alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh
Sri Retno Ponconingtyas

Suka Batik dan Jahit Sendiri

01 April 2021, 08: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

ANGGUN: Sri Retno Ponconingtyas dengan koleksi kain batik yang belum dijahit.

ANGGUN: Sri Retno Ponconingtyas dengan koleksi kain batik yang belum dijahit. (WENNY ROSALINA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Untuk selera fashion, Retno bisa dikatakan sebagai penggila batik. Koleksi batiknya sangat banyak. Semua motif batik ia suka. Tidak harus mahal, yang penting motifnya cantik dan menarik.

”Sejak muda saya suka batik, saat kuliah teman-teman pakai kaos atau apa, saya sudah pakai batik, tidak tahu kenapa, saya suka sekali dengan batik,” jelasnya. Saat berdinas pun ia kerap memakai batik, disamping seragam wajib. Sampai-sampai, almari pakaiannya dipenuhi batik. Termasuk kain batik yang belum dijahit.

Baca juga: Dukung Pembangunan Gedung, Tingkatkan Pelayanan Terbaik

Ia mengaku lebih suka menjahitkan baju dibanding dengan beli gaun jadi. Baginya, menjahit lebih bisa disesuaikan ukuran dan selera model. ”Kalau beli pasti ada saja yang kurang panjang, atau kepanjangan, jadi saya lebih suka jahit sendiri,” tambah nenek dua cucu ini.

Untuk urusan jilbab, lantaran mayoritas bajunya batik, maka koleksi kerudung dominan polos. Hanya ada beberapa yang bermotif. Seperti yang ia kenakan kemarin, menggunakan batik dominasi warna dark raspberry, penampilannya semakin ayu manakala ia padankan jilbab warna senada. Ciri khas penampilannya, yaitu menggunakan ciput topi. Agar kerudungnya tegak, lebih rapi dan bros yang disematkan lebih simpel di sebelah kiri.

Selama ini, penampilan dia memang tampak sederhana. Tidak ada aksesoris berlebihan. Hanya jam tangan dan gelang mata hitam di sisi kiri, dan gelang emas dipadukan dengan mutiara di sisi kanan. Tampak simpel namun tetap terkesan mewah. Begitu juga urusan make up, Retno tak terlalu berlebihan. Cukup alis tipis berwarna hitam, ditambah lipstik merah bata yang tidak terlalu mencolok.

Ia mengaku, kebiasaan nyalon yang ia lakukan saat masih berusia muda, sekarang tak dilakukan lagi. Ketika ada waktu berlibur, justru digunakan bersantai dengan cucu atau bercengkrama dengan keluarganya. Namun, ia tetap merawat wajahnya rutin menggunakan skincare. ”Harus, pagi dan malam, jadi meskipun tidak ke salon, tetap dirawat,” jelasnya.

Lahir di Jombang 31 Oktober 1964, tahun ini ia menginjak usia 57 tahun. Namun wajahnya masih tampak segar bercahaya. Ia menyebut, kecantikan wajah tidak terlalu penting. Baginya, kecantikan hati akan membuat wajah semakin bercahaya. ”Cantik itu kan kalau masih muda, kalau sudah tua ya tidak cantik lagi, tapi kita akan terlihat cantik jika kita memancarkan aura kecantikan dari dalam hati,” beber dia.

Ia pun berbagi tips untuk bisa cantik dari dalam. Yaitu ramah, murah senyum, selalu berfikir positif, berusaha tidak berburuk sangka, jadi pribadi yang empati, salah satunya dengan jadi pendengar yang baik bagi orang yang ingin bercerita. ”Syukur kalau bisa beri solusi, kalau mereka senang, kita pasti akan ikut bahagia,” katanya.

Rasa bahagia dalam hati juga akan berimbas pada kesehatan tubuh. Di usia 57 tahun, ia mengaku tak memiliki keluhan seperti kolesterol, gula darah tinggi, atau asam urat serta penyakit lain. Hal itu berkat energi positif yang selalu ada dalam pikirannya yang berimbas pada kesehatan fisik. ”Jangan lupa sabar, yang penting energi positif harus selalu terpancar agar cantiknya kekal,” pungkas dia.


(jo/wen/jif/JPR)

 TOP