alexametrics
Senin, 26 Jul 2021
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Spirit Karate 21: Karateka Sanggup Memelihara Kepribadian

17 Juli 2021, 07: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

KOMPAK: Kwat Prayitno saat berlatih bersama Ketua Forki Jombang, Widjono Soeparno, di depan honbu Mahameru.

KOMPAK: Kwat Prayitno saat berlatih bersama Ketua Forki Jombang, Widjono Soeparno, di depan honbu Mahameru.

Share this      

Karate punya 20 nijukun atau ajaran hidup. Juga punya lima dojokun atau sumpah karate. ’’Sumpah karate yang pertama yakni sanggup memelihara kepribadian. Bahasa Jepangnya; Jinkaku kansei ni tsutomoru koto,’’ kata Ketua Harian Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jombang, Kwat Prayitno, 60, kemarin.

Anggota dewan guru Inkanas nasional ini menjelaskan, seorang karateka berjiwa ksatria, sportif, berbudi pekerti luhur, tidak sombong dan rendah hati.

’’Jiwa ksatria ditandai dengan tujuh kebajikan,’’ ungkap pemegang sabuk hitam karate Dan VII ini.

Baca juga: Adi Isma Aldayu: Tak Semua Siswa di Jombang Punya Gawai

Pertama integritas. Senantiasa mempertahankan etika, moralitas dan kebenaran. Integritas merupakan nilai yang paling utama. ’’Integritas mengandung arti jujur dan utuh,’’ tegas pria yang telah 50 tahun menggeluti karate ini. Keutuhan dari seluruh aspek kehidupan, terutama antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Seorang karateka harus paham betul tentang yang benar dan yang salah. Dan berusaha keras melakukan yang benar dan menghindari yang salah.

Kedua, berani dalam menghadapi kesulitan. Keberanian merupakan sebuah karakter dan sikap untuk bertahan demi prinsip kebenaran yang dipercayai. Meski mendapat berbagai tekanan dan kesulitan. Keberanian juga merupakan ciri para karateka. Mereka siap dengan risiko apapun termasuk mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan keyakinan.

Keberanian mereka tercermin dalam prinsipnya yang menganggap hidupnya tidak lebih berharga dari sebuah bulu. Namun demikian, keberanian karateka tidak membabibuta, melainkan dilandasi latihan yang keras dan penuh disiplin.

Ketiga kemurahan hati. ’’Karateka harus memiliki sifat kasih sayang,’’ ujar Kwat. Meski berlatih bertarung,  karateka harus memiliki sifat mencintai sesama, kasih sayang, dan peduli.

Kasih sayang dan kepedulian tidak hanya ditujukan pada atasan dan pimpinan namun pada kemanusiaan. Sikap ini harus tetap ditunjukan baik di siang hari yang terang benderang, maupun di kegelapan malam. Kemurahan hati juga ditunjukkan dalam hal memaafkan.

Keempat menghormati orang lain. Karateka idak pernah bersikap kasar dan ceroboh, namun senantiasa menggunakan kode etiknya secara sempurna sepanjang waktu. Sikap santun dan hormat tidak saja ditujukan pada pimpinan dan orang tua, namun kepada tamu atau siapa pun yang ditemui. Sikap santun meliputi cara duduk, berbicara, bahkan dalam memperlakukan benda ataupun senjata. . ’’Makanya setiap kali mau latihan, karateka selalu diajak menghormat kepada negara, senior, sesama kawan dan tempat latihan,’’ paparnya.

Kelima, kejujuran dan tulus ikhlas. Seorang karateka senantiasa bersikap jujur dan tulus mengakui, berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran.

’’Karateka harus menjaga ucapannya dan selalu waspada tidak menggunjing, bahkan saat melihat atau mendengar hal-hal buruk tentang kolega,’’ jelasnya.

Karateka mengatakan apa yang mereka maksudkan dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka membuat janji dan berani menepatinya.

Keenam, menjaga kehormatan diri. Karateka harus menjaga ajaran karate secara konsisten sepanjang waktu dan tidak menggunakan jalan pintas yang melanggar moralitas Karateka  memiliki harga diri yang tinggi, yang mereka jaga dengan cara perilaku terhormat. Salah satu cara mereka menjaga kehormatan adalah tidak menyia-nyiakan waktu dan menghindari perilaku yang tidak berguna.

Ketujuh, menjaga kesetiaan kepada satu pimpinan dan guru. Kesetiaan ditunjukkan dengan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Kesetiaan seorang ksatria tidak saja saat pimpinannya dalam keadaan sukses dan berkembang. Bahkan dalam keadaaan sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, pimpinan mengalami banyak beban permasalahan, seorang ksatria tetap setia pada pimpinannya dan tidak meninggalkannya.

’’Jiwa ksatria itu sangat penting dalam semua lini kehidupan,’’ tegas Kwat. Sebagai atlet, jiwa ksatria membuat kita jadi sportif. Berani mengakui kekahalan.

Sebagai wirausaha, membuat kita baik dalam melayani dan tepat waktu mengangsur maupun membuat janji. ’’Kalau sebagai penjual kita baik, pasti pelanggan banyak,’’ ucap pria yang sudah 40 tahun berwirausaha ini.

Sebagai hamba Tuhan, jiwa ksatria juga sangat penting. Karena mendorong kita untuk selalu menjalankan firman Tuhan kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun.

’’Agar karateka memiliki jiwa ksatria, caranya adalah dengan ditempa melalui latihan dan semua program yang diberikan pelatih,’’ pungkasnya.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP