alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

KH Mokh Fakhruddin Siswopranoto

Rintis Pondok dan Sekolah Gratis

21 Maret 2021, 08: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

ROMANTIS: KH Mokh Fakhruddin Siswopranoto bersama istri Hj Maharani Wicahyaningtyas

ROMANTIS: KH Mokh Fakhruddin Siswopranoto bersama istri Hj Maharani Wicahyaningtyas

Share this      

JOMBANG - Tidak banyak kiai muda yang berani mendirikan pondok pesantren di daerah pelosok. Apalagi menggratiskan biaya mondok dan sekolah santri. Namun inilah yang dilakukan  Pengasuh PP Kalimasada Bangsri Plandaan, KH Mokh Fakhruddin Siswopranoto.

’’Ini semua berkat doa dan dorongan orang tua agar punya tinggalan yang bermanfaat untuk umat,’’ kata putra ketiga pasangan H A Sarwi dan Hj Siti Aisyah ini. Kiai muda yang juga motivator ini lahir di Desa Tanggungkramat, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang.

Dia menamatkan pendidikan Tsanawiyah hingga Aliyah di PP Bahrul Ulum Tambakberas. ’’Saya dulu sangat aktif di kelas sehingga disayang guru. Kepala saya sering dielus-elus almarhum Kiai Asy’ari, suami Bupati Hj Mundjidah,’’ urainya.

Baca juga: Penolong Setia

Dia tinggal di Desa Bangsri, Kecamatan Plandaan mulai 2008. ’’Sejak awal tinggal di sini (Plandaan, Red) sudah ada santri yang ikut. Tiga sampai delapan,’’ katanya. Karena itu dirinya  total melayani. Saat bertugas di SMAN Jogoroto, beberapa warga Jogoroto akhirnya mondokkan anaknya. Pindah ke SMAN Kabuh, akhirnya ada santri dari Kabuh.

’’Saya perjalanan ke Pacet, Blitar dan Jawa Tengah, akhirnya ada santri dari daerah itu,’’ kenangnya. Sampai-sampai dia mengibaratkan perjalanannya ibarat tower. ’’Bumi mana pun yang saya pijak, akhirnya selalu ada santri yang datang dari daerah situ,’’ papar dia.

Pada 29 Mei 2013, dia bulatkan tekad mendirikan pondok gratis. Dari mulai puluhan santri, sekarang sudah lebih 400 santri. ’’Biaya sekolah, pondok, makan, seragam, semua saya gratiskan. Bahkan yang mau kuliah juga saya kuliahkan,’’ terangnya.

Pendidikan formal di pesantrennya berada MTs Diponegoro dan MA Terpadu Kalimasada. Juga ada balai latihan kerja komunitas untuk menjahit. ’’Santri yang saya kuliahkan bebas memilih kampus. Ada yang di UW, Undar dan lain-lain,’’ ucap dosen STIT UW Bulurejo Diwek ini.

Pria yang dikenal senang guyon ini sangat dekat dengan santri. Biasa bercanda dengan santri dan bahkan sering main futsal bersama santri. Walaupun gratis, santrinya banyak yang menorehkan prestasi.  Pada 2015, santrinya  juara 2 lomba Musabaqah Hifdil Quran (MHQ) provinsi. Pada 2016, juara 1 lomba pidato Bahasa Indonesia se Jombang, juara 1 MHQ kabupaten dan juara 1 tafsir Bahasa Inggris tingkat kabupaten. 

Pada 2017, santrinya juara 1 MHQ Jawa Timur dan juara 1 MHQ Jombang. Pada 2019, juara 1 MHQ 10 juz ASEAN di Sidoarjo. Pada MTQ Jombang November 2020, santrinya memboyong dua medali. 

Keberkahan Holistik

SETIAP usai salat Subuh, KH Mokh Fakhruddin Siswopranoto, rutin ngaji kitab Tanbihul Gofilin. ’’Banyak inspirasi dari kitab ini. Terutama agar istikomah di jalan Allah dan menebar kemanfaatan,’’ paparnya.

Ada dua prinsip yang dipegang kuat Kiai Fakhruddin. Pertama yakni nothing is imposible dan imposible is nothing. Tidak ada yang tak mungkin. Dan tak mungkin itu tidak ada. ’’Semua pasti bisa atas izin Allah, maka kita harus total berusaha dan berdoa,’’ tegasnya.

Kedua, keberkahan holistik. Saat kiai baik kepada santri, santri akan baik kepada yang lain. Sehingga tercipta kebaikan yang menyeluruh. ’’Saat hidup kita berkah, akan membuat orang lain berkah. Melahirkan rantai berkah. Sehingga semua akan berkah,’’ paparnya.

Inilah yang membuatnya optimistis bisa menggratiskan santri. Dia ingin pondoknya menjadi pusat kajian Islam di Plandaan, pusat majelis dzikir, tempat pengobatan penyakit hati, tempat kaderisasi ulama pemimpin, birokrat, politisi, pencetak enterpreuner pengusaha, serta pencetak para penghafal Alquran.

’’Santri yang digratiskan, pasti dalam benaknya muncul keinginan menggratiskan orang lain,’’ terangnya. Sehingga kelak mereka bisa menjadi kiai yang juga menggratiskan santrinya.

Kiai Fakhruddin yakin santri membawa rezeki masing-masing. ’’Walaupun saya tidak minta bayaran dari mereka, saya yakin Allah tetap kirim rezeki jatah mereka lewat jalan lain,’’ tandasnya. Buktinya, bangunan pesantren dan santrinya bisa terus bertambah.

’’Karena suka menolong, kemanapun kita ditolong Allah,’’ urainya. Pada 2016, dia bersama istri backpakeran ke Singapura. Tidak kenal siapapun, tidak pakai travel dan guid. ’’Kita sering ketemu orang yang beberapa kali memberi petunjuk bahkan mengantarkan,’’ paparnya.

Saat haji 2017, dia juga merasa banyak mendapat kemudahan walaupun harus ngancani kakek berusia 70 tahun berangkat berdua dan harus transit di lima negara.

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP