alexametrics
Rabu, 23 Jun 2021
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri
masjid Darun Naja

Penanda Salat, Gunakan Jam Istiwa

28 Mei 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Jam istiwa dan bedug juga masih asli.

Jam istiwa dan bedug juga masih asli.

Share this      

HINGGA kini, keberadaan jam istiwa atau yang biasa disebut bencet di masjid Darun Naja sebagai penanda salat masih digunakan sampai sekarang. Terutama untuk salat duhur dan asar.

’’Jadi bencet ini yang asli hanya bagian atas atau sabdanya. Karena bangunan baru, kita pindah ketika ada pembangunan,’’ kata Salam kembali.

Sebelumnya, bencet tersebut memang berada di depan pintu atau serambi masjid. Kemudia ketika ada pembangunan gedung, maka bencet digeser tak jauh dari masjid. ’’Sampai sekarang masih dipakai sebagai penanda waktu salat duhur dan asar,’’ sambung dia.

Baca juga: Jalan Tetap Menyempit

Waktu salat itu dicocokkan dengan jam dinding yang ada. ’’Misal waktu salat duhur dicocokkan jam berapa. Kalau tidak cocok, terkadang breset beberapa menit. Jadi yang dicocokkan ini jamnya dengan bencet,’’ ungkapnya.

Dia menyebut, bangunan baru masjid tak meninggalkan keberadaan jam istiwa. Maklum, jam istiwa itu sebagai peninggalan para pendahulu. ’’Makanya bencet kita pindah,’’ terang dia. Begitu juga model desain masjid yang sederhana juga mengikuti bangunan lama. ’’Kalau bangunan lama ya begitu saja tidak ada tambahan apa-apa,” bebernya.  

Selain untuk jamaah salat lima waktu, masjid Darun Naja juga digunakan kegiatan keagamaan. Mulai dari pengajian hingga TPQ. Maklum, sejak dulu di sekitar masjid terdapat semacam pondok bagi siapa saja yang mengikuti pengajian.

’’Ýa bisa dibilang mbah itu tokoh agama di sini. Kalau pondok ini bukan, istilahnya buat nampung yang mau ngaji,’’ pungkas Salam.

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP