alexametrics
Senin, 26 Jul 2021
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Dua Atlet dan Satu Pelatih Difabel Mulai Latihan di Puslatda Jatim

15 Juli 2021, 07: 50: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

PEMANASAN: Matnur (kiri) saat latihan di lapangan Unesa, Selasa (13/7).

PEMANASAN: Matnur (kiri) saat latihan di lapangan Unesa, Selasa (13/7).

Share this      

JOMBANG –  Dua atlet difabel Jombang, Mat Nur dan Mohammad Yengyie mulai masuk Puslatda Jatim persiapan PON 2021. Demikian pula dengan pelatih sepak bola difabel, Sodikul Amin. Mereka tinggal di asrama khusus dan tak boleh pulang hingga 31 Oktober 2021.

’’Kami tidak boleh pulang sama sekali dan harus ikut pembinaan penuh sampai akhir Oktober,’’ kata  Sodikul Amin, ketua NPC Jombang yang juga pelatih tim sepak bola difabel, kemarin.

Pada 1993, Sodikul  Amin membela tim Jatim diajang pekan olahraga cacat nasional (Porcanas) di Jogja. Hasilnya, Jatim juara 1.  Posisinya di tim sepak bola Jatim sebagai striker. Pada PON 2000, olahraga cacat masuk eksebisi. Baru pada PON Palembang 2004, olahraga cacat dibarengkan dengan PON. Dia pun kembali mengantarkan tim Jatim juara satu. Pada PON Kaltim 2008 juga juara satu.

Baca juga: Stimulasi Anak PAUD di Jombang dengan Bermain Lego

Mulai PON 2021 honorer di Kecamatan Mojowarno ini bertugas sebagai pelatih.

Sedangkan Yengyie merupakan atlet menembak tuna daksa yang memiliki satu kaki dan satu tangan. Dia pernah peringkat lima pada lomba di Marinir Surabaya akhir 2017.

Sementara Matnur merupakan atlet tuna daksa yang berhasil meraih dua emas dan satu perak dari cabang olahraga atletik saat event pekan paralimpik provinsi (peparprov) Jatim 22-23 Mei lalu. Emas dari nomor lempar lembing dengan jarak lempar 37,15 meter. Emas tolak peluru dengan jarak lempar 7,27 meter. Perak dari nomor lempar cakram, dengan jarak lempar 18,90 meter.

Selama di puslatda, mereka menjalani pembinaan sesuai cabang olahraga masing-masing. Atlet puslatda latihan dua kali sehari. Pagi pukul 07.00-09.00 dan sore pukul 15.00-17.00.

’’Kita tinggal dalam satu asrama. Kalau latihan sesuai dengan cabor karena sudah ada pelatihnya masing-masing,’’  terang Sodikul Amin.

Puslatda difabel terpusat di Unesa. Baik asrama maupun tempat latihannya.

Selama di asrama, kesehatan para atlet diperhatikan betul. Mereka diberi suplemen tambahan, vitamin dan asupan makanan bergizi. Serta diketati tidak boleh keluar asrama.

Sebelum masuk asrama, mereka diharuskan menjalani swab. ’’Saat masuk, kita sudah dipastikan negatif semua. Makanya kita juga diketati tidak boleh kemana-mana,’’ pungkasnya.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP