alexametrics
Rabu, 23 Jun 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh
H Ahmad Suudi Yatmo

Dari Seniman Hingga Gus Dur

30 Mei 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

H Ahmad Suudi Yatmo

H Ahmad Suudi Yatmo

Share this      

SOSOK yang satu ini cukup dikenal masyarakat luas. Mulai dari seniman hingga salah satu sahabat KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dialah H Ahmad Suudi Yatmo, warga Desa Betek, Kecamatan Mojoagung. 

Suudi lahir di Desa Betek, 17 November 1950 silam. Anak ketiga dari 12 bersaudara ini buah cinta H Imron Sidiq dengan Hj Atminah, yang juga warga setempat. Sama seperti anak kecil lainnya, Suudi mengawali pendidikan  di jenjang SDN Betek.

“Setelah lulus SD, saya langsung masuk ke PGA (Pendidikan Guru Agama) Jombang selama empat tahun,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang, Sabtu kemarin (29/5). Setelah lulus, ia tak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Suudi membantu orangtuanya sebagai petani untuk merawat sawah.

Baca juga: Suzuki APV Mini Bar Berjalan

’’Mestinya jadi guru, ternyata nggak sesuai dengan kepribadian saya, tidak bisa memberi contoh. Kemudian saya di rumah bantu orang tua menggarap sawah. Jadi kehidupan saya dari sawah,’’ terang Abah Suudi, sapaan akrabnya.

Singkat cerita, Suudi kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di Jombang. Sekitar 1970-an, ia pernah kuliah di Unhasy saat masih berada di Ringin Contong. “Tapi nggak sampai lulus, hanya satu tahun. Memang saya tidak kerasan kalau sekolah,’’ sambungnya sambil tertawa.

Kendati demikian, ia memilih aktif berorganisasi. Mulai dari Pengurus IPNU hingga Ansor. Dia juga salah satu seniman pelawak di Jombang. ’’Seniman ini tidak sengaja. Setiap saya ngomong kok banyak orang tertawa. Akhirnya saya terjun ke situ,’’ ungkap pemilik Djagat Besi Construction ini.

Suudi bahkan sempat membentuk grup lawak yang diberi nama Abu Nawas Grup era 1970-an. Grup lawak ini berjalan sampai tiga tahun. Paling dia ingat hingga kini yakni grup lawak Srimulat. Terakhir yang dia ingat sampai sekarang ketika Asmuni Srimulat bercerita minta kepadanya agar membawa pulang ke Jawa Timur dari Jakarta.

“Karena kalau tidak pulang umurnya pendek. Dia (Asmuni, Red) mengaku tidak kuat momong anggota Srimulat. Akhirnya saya boyong ke Trowulan Mojokerto,’’ ungkap Suudi.

Lebih dari itu, kesibukannya di organisasi kemasyarakatan, membuat dirinya sering bertemu dengan sejumlah tokoh terkenal. Termasuk bertemu dengan mantan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. ’’Dulu saya sering berkumpul Gus Dur bersama Asmuni. Setiap kemana saja bareng bertiga, mungkin karena Gus Dur suka dengan orang yang suka celometan seperti saya, sering membuat joke-joke segar,’’ kenangnya.

Keakrabannya dengan Gus Dur membuat ia bersimpati dengan ketokohan dan sikap pluralisme yang ditunjukkan Gus Dur. Sampai-sampai dari lima anaknya, satu di antaranya diberi nama yang sama Abdurrahman Wahid dengan panggilan Gus Dur. ’’Karena saya melihat kondisi zaman sekarang sudah tidak karuan, angel ditebak kenalan remaja. Nama untuk anak juga begitu kebarat-baratan. Saya pikir nama kebarat-baratan dengan kenakalannya kok pas. Lalu anak saya beri nama Abdurrahman Wahid,’’ beber dia.

Sebelum memberi nama yang sama itu, dia sempat meminta izin ke Gus Dur. Saat itu Gus Dur tengah sakit. ’’Saya pamit ke Gus Dur pas sakit di Jombang. Responsnya tambah lucu, kenapa nama saya dirampas. Saya jawab, ini ngalap berkah dan pangestune nama Abdurrahman Wahid panggilannya Gus Dur saya berikan ke anak saya,’’ cerita dia sembari menirukan ucapan Gus Dur kala itu.

Dalam benaknya, pemberian nama itu bukan tanpa maksud. Salah satunya supaya anak keempatnya selalu mengingat ketokohan Gus Dur. ’’Biar anak saya tidak nakal, ingat kalau namanya Gus Dur. Hanya itu saja alasan saya,’’ terang dia.

Kecintaannya kepada Gus Dur tak berhenti. Ketika diberi amanah putra lagi, dia memberi nama anak terakhirnya sama dengan nama istri Gus Dur. ’’Setahun setelah saya beri nama Gus Dur, anak terakhir saya beri nama Sinta Nuriyah,’’ pungkas Suudi.

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP