alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Gara-Gara Topi, Pemuda di Kabuh Dikeroyok

7 Pelaku Ditangkap, 7 Masih Buron

23 April 2021, 08: 05: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Teguh Setiawan

Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Teguh Setiawan

Share this      

JOMBANG – Agus Setiawan, 31, warga Dusun Plengan, Desa Sumberingin, Kecamatan Kabuh babak belur. Dirinya menjadi sasaran pengeroyokan belasan pemuda Sabtu (17/4) malam. Pelaku tak terima korban mengenakan atribut perguruan silat di topinya.

”Tujuh pelaku di antaranya kini sudah berhasil dibekuk dan ditahan, satu diantaranya masih anak-anak, tujuh sisanya masih dalam pengejaran,” tegas Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Teguh Setiawan, kemarin (22/4).

Teguh merinci, tujuh pelaku yang sudah ditangkap di antaranya, Tomi, 23, warga Desa Pengampon, Kecamatan Kabuh, Dwi Ari, 42, Warga Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng dan Galih, 24, warga Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh. Selanjutnya, Jefri Widi, 37, Habib Muiz, 37, dan Ainun Jariyah, 36, asal Desa Sumberingin, Kecamatan kabuh. Satu lagi atas nama MS, 17, masih di bawah umur.

Baca juga: Dalami Kasus Pupuk Subsidi, Kejaksaan periksa Gapoktan dan PPL

Kejadian pengeroyokan terjadi Sabtu (17/4) malam. Saat itu korban Agus Setiawan, 31, tengah berkunjung ke rumah orang tuanya di  Desa Genenganjasem, Kecamatan Kabuh. ”Sekitar pukul 21.00, korban datang dengan mobil, kemudian sempat nongkrong dengan warga setempat,” bebernya.

Sekitar pukul 23.00, korban didatangi pemuda lain Gunari dan Tomi. Keduanya mengajak Agus, untuk ikut pulang dengannya dengan alasan ada keperluan mendesak. ”Tomi dan Gunari menggunakan sepeda motor, sementara korban menggunakan mobil membuntuti di belakang,” imbuhnya.

Sesampainya di jalanan sepi di Dusun Plengan, Desa Sumberingin, Tomi dan Gunari menghentikan kendaraan korban. Di lokasi ternyata sudah menunggu sekelompok pemuda.

Tanpa tahu alasannya, tiba-tiba korban diminta turun dari mobil oleh salah satu pelaku bernama Ainun Jariyah. ”Pelaku pertama ini langsung menginterogasi korban tentang topi berlogo PSHT yang sempat korban kenakan,” tambah Teguh.

Korban sempat menjawab jika topi itu dibelinya di pasar Ploso. Korban juga mengaku jika ia bukan anggota dari perguruan silat itu. ”Karena kesal, Ainun dan 13 temannya kemudian mengeroyok korban hingga pingsan,” lontarnya.

Seolah belum puas, belasan pelaku menunggu korban tersadar. Setelah korban siuman, pelaku kembali melancarkan serangan dengan menendang bagian dada korban hingga korban kembali pingsan untuk yang kedua kalinya.

Setelah sadar, korban selanjutnya dimasukkan ke mobil dan diancam untuk dibunuh jika tak mau ikut perguruan pencak silat. ”Korban kemudian pulang, setelah itu melaporkan kejadian pengeroyokan itu kepada pihak kepolisian,” tegasnya.

Atas perbuatan pelaku, korban menderita sejumlah luka memar di bagian bibir, dan badan. ”Korban menderita luka dan memar, meskipun tidak sampai opname di rumah sakit,” tambah Teguh.

Selain mengamankan ketujuh pelaku, polisi juga mengamankan sebuah topi berlogo perguruan pencak silat yang jadi biang sengketa, sebuah sepeda motor yang jadi sarana para pelaku pengeroyokan dan sebuah kaos korban yang ada bercak darahnya. ”Para pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan kami tahan. Kami berkomitmen untuk mengejar seluruh pelaku yang hingga kini masih DPO, agar ada efek jera. Untuk pasal yang dikenakan, adalah pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman tujuh tahun,” pungkas Teguh.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP