alexametrics
Selasa, 09 Mar 2021
radarjombang
Home > Hukum
icon featured
Hukum

Sebulan Buron, Residivis Narkoba Dicokok Polisi

23 Februari 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Sebulan Buron, Residivis Narkoba Dicokok Polisi

Share this      

JOMBANG - Jaringan narkoba lain juga berhasil dibongkar jajaran Satreskoba Polres Jombang. Dalam penangkapan ini, polisi berhasil mengamankan seorang bandar sabu yang telah sebulan jadi buron.

 “Jadi ada satu bandar, empat orang ini jadi pengecernya yang tugasnya membagi barang dari bandar ini. Ada juga yang sepasang kekasih yang jadi pengecer dia,” terang AKP Moh Mukid, Kasatreskoba Polres Jombang.

Lima orang yang dibekuk polisi, adalah Zainal Arifin alias Bebek, 44, warga Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh yang statusnya sebagai bandar. Empat lainnya adalah Eka Ramanda Himawan alias Koko, 28, warga Desa Pulo Lor, Kecamatan Jombang beserta sang kekasih Siti Fatimah, 23, warga Desa Pundong, Kecamatan Diwek. Didit Afianto, 33, warga dan Donald Bramiel Schmidhamer alias Donal, 31, keduanya warga Kelurahan Jelakombo, Kecamatan Jombang.

Tersangka Bebek, disebut Mukid adalah seorang DPO yang sudah diburu polisi sejak sebulan terakhir. Ia diburu, setelah pengedar sabu lain yang mengambil barang kepadanya sudah dibekuk lebih dulu. “Dia ini jaringan atasnya tersangka bernama Ach Rifai alias Mein, mantan pegawai Pabrik Gula yang kita tangkap sebulan lalu,” lanjutnya.

Bebek, disebut Mukid lari setelah mengetahui Mein tertangkap. Residivis kasus narkoba yang sempat dihukum empat tahun ini, sempat berpindah-pindah tempat tinggal di Jombang sebelum akhirnya dibekuk polisi di sebuah kamar kos di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek. “Dia mengaku sudah dua kali pindah kos,” imbuh Mukid.

Dalam penggerebekan kamar kos itu, polisi berhasil mengamankan barang bukti tiga plastik klip berisi  sabu dengan berat total 9.01 gram, seperangkat alat hisap, timbangan digital, alat komunikasi hingga uang Rp 350 ribu yang diduga hasil penjualan.

Kepada polisi, Bebek mengaku terpaksa kembali harus mengedarkan sabu setelah tahun lalu menerima asimilasi pembebasan dari tahanan. Ia, mengaku tak punya pekerjaan tetap setelah keluar dari penjara. “Dia ini alasannya butuh uang untuk beli sepeda motor, karena sudah tidak kerja lagi sebagai tukang sayur, akhirnya jadi pengedar lagi empat bulan belakangan,” rinci Mukid.

Sabu yang ia jual, juga disebut Mukid didapatnya dari teman lamanya yang sempat tinggal satu sel dengannya di Lapas Klas II b Jombang berinisial DG. “Tapi DG ini dia sudah dilayar ke Pamekasan, si Bebek ini biasanya dapat kiriman 9-10 gram tiap bulannya, sistemnya ranjau diambil di Mojokerto,” lontarnya.

Keuntungan dari berjualan sabu itu, disebut Mukid memang menggiurkan. Bebek, bisa mendapat keuntungan hingga Rp 300 ribu untuk setiap gram sabu yang ia jual. “Jadi kalau 10 gram sekali kirim, sudah Rp 3 juta untungnya,” tambahnya.

Namun akibat perbuatannya, Bebek kini kembali harus mendekam di sel tahanan Mapolres Jombag. Polisi, menjeratnya dengan Pasal 114 Ayat (2) dan atau Pasal 112 Ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. “Ancamannya 20 tahun penjara,” pungkasnya.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP