alexametrics
Minggu, 20 Jun 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh
KH Muhammad Irfan Yusuf Hasyim

Dorong Revisi Undang-Undang Pesantren

02 Mei 2021, 08: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

AKRAB: KH Muhammad Irfan Yusuf Hasyim bersama Menhan Prabowo Subianto.

AKRAB: KH Muhammad Irfan Yusuf Hasyim bersama Menhan Prabowo Subianto.

Share this      

Cucu pendiri NU sekaligus Pesantren Tebuireng, KH Muhammad Irfan bin KH Yusuf bin KH Hasyim Asy’ari, mendorong revisi Undang Undang Nomor 18/2019 tentang Pesantren. Pasalnya, ada sejumlah pasal yang bertentangan dengan kekhasan pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua yang ada sejak sebelum Indonesia merdeka.

’’Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei sangat tepat untuk mendorong revisi Undang Undang Pesantren yang memang dibuat sangat cepat demi kejar tayang,’’ kata Gus Irfan, sapaannya.

Dia lantas memberi dua contoh. Pertama, Pasal 6 ayat 1 yang menyatakan, pesantren didirikan oleh perseorangan, yayasan, organisasi masyarakat Islam, dan atau masyarakat. ’’Adanya frase ’dan atau masyarakat’ itu sangat membahayakan. Karena bisa saja masyarakat non muslim pun ikut mendirikan pesantren dengan orientasi bisnis,’’ terangnya.

Baca juga: Anak Tukang Jahit yang Sukses jadi Dokter hingga Aktivis Pendidikan

KOMPAK: KH Muhammad Irfan Yusuf Hasyim bersama keluarga.

KOMPAK: KH Muhammad Irfan Yusuf Hasyim bersama keluarga.

Ini karena sudah ada presedennya, yakni  biro haji dan umrah. ’’Sekarang ini non muslim pun sudah ada yang punya travel haji dan umrah,’’ jelas dia.

Kedua tentang sistem penjaminan mutu pendidikan pesantren. Pada pasal 27 ada dewan masyayikh yang murni berasal dari internal pesantren. Lalu di pasal 28 ada majelis masyayikh yang berasal dari perwakilan dari dewan masyayikh. ’’Majelis masyayikh ini dibentuk pemerintah,’’ tuturnya.

Kewenangannya sangat besar. Sebagaimana disebut dalam pasal 29. Di antaranya, menetapkan kerangka dasar dan struktur kurikulum pesantren. Memberi pendapat kepada dewan masyayikh dalam menentukan kurikulum pesantren. Merumuskan kriteria mutu lembaga dan lulusan pesantren. Merumuskan kompetensi dan profesionalitas pendidik dan tenaga kependidikan.

Lebih dari itu, melakukan penilaian dan evaluasi serta pemenuhan mutu. Serta memeriksa keabsahan setiap syahadah atau ijazah santri yang dikeluarkan oleh pesantren.

’’Keberadaan majelis masyayikh ini bisa menjadi kepanjangan tangan pemerintah untuk intervensi pesantren,’’ ungkap Gus Irfan.

Hal itu menurutnya bertentangan dengan kemandirian pesantren. ’’Pesantren dengan kemandirian dan kekhasannya sudah terbukti bisa mencetak para tokoh yang berkontribusi besar dalam berbangsa dan bernegara. Jadi pemerintah tidak perlu mengintervensi pesantren,’’ pesannya.

Pada sidang umum MPR 1978, pesantren mau dimasukkan dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN). KH Yusuf Hasyim yang waktu itu duduk sebagai anggota DPR dari PPP menolak. ’’Bahkan semua anggota Fraksi PPP walk out. Ini karena  mereka tidak mau pesantren diintervensi,’’ tegas dia.

Untuk membantu pesantren, pemerintah tidak perlu menyeragamkan semua pesantren. ’’Cukup dengan menanyakan yang dibutuhkan pesantren apa? Kemudian membantu yang dibutuhkan itu,’’ paparnya.

Gus Irfan lalu cerita pengamalannya menjadi Sekretaris Pesantren Tebuireng selama 20 tahun, 1986-2006. Mendampingi ayahnya, KH Yusuf Hasyim sebagai pengasuh. ’’Saya sering dapat telepon dari pemerintah pusat. Ada alokasi bantuan untuk Pesantren Tebuireng. Sudah diplot. Tapi untuk bisa cair harap mengirim proposal,’’ kenangnya.

Dia lalu melaporkannya kepada Pak Ud, sapaan KH Yusuf Hasyim. ’’Jawabannya selalu sama, beliau tidak mau tanda tangan proposal,’’ kenangnya. Ini karena Pak Ud tidak ingin pesantren dianggap meminta-minta.

Gus Irfan berharap, semua pesantren punya semangat kemandirian seperti itu. Di era sekarang, pesantren menurutnya sangat penting. ’’Pesantren punya banyak nilai plus dalam menyiapkan generasi penerus bangsa,’’ tuturnya.

Santri pesantren bisa memperoleh pendidikan umum di sekolah seperti anak yang tidak mondok. Justru dengan tinggal di pesantren, anak akan punya banyak nilai plus.

Dapat tambahan ilmu agama yang lebih banyak. Dapat pembinaan akhlak. Punya pengalaman hidup disiplin dan mandiri. Bisa bermasyarakat lebih baik karena kumpul dengan anak dari seluruh Indonesia. Lebih luwes dalam bergaul karena kumpul dengan teman dengan berbagai macam karakter.

’’Alumni pesantren pasti punya ilmu pengetahuan. Juga punya sopan santun dan tawadlu,’’ terangnya.

Bener Baru Pinter

Gus Irfan menuturkan, ada dua ajaran KH Hasyim Asy’ari yang selalu dia pegang. ’’Kiai Hasyim itu menanamkan taabbud dulu baru taalum,’’ terangnya. Taabbud yakni ubudiyah, santri dibina jadi orang benar lebih dulu. Baru taalum yakni diajari ilmu. ’’Kalau sudah bener, dipinterno itu gampang,’’ ungkapnya.

Dia yakin para santri sudah punya karakter bener. Makanya dia mendorong para santri untuk mewarnai semua lini kehidupan. ’’Ketika santri pamit boyong, pasti saya tanya, melanjutkan kuliah kemana?’’ jelasnya. Lalu dia menyampaikan motivasi agar para santri berani mengambil pilihan kuliah di UI, UGM, Unibraw, ITS, Unair dan kampus unggulan lainnya. ’’Santri tidak boleh takut bersaing dengan siswa sekolah umum. Sebab santri itu dapat pendidikan yang diperoleh siswa umum. Plus dapat tambahan ilmu agama yang lebih baik,’’ terangnya.

Saat ini, untuk melanjutkan pendidikan tinggi lebih mudah dan lebih gampang cari beasiswa. ’’Sesulit apapun pasti ada peluang. Kalau sudah dapat peluang, jangan takut dengan kesulitannya,’’ pesannya. Dia lalu mencontohkan short course-nya ke Amerika dan Inggris. ’’Semuanya beasiswa. Ketika tes juga sempat gagal, biasa,’’ ujarnya.

Menurutnya, santri harus bisa mewarnai semua lini kehidupan.  Agar bisa menjadi pelopor yang bener. ’’Santri yang masuk ke politik, harus bisa mewarnai agar teman-temannya bener. Jangan justru diwarnai oleh teman-temannya yang terlanjur bernoda,’’ ungkapnya.

Kalau itu terjadi, KPK tak perlu kerja keras. ’’Karena semua pasien KPK itu pinter, tapi tidak bener,’’ tegasnya.

Itu pula yang menjadi pertimbangannya, sehingga pada 2019 mau menjadi jubir capres Prabowo. Dan mulai tahun lalu dia bersedia duduk sebagai wakil ketua umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra. Mendampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto selaku ketua umum.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP