alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Masker Ramadan

04 Mei 2021, 17: 48: 56 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Oleh:  Suryanto Kepala MAN 7 Jombang

Oleh: Suryanto Kepala MAN 7 Jombang

Share this      

Banyak orang meraih sukses puasa jika hanya  menahan makan, minum dan berimtim mesra (seks) mulai fajar hingga terbenam mata hari. Namun tidak sedikit gagal meraih kualitas dan nilai puasa jika seseorang tidak mampu menahan dan menjaga lisan dari tutur kata yang mengandung dosa. Untuk itulah diperlukan masker Ramadan.

Masker Ramadan adalah upaya melindungi puasa dari penyakit lisan, tutur kata yang kotor, kebohongan, tutur kata sia-sia dan tidak berguna.

Puasa yang dilakukan oleh seorang hamba akan   berguguran secara substansi  dan cacat disebabkan  penyakit lisan. Penyakit lisan hampir sama bahayanya dengan penyakit hati. Jika kedua penyakit itu menyatu, maka amat membahayakan pada diri seseorang dan masyarakat.  

Baca juga: Minta THR ke Pengusaha, Lurah Jombatan Dicopot Bupati

Kesempurnaan syahadat, salat, zakat, puasa dan haji harus dibarengi dengan kesucian lisan dari tutur kata yang tidak baik.

Salah satu indikator kebahagiaan orang beriman ditentukan oleh kemampuan mengendalikan perbuatan dan perkataan yang tidak berguna. Bahkan perkataan dan perbuatan keji akan mengantarkan seseorang  jatuh dalam kepailitan (muflis) pada hari kiamat. "Kam Min Sho-Imin Laisa Lahu - Min Shiyaamihi  Illal Ju-’u Wal  ’Athsyu” (Betapa banyak orang yang puasa akan tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga).

Agar capaian puasa Ramadan tidak hanya lapar dan dahaga,  maka  marker Ramadan amat penting dipersiapkan dan miliki serta digunakan agar dhohir dan bathin ikut  berpuasa.

Jika masker Ramadan masih ada pada diri seseorang, maka ibadah puasa yang dijalani akan mengalami peningkatan kualitas dari Ramadan ke Ramadan, dari puasa individu menuju puasa sosial.

Akhirnya dengan masker Ramadan,  puasa bukan hanya sekedar formalitas, namun semakin bermakna menuju peningkatan kesadaran ketuhanan dan kemanusiaan (taqwa).

Puasa akan menjadi pencerah qalbu menuju transformasi sosial, sehingga dengan ibadah puasa seseorang mampu mengurangi bahkan bisa menghilangkan ketegangan dan konflik-konflik yang diakibatkan oleh penyakit lisan dan hati.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR Bukhari)

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      Wallahu a’lam bishawab.

Mohon maaf segala khilaf.  Semoga bermanfaat.

(jo/ang/jif/JPR)

 TOP