alexametrics
Sabtu, 15 May 2021
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Gas Poll dan Rem Blong Dalam Ramadan

23 April 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

KH Salmanudin Yazid, ketua PCNU Jombang

KH Salmanudin Yazid, ketua PCNU Jombang

Share this      

Ramadan adalah bulan suci milik umat Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis ditegaskan demikian. Sehingga siapapun yang telah bersyahadat, maka baginya Ramadan adalah waktu yang tidak boleh dilewatkan seditikpun karena manfaat dan keistimewaan yang ada di dalamnya.

Mulai dari mukmin level tinggi sekelas wali, ulama, kiai. Level sedang hingga rendah. Atau orang awam yang sedang belajar menebalkan keimanan, yang sedang menata keimanannya. Hingga yang baru menemukan kembali keimanannya.

Semua terikat pada kewajiban dan peluang yang sama. Bahkan, siapapun bisa naik kelas keimanannya selama bulan Ramadan. Dari yang awam hingga mencapai kelas iman yang istiqomah (imanan mustaqiman), mencapai kelas mendapat anugerah yang berkelanjutan (fadhlan daiman). Bahkan mencapai kelas mendapat pertolongan atas kasih sayang Allah SWT (nashron rohmatan).

Baca juga: Berdalih Monev, Inspektorat Pasrah Pemdes

Semua sangat bergantung pada individu umat Muhammad SAW dalam memanfaatkan bulan Ramadan. Gas poll beribadah dan beramal saleh setiap detik dan setiap napas yang keluar untuk mencapai tujuan. Atau sebaliknya, rem blong tanpa kemampuan mengendalikan waktu dan helaan napas yang keluar untuk beribadah dan beramal saleh, terjadi kecelakaan dan kesia-siaan.

Hukmut tasyri’ dalam surat Al Baqarah 183 didahului dengan ’’Ya ayyuha alladzina amanu’’.

Prof KH M Quraisy Shihab dalam Tafsir Misbah-nya membedakan antara maksud ‘al mukminun’ dengan alladzina amanu. Seperti perbedaan antara ‘penyanyi’ dengan ‘orang-orang yang menyanyi’.

Penyanyi, melekat dalam dirinya bakat dan teruji kemampuan menyanyinya. Sedangkan orang-orang yang menyanyi, siapapun yang bisa mengolah nada suara sehingga terdengar sedang menyanyi. Inilah maksud dari perbedaan antara ‘al mukminun’ dengan ‘orang-orang yang beriman’ dalam Al Baqarah 183.

Sehingga Ramadan adalah waktu dan momentum bagi siapapun yang beriman untuk memanfaatkannya. Tanpa membedakan tingkat keimanan. Bahkan setiap orang berpotensi naik kelas keimanannya. Berbahagialah bagi orang yang bertemu dan menemukan bulan Ramadan.

Kewajiban menjalankan puasa ditegaskan dengan kalimat; kutiba ‘alaikum asshiyam. Kutiba secara nahwu berarti diwajibkan. Siapa yang mewajibkan?

 Prof KH M Quraisy Shihab menjelaskan; bilapun Allah SWT tidak mewajibkan kepada manusia untuk berpuasa, maka manusia itu sendiri mewajibkan kepada dirinya untuk melakukannya.

Hal ini terkait dengan manfaat dan keistimewaan puasa bagi manusia. Sebagaimana umat-umat sebelumnya yang diwajibkan untuk berpuasa. Kama kutiba ‘ala alladziina min qoblikum. Bahkan umat-umat sebelumnya, termasuk hampir semua agama mengenal istilah berpuasa.

Mereka mengenal manfaat dan keistimewaan berpuasa. Mengapa demikian?

Kurun waktu puasa hanya dalam hitungan; ayyamam ma’dudat.

Dari  365 hari dalam kalender satu tahun, umat Muhammad SAW menyisihkan waktu 29-30 hari untuk berpuasa. Inilah batasan waktu yang diwajibkan, dan segala manfaat dan keistimewaan berpuasa sepenuhnya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Yakni, supaya menjadi manusia yang sempurna dengan menempatkan diri agar bertaqwa, tunduk kepada Allah SWT yang Maha Pencipta, Maha Kuasa, dan Maha segalanya. Artinya, selama 335-336 hari dalam kalender satu tahun, setiap manusia berpotensi ‘rem blong’ menggunakan mesin hati, mesin akal dan mesin nafsunya tanpa kendali dan tujuan yang terarah.

Potensi kerusakan hingga mesin aus bisa saja terjadi. Bahkan manusia bisa terjerembab dalam kerusakan dan kehinaan karena tidak adanya kontrol diri yang berarti.

Maka, 29-30 hari selama Ramadan adalah mekanisme bagi umat Muhammad SAW untuk menahan mesin hati, mesin akal dan mesin nafsu supaya tidak blong. Sekaligus melatih mesin hati supaya bekerja sesuai tujuan dan terarah.

Melatih mesin akal supaya bekerja tunduk pada kebaikan, serta melatih mesin nafsu supaya bekerja stabil dalam memenuhi hasrat manusiawinya.

Dengan demikian, dalam bulan Ramadan ini setiap umat Muhammad SAW mempunyai mekanisme dan cara berbeda-beda dalam memperbaiki dan melatih mesin-mesin dirinya melalui instrument berpuasa.

Ada yang tekun beribadah dan beramal, ada yang lebih banyak istirahat bahkan tidur, dan ada pula yang –karena kondisi- tidak berpuasa namun menyadari kewajiban untuk mengulangnya di kemudian hari.

Semuanya adalah kelonggaran yang diberikan Allah SWT untuk umat Muhammad SAW dan semuanya sangat bergantung pada kesadaran akan manfaat dan keistimewaan mekanisme berpuasa selama Ramadan. Bahkan, bagi yang belum baligh-pun, perlu berlatih dan didampingi supaya terbiasa menghidupkan mesin hati, mesin akal dan mesin nafsunya melalui mekanisme berpuasa selama bulan Ramadan.

 Itulah anak-anak kita, yang meramaikan masjid di saat tarawih dan tadarus walau sering disertai senda gurau diantara mereka. Jangan cegah mereka, sebaliknya arahkan mereka. Mudah-mudahan kita bisa istikomah berpuasa, beribadah dan beramal saleh selama Ramadan.

Selama 29-30 hari di bulan Ramadan ini kita bisa naik kelas lebih tinggi, dari sekedar bisa bersepeda, mengendarai motor dan mengemudi mobil. Bila sukses dan lancar, atas izin, rida Allah SWT,  kita bisa menjadi pembalap di segala medan. Menjadi muttaqin, muflihin dan ‘aidin ila alfitri. Maka, gas poll dan jangan rem blong selama Ramadan. Amin ya robbal ‘alamin

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP