alexametrics
Selasa, 22 Jun 2021
radarjombang
Home > Politik & Pemerintahan
icon featured
Politik & Pemerintahan

Humas RSUD Jombang Menyapa, Usung Topik Pencegahan dan Pengobatan TBC

Bisa disembuhkan, Waspada di Musim Pandemi

02 April 2021, 08: 20: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

BERI EDUKASI: dr Nurlela Damayanti, Sp.P (kiri) memberikan edukasi tentang penderita TBC.

BERI EDUKASI: dr Nurlela Damayanti, Sp.P (kiri) memberikan edukasi tentang penderita TBC.

Share this      

JOMBANG – Masih dalam rangkaian peringatan Hari Tuberculosis (TBC) Sedunia, RSUD Jombang mengadakan dialog khusus dengan dokter spesialis paru, dr Nurlela Damayanti Sp.P. Dialog ini dalam program Humas RSUD Menyapa yang mengusung topik Pencegahan dan Pengobatan Tuberculosis.

dr Nurlela Damayanti Sp.P mengingatkan agar jangan abai di musim pandemi Covid-19. Khususnya bagi penderita TBC, tetap waspada dan rajin berobat rutin untuk bisa sembuh. “Penyakit TBC bisa menyerang siapa saja, baik usia muda atau dewasa. Begitu pula penyebaran atau penularannya hampir sama dengan virus Covid-19,” katanya.

Meski begitu, ia menyarankan agar masyarakat tidak khawatir, karena penyakit TBC bisa disembuhkan. “Jadi ada obatnya, asalkan rutin minimal enam bulan, dan obatnya disediakan gratis,” ujarnya. Belakangan terakhir, kunjungan penderita TBC di Poli Paru RSUD Jombang menurun. Hal ini dipengaruhi  masa pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

Baca juga: Edarkan Sabu-Sabu, Kakak Beradik Dibekuk

Ia menyebut, ada kekhawatiran bila penurunan angka berobat, menjadi keteledoran pasien TBC yang nanti bisa berakibat fatal. “Serangan TBC juga bisa mematikan, dengan berbagai sebab, bisa jadi karena keterlambatan atau karena komorbid penyakit penyerta yang lain,” tandas alumnus Fakultas Kedokteran Unair Surabaya 2008 ini.

Poli Paru RSUD Jombang mencatat, di masa pandemi Covid-19, tingkat kunjungan pasien TBC yang semula lima sampai tujuh orang perhari, belakangan turun. “Selama pandemi Covid-19 2020, pelaporan kasus TBC menurun 25 persen dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Penurunan ini yang tidak diinginkan karena tujuan kita terus berupaya melakukan layanan kesehatan, pasien bisa sembuh dengan cara aktif berobat,” terangnya.

Ia menjelaskan, TBC dan Covid-19 merupakan penyakit menular yang menyerang paru-paru. Memiliki gejala yang mirip Covid-19 seperti batuk, demam, dan sesak nafas. Namun TB memiliki masa inkubasi lebih lama dengan onset penyakit lebih lambat. Meski demikian pasien TBC dan Covid-19 tetap memperoleh pengobatan dan tatalaksana pengobatan maksimal.

Untuk itu, bagi masyarakat apabila mengalami gejala seperti yang diuraikan, dr Nurlela sarankan langsung periksa ke RSUD Jombang. “Tidak perlu ragu di-Covid-kan, karena tata laksana pelayanan masing-masing poli, baik rawat jalan dan rawat inap sudah terpilah, serta menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” terangnya.

Berdasar data WHO tahun 2019, ada 10 juta orang terserang TB di seluruh dunia, dengan 5,8 juta laki-laki, 3,2 juta perempuan dan 1,2 juta anak-anak. Jumlah itu terpantau dari 30 negara dengan peringkat terbesar, India, Indonesia, Cina, Philipina, Pakiskan, Nigeria, Bangladesh dan Afrika Selatan.

 “RSUD Jombang salah satu RS rujukan TB RO yang sudah menjalankan pengobatan, dan memfasilitasi penderita sesuai pedoman WHO,” papar dr Nurlela.

Sementara itu, Direktur RSUD Jombang dr Pudji Umbaran, MKP, menambahkan Poli Paru siap melayani pasien dengan sepenuh hati. Didukung tiga dokter spesialis paru, bekerja maksimal sesuai kondisi pasien. Jika penyakit yang diidap ternyata bukan hanya TBC, maka akan dikonsultasikan dengan spesialis lain misalnya, dokter jantung, dokter mata atau dokter spesialis lain.

Menurut dia, ada upaya yang harus dilakukan dalam pencegahan dan infeksi kepada orang lain. Yakni menjaga kebersihan diri, cuci tangan dengan sabun dan membatasi diri pada kerumunan. Hampir sama mekanisme pencegahan Covid-19, yakni dengan mengenakan APD, masker, menutup mulut saat batuk, dan rutin kontrol secara medis.

“Kuman bacteri mycobacterium tuberculosis (TBC) mudah menular melalui percikan dahak, pada saat penderita batuk, bicara, apalagi bersin-bersin,” tandasnya.Ia juga menyarankan, penderita berupaya melakukan olahraga ringan, berjemur pada pagi hari untuk mendapat vitamin D dari sinar matahari. “Serta mengonsumsi makanan dengan asupan gizi cukup dan seimbang,” pungkas Pudji.

(jo/ang/jif/JPR)

 TOP