alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh
Emi Tahmidah, Kepala MTsN 12 Jombang

Travelling Sekaligus Silaturahmi

25 Maret 2021, 08: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Emi Tahmidah, Kepala MTsN 12 Jombang

Emi Tahmidah, Kepala MTsN 12 Jombang

Share this      

Berita Terkait

JOMBANG - Wanita yang satu ini tidak terlalu gemar menghabiskan waktu untuk jalan-jalan. Bagi Emi Tahmidah, jalan-jalan harus membawa manfaat lainnya. Sekaligus bersilaturahmi ke sanak saudara, dengan berkunjung di tempat wisata di daerah yang sama.

"Jalan-jalan yang bermanfaat, ben gak mindon gaweni, kita silaturahmi sekaligus rekreasi," kata wanita berzodiak Gemini ini. Sebenarnya, melihat kesibukannya yang cukup padat, ia tak terlalu suka jalan-jalan. Waktu liburnya hanya ia habiskan di rumah bersama santri. Apalagi keempat anaknya kini tinggal tak serumah lagi dengannya.

Jalan-jalan hanya dilakukan sekali waktu bersama anak-anak dan keluarga besar ketika berkumpul bersama. ”Sekali jalan-jalan bawa bus rombongan banyak orang misal ke Jawa Tengah, berarti kita rekreasi juga di daerah sana, sekalian beberapa hari,” jelas Neng Emi sapaan akrabnya.

Baca juga: Polemik Pabrik Kertas Daditunggal Berlanjut

Emi sendiri sangat menjunjung tinggi pendidikan untuk perempuan. Apalagi saat ini porsi wanita di berbagai bidang juga sudah diprioritaskan. Sehingga santri sekaligus siswi harus mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk masa depan. "Saat ini perempuan sudah memiliki porsi di segala lini, termasuk politik 30 persen diberikan kepada perempuan, kan eman kalau tidak dimanfaatkan," jelas ibu empat anak ini.

Ia memiliki empat anak dua putra dan dua putri. Anak pertamanya putri, kini sedang menempuh pendidikan di Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Anak keduanya putra sedang menempuh pendidikan di UIN Malang dan anak ketiga proses mendaftar ke Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Sementara anak terakhirnya kini sedang mondok di Pasuruan.

Kepada santrinya yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia, ia menekankan jika sekolah minimal harus lulus SMA. Ia sering memotivasi jika santrinya harus berpendidikan lebih tinggi dari dirinya yang lulusan S2. "Kalau bisa harus lebih sukses dan lebih tinggi pendidikannya dari abah dan ibuk. Untuk siswa madrasah tidak bisa saya tekankan, saya imbau saja untuk lanjut sekolah minimal sampai SMA," jelasnya.

Selain pendidikan ia juga memberi ilmu organisasi kepada para santri putri. Menurutnya, organisasi sangat penting sebagai bekal jika kembali ke lingkungan sekitar. "Bekal lain keorganisasian di pondok saya berikan melatih untuk berorganisasi," ungkap istri Dr Abdul Kholid ini.

Emi memiliki hobi memasak. Meski ia tak bisa masak setiap hari karena kesibukannya. Ia mengklaim jika masakannya cukup enak. Bahkan ia sering membawa bekal camilan ke madrasah untuk guru-guru dan staf. "Saya suka masak dan enak lo masakan saya, tapi masak kalau tidak sibuk saja. Kalau sibuk ya beli," ungkapnya sembari tertawa kecil.

Di usianya yang sekarang, ia mulai memperhatikan kesehatannya. Jika semula suka makan buah jeruk dan durian. Kini, mulai meninggalkan durian karena tensi yang sering tinggi. Soal makanan, ia lebih suka makanan yang dimasak dengan cara dikukus karena tidak terlalu berminyak.

Lahir di Jakarta 10 Juni 1970, Emi memiliki perawakan yang tinggi besar. Urusan penampilan, ia tidak terlalu suka yang glamor. Seperti saat ditemui kemarin, Emi hanya mengenakan terusan hitam, dipadukan dengan outer batik berwarna cokelat. Dikombinasi dengan jilbab segi empat warna cream yang membuat penampilannya tampak serasi.

Ia tampak mengenakan ciput topi agar jilbabnya rapi. Aksesoris yang ia kenakan juga tak berlebihan. Hanya bros di sisi kanan dan kiri agar jilbabnya tetap rapi. Namun di rumah ia lebih suka mengenakan gamis. Tetap dengan perpaduan jilbab segi empat namun tanpa ciput. ”Lebih suka yang sederhana saja, tapi tidak pernah pakai yang instan, tidak pantas, jadi saya di rumah tidak punya jilbab instan yang langsung pakai,” jelasnya.

Urusan baju yang ia pakai, ia memiliki penjahit langganan. Karena saat ia sudah cocok dengan pekerjaan seseorang, ia akan kembali lagi. ”Langganan keluarga juga. Jadi kalau sudah cocok ya di sana saja tidak berpindah-pindah,” imbuh dia.

Saat ditanya sepatu dan tas, ia memilih warna netral seperti hitam, coklat, dan cream. Tidak harus dari barang mahal. Ia mengutamakan fungsi dan kenyamanan saat ia pakai. ”Meskipun kalau dipaksakan ya sanggup beli, tapi eman-eman, uang untuk beli tas mahal-mahal, cukup punya satu atau dua, itupun ikut-ikutan teman,” pungkasnya.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP