alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Pendeta Petrus Harianto Total Melayani Tuhan

04 April 2021, 08: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Pendeta Petrus bersama istri, empat anak, dua menantu dan tiga cucu.

Pendeta Petrus bersama istri, empat anak, dua menantu dan tiga cucu.

Share this      

JOMBANG - Bagi gembala jemaat GPdI House of Prayer Sawahan Jombang, Pendeta Petrus Harianto, 51, hidup adalah kesempatan. Setiap kali merenung, dia sangat bersyukur dipercaya Tuhan dalam pekerjaanNya.

’’Karena saya punya masa lalu yang yang bagi manusia mungkin tidak layak,’’ ucap bapak empat anak dan kakek tiga cucu ini. Dia merasa, Tuhan mengasihi dan mencintainya tanpa syarat. ’’Tuhan memilih saya untuk dipersiapkan menjadi hambaNya,’’ ungkapnya.

Pada 1992, dia dan keluarga masih tinggal di Surabaya. Menempati rumah kontrakan di daerah Dinoyo Sekolahan. ’’Waktu itu saya masih bekerja di salah satu perusahaan,’’ kenang dia. Tugasnya menyapu, mengepel gereja dan menyiapkan semua yang dibutuhkan sebelum ibadah. Setelah ibadah selesai, dia membereskannya kembali.

Baca juga: Apresiasi Mewarna di Rumah Bikin Bergairah

Pendeta Petrus bersama istrinya,  Pdt Getsemani Patti Peluhu.

Pendeta Petrus bersama istrinya, Pdt Getsemani Patti Peluhu.

’’Semua selalu kami kerjakan berdua bersama istri, dengan setia dan selalu semangat,’’ terangnya. Pada waktu itu, istrinya menjadi worship leader dalam ibadah. ’’Puji Tuhan kami selalu sepakat dalam melayani Tuhan,’’ tambah dia. Mereka saling bahu membahu dan mendukung. ’’Saat itu anak saya masih kecil-kecil,’’ ujarnya.

Mereka tumbuh dalam proses perjuangan yang sangat berat. ’’Setiap kali ibadah, saya dan istri selalu bertugas. Anak-anak yang masih kecil duduk manis. Dan Puji Tuhan mereka tidak pernah rewel dan merepotkan,’’ jelasnya.  Seolah-olah mereka sangat paham dan mengerti arti melayani.

Dia meyakini, proses itu bukan hanya mempersiapkan dirinya dan istri untuk menjadi hamba-Nya. ’’Tapi juga mempersiapkan anak-anak untuk melengkapi pelayanan kami kepada Tuhan,’’ urainya. Dan sekarang, dia menikmati buahnya. ’’Mereka menjadi anak-anak yang cinta Tuhan dan selalu setia melayani Tuhan,’’ paparnya.

Sampai saat ini, semua anak, menantu dan cucunya melayani pekerjaan Tuhan. Pada 2005, dia merasakan panggilan Tuhan yang kuat dalam hati. ’’Saya mulai menyerahkan hidup saya sepenuhnya untuk Tuhan,’’ tegasnya. Dia meninggalkan pekerjaan dan masuk sekolah Alkitab Batu selama sembilan bulan. ’’Di sana saya belajar Firman Tuhan, dibentuk dan diproses dipersiapkan menjadi hamba yang setia,’’ ujar dia.

Sejak 2005, dia pun tugas di GPdI Sawahan. Tahun 2011, dia kembali masuk kelas 2  di Sekolah Alkitab Batu. ’’Dorongan yang begitu kuat untuk semakin mendalami dan mengerti Firman Tuhan guna melengkapi pelayanan yang Tuhan percayakan,’’ urainya. Selama sekolah Alkitab, tiap pekan dia berangkat Senin dan pulang Jumat.

Lulus Sekolah Alkitab Batu, dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Alkitab (STA) Batu. ’’Waktu di STA Batu, setiap bulan full Senin-Sabtu,’’ tambahnya. Istri dia tinggal di rumah. ’’Istri yang menangani pelayanan jemaat bersama anak-anak,’’ ungkapnya. Peranan istri menurutnya sangat besar sekali selama studi hingga bisa selesai.

’’Perjuangan istri begitu berat. Baik dalam hal memback up pelayanan maupun mengatur keuangan. Tapi oleh kemurahan Tuhan, semua bisa terlewati dengan baik, dan selalu ada berkat Tuhan,’’ paparnya.

Dia menyelesaikan S1 Teologi 2014. ’’Semua ini saya lakukan bukan hanya demi sebuah gelar. Namun bagi saya, ini adalah kesempatan melengkapi diri untuk kemuliaan Tuhan yang sudah mempercayakan,’’ tandas dia.

Semakin tahu tentang Tuhan, semakin menyadari bahwa dirinya terlalu kecil di hadapan Tuhan yang mulia, agung dan berkuasa. ’’Hidup adalah kesempatan untuk melayani Tuhan. Inilah yang menjadi prinsip dan motto bagi hidup saya dan saya terapkan kepada keluarga juga kepada jemaat,’’ tandasnya.

Dia dan keluarga ada sampai hari ini semua karena anugerah dan kemurahan Tuhan. ’’Karena kemurahanNya juga kami bersama keluarga Tuhan percayakan pelayanan penggembalaan di Gereja Pantekosta di Indonesia House of Prayer Jombang,’’ bebernya.

Dia bersyukur Tuhan berkati dengan para pelayan, pengurus dan jemaat yang begitu setia, taat dan sangat mengasihi Tuhan. ’’Pelayanan adalah pengabdian. Memimpin itu melayani,’’ pungkas dia.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP