alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

MEMAKNAI DAN MENJAGA IBADAH PUASA RAMADAN

03 Mei 2021, 20: 11: 13 WIB | editor : Rojiful Mamduh

ZULFIKAR DAMAM IKHWANTO,  Ketua GP Ansor Kabupaten Jombang

ZULFIKAR DAMAM IKHWANTO, Ketua GP Ansor Kabupaten Jombang

Share this      

Ada beberapa keistimewaan bulan suci Ramadan, antara lain: bulan di mana diturunkannya Alqur’an, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu, lalu terdapat malam yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan, yakni Lailatul Qodr, malam kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Serta, bulan suci Ramadan ini adalah salah satu waktu dikabulkannya do’a.

Keberkahan bulan suci Ramadan tidak terhitung jumlahnya dan tidak diketahui oleh manusia secara pasti, namun mampu menjadi inspirasi untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan dan tidak mensia-siakan kesempatan berjumpa di bulan suci Ramadan ini, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al-Ghifari: “Kalau hamba-hamba Allah SWT mengetahui balasan dan keutamaan Ramadan, maka umatku pasti akan berharap agar sepanjang tahun menjadi Ramadan”. (HR. Tabrani, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).

 Pada bulan suci Ramadan ini diwajibkan berpuasa bagi umat Islam. Berpuasa sebulan penuh di bulan suci Ramadan adalah salah satu Rukun Islam.

Baca juga: Bisnis Penetasan Mentok Hias

Ada beberapa keutamaan berpuasa pada bulan suci Ramadan ini, yakni: puasa dapat menjadi perisai pelindung dari api neraka, pahala bagi orang yang berpuasa itu tidak terhingga, akan mendapatkan kebahagiaan saat berbuka puasa dan bertemu dengan Allah SWT, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari misk atau kasturi, puasa dapat memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya, mendapatkan ampunan dari segala dosa, dan disediakan surga masuk melalui pintu arroyyan.  

Ibadah puasa Ramadan jika direnungkan lebih dalam, tidak hanya memiliki esensi ketuhanan saja, akan tetapi juga esensi kemanusiaan. Implementasi  dua esensi ini untuk menyeimbangkan kehidupan manusia yang memiliki dua dimensi hubungan, yakni pertama dimensi hubungan antara manusia dengan Tuhannya (hablumminallah), kedua dimensi hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya (hablumminannâs).

Menjalani ibadah puasa Ramadan dengan mental dan rohani yang siap akan menjadikan puasa kita berjalan lancar dan penuh keberkahan. Berpuasa dapat menuntun seorang muslim menemukan kebaikan-kebaikan baik secara pribadi maupun sosial. Jangan sampai kemudian kita termasuk tergolong orang yang tekun berpuasa namun mendapatkan kritikan atau pengingat dari Rasulullah SAW : “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apapun dari puasanya selain rasa lapar saja”. (HR. Imam Ahmad).

Menurut M. Quraish Shihab dalam puasa setidaknya ada tiga hal yang terkandung sebagai hakikat puasa, yaitu upaya mengendalikan diri dari nafsu yang membelenggu atau sabar, terhindar dari perbuatan-perbuatan yang mendatangkan siksa, sehingga memperoleh derajat muttaqin, dan berusaha mengembangkan potensinya agar mampu membentuk dirinya sesuai dengan “peta” Tuhan dengan jalan mencontoh Tuhan dalam sifat-sifat-Nya. Puasa sebagai upaya memperoleh kesabaran karena pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri dari keinginan-keinginan syahwat yang dapat mengganggu ketentraman jiwanya.

Mengendalikan mata dari melihat hal-hal yang terlarang, menahan telinga dari sesuatu yang merusak (terlarang), menahan lidah dari mengucapkan hal-hal keji yang dilarang oleh Allah, menahan perut memelihara kehormatannya, memelihara tangan dari pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan dosa, memelihara kaki untuk tidak melangkah ke tempat-tempat yang dimurkai oleh Allah.

Mengendalikan inilah yang disamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa. Tidak dapat disangkal bahwa puasa merupakan suatu kewajiban yang memerlukan kesabaran.

Bagi mereka yang berpuasa akan diberikan imbalan karena kemurahan Allah SWT, akan selalu dekat dengan-Nya dan terkabullah apa yang menjadi permohonan dan harapan.

Ibadah puasa Ramadan dapat menjadi institusi pendidikan dan pelatihan mengenai kepekaan dan kepedulian umat Islam terhadap sesama. Selama sebulan penuh umat Islam dianjurkan untuk lebih banyak perenungan dan menahan diri, yaitu mengendalikan segala macam bentuk godaan nafsu syahwat dan duniawi.

Rasa lapar dan haus yang kita alami sejak terbit fajar hingga terbenam matahari setidaknya menggugah hati dan jiwa, betapa banyak saudara kita yang kurang beruntung telah terlebih dahulu merasakan lapar dan haus. Ketika rasa lapar dan haus mendera, orang kaya maupun orang-orang miskin pun merasakan keadaan yang sama.

Dengan kata lain, puasa mengajarkan sikap toleran dan empati sebagai bagian dari totalitas ketakwaan terhadap Allah SWT. Kehidupan sosial akan mampu mencapai kesempurnaannya apabila setiap manusia dalam kehidupan sosialnya mampu menumbuhkan sikap sensitif terhadap rasa sakit dan derita yang dialami sesamanya. Puasa sesungguhnya juga merupakan upaya sadar untuk mengimplementasikan sikap kasih sayang terhadap sesamanya melalui proses penumbuhan dan penyuburan nurani kemanusiaan.

Proses semacam ini akan mampu menciptakan nilai-nilai kesalehan sosial dalam ranah kehidupan sejati meski berada di tengah situasi peradaban yang tengah tertekan oleh hantaman keras globalisasi, modernisasi dan kemajuan teknologi.

Jadi, momentum ibadah puasa Ramadan ini, sesungguhnya sekaligus mengingatkan kepada umat Islam tentang pentingnya menghayati puasa sebagai instrumen mewujudkan solidaritas dan kepedulian sosial. Sejumlah ayat Alqur’an mengecam betapa bahayanya sikap ketidakpedulian sosial. Sebaliknya, menyanjung betapa indahnya sikap kesalehan sosial dan kepedulian sosial. Seperti dalam surat al-Ma’un, al-Humazah, al-Takasur, dan al-Balad, sengaja diturunkan untuk mengapresiasi sikap kepedulian sosial.

Pada prinsipnya, ajaran Islam dalam Alqur’an mengecam manusia yang kikir dan enggan membantu sesamanya, serta mengutuk manusia yang asyik menumpuk harta, berlomba dalam kemewahan dan kekayaan sebagaimana kharakter masyarakat karena dampak modernisasi dan teknologi yang tidak dibarengi dengan keimanan dan ketaqwaan pada Allah SWT.

Semoga bulan suci Ramadan yang masih di masa pandemi Covid-19 kali ini dapat benar-benar kita manfaatkan untuk terus meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah, senantiasa mampu membangun kesalehan pribadi dan sosial, menjauhkan diri dari pengaruh buruk penyakit hati seperti cinta dunia, iri/dengki/ hasad, takabbur (sombong/ membanggakan diri) dan riya’/ suka pamer atau juga menjauhi segala model gaya kehidupan berpaham sekularisme, hedonisme, materialisme, dan individualisme. Serta kita juga dapat mengasah kasih sayang, empati, sikap toleran, menjaga kerukunan, sabar dan peduli terhadap sesama. Secara intensif melaksanakan kajian keislaman, tadarus Alqur’an, i’tikaf, salat tarawih berjama’ah, safari Ramadan, sahur atau buka puasa bersama, santunan fakir miskin dan yatim piatu, pengelolaan zakat fitrah dan amaliyah kebajikan lainnya meskipun dengan pembatasan dan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Mari terus disiplin menerapkan protokol kesehatan (Prokes) pencegahan Covid-19 dimanapun dan kapanpun, lebih dari setahun sudah kita menghadapi Pandemi Covid-19 ini dan secara mandiri kita bisa mengupayakan secara optimal menerapkan Prokes dengan baik, juga mari terus berdoa agar pandemi Covid-19 ini segera berlalu dan kembali hidup normal. Amiin.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP