatan Peterongan dan Ruchul Amin Marzuki Zakaria alias Jaka, warga Kedungmlati, Kecamatan Kesamben (15/11).

Dari keterangan yang didapat, keempat orang ini juga dikendalikan orang lain bernama Pablo dan Kendal yang hingga kini masih buron.

Dikonfirmasi terpisah, Ahmad Jaya, Kasipidum Kejaksaan Negeri Jombang membenarkan adanya kasus ini.  ”Pelimpahan kasus sudah dilakukan beberapa bulan sebelumnya dari Mabes Polri. Sidang dilakukan di Jombang, karena pertimbangan banyak kejadian dilakukan di Jombang,” terangnya.

Jaya juga menjelaskan, sidang perdana kepada keempatnya sudah dilakukan pada Senin (3/5) lalu. ”Sidang perdana kemarin dilakukan secara daring, agendanya pembacaan dakwaan, sesuai jadwal sidang lanjutan rencananya digelar Kamis (20/5) pekan depan,” singkatnya.

(jo/riz/naz/JPR)

 TOP