alexametrics
Selasa, 22 Jun 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget
Imam Suprianto Puluhan Tahun Tekuni Bonsai

Awalnya Lihat Tetangga, Buat Cabang saja Pakai Aturan

29 Mei 2021, 19: 17: 47 WIB | editor : Rojiful Mamduh

JADI MAHAL: Sehari-hari Imam memantau dan membentuk tanaman bonsai agar lebih menarik.

JADI MAHAL: Sehari-hari Imam memantau dan membentuk tanaman bonsai agar lebih menarik.

Share this      

Imam Suprianto sudah puluhan tahun menekuni tanaman bonsai. Sehari-hari, aktivitas warga Dusun Parimono, Desa Plandi, Kecamatan/Kabupaten Jombang ini bergelut dengan bonsai. Seperti apa?

AINUL HAFIDZ, Jombang

TANGAN kanannya memegang gunting, sementara tangan kiri memegang kawat warna putih. Tak berselang lama, kawat kemudian diputarkan ke tanaman asam. Setelah dirasa selesai, giliran daun yang dipotong.

Baca juga: Guru Honorer K2 Berharap Direkrut CPNS

’’Sejak masih perjaka sudah ke bonsai. Ya, kira-kira sekarang sudah 40 tahun,’’ katanya. Selama ini, ativitasnya memang menekuni tanaman bonsai. Mulai dari penanaman pertama, pembentukan bonsai sampai dengan perawatan agar bisa bertahan hidup. 

Tak heran kala bertandang ke rumahnya, banyak tanaman bonsai yang dirawat. Bentuknya juga bagus. Ada bonsai asam, dan ada juga bonsai beringin yang sudah dibentuk sedemikian rupa. ’’Kalau yang beringin ini sudah ditawar Rp 30 juta, padahal masih bakalan. Ada juga serut, ini yang lohansung,’’ sebut Pak To sapaan akrabnya.

Sembari menunjukkan bonsai miliknya, dia menceritakan jika semula kerajinan bonsai dilakukan setelah melihat hasil karya tetangganya. ’’Dulu punya tanaman banyak, ditanam di batu. Saya lihat kok bagus dan akhirnya mencoba sendiri,’’ kenangnya.

Berbekal hasil kreasi tetangganya itulah dirinya lantas mencoba menggeluti bonsai mulai dari nol. ’’Jadi menanam biji, dulu yang paling banyak digemari pohon beringin,’’ sambung dia.

Singkat cerita, Pak To yang saat itu belajar secara otodidak bisa menguasai bonsai. Karena sebelumnya ia pernah membuat ukir-ukiran dan relief. “Jadi punya modal isitilahnya,’’ ungkapnya sambil tertawa.

Keputusan untuk terus menekuni kerajinan bonsai akhirnya  membuahkan hasil. Hingga kini, ia tetap bertahan menekuni pertanaman dengan hasil lebih maksimal lagi. ’’Dari dulu sampai sekarang, ya buat, ya merawat bonsai,’’ sambungnya lagi.

Pak To lantas menceritakan, bila ada perbedaan tanaman bonsai dulu dengan sekarang. ’’Jadi cabang pertama sampai ke ujung, dulu ada aturannya. Sekarang terserah bagaimana,’’ lanjut dia. Lebih dari itu, dalam aturan main, pihaknya tak dibiarkan tumbuh sama. Setiap batang tak dibiarkan tumbuh sama. Harus bertingkat.

’’Pola batangnya setengah selanting atau doyong di cabang pertama dibiarkan. Kemudian kedua kalau sama ini dipotong, jadi nggak dibiarkan,’’ ungkap dia. Hal ini dilakukan agar di setiap cabang, bisa tumbuh membentuk seperti tingkatan.

’’Jadinya nanti nggak sejajar cabang. Makanya butuh program, misal sudah tumbuh disamping ya dipotong. Sebab, masih adalam nuasa pandemi, maka cabang di bawah, kemudian ke atas, maka ketiga di atasnya lagi sampai atas begitu.

Itu dilakukan agar bonsai nampak lebih bagus. ’’Dari depan akhirnya kelihatan bagus. Kalau sekarang kan terserah, caban satu, dua atau tiga,’’ beber Pak To. Saking lamanya bahkan dia punya julukan Pak To Bonsai. Hingga kini masih dipercaya merawat bonsai pelanggannya. Salah satunya mantan Bupati Suyanto.

Kali pertama yang dibeli lanjut lelaki usia 59 tahun ini bonsai beringin. ’’Semenjak itu sering ke rumah bahkan sering dijemput. Saya sudah punya istri dan anak pindah ke sini (Dusun Parimono, Red) juga masih sering kesini,’’ ungkap Pak To.

Karena mahir di dunia bonsai itulah, Pak To sering kali diajak ke kediaman Suyanto di Bareng. Bahkan, sampai sekarang, ia masih merawat bonsai-bonsai tersebut. “Mulai dari nol sampai jadi bonsai,’’ celetuknya diselingi tawa.

Dia begitu hafal ada berapa tanaman yang dirawatnya sekarangi. ’’Di rumah ada sekitar 100 bonsai, mulai dari bonsai santigi, kimeng, asam, beringin, cemara udang juga ada. Sebagian bonsai ada di rumah ini,’’ sebut Pak To.

Ia mengajak siapapun, usaha tanaman bonsai pasti bisa menghasilkan tanaman istimewa. Dalam menekuni kerajinan bonsai, menurutnya paling utama kesabaran. ’’Kuncinya harus sabar, itu saja. Apalagi mulai dari nol atau nanam sejak biji, nunggu sampai tumbuh, lalu kesuburan sampai merawatnya,’’ terangnya.

Karena itulah memerlukan waktu cukup lama agar bisa menghasilkan bonsai dengan bentuk bagus. ’’Seperti yang siap jual kalau mulai dari biji lama. Kalau yang dongkel leboh cepat, paling-paling satu dua tahun bisa dijual,’’ pungkas dia.

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP