alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget
Geliat Peternak Sapi Perah di Wonosalam

Makin Dilirik, Pandemi Susu Perah Laris Manis

24 Februari 2021, 08: 10: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

TELATEN: Salah satu peternak tengah memerah susu sapi.

TELATEN: Salah satu peternak tengah memerah susu sapi. (ARDILA NUR FITRIAH/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Beternak sapi perah mulai banyak diminati warga di Kecamatan Wonosalam. Di musim pandemi sekarang ini, permintaan susu segar meningkat. Peternak pun ketiban untung, terlebih produktifitas hasil panen durian tengah lesu.

Ardila Nur Fitriah dan Weni Armaini, Wonosalam

Hari sudah menunjukkan pukul 14.00, namun udara di Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam terasa sejuk. Ya, secara geografis, Desa Carangwulung memang terletak di dataran tinggi lebih tepatnya lereng Gunung Anjasmoro. Menuju wilayah ini, mata kita akan disajikan hamparan pepohonan nan hijau serta lahan pertanian.

Meski letaknya di dataran tinggi, akses jalan menuju ke desa ini sudah cukup nyaman. Selain kondisi permukaan jalan sudah teraspal, medan jalan pun cukup bersahabat. Selain bisa ditempuh dengan sepeda, wilayah Carangwulung juga sudah bisa diakses kendaraan roda empat, termasuk truk.

Siang itu,  nampak beberapa petani sibuk dengan kegiatannya bercocok tanam di ladangnya masing-masing. Sepanjang jalan banyak ditemukan tanaman komoditas unggulan. Di antaranya, cengkeh, durian, kakao serta tanaman lainnya. Di sejumlah titiknya, terlihat beberapa warga sibuk mencari rumput untuk pakan ternak.

Wajar saja, selain mayoritas penduduknya bertani, sebagian warga juga menekuni usaha ternak sapi perah. Salah satunya yang dilakukan Damis, 34, warga Carangwulung. Saat  kami datangi, pria 34 tahun ini tengah sibuk membersihkan kandang. Terlihat deretan sapi perah peliharaannya diikat berjajar di kandang yang beratapkan asbes ini. Kegiatan ini rutin dilakukannya setiap hari. Terlihat salah satu pekerja tengah sibuk memerah susu. ”Kalau bersihkan kandang sapi rutin, sehari dua kali saat pagi dan sore seperti ini,” terang Damis.

Dia pun  menceritakan pengalamannya beternak sapi perah dimulai sekitar 2014 lalu. Saat itu, dirinya berkeinginan beternak sapi perah. ”Awal dulu beli sapi perah 4 ekor,” bebernya. Seiring perkembangannya, saat ini jumlah sapi perahnya sudah mencapai 12 ekor. ”Jadi berkembang-berkembang akhirnya jadi 12 ekor sapi sekarang, itu beberapa juga ada yang hamil,” bebernya.

Dia pun menceritakan, di awal mengeluti usaha sapi perah, dia pun harus banyak-banyak menimba ilmu dari peternak lain yang sudah lebih dulu sukses. Sebenanrnya beternak sapi perah tidak  jauh berbeda dengan beternak sapi pada umumnya. Hanya yang membedakan sapi perah menghasilkan susu segar. ”Kalau sapi perah keuntungan kita dari hasil susunya,” bebernya.

Salah satu yang menjadi perhatiannya kebersihan kandang dan sapi perah. ”Itu harus selalu diperhatikan, termasuk kebutuhan pakan,” bebernya. Menurutnya, jika kondisi kandang bersih, otomatis hewan ternak juga akan lebih nyaman. Setiap hari dia rutin membersihkan kandang pagi dan sore. ”Kalau kandang bersih, sapi juga lebih nyaman, juga meminimalisir risiko penyakit. Termasuk kita juga betah berlama-lama di kandang,” terangnya sambil tertawa. Selain kandang, dia juga rutin memandikan sapi 12 sapi perahnya sehari dua kali. ”Memandikan sapi juga sama, pagi dan sore,” bebernya.

Selain itu, hal yang penting lainnya terkait kebutuhan pakan ternak. Untuk memenuhi kebutuhan belasan sapi perahnya, Damis mengaku cukup tenang. Pasalnya, dia tinggal memotong pakan di ladang rumput gajah dan jagung. ”Memang tanam rumput gajah dan jagung buat pakan,” bebernya.

Untuk menggenjot produktivitas susu, dia pun membuat pakan tambahan dari campuran beragam bahan. ”Kami juga membuat konsentrat untuk menambah kuantitas produksi susu sapi. Konsentrat ini terbuat dari tujuh macam, yakni kopra, katul, gaplek, jagung, kolar, DDGS dan garam”. Tambahnya,” bebernya.

Adapun sapi perah lanjut Damis, baru bisa diperah susunya saat umur sapi sudah mencapai 20 bulan. ”Memerah susu juga dua kali sehairi, pagi dan sore. ”Untuk produk susunya dijual melalui KUD,” bebernya.

Dikarenakan beberapa ekor sapinya tengah hamil, sehingga berpengaruh menurunnya produksi susu. ”Sapi perah ketika hamil akan berpengaruh pada produksi susu, produksi susu akan menurun karena diminum oleh anaknya, setelah melahirkan produksi baru bisa tinggi lagi, biasanya ketika tidak hamil sehari mencapai 200 liter lebih” bebernya.

Bersamaan pandemi, permintaan susu meningkat drastis. Dia pun mengaku bersyukur. ”Saya juga punya lahan durian, tapi tahun ini gagal, untungnya tergantikan dengan hasil penjualan susu perah. Ya diambil hikmahnya saja,” tandasnya. Tidak hanya dirinya, saat ini usaha beternak sapi perah juga mulai banyak digandrungi warga lainnya. ”Ya sekarang jumlah peternaknya terus bertambah,” singkatnya.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP
Artikel Lainya