alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget
Dulu Dipakai Mengalirkan Listrik

Menelusuri Sejarah Gardu Listrik dan Sirine Peninggalan Belanda

Kini Penanda Waktu Buka Puasa dan Imsak

04 Mei 2021, 17: 42: 58 WIB | editor : Rojiful Mamduh

TAK TERAWAT: Kondisi gardu listrik di dekat Alun-Alun Jombang tampak tak terawat, kemarin.

TAK TERAWAT: Kondisi gardu listrik di dekat Alun-Alun Jombang tampak tak terawat, kemarin.

Share this      

BAGI masyarakat yang tinggal di wilayah Jombang kota tentu tak asing dengan istilah Gang Suling atau sirine Belanda. Ya, di Jombang ada beberapa gardu listrik peninggalan Belanda yang kini masih berdiri kokoh. Setiap momen Ramadan, suara sirine gardu ini selalu ditunggu warga sebagai penanda datangnya waktu berbuka puasa termasuk waktu imsak, seperti apa?

ANGGI FRIDIANTO, Jombang

SEBUAH bangunan menara gardu listrik lengkap dengan sirine menjadi salah satu tetenger sejarah Kabupaten Jombang sebelum kemerdekaan. Meski umur bangunan ditaksir sudah mencapai 80 tahun lebih, hingga kini bangunan menara suling yang terletak di sudut selatan Pendapa Kabupaten Jombang masih kokoh.

Baca juga: MTsN 8 Jombang Prestasi Unggul, Siap Terima PPDB

Bersamaan datangnya Ramadan, bangunan ini banyak mendapat perhatian warga, lantaran suara sirinenya menjadi penanda datangnya waktu buka puasa termasuk imsak.

M Faisol salah satu penelusur sejarah Jombang menceritakan, bangunan ini dulunya adalah gardu listrik dan sirine yang dibangun perusahaan Algemene Nederlandsch Indische Electrisch Maatscapij (ANIEM). Sebuah perusahan penyedia listrik swasta di Hindia Belanda sekitar 1938 – 1939. Fungsinya untuk mengalirkan listrik dari PLTA Mendalan di Kasembon, Malang menuju Jombang. ”Jadi bangunan ini memiliki dua bagian. Yakni bagian bawah adalah gardu listrik yang berfungsi menerima aliran listrik dari PLTA Mendalan dan bagian atas adalah menara sirine atau suling,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.  

Dijelaksan, bangunan gardu listrik dengan sirine hanya ada satu di Jombang yakni dekat Alun-Alun Jombang. Kemudian, bangunan sirine tanpa gardu listrik juga hanya satu yakni di Jl Buya Hamka Gang suling, Dusun Sawahan, Desa/Kecamatan Jombang. ”Kalau di Gang Suling hanya sirine dan menara saja. Tidak ada bangunan gardu listriknya,’’ tambahnya.

Sedangkan, lanjutnya, untuk bangunan gardu listrik ada empat di Jombang. Yang pertama, sebelah selatan Pendapa Kabupaten Jombang, JL RE Martadinata dekat Klenteng Hok Liong Kiong Jombang, Jl Cak Durasim timur Kebonrojo dan satu lagi di dekat masjid kauman Mojoagung namun sudah dirobohkan sekitar 10 tahun lalu. ”Hanya berbentuk gardu listrik tanpa menara sirine,’’ jelas dia.

Sesuai namanya, gardu listrik dahulu difungsikan untuk membagi listrik dari PLTA Mendalan Kasembon kepada rumah warga dan instansi pemerintah pada zaman Belanda di Jombang. Hal itu dapat dilihat di setiap gardu ada semacam pengait dan isolator untuk membagi aliran listrik.

Kemudian, pada 1942 sejak Belanda kalah perang dari Jepang, bangunan tersebut beralih fungsi. Terutama pada sirine yang dimanfaatkan Jepang untuk peringatan serangan udara saat terjadi perang. ”Kini usianya sudah 83 tahun. Dan alhamdulillah dua sirine masih berfungsi untuk penanda waktu imsak dan buka puasa,’’ papar dia.

Namun sayang kondisinya kini tak terawat. Itu terlihat di bagian bangunan yang jadi jujukan aksi vandalisme atau coret-coretan tak jelas. Tak hanya itu, di beberapa tempat bangunan ini juga dipenuhi pamflet dan iklan rokok. ”Saya berharap Pemkab Jombang lebih peduli dan memperhatikan gedung/bangunan yang memiliki keterikatan sejarah,’’ tandasnya.

Ia juga berharap Pemkab dapat memasukkan dalam daftar cagar budaya di Jombang. Kalaupun tidak bisa, setidaknya merawat bagian cat agar tidak buram atau banyak tempelan pamflet rokok. ”Begitu juga sebagai warga, saya harapkan ikut membantu merawat dan minimal tidak melakukan coret-coret,’’ pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Hartono Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jombang membenarkan jika sirine di sisi timur Alun-Alun Jombang masih berfungsi. Setiap kali Ramadan tiba, petugasnya selalu bertugas membunyikan sebagai penada waktu berbuka puasa dan penandan waktu imsak. ”Petugas kami hanya membunyikan di alun-alun saja. Untuk sirine di Jl Buya Hamka itu dilakukan warga setempat,’’ ujar dia.

Disinggung soal minimnya perawatan pada bangunan tersebut, Hartono menyebut hal itu bukan kewenangannya. ”Itu perawatannya ikut bagian kesra. Kalau kami hanya diminta membunyikan sirine oleh kesra,’’ pungkasnya.

(jo/ang/jif/JPR)

 TOP