alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri
Masjid Al Hikmah Balongrejo Sumobito

Berdiri 1869, Markas Menggembleng Pejuang

02 April 2021, 08: 20: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

MASJID TUA: KH Taufiq Djalil di depan masjid Al Hikmah Balongrejo, Badas, Sumobito.

MASJID TUA: KH Taufiq Djalil di depan masjid Al Hikmah Balongrejo, Badas, Sumobito. (ROJIFUL MAMDUH/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Masjid Al Hikmah Dusun Balongrejo, Desa Badas, Kecamatan Sumobito termasuk tua. Berdiri sejak 1869. ’’Mbah Kiai Syahid babat alas Balongrejo langsung bikin masjid,’’ kata Ketua Yayasan Al Hikmah, KH Taufiq Djalil, 56, kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Taufiq merupakan cicit Kiai Syahid.  Lengkapnya, Taufiq bin Solihah binti KH Arief bin Kiai Syahid.

Sejak awal didirikan, Masjid Al Hikmah digunakan sebagai pusat pembelajaran. Karena di situ juga ada pondok pesantren. ’’Kiai Syahid itu aslinya Jawa Tengah,’’ terangnya.

Baca juga: Bupati Hj Mundjidah Wahab Dorong UKM Bersatu Demi Ekspor

DIBONGKAR: KH Taufiq Djalil menunjukkan sisi selatan masjid yang dulu ada ruang khusus.

DIBONGKAR: KH Taufiq Djalil menunjukkan sisi selatan masjid yang dulu ada ruang khusus.

Kiai Syahid termasuk pasukan Pangeran Diponegoro. Setelah Kiai Syahid wafat, diteruskan putranya, Kiai Arief. ’’Kiai Arief itu teman mondoknya KH Hasyim Asy’ari Tebuireng di Mbah Kholil Bangkalan,’’ terangnya.

Oleh Kiai Hasyim, Kiai Arief dipasrahi mengurus Ya Mualim yang menangani  urusan haji orang-orang NU. ’’Zaman dulu, pulang pergi haji itu butuh waktu 8 bulan,’’ paparnya.

Kiai Arief aktif mengisi pengajian di kampung sekitar Sumobito. Dia gigih mengajak anak tokoh kampung untuk mondok di Al Hikmah. Setelah pintar, dikembalikan lagi ke kampungnya untuk ngajar di situ.  ’’Di Masjid Al Hikmah ini dulu pusat pengkaderan untuk kiai-kiai kampung sekitar pondok,’’ papar Taufiq.

Pada 1938, Kiai Arief mendirikan madrasah yang diberi nama Darut Tarbiyah Watta’lim. ’’Kini berubah menjadi PAUD, RA, MI, SMP, MA dan SMK Al Hikmah,’’ beber mantan Kepala Kemenag Jombang yang kini bertugas sebagai Kepala Kemenag Kabupaten Blitar ini.

Selama perang kemerdekaan, Masjid Al Hikmah menjadi saksi bisu para pejuang.  Taufiq cerita, dulu di depan masjid ada drum yang diisi air. ’’Para pejuang dari Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek yang mau ke Surabaya kesini dulu membawa telur,’’ terangnya.

Telur itu lantas dimasukkan drum tadi. Kemudian dibacakan doa oleh Kiai Arief. Setelah itu, para pejuang memakan telur tersebut. ’’Usai makan telur tadi, para pejuang kebal senjata,’’ paparnya. Dibacok tidak terluka, ditembak pun tidak mempan.

Di situ dulu juga menjadi tempat persembunyian pejuang. Untuk membentengi para pejuang, Kiai Arief sering berjalan mengelilingi kampung dengan membaca zikir. ’’Alhasil, Masjid Al Hikmah dan tempat persembunyian pejuang selalu aman,’’ tegasnya. Belanda sering mengebom wilayah itu. ’’Namun semua bom yang dijatuhkan kesini tidak pernah meledak,’’ paparnya.

Diplomasi yang dilakukan Kiai Arief juga sangat cerdas. ’’Kiai Arif punya foto bersama Jenderal Belanda,’’ paparnya. Foto itu dipasang di ruang tamu. ’’Ketika Belanda masuk menggeledah untuk mencari pejuang, akhirnya balik setelah lihat foto itu. Karena dianggap teman sendiri,’’ urai Taufiq.

Pada suatu malam, pasukan Belanda konvoi hendak menyerbu pejuang yang berada di barat kampung. Kiai Arief tahu pejuang sedang tidak siap diserang. Akhirnya Kiai Arief ke jalan menemui pasukan Belanda sendirian. Minta agar pasukan balik dan tidak meneruskan menyerbu. ’’Di luar dugaan, ternyata pasukan itu manut. Sehingga akhirnya tidak jadi menyerang,’’ papar ketua ikatan alumni PP Bahrul Ulum Tambakberas ini.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP