alexametrics
Minggu, 20 Jun 2021
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Berpikirlah Tangan dan Kakimu Pedang

05 Juni 2021, 20: 35: 17 WIB | editor : Rojiful Mamduh

KATA: Kwat Prayitno saat berlatih bersama pengurus Forki Jombang, Budiyanto, di depan Dojo Mahameru (23/5).

KATA: Kwat Prayitno saat berlatih bersama pengurus Forki Jombang, Budiyanto, di depan Dojo Mahameru (23/5).

Share this      

Ajaran karate ke-15 yakni berpikirlah tangan dan kakimu pedang. Sehingga dalam pertarungan tidak takut menghadapi apapun. Semua yang ada dalam tubuh adalah senjata karateka.

’’Bahasa Jepangnya; Hito no te ashi wo ken to omoe. Inggrisnya; Think of hands and feet as swords,’’ kata Ketua Harian Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jombang, Kwat Prayitno,60, kemarin.

Karate merupakan seni beladiri tangan kosong tanpa senjata. Tangan dan kaki dilatih sedemikian rupa  sehingga dapat menyerupai senjata. Dengan latihan keras, teratur, terus menerus, sistematis dan terprogram akan dapat merubah bagian tubuh menjadi senjata yang efektif dan berbahaya untuk membunuh. Jadi gunakanlah secara benar dan berhati-hati.

Baca juga: Persiapan Kejuaraan di Unesa

’’Dalam kondisi apapun karateka siap bertempur karena tubuhnya adalah senjatanya,’’ tegas anggota dewan guru Inkanas nasional ini.

Pemegang sabuk hitam karate Dan VII ini menambahkan, karateka harus sungguh-sungguh berlatih karena diibaratkan mengasah pedang. Semakin sungguh-sungguh dalam berlatih, maka pedangnya akan semakin tajam dan kuat. Sebaliknya, jika tak serius berlatih maka pedangnya akan tumpul dan lembek.

’’Dalam berkompetisi, karateka diibaratkan sudah benar-benar siap menggunakan pedangnya,’’ urai pria yang telah 50 tahun menekuni karate ini.

Dalam bisnis, ajaran ini juga bisa diaplikasikan. ’’Pedang dalam bisnis adalah 4P,’’ ujar pria yang telah 40 tahun lebih berwirausaha ini. Yang dia maksud yakni produk, price (harga), place (tempat) dan promosi. Pebisnis harus tahu cara menggunakan pedangnya.

Misalnya dia punya seratus item produk. Lima produk dijual rugi, agar pembeli tertarik datang karena sangat murah. Setelah datang, pembeli pasti juga membeli produk lain diluar lima produk tadi. Sehingga akhirnya penjual tetap untung. Kerugian dari lima produk, bisa ditutup dengan untung yang diperoleh dari 95 produk lainnya.

Dalam konteks berhubungan dengan Tuhan, prinsip ini juga bisa diaplikasikan. Pertempuran akhir dalam kehidupan yakni saat kita menghadapi kematian. ’’Pedang yang harus kita siapkan yakni amal baik sehingga sewaktu-waktu mati, kita mati dalam kondisi baik,’’ tandasnya.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP