alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Rolak 70, Riwayatmu Kini...

28 Februari 2021, 08: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Rolak 70 adalah Bendungan yang dibangun pemerintah kolonial ini masih jadi tumpuan penting. Foto ini diambil sekitar tahun 1925.

Rolak 70 adalah Bendungan yang dibangun pemerintah kolonial ini masih jadi tumpuan penting. Foto ini diambil sekitar tahun 1925. (RIJKSMUSEUM.NL FOR JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Salah satu yang jadi perhatian saat banjir melanda Kecamatan Bandarkedungmulyo adalah Rolak 70. Bendungan yang dibangun pemerintah kolonial ini masih jadi tumpuan penting, untuk sejumlah saluran besar di Jombang. Sayang, kondisinya makin tak terawat.

Rolak 70, berada di perbatasan antara wilayah Jombang dan Kediri. Sisi luar bendungan dan pintu air, masuk wilayah Desa Bugasurkedaleman, Kecamatan Gudo. Namun sebagian besar sisi dalam bendungan, masuk wilayah Kediri.

Namanya sendiri dari banyaknya pintu air di bendungan yang jumlahnya 70. Dalam sebuah foto berangka tahun 1925, terlihat jelas, bagaimana bendungan ini sangat megah dan luas. Bangunan pintu airnya berupa struktur batu kali yang berderet melengkung.

Baca juga: Harga Cabet Rawit Hampir Tembus Rp 100 Ribu Perkilo

Rolak 70 kini masih berfungsi walalupun sebenarnya tak layak pakai.

Rolak 70 kini masih berfungsi walalupun sebenarnya tak layak pakai.

Pada setiap pintu air, dihubungkan dengan jembatan kecil yang bisa digunakan untuk melintas. Ada juga penyangga di sisi kanan jembatan kecil. Fungsinya, tempat alat pembendung. “Hingga kini belum diketahui pasti tahun berapa rolak 70 ini dibangun, namun kalau foto tahun 1925 sudah ada, berarti ya sebelum itu,” terang Imam Bustomi Kabid SDA Dinas PUPR Jombang.

Sejak awal dibangun, bendungan ini memiliki fungsi penting sebagai pengatur utama debit Sungai Konto Kediri. Khususnya yang akan melintas di wilayah Jombang. Seluruh pintu air itu berfungsi untuk membagi aliran sungai konto ketika banjir datang.

“Sungai Konto Kediri sering banjir karena hulunya ada di dua pegunungan besar, Malang dan Kelud di Kediri, karena itu butuh bangunan pembagi air,” lanjutnya.

Setiap kali Konto Kediri debitnya tinggi, saat bendungan masih berfungsi, maka air akan dibagi masuk ke sisi kiri rolak 70. Di sinilah, air akan ditampung terlebih dahulu sehingga tak seluruh luapan air Konto Kediri masuk ke Jombang. “Jadi sebagai stabilizer dengan pembagian air itu, arusnya tidak akan besar, juga berguna untuk pengarian sawah di sekitar Gudo, jadi air terkontrol,” imbuhnya.

Sayang, usai kemerdekaan bendungan besar ini lebih banyak tak terpakai dan tak terawat. Bagian bendungan sempat dipenuhi pasir ketika Sungai Konto jadi jalur erupsi Gunung Kelud. “Sampai kemudian bendungan beralih fungsi, banyak orang mulai cari pasir di dalam bendungan,” tambah dia.

Kondisi ini berlangsung sampai sekarang. Rolak 70 kini makin memprihatinkan, nyaris seluruh pintu air rusak. Jembatan penghubung juga sudah hilang. Seluruh pintu air, tertutup tumpukan sampah kayu dan tanaman lain.

Kondisi di dalam waduk, bahkan lebih mengenaskan. Karena keberadaan galian pasir yang tak terkendali, seluruh dalam waduk sangat dalam. Bahkan kedalamannya tak bisa lagi berimbang dengan Sungai Konto. “Kalau di dalam waduk mulai 12-30 meter, padahal Konto maksimal di 10 meter,” lontar Bustomi.

Akibatnya, nyaris setiap tahun, Rolak 70 jadi penyebab banjir untuk kawasan Perak dan Bandarkedungmulyo. Perbedaan elevasi dalam kolam rolak 70 dan Konto, membuat tanggul sisi dalam waduk kritis dan mudah jebol. Arus yang masuk bendungan pun jadi makin deras. Ditambah hilangnya sejumlah pengendali pintu air, menyebabkan air banjir dari Sungai Konto sulit dikendalikan.

“Semoga saja segera ada upaya untuk mengembalikan fungsi Rolak 70 seperti sedia kala. Kalau bisa kembali baik, minimal permasalahan banjir akan lebih mudah teratasi,” pungkasnya.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP