alexametrics
Selasa, 22 Jun 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Sulap Kain Perca Jadi Kipas Lipat

24 Mei 2021, 21: 04: 44 WIB | editor : Rojiful Mamduh

ULET: Suwandi tengah membuat kerajinan kipas lipat dari bahan kain perca di rumahnya (23/5) kemarin.

ULET: Suwandi tengah membuat kerajinan kipas lipat dari bahan kain perca di rumahnya (23/5) kemarin.

Share this      

JOMBANG – Kain perca hingga kawat bekas biasanya hanya akan jadi sampah tak berguna. Namun di tangan mereka yang kreatif, sampah-sampah tak terpakai itu bisa disulap menjadi kerajinan unik yang bernilai tinggi. Adalah Suwandi, warga Desa Sentul, Kecamatan Tembelang yang memanfaatkan sampah kain menjadi kerajinan kipas lipat. ”Biasanya menyebutnya kipas lipat, karena memang cara menyimpannya dilipat,” ungkap Suwandi.

Meski dibuat dengan bahan sampah, kipas kain hasil karya Suwandi tak kalah dengan barang pabrikan. Harganya pun realtif terjangkau.

Proses pembuatannya cukup panjang. Awalnya, ia harus menyiapkan bahan utamanya, yakni kain perca dan kawat. ”Kain perca ini biasanya dapat dari penjahit, juga membeli di produsen baju, yang penting elastis dan bisa ditarik, seperti kain satin, kain katun itu bisa, kalau kawat dapatnya dari Surabaya,” lanjutnya.

Baca juga: Rawan Picu Kecelakaan, Tebing Jalan Dikeluhkan

Sisa-sisa potongan kain perca selanjutnya dia olah dan dia potong sesuai kebutuhan. Pemotongan kain ini, disebut Suwandi tak bisa sembarangan lantaran harus memperhatikan corak dan serat kain. ”Kalau asal dipotong tidak bisa bagus gambarnya,”
imbuhnya.

Setelah proses pemotongan selesai, selanjutnya proses menjahit. Berbeda dengan sejumlah produk kipas lainnya yang sebagian menggunakan bambu dan plastik, Suwandi lebih memilih kawat baja untuk produknya. Kawat-kawat ini selanjutnya dipotong dan dibentuk sesuai kipas. Kawat bulat ini harus dipipihkan dulu.

Untuk proses ini, Suwandi menggunakan alat yang ia buat sendiri. ”Kalau sudah pipih, baru dimasukkan kain yang sudah berbentuk kipas, fungsi kawat ini jadi tulang atau bingkai kipas,” tambah Suwandi.

Setelah terbentuk, kawat dikunci dengan besi kolong kecil atau yang disebut mata ayam. Pemasangannya juga dilakukan secara manual. Setelah dikunci, barulah kipas dipasang gagang plastik di bagian bawah. ”Gagang ini selain untuk pegangan, juga untuk pengunci saat kipas dilipat,” lontarnya.

Dibantu empat karyawannya, dalam sehari ia bisa memproduksi hingga puluhan buah kipas lipat. Untuk pemasarannya, Suwandi selama ini mengandalkan pesanan. ”Kalau sekarang paling banyak dari Kalimantan, biasanya untuk kegiatan ibu-ibu, karena kan kipasnya model wanita,” sebutnya.

Untuk satu produk kipasnya, Suwandi mematok harga  kisaran Rp 6 ribu - Rp 10 ribu per bijinya. ”Untuk harga menyesuaikan model dan tingkat kerumitan pembuatannya saja, makin banyak asesoris tambahan ya makin mahal,” pungkasnya.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP