alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

871 Siswa SD-SMP Putus Sekolah, Salah Satu Penyebabnya Broken Home

02 Mei 2021, 08: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

MERDEKA BELAJAR: Pembelajaran tatap muka menjadi pelecut semangat siswa.

MERDEKA BELAJAR: Pembelajaran tatap muka menjadi pelecut semangat siswa.

Share this      

JOMBANG – Angka putus sekolah di Jombang masih tinggi. Sepanjang perjalanan tahun pelajaran 2020-2021, total ada 871 siswa SD-SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Banyak faktor yang mendasari, salah satunya broken home.

”Angka ini berdasarkan data dari data pokok pendidikan (Dapodik) 2020-2021,” ucap Agus Purnomo Kepala Dinas P dan K Jombang, melalui Sekretaris Jumadi, kemarin (30/4).

Ia menyampaikan, dari 75.163 siswa SD se-Jombang, ada 259 anak yang tidak melanjutkan ke SMP. Angka ini cukup tinggi. ”Tapi ini tidak tahu, putus sekolah sejak kelas berapa, di tengah jalan, atau sudah lulus tidak mau lanjut,” katanya.

Baca juga: Sudah 7 Sekolah, Pembobolan SD di Jombang Marak

Sementara untuk siswa SMP, lanjut dia, dari 41.690 siswa se-Jombang, tercatat 612 siswa yang lulus tapi tidak melanjutkan ke jenjang SMA. Menurutnya, banyak faktor yang melatari. Salah satunya broken home, faktor ekonomi, dan faktor senang bekerja.

”Yang paling banyak karena faktor broken home dan ekonomi,” beber Jumadi. Meski sejauh ini layanan fasilitas sekolah diberikan gratis dengan kucuran dana BOS. Namun motivasi diri untuk melanjutkan sekolah tidak ada. Ditambah dengan orang tua yang tidak ingin mendorong, anaknya untuk tetap bersekolah.

Dijelaskan, angka putus sekolah banyak terjadi di wilayah pinggiran. ”Seperti Plandaan, Kabuh,” sebut Jumadi. Di daerah pinggiran, faktor senang bekerja menjadi salah satu alasan. Banyak anak yang membantu orang tuanya di bidang pertanian, sehingga keinginan melanjutkan sekolah semakin minim.

”Sudah tahu rasanya pegang uang, tahun 2018 kita cek ke Kabuh, di sana banyak anak yang membantu orang tuanya untuk bertani tembakau, akibatnya tidak ada motivasi untuk sekolah,” tambahnya. Karena itulah Dinas P dan K Jombang tidak tinggal diam untuk mengatasi masalah yang muncul setiap tahun.

Untuk menekan angka putus sekolah, Dinas P dan K memerintahkan penilik untuk melakukan pelacakan. Pelacakan itu dimulai dari Korwil, yang kemudian dilanjutkan melacak ke kepala sekolah. Tahap akhir diteruskan ke desa.

”Nanti desa bersama-sama bertemu dengan orang tuanya, tetap mendorong untuk lanjut sekolah,” pungkasnya.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP