alexametrics
Selasa, 22 Jun 2021
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Husnudhon Power

25 April 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Oleh: Drs H Suryanto, MPdI

Oleh: Drs H Suryanto, MPdI

Share this      

BAHWA sesungguhnya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan mereka bisa menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi” al-Hadis.

Fitrah secara harfiah bermakna suci, bersih bebas dari noda/ dosa. Dalam pengertian yang lebih luas fitrah adalah watak dasar manusia yang selalu cenderung kepada kebenaran, kebaikan, keindahan, ketuhanan, atau hal-hal yang bersifat positif.

Jadi secara fitrah, manusia itu memiliki sifat-sifat yang baik atau memiliki kecenderungan kepada kebaikan. Oleh karenanya dapat difahami bahwa ajaran Islam sangat menekankan kepada para pemeluknya untuk senantiasa Husnudhan yakni berprasangka baik (positif thinking) kepada sesama manusia, karena sesungguhnya pada dasarnya watak dasar setiap manusia adalah baik.

Baca juga: Empat Titik Dijaga Ketat

Husnudhon atau positif thinking adalah berprasangka baik kepada siapapun dan terhadap apapun yang menimpa kita. Artinya, menganggap siapapun dengan pandangan baik, tanpa prasangka buruk, atau curiga, baik yang menguntungkan maupun yang tidak menguntungkan diri sendiri, sehingga kita dapat berpikir jernih, obyektif, benar dan sehat.

Dengan demikian dalam hidup bersama akan terbangun rasa saling percaya, kebersamaan, kerja sama, kerukunan dan sebagainya. Begitu pula dalam menghadapi berbagai masalah, akan bisa terselesaikan dengan baik.

Husnudhon harus dipupuk dan dilatih secara terus menerus. Karena tidak mudah dalam menghadapi kenyataan hidup yang keras, dan penuh dengan beraneka ragam karakter manusia. Baik yang berkarakter baik, maupun yang berkarakter menyimpang dari fitrahnya. Husnudhon adalah nutrisi vitamin yang akan membangun pikiran sehat dan menjadikan hidup semakin baik dan cemerlang, sedangkan syu’udhon (berprasangka buruk) adalah virus yang menggerogoti akal sehat dan menjadikan hidup semakin terpuruk.

Untuk itu marilah kita biasakan hidup dengan berhusnudhon, baik kepada diri sendiri, orang lain, Allah SWT, dan alam sekeliling kita. Jangan sekali-kali menjelek-jelekan atau merendahkan diri sendiri, hal ini akan terekam oleh otak dan akan menimbulkan program yang berdampak buruk bagi kehidupan kita.

Misalnya kita berguman “saya bodoh, saya pemalas, saya miskin, saya tidak mampu, saya tidak bisa, saya tidak sanggup, saya jelek, saya gagal dan lain sebagainya”. Dengan lontaran seperti itu justru harus dikembangkan husnudhon sambil berguman

“Saya baru gagal 10 x belum 100 kali, tunggu tanggal mainya, masa saya tidak bisa seperti dia, suatu saat saya akan sukses, saya bisa hebat, saya bisa sukses, saya bisa makmur, saya bisa kaya raya” dan lain sebagainya. Hal ini akan menimbulkan semangat hidup untuk memperbaiki dan merubah hidup ke arah yang lebih maju.

Manusia yang senantiasa berhusnudhon otaknya akan selalu jernih, dan hati nuraninya menjadi bersih. Sedangkan manusia selalu yang bersyu’udhon otaknya menjadi keruh/butek, dan hati nuraninya menjadi kotor.

Adapun kata kunci yang harus dipegang teguh agar kita bisa melatih dan mempertahankan sikap husnudhon. Di antara cara lain: Berprasangka baik kepada Allah, yaitu dengan tetap menjalankan semua perintah-Nya secara istiqomah, dan menjauhi segala larangan-Nya kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun.

Bahwa Allah selalu menyayangi kita dan pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita, setiap menghadapi kesulitan dan kesusahan selalu yakin itu adalah cara Allah memoles kita menjadi pribadi yang terbaik dan mulia, dan lain sebagainya.

Berprasangka baik dengan sesama manusia, mengasihi sesama manusia  dengan banyak memberi, menolong, bekerja sama, memberi manfaat dan maslahat, menjalin persaudaraan, dan berbuat baik kepada sesama manusia. Bahwa tidak ada manusia jahat sempurna, tidak ada manusia buruk sempurna, pastilah masih ada sisi-sisi kebaikan darinya.

Berprasangka baik dengan alam dengan memelihara dan menjaga kelestarian alam lingkungan, menciptakan keseimbangan alam, tidak melakukan kerusakan yang akan menyebabkan hilangnya keseimbangan alam yang pada akhirnya akan lahir bencana alam, peduli kepada sampah dan kebersihan lingkungan.

Bahwa jika kita menjaga alam maka alam akan menjaga kita, jika kita memelihara kelestarian alam maka alam akan memberi kita tempat yang nyaman dan menyenangkan. Jika ketiga kata kunci di atas kita pegang teguh dan kita laksanakan, maka Insyaallah hidup kita akan semakin baik, jauh dari problem psikologis maupun social.

Semoga Allah membimbing kita untuk bisa memiliki sifat Khusnudhon. Aamiin. (*)

(jo/ang/jif/JPR)

 TOP