alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh
KH Ahmad Habibul Amin

Larang Santri Minta Kiriman untuk Makan

28 Maret 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

KOMPAK:  Pengasuh PP Fathul Ulum, Puton, Diwek, KH Ahmad Habibul Amin  bersama istri Hj Binti Musyarofah.

KOMPAK: Pengasuh PP Fathul Ulum, Puton, Diwek, KH Ahmad Habibul Amin bersama istri Hj Binti Musyarofah.

Share this      

JOMBANG - Pengasuh Pesantren Fathul Ulum di Dusun Sanan, Desa Puton, Kecamatan Diwek, KH Ahmad Habibul Amin, 46, melarang santrinya minta kiriman orang tua untuk makan. Mereka bisa mencukupi kebutuhan makan dari bekerja di unit usaha yang dimiliki pesantren.

’’Semua santri saya wajibkan bekerja sendiri untuk kebutuhan makannya. Tidak boleh minta kiriman orang tua untuk makan. Kiriman orang tua untuk beli kitab saja,’’ tuturnya.

Biaya sekali makan rata-rata Rp 7.000. Tiga kali makan hanya Rp 21 ribu. ’’Jumlah itu sudah bisa ditutup dengan bekerja selama dua jam sehari di perakitan gerobak lipat,’’ paparnya. Workshop gerobak lipat yang dijual secara online berada di timur masjid jami Nurul Anwar Gerdulaut, Sidowarek, Ngoro. ’’Santri kita beri waktu bekerja pukul 13.00-15.00,’’ paparnya. Sehingga tidak mengganggu jadwal ngaji.

Baca juga: Apresiasi Mewarna Kokohkan Eksistensi

Banyak unit usaha di pesantrennya. Mulai menjahit, mengelas, pertukangan, pertanian padi dan jagung. Peternakan kambing, sapi, lele dan patin. Serta perkebunan, pembibitan klengkeng, alpokat dan durian. Serta tanaman bunga. ’’Kita sedang menanam bunga matahari dan air mata pengantin untuk ternak madu klanceng,’’ paparnya.

Dia menerapkan pertanian organik dan terintegrasi. Kotoran ternak dipakai pupuk. Air kolam dibuat menyiram tanaman. Padi dibuat mencukupi kebutuhan kantin pesantren, dedak untuk pakan ternak, sekam untuk tanaman yang di pot. Santri mendapatkan gaji dari kerjanya. ’’Santri yang mengelola unit usaha, mendapat bagi hasil dari keuntungan,’’ jelasnya. Kemudian, uangnya dipakai beli makan di kantin pesantren. Jadi perputaran modal tetap di pesantren. 

 Gus Amin mengajari santri untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri dengan cara memberikan bekal skill dan pekerjaan yang tidak mengganggu proses belajar. Agar mereka tidak bingung masalah ekonomi ketika pulang. ’’Saya ingin para santri bisa menciptakan lapangan kerja saat kembali ke kampung halaman,’’ tegas dia.

Menurutnya, santri disuruh menghafal dan digembleng di pesantren dengan empat tujuan utama. Yakni agar santri belajar istikomah, disiplin, tanggung jawab dan bisa mengatur waktu. Di pesantrennya, santri diajari ekonomi, taqorrub kepada Allah, menyebarkan ilmu dan kumpul teman. ’’Mana yang akan ditekuni ketika kembali ke masyarakat, terserah anaknya,’’ ungkapnya.

Misalnya, pulang jadi pengusaha, maka fokus di ekonomi dengan tetap bisa taqorrub, mengajar dan kumpul konco. ’’Jadi guru, tetap bisa ngajar namun juga mandiri secara ekonomi. Dengan tetap bisa taqorrub dan kumpul konco,’’ paparnya. Gus Amin juga mendidik masyarakat dan alumni. Tiap bulan, dia harus kirim tiga ton patin ke Malang. Jumlah itu tak mungkin dipenuhi pesantren sendiri. Maka dia ambil dari masyarakat dan alumni. ’’Bibit patinnya dari sini, alumni dan masyarakat yang membesarkan, nanti kita yang memasarkan,’’ paparnya. Untuk pisang juga demikian. Bibit dari pesantren, alumni dan masyarakat membesarkan. Pesantren pula yang memasarkan. ’’Untuk pisang, per hari butuhnya dua ton,’’ jelasnya.

Alumni dan masyarakat yang menjadi mitra usaha, tiap Minggu legi ngaji bersama. ’’Nariyahan, ngaji Mukasyafatul Qulub lalu ngaji ekonomi,’’ terangnya. Yang dekat ngaji ke lokasi, yang jauh ikut ngaji via online. ’’Sehingga ada ikatan batin, ekonomi dan dakwah,’’ tegasnya.

Lahan pertanian, peternakan, perkebunan yang dimanfaatkan santrinya sebagian besar masih sewa. Luasnya sekitar dua hektar. ’’Dari pada beli ratusan juta, lebih baik sewa puluhan juta per tahun. Sehingga sisanya bisa untuk modal,’’ tutur dia.

Dia berprinsip, hasil pengelolaan lahan harus bisa digunakan membeli lahan. Dia mencontohkan lahan 5.000 meter di samping pondok. Seluas 350 meter di antaranya digunakan untuk lele dan patin. Dari situ sudah bisa menutup biaya sewa Rp 21 juta per tahun. Padahal sisa lahannya masih bisa digunakan untuk pembibitan, serta bisa ditanami sayuran organik. Juga untuk ternak. ’’Dari hasil pengelolaan tanah 5.000 meter tadi, tiap bulan bisa menyisihkan Rp 6 juta. Dalam waktu 10 tahun sudah terkumpul 700 juta, bisa untuk membeli lahan,’’ paparnya.

Untuk setiap usaha yang modalnya dari pondok, persentase keuntungannya 35 persen untuk santri pengelola, 30 persen pemodal dan 25 persen pondok. Bagian pondok inilah yang dipakai menggaji guru. ’’Semua guru di sini, sudah tercukupi kebutuhan pokoknya,’’ jelasnya. Baik guru diniyah ula, wustho, ulya maupun ma’had aly. Semua diniyah di pondoknya diakui pemerintah. Sehingga santri bisa melanjutkan ke pendidikan formal. ’’Santri sini banyak yang kuliah pertanian di Unwaha untuk pengembangan,’’ pungkas dia. (jif/bin)

Tiap Hari Puasa

GUS Amin lahir di Dusun Kenong Gong, Desa Panolan, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, 10 Februari 1975. Dia bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Sukri dan Syamirah. Walaupun tidak punya biaya, orang tuanya selalu mendorong untuk mondok. Akhirnya benar-benar bisa mondok meski harus berjuang sendiri mencari biaya.

Lulus MI dia langsung nyantri di PP Al Muayyad Jember selama enam tahun. Dia hidup dari leles kedelai di sawah. Jadi kuli di pasar, juga bantu angkat tembakau. Mulai umur 15 hingga kini, dia puasa ngerowot tidak makan nasi dan tidak makan yang bernyawa. ’’Saya ngancani santri yang juga ngerowot,’’ ujar bapak tiga anak ini.

Lulus di MTs di Jember, Gus Amin melanjutkan ke Ploso Kediri. Dia mencukupi kebutuhan dengan menjadi buruh masak. Lalu pindah ke PP Darussalam Trenggalek selama empat tahun. Dia mencukupi kebutuhan dengan bekerja membuat genting dan dagang. ’’Di Trenggalek saya punya komunitas ngerowot yang hanya makan tiwul. Jadi saya kulak tiwul untuk dijual ke teman-teman. Hasilnya sudah cukup buat hidup,’’ jelasnya.

Kurun 1996-2006, dia di Pesantren Fathul Ulum Kwagean Kediri yang diasuh KH Abdul Hannan. ’’Di sana saya usaha jilidan dan dirikan angkringan untuk santri yang tidak mampu,’’ jelasnya. Usaha jilidannya bisa menghidupi 25 santri tidak mampu.

 Selama di Kwagean, dia menyusun kitab Al Maqosidus Syafiyah yang berisi kaedah sorof dalam Bahasa Jawa. Al Manahilul Murwiyah, kaedah nahwu dalam Bahasa Jawa. Keduanya diterbitkan 1999 oleh Percetakan Darul Amin Kwagean. Saat ini, dia baru menyelesaikan Alfiah Nusantara. Yakni Alfiah yang diserta nadzom Jawa.

Pada 2006, dia diperintah KH Abdul Hannan untuk berjuang di Gerdulaut. ’’Awalnya saya diminta ngaji seminggu sekali di masjid sini. Tapi akhirnya sama warga disuruh bikin pesantren,’’ kenangnya seraya menyebut awal hanya 10 santri, sekarang total 275 santri.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP