alexametrics
Selasa, 22 Jun 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Usaha Ikan Bakar di Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung (1)

Hanya Layani Ikan Tambak, Sehari Satu Kuintal

25 Mei 2021, 08: 50: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

SIAP JUAL: Setiap hari jumlah ikan emas yang dibakar capai satu kuintal.

SIAP JUAL: Setiap hari jumlah ikan emas yang dibakar capai satu kuintal.

Share this      

Ikan panggang yang banyak dijumpai di pasar atau toko klontong, bisa jadi berasal dari Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung. Sebagian warganya menggeluti usaha ikan bakar ini turun temurun. Seperti apa?

AINUL HAFIDZ, Mojoagung

ASAP terlihat mengepul di ruas jalan nasional saat sore hari. Tepatnya di Dusun Gambiran utara, Desa Gambiran, Kecamatan Mojoagung atau sebelum jembatan. Sumber asap itu tak terlalu jauh. Berada di pinggir jalan desa. Bagi yang ingin melihat dari dekat, harus menepi dari jalan nasional menuju jalan desa.

Baca juga: Copot, Rambu Terbalik

Beberapa wanita paruh baya terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mereka tak terlalu risau dengan asap yang mengelilingi seisi ruangan. Maklum, hampir setiap sore, mereka sibuk membakar ikan. ’’Sudah 30 tahun lebih usaha ini, waktu mbah saya masih ada,’’ kata Munawaroh, salah seorang pemilik usaha ikan bakar.

Ia menggeluti ikan bakar sejak 1980-an. Usahanya merupakan turun temurun dari keluarganya. Dia sendiri generasi ketiga yang meneruskan usaha ikan bakar sampai sekarang. ’’Ini nanti akan diteruskan anak saya, jadi masih ada generasi  ke empat,’’ imbuhnya.

Sembari melanjutkan aktivitas, Munawaroh bercerita jika usahanya sudah digeluti puluhan tahun. Tak semua ikan bakal dibakar. Dia hanya khusus memilih ikan tambak. ’’Kalau ikan laut belum pernah, soalnya dari dulu sampai sekarang ya ikan tambak. Mulai dari ikan emas, mujahir sampai bandeng,’’ sebut perempuan berusia 57 tahun ini.

Secara khusus, lanjutnya, usaha miliknya hanya membakar jenis ikan emas. Maklum, di Desa Gambiran, warga menggeluti usaha ikan bakar cukup banyak. ’’Kalau saya ikan emas atau tombro,’’ sebut dia sembari menunjukkan ikan yang dimaksud.

Ikan emas itu didatangkan dari Lamongan. Dalam sehari, ia biasanya membakar hingga 1 kuintal ikan. ’’Jadi ikan datang pagi, kemudian dibersihkan dan dipotong-potong siang sampai sore baru bisa bakar,’’ terangnya. Hampir semua memilih membakar ikan sore hari. Karena keesokan harinya, ikan bakar siap jual. ’’Makanya asap bakar sampai ke jalan,’’ sambungnya lagi kemudian tertawa.

Ia menyebut, proses pembersihan ikan cukup lama. Ikan juga harus dipotong beberapa bagian. Mulai kepala, tengah dan ekor.  Setelah itu ikan dibersihkan. Bagian tengah ditali dengan rafia. ’’Bagian kepala dikumpulkan semua, biar sama. Baru kemudian dibakar,’’ papar dia.

Proses pembakaran tak berlangsung lama, sekitar 30 menit. Ikan menjadi setengah matang dan empuk. ’’Biasanya setelah dibakar, masih ada yang digoreng lagi. Makanya pas bakar juga tidak terlalu matang,’’ ungkap Munawaroh.

Selama ini ikan hasil bakarannya sudah memiliki pelanggan tersendiri. Rata-rata, pelanggan yang datang memiliki usaha rumah makan atau kuliner penyetan. Hingga kini, omset penjualan tak berubah. Meski pandemi Covid-19, ikan bakar setiap hari habis terjual di Pasar Mojoagung.

Harga yang dipatok Rp 60 ribu perkilo. ’’Jual ke pasar sudah ada yang membeli. Jadi bakul lijo (pedagang keliling, Red) ambil dari sini (Gambiran, Red), kadang dijual lagi. Ada juga yang langsung ke tempat makan,’’ pungkasnya.

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP