alexametrics
Senin, 26 Jul 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Warga Desa Gudo Jombang Luruk Penambang di Rolak 70

Diduga Caplok Lahan Warga

17 Juni 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

PROTES: Suasana Warga saat meluruk kegiatan tambang pasir di Bugasurkedaleman, Kecamatan Gudo.

PROTES: Suasana Warga saat meluruk kegiatan tambang pasir di Bugasurkedaleman, Kecamatan Gudo.

Share this      

JOMBANG – Sejumlah warga dan kepala desa di Kecamatan Gudo mendatangi lokasi tambang galian C di kawasan Rolak 70 di Desa Bugasurkedaleman (16/6). Warga memprotes kegiatan penambang di wilayah perbatasan yang diduga mencaplok lahan warga.

Dari data yang dihimpun dari lokasi, massa warga dan kepala desa mulai bergerak ke lokasi penambangan sekitar pukul 12.30. Sesampainya di lokasi tambang, terjadi debat alot antara warga dan penambang. Yakin lahannya tercaplok, warga pun memasang patok sebagai penanda lahan. ”Jadi ini ada penambangan dari, itu izinnya dari wilayah Kediri, cuma kemudian melebar ke Bugasurkedaleman, Kecamatan Gudo. Tapi dari penambang tidak pernah koordinasi ke kami,” terang Suwari, Kepala Desa Bugasurkedaleman

Pihaknya menyebut, tindakan penambang tidak bisa dibenarkan. Pasalnya, sebagian lahan yang mereka gali diduga mencaplok lahan yang bukan di wilayah Kediri.

Baca juga: CJH yang Meninggal Langsung Diganti Ahli Waris

Dia menambahkan, kegiatan pertambangan di perbatasan Jombang-Kediri itu memang sudah berlangsung lama dan banyak dikeluhkan warganya. Selain berdampak kerusakan lingkungan, belakangan warga kian resah lantaran pihak penambang diduga sudah mencaplok lahan warga. ”Lha saya sudah ketemu sama kepala desa wilayah Kediri, mereka sudah pasrah. Itu wilayah Jombang kok, bisa dikonsultasikan lagi, saya hanya mengamankan wilayah saya,” ungkapnya.

Pemasangan tanda itu lanjut Suwari dilakukan untuk menunjukkan telah adanya pencaplokan lahan yang dilakukan tanpa izin dirinya sebagai pemangku wilayah.

Tidak hanya dirinya, sejumlah kepala desa di wilayah Kecamatan Gudo bahkan ikut turun dalam barisan bersama warga. ”Kita sudah punya bukti peta kretek desa dan BKAD juga sudah menyebutkan jika wilayah yang sekarang dikeruk ini milik Bugasurkedaleman, bukan milik Kediri,” pungkasnya.

Sementara Taufik Kamal, ketua BKAD (badan kerja sama antardesa) Kecamatan Gudo menyebut, pemasangan patok itu bukanlah merupakan batas wilayah kabupaten, melainkan upaya mereka untuk menjaga wilayah Gudo agar tak dicaplok para penambang secara ilegal. ”Kami sepakat untuk bersama, ini wilayah di Gudo,” lontarnya.

Terlebih, menurutnya selama ini Pemkab Jombang cenderung lamban menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan sengketa lahan di wilayah perbatasan Jombang – Kediri ini.

Menurutnya, selama ini Pemkab Jombang dan Pemkab Kediri disebutnya sama-sama menunggu dan dalam posisi defensif. ”Saya sudah ke Pemkab Jombang untuk menanyakan ini, hasilnya baik Pemkab Jombang sama Kediri saling menunggu MoU. Padahal seorang kepala desa harusnya tahu wilayah desanya,” lanjutnya.

Taufik juga menyebut, kegiatan penambangan di lokasi itu sudah terbukti berdampak pada kerusakan lingkungan bahkan mengancam keberadaan makam sesepuh warga desa. Karenanya, Kepala Desa Blimbing, Kecamatan Gudo ini, juga mengancam akan terus mempertahankan patok yang mereka pasang di lokasi itu. ”Ya kalau penambang ngotot, kita juga bisa ngotot, itu saja,” pungkasnya.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP